“Go Ciang Hin yang dikalangan rimba persilatan dikenal sebagai si tangan pasir besi...?" tanya Pouw Keng Thian menegaskan. "Benar,” sahut Go Hong Lian yang bersenyum karena kelihatannya dia merasa bangga dengan nama ayahnya yang cukup terkenal.
“Lian moay, ada suatu berita mengenai ayahmu yang hendak aku beritahukan; akan tetapi sebaiknya kita jangan bicara disini sebab kemungkinan siberandal tadi akan kembali membawa kawannya."
"Apakah kau takut menghadapi mereka ?” tanya Go
Hong Lian yang kelihatan kecewa.
"Bukan begitu, akan tetapi apa gunanya kita harus merepotkan diri melawan segala kurcaci ?"
"Akan tetapi pedangku dicuri orang, aku justru menduga komplotannya orang tadi yang telah melakukan pencurian itu; sedangkan pedangku itu adalah pedang 'ku tie kiam'."
"Ku tie kiam ?" ulang Pouw Keng Thian yang kembali menjadi terkejut berbareng heran, sebab 'ku tie kiam' atau pedang 'besi hitam' itu adalah miliknya tayhiap Wie Tan Wie yang kemudian adalah sudah menjadi milik anaknya, yakni Wie Beng Yam, bagaimana mungkin pedang itu bisa menjadi miliknya Go Hong Lian? Adakah sesuatu hubungan antara Go Ciang Hin dengan Wei Beng Yam?
“Tidak jauh dari sini ada sebuah dusun bekas semalam aku menginap, marilah kita kesana buat aku ceritakan tentang kisah pedang ku tie kiam, dan kau ceritakan tentang berita mengenai ayahku,,,” akhirnya kata Go Hong Lian yang dapat meraba tentang yang sedang dipikirkan oleh Pouw Keng Thian.
“Baiklah, tadipun aku beristirahat didusun itu .,” sahut Pouw Keng Thian dan dia memaksa Go Hong Lian naik diatas kudanya sedangkan dia mengikuti dengan menuntun tali kendali sehingga lagak mereka mirip seperti pasangan suami isteri orang orang dusun yang sedang menuju ke kota.
Dalam melakukan perjalanan yang lambat itu maka Pouw Keng Thian menceritakan perihal dia yang pernah mendaki gunung Lam san sampai kemudian dia menemukan mayat Go Ciang Hin yang memang pernah dikenal oleh Pouw Keng Thian, sebab sejak dulu Go Ciang Hin pernah datang menyambangi gurunya pemuda itu.
“Mereka semuanya tewas sebagai korban keganasan orang orang Hong bie pang,” kata Pouw Keng Thian yang menambahkan penjelasannya.
Tidak hentinya Go Hong Lian menangis waktu dia mendengar berita tentang ayahnya yang sudah binasa, dia bahkan hampir pingsan diatas kuda, sekiranya dia tidak berusaha mengatasi diri.
“Heran, ayah cukup gagah; terutama dengan ilmu tangan pasir besi; lagi pula tidak kurang dari lima belas orang yang berkumpul diatas gunung Lam san seperti yang kau katakan dan mereka semuanya pasti bukan merupakan sembarangan orang; akan tetapi mengapa mereka dapat dikalahkan oleh rombongan orang orang Hong bie pang..?" kata Go Hong Lian sehabis dia menangis.
"Menurut dugaanku dan berdasarkan hasil penyelidikan yang aku lakukan tentunya pihak orang2 Hong bie pang telah melakukan serangan secara menggelap; memakai senjata rahasia yang mengandung bisa racun, atau mungkin pula mereka menyebar pada makanan atau minuman, sehingga mereka yang sedang berkumpul diatas gunung Lam san dapat dibinasakan semuanya,.." sahut Pouw Keng Thian, untuk kemudian dia pun menceritakan tentang kisah perjalanannya sehubungan dengan tewasnya kedua orang tuanya ditangan Hong bie kauwcu berdua Hong bie niocu. "Kalau kau bertemu lagi dengan Hong bie kauwcu, tentunya kau dapat mengenali dia, bukan ..?” tanya Go Hong Lian yang jadi ikut merasa iba dengan nasib pemuda yang sudah piatu itu.
"Tentu , ," sahut Pouw Keng Thian; dan lalu dia menjelaskan wajah muka Hong bie kauwcu sebagai si hartawan yang mengaku bernama Cio Eng Liong.
"Cio Eng Liong. Tidak pernah ayah bercerita tentang adanya nama seperti itu dari orang orang dikalangan rimba persilatan…" kata Go Hong Lian seperti pada dirinya sendiri, sementara mereka pun telah memasuki dusun tempat tadi Pouw Keng Thian beristirahat dan bersantap siang.
Atas sarannya Go Hong Lian yang merasa penasaran dengan pihak si penjahat yang telah mencuri pedangnya serta memegat perjalanannya, maka keduanya lalu memesan dua kamar ditempat bekas semalam Go Hong Lian menginap.
Sambil melewatkan waktu, keduanya itu duduk diruang tamu sambil saling menceriterakan perihal diri masing masing. Agaknva mereka sengaja berlaku hendak menarik perhatian orang-orang, terutama agar diketahui oleh pihak si penjahat bahwa mereka belum pergi meninggalkan dusun itu.
Tiat see ciang Go Ciang Hin atau tangan pasir besi sebenarnya sudah belasan tahun menjelajah dikalangan rimba persilatan. Dia dimalui banyak orang karena mahirnya ilmu tangan pasir besi yang dia miliki. Sikapnya yang agung dan terkadang sangat ganas dalam menghadapi lawan, telah mengakibatkan dia kurang disukai oleh beberapa orang sahabatnya. Tiat see ciang Go Ciang Hin menetap di dusun Oei kee cip bersama isteri dan seorang anak perempuan yang bernama Go Hong Lian, akan tetapi sejak kecil anak perempuannya itu belajar ilmu silat digunung Oei san, yang letaknya tidak terlalu jauh terpisah dari dusun Oei kee cip, dan gurunya Go Hong Lian adalah pasangan suami isteri perkasa, yakni tayhiap Wei Beng Yam dan isterinya, Kiu Siok Ing; puteri tunggal Sin eng Kiu It, si garuda sakti yang kenamaan.
Dahulu tayhiap Wei Beng Yam pernah merajai kaum rimba persilatan, sehingga dia mendapat gelar tayhiap atau pendekar besar, akan tetapi sangat banyak pengalaman pahit yang dia hadapi, sehingga setelah menikah dengan Kiu Siok Ing nama pasangan suami isteri itu menghilang dan hidup menyendiri diatas gunung Oei san.
Tayhiap Wei Beng Yam memilih tempat gunung Oei san buat dia hidup menyendiri bersama isterinya, sebab diatas gunung Oei san itu dahulunya merupakan tempat bersemayam Thian hiang siancu almarhum, yang menjadi guru dari Kiu Siok Ing (isterinya Wei Beng Yam), sedangkan Thian hiang siancu ini adalah bekas isteri almarhum gurunya Wie Beng Yam yang bernama Jie Cu Lok.
Jelas bahwa Kiu Siok lng itu bukan merupakan sembarangan perempuan yang lemah, oleh karena dia adalah ahli waris tunggal dari Thian hiang siancu yang terkenal sakti ilmunya dan Go Hong Lian tidak melulu menjadi muridnya tayhiap Wei Beng Yam, akan tetapi dara ini mendapat pula didikan dari Kiu Siok Ing; yang bahkan telah menggembleng dalam ilmu Hui eng cip cap jie sut bo tie sin ciang (ilmu silat burung garuda merebut maut yang terdiri dari 72 jurus ganti berganti), berhasil menjadi kebanggaan Sin eng Kiu It, si garuda sakti yang kenamaan; serta ilmu thoh siang hui (terbang di atas rumput), serta ilmu melepas senjata rahasia Lian hoan cu po piao; atau piao induk yang apabila dia tersentuh maka akan pecah selubungnya, dan didalam selubung induk piao itu tersimpan jarum-jarum halus tok beng oei hong ciam yang mengandung bisa racun yang dahsyat. Kedua macam ilmu itu adalah peninggalan dari Thian hiang siancu.
Oleh karena sudah lama ayahnya pergi padahal waktu pamit katanya hendak menyambangi Leng In Liong diatas gunung Lam san maka dara Go Hong Lian menjadi cemas, terlebih karena dia mengetahui bahwa ayahnya banyak musuhnya. Dari itu dia menyatakan hasratnya hendak menyusul ayahnya.
Setelah mendapat persetujuan dari ibunya maka Go Hong Lian memerlukan pamitan dari kedua gurunya diatas gunung Oei san, sementara tayhiap Wei Beng Yam yang mengetahui niat muridnya telah pula menitipkan salamnya buat Leng In Liang yang memang dikenalnya serta dia meminjamkan pedang 'ku tie kiam' buat bekal Go Hong Lian ditengah perjalanan.
(Untuk jelasnya pedang ku tie kiam atau pedang besi hitam ini ada sepasang, yang sebatang merupakan pedang laki laki yang ternyata berada pada Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing, sedangkan yang sebatang lagi merupakan pedang 'perempuan', yang berada ditangan liehiap Kui Siok Ing atau isterinya tayhiap Wei Beng Yam. Tentang kisah pedang ku tie kiam ini, mempunyai kisah tersendiri yang berjudul 'Kisah Sepasang Pedang Mustika’)
Sementara itu; dalam melakukan perjalanannya menuju keatas gunung Lam san yang letaknya dibelahan sebelah barat, maka Go Hong Lian sengaja menyamar dengan berpakaian semacam seorang pemuda pelajar; oleh karena dia tidak ingin adanya orang orang mengganggu dia; melulu disebabkan mukanya yang cantik.
Di hari ketiga setelah meninggalkan gunung Oei san, maka dara manis yang sedang menyamar sebagai seorang pemuda itu memasuki daerah pegunungan yang sunyi; sampai kemudian secara mendadak dara dalam penyamaran itu menjadi tersentak, sebab telinganya yang tajam mendengar bunyi suara senjata yang saling bentur, menandakan didekat tempat itu terdapat seseorang yang sedang bertempur.
Oleh karena merasa ingin mengetahui, maka dara dalam penyamaran itu mendekati sampai disaat berikutnya dia melihat ada seorang dara remaja yang sedang bertempur melawan dua orang laki-laki bermuka bengis, dan kedua laki laki itu sedang melancarkan berbagai serangan maut, membikin dara remaja itu kelihatan terdesak dan terancam nyawanya.
"Budak hina, kau serahkan saja peta itu pada kami; dan kami akan mengampuni nyawamu... !” bentak salah seorang dari kedua laki laki itu; tanpa dia mengurangi desakan serangannya.
Dara remaja itu tidak menghiraukan perkataan lawannya, sebaliknya dia memusatkan segenap perhatiannya untuk membikin pertahanan yang rapat, sehingga pedangnya berputar-putar sedemikian rupa sehingga membikin kedua lawannya tak mudah untuk melukai atau mengalahkan dia.
Akan tetapi lelaki yang membentak tadi sebenarnya bukan sembarang lawan. Dia adalah pembantu dan kepercayaan ciangkun Sie Pek Hong, perwira yang mengabdi pada Kim Lun Hoat ong; dan lelaki itu bernama Ong Bun Kiat yang terkenal ganas dan kejam. Ong Bun Kiat memiliki senjata yang istimewa yakni sepasang kait baja berukuran yang sama dengan pedang; dan keistimewaan senjata itu disamping dapat mengait kepala atau tubuh lawan juga dapat digunakan buat merebut senjata lawan.
Agaknya dara remaja itu merasa jeri dengan lawan yang bernama Ong Bun Kiat itu. Dia berusaha mendekati musuh yang seorang lagi yang sebenarnya merupakan seorang perwira pembantu pada pemerintah daerah setempat, namun yang pada saat itu keduanya tak memakai pakaian seragam militer.
Kawannya Ong Bun Kiat yang bersenjata sebatang golok, merasa mendongkol dan penasaran karena menyadari bahwa lawannya menganggap dia sebagai orang yang terlemah. Dia perlihatkan perlawanan yang dahsyat dan untuk mengatasi keadaannya yang terdesak maka dia bermaksud memberikan tekanan yang berat bagi lawannya dan usahanya itu kelihatan berhasil berkat bantuan yang diberikan oleh Ong Bun Kiat.
Melihat keadaan yang gawat bagi dara remaja yang tidak atau belum dikenalnya itu maka Go Hong Lian siapkan pedangnya dan memasuki kancah pertempuran. Pedang ku tie kiam yang ampuh bergerak menangkis serangan golok yang sedang mengarah dara remaja yang dibantunya sehingga bertepatan dengan terdengarnya bunyi benda logam yang saling bentur, maka golok itu putus menjadi dua, sementara pedang yang tajam itu dengan meminjam tenaga benturan tadi telah meluncur terus mencari sasaran pada tenggorokan si pemilik golok bagaikan seekor ular yang melepas bisa!