Pouw Keng Thian singgah disuatu kedai nasi yang tidak terlalu besar, karena dia ingin beristirahat dan memesan makanan.
Setelah selesai bersantap, maka Pouw Keng Thian lekas lekas meneruskan perjalanannya tanpa menghiraukan panas terik dari sinar matahari yang memancarkan sinarnya.
Waktu hendak melintas jalan pegunungan yang sunyi, tiba-tiba Pouw Keng Thian mendengar pekik suara seorang perempuan; sehingga dia lalu percepat lari kudanya untuk mendekati asal suara tadi sampai disaat berikutnya dia melihat adanya seorang laki laki bermuka hitam menyeramkan, sedang berusaha hendak merebut sebuah bungkusan dari seorang perempuan muda.
Agaknya perempuan muda itu sedang mempertahankan miliknya dari rampasan laki laki yang bermuka hitam itu; sampai kemudian secara tiba tiba perempuan muda itu memukul muka laki laki itu memakai kepalan tangannya.
Laki laki bermuka hitam menyeramkan itu melompat mundur, menghindar dari pukulan tadi. Dia marah dan memaki ;
"Kurang ajar ! Rupanya kau berani melakukan perlawanan ... !"
Sehabis dia memaki, maka laki laki itu bersiap siap hendak membalas menyerang perempuan muda itu yang rupanya juga pandai ilmu silat.
Tangan kanan laki laki yang besar dengan muka hitam menyeramkan itu lalu menghajar mengarah dada calon korbannya, akan tetapi dengan tangkas perempuan muda itu berkelit mundur selangkah, lalu kakinya yang kecil menendang muka laki laki yang bengis itu.
Diluar dugaan Pouw Keng Thian yang menyaksikan, tendangan perempuan muda itu tepat mengenai sasaran; sehingga terdengar pekik teriak dari laki laki yang tubuhnya ikut menjadi limbung akan tetapi sempat dia mengeluarkan senjatanya yang berupa sebatang golok.
“Kurang ajar ! Rupanya kau benar benar sudah bosan hidup...!” laki laki itu membentak lagi; lalu dia mulai melakukan penyerangan dengan suatu bacokan maut.
Perempuan muda itu berkelit dari serangan golok yang mengarah bagian pundaknya, akan tetapi dengan sengit laki laki bermuka hitam dan menyeramkan itu sudah mengulang serangannya secara bertubi-tubi, sehingga berhasil dia membikin perempuan muda itu repot dan kewalahan, terlebih oleh karena perempuan muda itu tidak memiliki senjata.
Sampai disitu Pouw Keng Thian tidak dapat menonton lebih lama. Dengan gerak 'burung walet menembus angkasa' maka Pouw Keng Thian melesat dari atas kudanya sementara goloknya yang sudah siap ditangannya, langsung menangkis golok laki laki galak yang sedang mengarah perempuan muda itu.
Suatu bunyi suara yang keras terdengar, sebagai akibat benturan kedua senjata itu.
Laki laki mukanya hitam menyeramkan itu lompat mundur, untuk memeriksa goloknya dan mengawasi Pouw Keng Thian yang menjadi perintangnya :
“Kurang ajar ! siapa kau yang berani mencampuri urusan lain orang , , . !" laki laki itu membentak dengan suara galak.
Pouw Keng Thian tersenyum mengejek dan berkata : "Disiang hari begini, kau hendak merampok milik seorang perempuan, apakah aku harus diam , . ?”
“Kurang ajar . ,!” seru laki laki itu bertambah marah, IaIu dengan gerak tipu 'tay-san ap teng' atau gunung tay san menindih, goloknya datang menyambar hendak membelah kepala Pouw Keng Thian.
Pada benturan senjata mereka tadi, Pouw Keng Thian telah mengetahui bahwa laki laki bermuka hitam menyeramkan itu memiliki tenaga yang besar. Oleh karena itu serangan lawan itu dia tidak tangkis; sebaliknya dia hanya membungkuk membiarkan golok musuh lewat disisinya, lalu dia membarengi menikam memakai goloknya, dengan gerak tipu 'ular berbisa keluar dari liang'. “Kurang ajar , , ,!” teriak laki laki galak itu yang harus bergerak mundur beberapa langkah kebelakang, karena tidak sempat dia menangkis serangan Pouw Keng Thian tadi. Akan tetapi waktu Pouw Keng Thian mengulang serangannya memakai gerak tipu yang sama, maka goloknya menyapu hendak menangkis memakai gerak tipu 'angin barat menyapu daun'.
Menghadapi musuh yang bertenaga banteng, Pouw Keng Thian perlihatkan kelincahan tubuhnya serta kegesitan serangannya yang cepat dapat berganti haluan. Goloknya berputar sedemikian rupa, mengikuti arah tangkisan golok musuh sehingga selalu terhindar dari suatu benturan, sebaliknya goloknya itu berhasil merobek baju dan melukai pundak kiri lawannya.
"Kurang ajar..!" teriak lagi laki laki itu sambil dia lompat mundur, dan menutup luka pada pundaknya memakai sebelah tangannya.
"Kalian tunggu, aku akan kembali untuk merebut nyawa kalian,..!"
Sehabis dia berkata demikian, maka laki laki itu kabur dengan sangat cepatnya.
"Syukur inkong datang tepat pada waktunya…" perempuan muda itu berkata malu-malu, sambil dia memberi hormat dan mengucap terima kasih.
"Namaku Pouw Keng Thian...” sahut Pouw Keng Thian yang tidak mau disebut inkong atau 'tuan penolong’ dan sekaligus dia telah perkenalkan namanya.
"Namaku Go Hong Lian , . " perempuan muda itu ikut perkenalkan namanya, namun tetap dengan lagak malu- malu, dan atas pertanyaan Pouw Keng Thian; maka dikatakan oleh Go Hong Lian, bahkan sebenarnya baru semalam dia telah kecurian bungkusan berikut pedangnya; waktu dia menginap disebuah rumah penginapan.
"Kemana tujuan Lian moay ... ?” kemudian Pouw Keng Thian menanya lagi; dan dia memakai istilah 'adik'; oleh karena usia dia telah tua dari usia Go Hong Lian.
Go Hong Lian tidak segera menjawab. Dia mengawasi muka Pouw Keng Thian sampai dia merasa yakin bahwa laki laki muda yang baru menolong itu dapat dia percaya; setelah itu baru dia berkata :
"Aku bermaksud hendak mendaki gunung Lam san; buat menemui Leng In Liang suhu,,"
Pouw Keng Thian terkejut setelah mengetahui maksud perjalanan Go Hong Lian; sebab dia tahu akan sia sia perjalanan yang jauh itu.
"Aku kenal dengan Leng suhu akan tetapi telah binasa,," akhirnya kata Pouw Keng Thian yang telah mendaki gunung Lam San dan menemukan sekian banyaknya mayat mayat yang menjadi korban keganasan Hong bie kauwcu Gan Hong Bie.
"Heran padahal sudah dua bulan ayah pergi, katanya hendak membayangi Leng suhu. Oleh karena belum pulang, maka aku menyusul..,.”
"Siapakah nama ayah Lian moay..,?” Pouw Keng Thian
menanya lagi.
"Go Ciang Hin ,," sahut Go Hong Lian.