Pendekar Bunga Cinta Chapter 107

NIC

Meskipun terkejut karena datangnya bantuan dari pihak lawan mereka, namun Ong Bun Kiat bergerak gesit mendorong tubuh rekannya; sehingga rekan itu terjerumus hampir jatuh, akan tetapi nyaris menjadi mangsa pedang ku tie kiam.

Kemudian ketika pedang yang ampuh itu merobah sasaran; menyerang Ong Bun Kiat dengan gerak tipu 'burung garuda mementang sayap’, maka dengan berani Ong Bun Kiat hanya menunduk; lalu dia menyabet memakai senjatanya yang istimewa, dengan satu gerak tipu 'nelayan melepas jangkar', dan selagi dara dalam penyamaran itu lompat untuk menghindar, maka Ong Bun Kiat juga turut lompat keluar dari kancah pertempuran, langsung kabur menyusul rekannya yang telah mendahulukan dia.

Go Hong Lian yang sedang menyamar sebagai seorang pemuda, merasa penasaran hendak mengejar dua lawan itu, akan tetapi dia membatalkan niatnya ketika dengan langkah kaki ragu-ragu atau malu-malu dilihatnya dara remaja yang dibantunya sedang mendekati dia.

“Terima kasih atas bantuan kongcu.." kata dara remaja itu, menganggap yang membantunya adalah seorang pemuda.

Dara dalam penyamaran itu tersenyum dan balas memberi hormat, membikin dara remaja itu bertambah menjadi malu.

“Mengapa kouwnio bertempur dengan mereka ?” tanya

Go Hong Lian membawa lagak seperti seorang pemuda.

"Akupun tidak mengetahui , . " sahut dara remaja itu setelah sejenak dia kelihatan berpikir dan merasa ragu ragu, setelah itu dia menambahkan perkataannya :

" , . telah berulang kali mereka menghadang aku jika aku sedang melakukan perjalanan. Mungkin ayah dapat memberikan penjelasan.” "Apakah kouwnio menetap didekat tempat ini ?" Go Hong Lian kemudian menanya lagi, tetap dengan membawa lagak seperti seorang pemuda.

Dara remaja itu manggut membenarkan, dan berkata: "Sekiranya kongcu sudi singgah, ayah pasti akan

gembira.. ,”

Dara dalam penyamaran itu perlihatkan senyum nakal sehingga senyuman itu sekali lagi telah mengakibatkan dara manja itu menjadi merasa malu, namun keduanya kemudian jalan berdampingan, menuju ketempat kediaman dara remaja itu, yang mengaku bernama Lauw Lan Nio.

Ayahnya Lauw Lan Nio adalah seorang laki laki tua yang umurnya sudah lebih dari lima puluh tahun, memiara jenggot sebatas dada, bertubuh masih sehat, dan mengaku bernama Lauw Keng Lim.

Dihadapan orang tua itu, juga dihadapan dara Lauw Lan Nio, sengaja Go Hong Lian umpatkan namanya dan mengaku bernama Go Hong Gie. Akan tetapi orang tua yang luas pandangan dan pengamat itu, ternyata tak dapat dikelabui, karena dia segera mengetahui tentang penyamaran Go Hong Lian, sehingga dara dalam penyamaran itu lalu mengakui dan mengatakan hal yang sebenarnya.

"Akh, ternyata kau adalah puterinya Tiat see ciang Go Ciang Hin, dan menjadi muridnya tayhiap Wei Beng Yam ,

," kata Lauw Keng Lim yang kelihatan terkejut, namun pada saat berikutnya, wajah mukanya kelihatan menjadi girang, bahkan tanpa ragu ragu dia telah menceritakan suatu rahasia kepada Go Hong Lian.

PADA WAKTU ITU; pihak pemerintah bangsa Mongolia yang menjajah seluruh daratan Cina; sebenarnya sedang menghadapi masa kekacauan atau kerusuhan kerusuhan; akibat adanya pertentangan dari para pangeran yang saling berlomba ingin menggantikan menjadi raja meskipun mereka harus melakukan cara cara yang keji dan kejam; bahkan saling menghasut dan ada pula yang sengaja bekerja sama dengan kaum perampok atau orang-orang gagah dari kalangan 'hitam".

Dan ditengah kekacauan yang sedang melanda negeri Cina itu, justeru muncul seorang orang gagah yang selalu memakai selubung penutup kepala dengan kain warna hijau; kecuali dibagian mata, hidung dan mulut yang berlobang, sehingga wajah muka seseorang itu tidak mungkin diketahui oleh orang orang.

Orang gagah yang selalu memakai selubung penutup kepala itu, ternyata dengan cepat telah mendapat simpati dari kalangan masyarakat luas, berkat segala perbuatannya adalah untuk kepentingan rakyat jelata, menolong rakyat dari korban keganasan kawanan perampok, bahkan juga dari tindakan sewenang-wenang dari pihak pejabat pemerintah penjajah.

Didalam waktu sekejap; orang gagah yang selalu memakai selubung penutup kepala itu telah berhasil membentuk suatu 'kelompok' para pendukung atau para pembantunya sehingga pihak pemerintah bangsa Mongolia menganggap orang gagah itu mempunyai maksud hendak berontak terhadap pemerintah penjajah, sementara markas rombongan orang gagah itu sering berpindah tempat; sehingga sangat sukar untuk dibasmi.

Disamping memiliki banyak para pembantu setia yang selalu mendampingi, orang gagah itu ternyata juga memiliki para pembantu yang bertugas digaris belakang yakni buat mencari bantuan tenaga atau pun harta benda untuk membiayai kelompok mereka.

Lauw Keng Lim yang merupakan salah seorang pembantu dari orang orang yang selalu memakai selubung penutup kepala itu mendapat tugas membawa sepucuk surat, yang satu buat seorang pendekar pedang kenamaan yang didalam kota In tay, sedangkan yang satu lagi buat seorang perempuan yang dikatakan menjadi pemimpin dari persekutuan selendang merah, dan pada yang kedua itu bahkan berisi sebuah peta tempat penyimpan harta-harta yang tak ternilai harganya.

Tetapi pihak pemerintah penjajah mengetahui maksud perjalanan Lauw Keng Lim berdua anaknya berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Kim Lun Hoat ong kepada sri baginda maharaja, sehingga pihak pemerintah penjajah segera memerintahkan melakukan pengejaran dan merampas kedua surat berikut peta harta itu dari tangan Lauw Keng Lim, sementara Kim lun Hoat ong juga menyebar para pembantunya untuk maksud kepentingan pribadi.

Diantara para petugas yang melakukan pengejaran itu terdapat pula Ong Bun Kiat yang telah bekerja sama dengan pihak pemerintah daerah setempat. Dalam pertempuran melawan Lauw Keng Lim berdua putrinya, maka Lauw Keng Lim terluka kena senjata rahasia yang mengandung bisa racun sehingga sebelah kakinya bagaikan menjadi lumpuh dan mereka terpaksa umpatkan diri tak dapat meneruskan perjalanan sampai mereka bertemu dengan Go Hong Lian dan dara dalam penyamaran itu memberikan bantuan tanpa disengaja.

Waktu diketahuinya bahwa dara dalam penyamaran itu adalah anaknya Go Ciang Hin maka Lauw Keng Lim kelihatan menjadi terkejut sebab dia cukup mendengar tentang nama si tangan pasir besi yang dianggap orang yang terlalu ringan tangan, sering bertentangan meskipun diantara sesama golongan. Akan tetapi waktu diketahui bahwa Go Hong Lian juga merupakan murid dari tayhiap Wie Beng Yam; maka lain lagi kesan Lauw Keng Lim terhadap Go Hong Lian.

Oleh karena lukanya yang merintangi tugasnya maka Lauw Keng Lim memutuskan meminta bantuan Go Hong Lian; buat melakukan perjalanan bersama sama dengan Lauw Lan Nio membawa kedua pucuk surat buat diserahkan kepada yang berkepentingan.

Bagi dara dalam penyamaran itu; dia tidak merasa keberatan memenuhi permintaan Lauw Keng Lim; terlebih perjalanan yang harus dilakukan adalah searah dengan tujuannya sendiri. Sebaliknya dara Lauw Lan Nio kelihatan tidak rela meninggalkan ayahnya seorang diri, namun akhirnya dapat dibujuk mengingat pentingnya tugas yang mereka sedang lakukan.

) ( )x( M

SELAGI udara cukup cerah dan angin pegunungan meniup perlahan; kelihatan ada seorang muda mudi yang sedang melakukan perjalanan seperti pasangan suami isteri muda yang sedang berbulan madu padahal mereka adalah Lauw Lan Nio berdua Go Hong Lian yang tetap menyamar sebagai seorang pemuda pelajar.

Mereka sudah cukup jauh terpisah dengan tempat mereka tinggalkan Lauw Keng Lim; akan tetapi mereka masih menyusuri daerah pegununpan yang sunyi ketika tiba-tiba mereka dikejutkan dengan melesatnya sebatang tombak kearah mereka yang datang dari atas sebuah pohon yang lebat. Pasangan remaja itu dengan gesit lompat menghindar. Akan tetapi secepat itu pula mereka telah dikepung dan dikurung oleh tidak kurang dari belasan laki laki bermuka garang siap dengan perlengkapan senjata tajam.

"Adik Lan, agaknya ada juga orang orang yang hendak merintangi perjalanan bulan madu kita..," kata dara dalam penyamaran itu dengan kelakarnya.

"Kita sapu mereka sampai bersih ..” sahut Lauw Lan Nio yang segera menyiapkan pedangnya.

"Mengapa kalian memegat kami .. !" sengaja dara dalam penyamaran itu menanya kepada salah seorang perintang yang dia anggap menjadi pemimpin.

"Hm ! Kau boleh meneruskan perjalanan, akan tetapi Lauw kouwnio harus kau tinggalkan.,!” sahut laki laki itu dengan nada suara menghina.

"Ha ha ha !” Go Hong Lian tertawa, lalu dia meneruskan

berkata, tetapi secara berkelakar :

" . , adik Lan, kau lihat; kita baru menikah dan sekarang ada orang yang hendak menceraikan kita. Agaknya kau memang cocok menjadi seorang cewek rebutan ..."

Sengaja Go Hong Lian bergurau, padahal didalam hati dia terkejut. Tidak dia sangka biIa perjalanan mereka yang secepat itu telah diketahui oleh kaki tangan pemerintah penjajah, dan mereka menghadang tentunya hendak merebut surat berikut peta yang berada ditangan dara Lauw Lan Nio.

Dilain pihak, pemimpin penghadang itu kelihatan menjadi marah dan membentak;

“Kurang ajar ! kau jangan menjual lagak dihadapanku !" "Baik; akan tetapi kalau kalian hendak menahan Lauw kouwnio, kalian harus meminta izin pada pedangku ini , . !" sahut dara dalam penyamaran itu dengan nada suara mengejek berhasil dia membikin pihak penghadang itu jadi bertambah marah, lalu dengan suatu tanda maka serentak empat orang sudah mulai membuka serangan, sementara yang lain tetap mengambil sikap mengurung.

Sepasang dara remaja itu tidak menjadi gentar, meskipun keduanya berada didalam kepungan belasan orang laki laki garang. Mereka mengambil sikap punggung menempel dengan punggung, mencegah adanya serangan gelap.

Sementara itu Go Hong Lian berkelit dari suatu tikaman, tubuhnya bergerak gesit kesamping akan tetapi dia mendekati seorang lawan lain, sementara pedangnya terus bergerak mengarah kebagian leher lawan itu dengan menggunakan jurus dari ilmu garuda sakti mementang sayap.

Karena tak mengetahui tajamnya pedang ku tie kiam, musuh yang diserang itu mengangkat goloknya hendak menangkis pedang itu. Waktu kedua senjata mereka saling bentur maka golok itu putus menjadi dua sedangkan pedang ku tie kiam meluncur terus mencapai sasaran membikin leher orang itu putus dan nyawanya tewas seketika !

Pihak para penghadang menjadi geram ketika dalam waktu sekejap seorang rekan mereka telah ada yang tewas. Yang semula hanya berdiri dengan sikap mengurung serentak perdengarkan pekik teriak suara mereka dan serentak mereka menyerang Go Hong Lian.

Menghadapi sedemikian banyaknya lawan tetapi dara dalam penyamaran itu tak menjadi gentar; sebaliknya pedang ku tie kiam bergerak gesit memilih sasaran sipemimpin rombongan menyerang dengan suatu tikaman memakai gerak tipu garuda sakti merebut mutiara.

Si pemimpin rombongan ternyata bukan merupakan seorang lawan yang lemah. Mukanya yang hitam menyeramkan serta tubuhnya penuh otot meskipun tidak tinggi. Dia hanya berkelit sedikit, membiarkan pedang 'ku tie kiam" lewat dekat mukanya; setelah itu tangan kirinya bergerak hendak memegang lengan lawannya; karena niatnya adalah hendak merampas pedang 'ku tie kiam'.

Pada saat tangan si pemimpin rombongan itu hampir berhasil menyambar lengan Go Hong Lian; tangan kiri dara dalam penyamaran itu juga telah bergerak menyerang dengan gerak tipu "garuda sakti mematok mata” dan dua jari tangan Go Hong Lian mencari sasaran pada sepasang mata laki laki itu; membikin laki laki itu harus cepat cepat membatalkan niatnya yang hendak memegang lengan dara Go Hong Lian sebaliknya dia lompat mundur beberapa langkah kebelakang, sehingga dia terhindar dari ancaman matanya menjadi buta, sementara dara dalam penyamaran itu juga terbebas dari ancaman pedangnya yang akan direbut orang.

Membarengi gerakannya selagi lawannya lompat mundur sebenarnya Go Hong Lian bermaksud untuk menyerang lagi, akan tetapi disaat itu pula dia telah diserang oleh dua musuh lain, sehingga batal niatnya dara dalam penyamaran itu; sebaliknya si pemimpin rombongan justeru yang telah mendekati lagi dan menyerang lagi membantu anak buahnya, sementara Go Hong Lian lalu bersilat memakai ilmu hui hwa pok tiap atau kupu kupu beterbangan mendekati bunga, suatu ilmu peninggalan dari Thian hiang siancu yang mengutamakan kelincahan dan ringan tubuh yang disamping untuk bertahan, sekaligus juga untuk melakukan penyerangan ! Dilain pihak Lauw Lan Nio juga harus mengamuk diantara para pengepungnya. Pedangnya dengan cepat sudah berhasil melukai dua orang musuh, sebaliknya pihak musuh sukar menembus pertahanan Lauw Lan Nio yang juga telah perlihatkan kegesitan tubuhnya.

Si pemimpin rombongan penghadang yang sebenarnya bernama Ma Kong Ek, sangat mendongkol dan penasaran karena tidak menduga kalau orang orang muda yang mereka kepung itu tidak mudah dikalahkan.

Ma Kong Ek ini sebenarnya adalah kepala rombongan berandal yang bermukim diatas gunung Hiong lam san yang terkenal ganas. Seringkali dia melakukan perampokan, akan tetapi tidak diganggu oleh pihak pemerintah penjajah, sebab rombongan Ma Kong Ek ini justru adalah merupakan kaki tangan pihak pemerintah penjajah.

Dalam menghadapi masa kerusuhan, dan oleh karena merasa cemas akan terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh orang orang cina, maka pihak pemerintah penjajah sengaja mengatur siasat mengadu domba. Untuk melaksanakan siasat itu, pihak penjajah sengaja mendekati dan membikin persekutuan dengan orang orang rimba persilatan, khususnya dari golongan 'hitam' yang dapat dibeli dengan harta atau janji akan diberi pangkat.

Posting Komentar