Sebagai akibat dari pihak pemerintah penjajah itu, maka kerap kali terjadi pertentangan diantara sesama golongan orang orang gagah dikalangan rimba persilatan sehingga seringkali pula terjadi pertempuran atau pertarungan dikalangan orang orang cina.
Waktu Ong Bun Kiat dan temannya dikalahkan oleh Go Hong Lian yang menyamar sebagai seorang pemuda maka Ong Bun Kiat berdua temannya memerlukan singgah diatas gunung Hiong lam san untuk minta bantuan kepada Ma Kong Ek dan Ma Kong Ek yang memang sudah kenal dengan perwira yang diperbantukan pada ciangkun Sie pek Hong itu segera memimpin anak buahnya buat melakukan pengejaran terhadap dara Go Hong Lian berdua Lauw Lan Nio.
Setelah berhasil mengejar dan terjadi pertempuran itu maka ternyata Ma Kong Ek serta rombongannya tidak berhasil mengalahkan Go Hong Lian berdua Lauw Lan Nio sebaliknya Ong Bun Kiat berdua temannya tidak kelihatan datang memberikan bantuan; sehingga Ma Kong Ek merasa bagaikan dia telah dijerumuskan.
Oleh karena pikiran Ma Kong Ek sedang merasa penasaran terhadap Ong Bun Kiat, maka dia kena ditendang oleh Go Hong lian, sampai tubuhnya terpental keluar arena pertempuran, dan Ma Kong Ek kemudian berteriak mengajak sisa anak buahnya melarikan diri.
Dua dara yang gagal dirintang perjalanannya itu tidak melakukan pengejaran terhadap rombongan Ma Kong Ek yang melarikan diri; dan Lauw Lan Nio lalu mendekati teman seperjalanannya :
“Cici kau hebat !” puji Lauw Lan Nio sambil dia
membersihkan pedangnya dari noda darah.
“Kau juga hebat, adik Lan; tetapi hati hatilah kau jangan menyebut cici kalau dihadapan lain orang. Ingat, kau adalah isteriku..." sahut Go Hong Lian yang lalu tertawa secara jenaka.
“Baik, siangkong,” Lauw Lan Nio ikut bergurau; lalu dia
pun ikut tertawa.
“Marilah kita teruskan perjalanan kita,” akhirnya Go
Hong Lian mengajak dan mendahului berlari memakai ilmu ringan tubuh, sampai mereka tiba disebuah dusun, dimana mereka lalu mencari tempat penginapan.
"Adik Lan; agaknya pihak musuh cepat sekali mengetahui tentang kepergian kau. Mereka bahkan juga mengetahui bahwa kau membawa peta harta yang hendak mereka rebut,” kata Go Hong Lian waktu mereka berdua telah berada didalam kamar.
“Memang . ," sahut Lauw Lan Nio akan tetapi kelihatannya dia sedang khawatir dengan keselamatan ayahnya yang sedang dia tinggalkan. Apalagi diantara yang menghadang tadi tidak dilihatnya adanya Ong Bun Kiat; sehingga dia menduga kalau perwira tentara penjajah itu mendatangi tempat ayahnya umpatkan diri.
“Asal saja pek hu cepat berangkat seperti yang aku pesan; pasti dia akan selamat . ," kata Go Hong Lian yang mengetahui rasa cemas teman seperjalanannya itu.
"Cici pesan supaya ayah kemana , .. ?” tanya Lauw Lan Nio yang tidak mengetahui; sebab ayahnya justeru memesan supaya dia segera kembali kemarkas tempat mereka berkumpul, kalau dia sudah menyelesaikan tugasnya sehingga dia menyangka bahwa ayahnya itu tentu akan berangkat ketempat yang sama kalau ayahnya sudah sembuh.
Sementara itu Go Hong Lian memberikan jawaban atas pertanyaan Lauw Lan Nio:
“Aku pesankan supaya pek-hu segera berangkat keatas gunung Oei san yang letaknya tidak terlalu jauh, aku yakin pek-hu dapat memaksakan diri buat melakukan perjalanan itu."
“Dengan demikian cici jadi melibatkan tayhiap dengan urusan kami, dan kalau pihak tentara penjajah mengetahui, sudah tentu tayhiap suami isteri tidak dapat hidup tenang," Lauw Lan Nio berkata dengan nada suara terdengar menyesal.
"Apakah urusan membela bangsa yang sedang dijajah, tidak patut suhu ikut campur ?" tanya Go Hong Lian yang kelihatan merasa kecewa bercampur penasaran.
"Bukan begitu, cici .." sahut lauw Lan Nio yang lalu meneruskan perkataannya:
"… tetapi apakah cici sudah yakin bahwa tayhiap bakal menyetujui gerakan yang semacam ini..?"
"Aku yakin suhu akan berpendirian seperti itu, dan aku bahkan akan ikut dalam pergerakan ini selekas aku sudah bertemu dengan ayahku .. "
Lauw Lan Nio terdiam berpikir tanpa dia mengucap apa- apa, sampai secara tiba-tiba Go Hong Lian yang bicara lagi;
" .. eh, apakah adik Lan sudah kenal dengan dia .. ?”
"Dia siapa maksud cici .. ?” tanya Lauw Lan Nio yang
menjadi heran.