Pendekar Bunga Cinta Chapter 109

NIC

Go Hong Lian bersenyum, akan tetapi wajah mukanya kelihatan sedikit berobah merah waktu dia berkata lagi:

"Itu pendekar pedang yang hendak kau temui di kota Intay... "

“Oh. Jangankan kenal, kami bahkan belum pernah bertemu.." sahut Lauw Lan Nio yang lalu menambahkan perkataannya:

"... akan tetapi, ayah telah memberikan gambaran tentang dia, yang katanya adalah seorang pemuda yang tampan, sangat cocok kalau…" “Kalau apa, .. ?” tanya Go Hong Lian sebab Lauw Lan Nio tidak meneruskan perkataannya; sebaliknya kelihatan dia bersenyum. “Kalau menjadi pasangan cici..." akhirnya; sahut Lauw Lan Nio, yang bahkan menyertai tawa; sehingga ia kena dicubit oleh teman seperjalanannya.

"Kalau bicara seenaknya saja; selagi kau menghadapi tugas berat dengan mempertaruhkan nyawa...” kata Go Hong Lian sehabis dia mencubit Lauw Lan Nio.

“Justeru karena adanya tugas berat itu, kita perlu banyak tertawa. , ," sahut Lauw Lan Nio; dan dia benar-benar tertawa lagi.

"Hmm. Banyak tawa akan mendatangkan kepedihan, marilah kita tidur ..."

"Baik, siangkong…”

Ditengah malam secara mendadak Go Hong Lian terbangun dari tidurnya; sebab telinganya yang tajam mendengar suara yang tidak wajar.

Dara dalam penyamaran itu memang berlaku waspada, dari itu dengan suatu gerak yang lincah dia keluar dari kamarnya untuk disaat berikutnya dia telah berada diatas genteng rumah penginapan itu; dimana sempat dilihatnya ada 3 bayangan orang yang sedang bergerak menjauh setelah mengetahui datangnya Go Hong Lian.

“Kurang ajar ..!” geram dara dalam penyamaran itu yang

lalu melakukan pengejaran.

Ketiga bayangan orang orang itu lari terus dan lompat turun dari atas genteng suatu rumah, tetap dengan dikejar oleh Go Hong Lian sampai tiba-tiba dilihatnya sesuatu benda yang melayang kearahnya. Menduga bahwa orang itu menyerang memakai senjata rahasia maka dengan tabah Go Hong Lian menangkis memakai pedangnya yang tajam; membikin benda itu hancur berhamburan; akan tetapi Go Hok Lian merasakan suatu tenaga dorongan yang kuat, menandakan orang yang melontarkan benda tadi memiliki tenaga yang sangat besar; sedangkan benda itu ternyata adalah sebuah batu-bata yang dipakai untuk menimpuk.

Dengan hati mendongkol dara dalam penyamaran itu meneruskan pengejarannya yang tertunda tadi mengambil arah ketiga orang itu menghilang.

Dara dalam penyamaran itu sudah jauh meninggalkan rumah penginapan, akan tetapi dia tidak menghiraukan dan dia terus melakukan pengejaran; sampai akhirnya dia berada disuatu tempat yang merupakan hutan belukar.

Oleh karena merasa ragu-ragu, maka Go Hong Lian menghentikan langkah kakinya, dan meneliti keadaan disekitar tempat itu. Akan tetapi waktu dara dalam penyamaran itu hendak kembali ke tempat penginapan, maka secara tiba-tiba didengarnya suara tawa seseorang untuk kemudian dilihatnya ada 3 orang lelaki yang muncul dan menghadang sedangkan ketiga laki laki itu justru adalah orang-orang yang sedang dia kejar.

Dengan bantuan sinar bulan yang remang-remang, namun banyak memberikan bantuan, maka Go Hong Lian sempat melihat bahwa ketiga penghadang itu terdiri dari seorang pendeta yang bermuka menyeramkan bertubuh tinggi kurus, sedangkan kedua temannya adalah orang- orang yang kelihatan bertubuh kuat dengan otot-otot menonjol, dan keduanya memiara jenggot pendek tajam seperti duri-duri landak. “Siapakah kalian dan mengapa kalian mengganggu kami

, , , ?" tanya dara dalam penyamaran itu yang tak mau sembarang bergerak, meskipun dia yakin bahwa dia sedang dipermainkan.

“Hmm .,,,!" geram si pendeta yang memiara rambut disanggul atau digulung, karena ternyata dia merupakan seorang tosu, dan pendeta itu meneruskan berkata :

“, , , aku lihat kau masih muda dan memang cocok menjadi suaminya si budak hina, akan tetapi sejak kapan kalian menikah tanpa mengirim surat undangan ?”

Dan dara dalam penyamaran itu yakin bahwa si tosu menganggap dia benar-benar sebagai seorang pemuda. Dia ingin tertawa akan tetapi dia mendongkol sebab mendengar Lauw Lan Nio disebut sebagai 'budak hina', disamping itu dia merasa yakin bahwa ketiga orang orang ini tentu merupakan musuh yang hendak merebut peta dan surat surat yang ada ditangan Lauw Lan Nio.

Oleh karena memikir demikian; maka dara dalam penyamaran itu mendahulukan melakukan penyerangan; sebab dia melihat tosu itu tidak siaga. Dia menikam dengan pedangnya memakai gerak tipu garuda sakti menerkam kelinci, akan tetapi pendeta itu perdengarkan suara mengejek; dan secepat kilat tosu itu menyiapkan senjatanya yang serupa sebatang golok, yang dia angkat untuk dipakai menangkis tikaman pedang Go Hong Lian, sehingga dengan terdengarnya suatu suara benturan yang keras; maka Go Hong Lian merasakan tangannya tergetar sakit, sementara dilihatnya golok sipendeta tak mendapatkan sesuatu cacad !

Dalam kagetnya Go Hong Lian menjadi lengah dan kesempatan itu telah dipergunakan oleh si tosu yang menyerang dengan suatu gerak tay san ap teng atau gunung tay san menindih sehingga meskipun Go Hong Lian sempat menolong diri dengan berkelit namun ujung bajunya terkena golok tosu sampai menjadi robek.

Kedua kawannya si tosu yang melihat kelincahan lawan yang masih muda usia itu, secara tiba-tiba dan serentak mereka maju menyerang dengan memakai senjata golok.

Dengan bergerak memakai tipu garuda sakti menembus angkasa maka Go Hong Lian lompat tinggi dan jauh untuk menghindar dari dua serangan yang datangnya sekaligus itu akan tetapi dengan tidak kurang cepatnya si tosu berhasil mendekati dara dalam penyamaran itu dan si tosu langsung menikam memakai goloknya yang ampuh. Akan tetapi waktu diketahuinya Go Hong Lian hendak menangkis memakai pedang sambil memutar tubuh, maka si tosu telah merobah gerak dan arah sasaran mencari pundak kiri lawannya yang lincah itu yang hendak dibacok !

Meskipun gerak si tosu sangat gesit dan cepat akan tetapi dengan tenang Go Hong Lian telah menggunakan ilmu im yang thian hiang Liam hoat untuk menempel golok sipendeta dengan pedangnya; lalu dengan memakai gerak tipu geledek menyambar pohon maka pedangnya dara dalam penyamaran itu berputar dan meluncur kearah muka lawan membikin dalam kagetnya sitosu berusaha menunduk; namun ikat kepalanya terkena pedang ku tie kiam sampai putus sedangkan rambutnya yang cukup panjang terlepas sanggulnya !

Si tosu sampai mengeluarkan peluh dingin karena dia merasa sangat kaget, sedangkan Go Hong Lian kecewa karena serangannya tadi tidak memperoleh hasil seperti yang dia harapkan karena gesitnya gerak tubuh si tosu sementara dia pun harus lekas-lekas menghindar dari dua serangan lain yang datangnya dari teman temannya si tosu. "Awas ! pedangnya adalah pedang pusaka,” seru si tosu untuk memperingatkan kedua kawannya, akan tetapi kedua orang laki laki itu hanya tertawa mengejek karena mereka ternyata memiliki golok golok khusus yang ternyata juga sangat ampuh.

Sementara itu si tosu tidak hanya berseru memberi peringatan kepada kedua temannya sebab dia pun ikut menyerang lagi, sehingga bertiga melakukan pengepungan terhadap dara dalam penyamaran itu.

Dalam menghadapi ketiga para pengepungnya yang sangat tinggi ilmunya itu, maka Go Hong Lian tidak sudahnya memikirkan, entah apa sebabnya ketiga orang orang itu harus memancing dia sehingga jauh meninggalkan rumah penginapan, sampai dilain saat dara dalam penyamaran itu teringat dengan rekannya Lauw Lan Nio, sehingga dara dalam penyamaran itu kemudian menjadi cemas, khawatir pihak musuh menggunakan perangkap memisah dia dari teman seperjalanannya, dan selagi dia dilibat dalam pertempuran melawan ketiga musuh itu, maka Lauw Lan Nio tentunya telah didatangi oleh gerombolan musuh yang lain.

Oleh karena teringat dengan kemungkinan kena perangkap musuh, maka Go Hong Lian ingin cepat cepat meninggalkan ketiga musuhnya buat dia kembali ketempat penginapan akan tetapi pada saat itu ternyata tidak mudah lagi buat dia melepaskan diri dari kepungan ketiga orang musuhnya, meskipun dia sudah berusaha sedapat dia lakukan.

Selagi dara dalam penyamaran itu merasa cemas, maka tiba tiba dia melihat datangnya serangan golok si tosu yang mengarah bagian dada, dan serangan itu kelihatannya merupakan serangan maut dengan menggunakan tenaga besar, karena jelas terlihat pada muka si tosu yang sedang meluap kemarahannya.

Disaat tiada jalan bagi Go Hong Lian buat berkelit dan tidak akan berani dia menangkis golok si tosu maka disaat itu pula Go Hong Lian melihat muka si tosu yang tiba tiba menangis seperti orang yang merasa kesakitan lalu terdengar pekik suaranya dan dia melepaskan goloknya yang sedang dia pakai untuk menyerang !

Dalam kagetnya, tiba tiba Go Hong Lian menjadi terkejut karena meskipun golok si tosu tidak ada yang kendalikan namun golok itu sedang meluncur kearah dadanya sehingga dalam gugupnya Go Hong Lian menyampok memakai pedangnya dan golok itu melayang kearah lain dengan sasaran salah seorang dari kedua pengepungnya, sehingga laki laki yang terkena golok nyasar itu berteriak kesakitan sebab golok itu justeru membenam dibagian pundaknya yang sebelah kanan.

Tepat pada saat itu terdengar suara tawa seseorang, suara tawa yang dapat menggetarkan jiwa orang yang mendengarnya dan dilain saat muncul seorang laki laki yang bagian mukanya ditutup dengan sehelai kain warna hijau, sementara di tangan kanannya dia memegang sebatang pedang yang masih berada didalam sarungnya.

Sementara itu; pihak musuh yang mendengar suara tawa tadi, merasa yakin bahwa si pendatang baru itu memiliki tenaga dalam yang sudah mencapai batas kemampuan, sehingga waktu mereka melihat si pendatang baru yang menutup sebagian mukanya itu maka cepat cepat mereka bertiga melarikan diri; membiarkan Go Hong Lian yang tidak melakukan pengejaran, sebaliknya Go Hong Lian mendekati si pendatang baru itu. "Congsu, terima kasih atas bantuan kau..” kata Go Hong Lian sambil dia mengangkat sepasang tangannya untuk memberi hormat, namun selekas itu juga dia buru buru lari menuju kearah tempat penginapan.

Laki laki pendatang baru itu tidak sempat mengucap apa apa. Agaknya dia heran dengan sikap Go Hong Lian yang telah dia bantu, akan tetapi cepat cepat lari meninggalkan dia bagaikan orang yang tidak senang berkenalan.

Laki laki pendatang baru itu tidak mengetahui bahwa Go Hong Lian mendadak teringat lagi dengan Lauw Lan Nio sehingga tanpa sempat memberikan penjelasan dia lekas lekas menuju ketempat penginapan, sedangkan laki laki itu lalu menghilang ke kegelapan malam sambil dia perdengarkan suara gerutu yang tidak jelas.

Go Hong Lian tiba ditempat penginapan dan tepat seperti yang dia duga, dia tidak menemui teman seperjalanannya. Kamar mereka sudah kosong, akan tetapi tidak kelihatan tanda tanda bekas terjadi pertempuran atau pergumulan, sehingga dara dalam penyamaran itu merasa yakin bahwa Lauw Lan Nio juga telah terperangkap dan mengejar pihak musuh yang dia tidak ketahui berapa banyak dan dari pihak mana.

Semalam suntuk sia sia Go Hong Lian menunggu kedatangan Lauw Lan Nio, sedangkan dia tidak berdaya mencari jejak kawannya yang dia tidak ketahui entah dilarikan atau entah sedang kemana, sebab bungkusan pakaiannya pun tidak terdapat didalam kamar itu; entah hilang atau memang dibawa oleh Lauw Lan Nio !

Posting Komentar