Pendekar Bunga Cinta Chapter 104

NIC

menggantikan bicara, dan menambahkan lagi:

".. dengan Gin ciam Tio Tiang Cun kita mempunyai hubungan baik, serta diapun telah menetap jauh di selatan dan diketahui bahwa dia tidak mempunyai sesuatu gerombolan, sedangkan peristiwa yang kita hadapi semuanya terjadi di daerah Kanglam serta kita menghadapi sesuatu gerombolan yang berseragam serba hitam, dan dengan lambang kepala seekor binatang rase. Entah dari persekutuan mana mereka. "

Untuk setiap penjuru daerah Kanglam, kami mengetahui tidak ada pihak penjahat yang berani berlaku kurang ajar terhadap kita; kecuali satu persekutuan yang aku ragukan, yakni orang orang dari persekutuan Hek liong pang. Akan tetapi lambang mereka berupa kepala naga hitam, sedangkan yang kita harap sekarang adalah lambang kepala rase .. " Lie Thian Pa menyambung pembicaraan pamannya; namun selekas itu pula dijawab oleh Ong Tiong Kun:

"Akan tetapi aku yakin, bukan pihak Hek liong pang yang telah melakukan penjegalan dan perampasan ...”

Untuk sejenak Lie Thian Pa mengawasi Ong Tiong Kun tanpa dia mengucap apa apa, sementara pada sinar sepasang matanya, jelas kelihatan dia seperti merasa curiga, lalu dia berkata dengan nada suara seperti mengejek:

"Bagaimana Ong heng dapat memastikan ?” demikian tanya si tangan-geledek.

Tanpa ragu ragu, Ong Tiong Kun lalu memberikan jawaban:

"Meskipun aku belum kenal atau bertemu dengan pemuda Pui Keng Han yang ikut binasa waktu memberikan bantuan, akan tetapi aku tahu bahwa pemuda itu pernah menjadi tunangan puterinya ketua persekutuan Hek-liong pang ”

“Puterinya ketua persekutuan Hek liong pang?” tanya Lie Thian Pa yang merasa heran; bahkan juga Lie Tiauw Eng dan yang lain ikut perdengarkan suara heran sehingga hal ini justeru menjadi suatu tanda tanya bagi Ong Tiong Kun kalau-kalau orang luar bahkan tidak mengetahui tentang nama ketua persekutuan Hek liong pang.

“Apakah Ong hiantit kenal dengan puterinya ketua Hek liong pang? dan siapakah nama ketua persekutuan Hek liong pang itu? Oleh karena sesungguhnya kami belum pernah mendengar siapa gerangan namanya yang rupanya sangat dirahasiakan,.." demikian piauwtauw Lie Tiauw Eng ikut menanya.

Ong Tong Kun jadi terkejut. Dia benar-benar tidak mengetahui kalau nama ketua Hek liong pang begitu dirahasiakan.

"Dalam hal ini aku terikat dengan suatu janji persahabatan sehingga tidak boleh aku mengatakan tentang nama mereka, akan tetapi aku yakin tidak mungkin pihak Hek liong pang memusuhi kita," akhirnya kata Ong Tiong Kun; namun banyak orang yang perdengarkan suara merasa kurang puas.

“Kami sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari jejak pihak penjahat itu. Selama dua bulan ini kami bahkan tidak menerima sesuatu pekerjaan oleh karena demi nama baik, maka semua tenaga yang ada kami kerahkan untuk mencari jejak pihak penjahat itu. Penerimaan tenaga kalian sebagai tenaga piauwsu juga bukan disebabkan Intay piauwkiok terlalu banyak menghadapi pekerjaan mengantarkan barang kiriman, sebaliknya tenaga kalian untuk melakukan penyelidikan..." kata lagi piauwtauw Lie Tiauw Eng.

"Kalau menurut pendapatku justru bertambah sukar buat kita mencari jejak sipenjahat tanpa kita melakukan pengiriman barang sebab kita seharusnya memasang perangkap,” kata Ong Tiong Kun; namun cepat cepat diputus oleh Lie Tiauw Eng.

“Mungkin benar perkataan Ong hiantit, akan tetapi kita jangan lupa harus melindungi nama baik kita. Untuk ketiga kiriman barang-barang yang dirampas, pihak Intay piauwkiok telah memberikan ganti rugi sepenuhnya, dan kami menutup peristiwa perampasan ini agar tidak tersiar diluar." “Kalau begitu kita coba dengan suatu kiriman palsu artinya kita siapkan suatu iringan kereta tanpa barang berharga lalu kita sengaja siarkan berita seolah-olah kita sedang mengantar barang barang yang sangat berharga. Dalam iringan iringan ini lebih baik kita jangan lakukan perjalanan dalam satu kelompok, akan tetapi harus ada kelompok lain yang mengawal dari jauh secara menyamar, sehingga jika iringan kereta dijegal pihak penjahat, maka kawan kita yang lain telah siap untuk memberikan bantuan.”

"Bagus ! Satu pemikiran yang sangat sempurna. Besok kita siarkan berita dan dihari kedua kita lakukan perjalanan

... " kata piauwtauw Lie Tiauw Eng yang jadi girang setelah mendengar usul serta siasat yang dikemukakan oleh Ong Tiong Kun.

( X ) ooo ( X )

PADA HARI yang sudah ditentukan, maka iringan kereta piauw sudah siap untuk diberangkatkan.

Piauwtauw Lie Tiauw Eng telah mengatur persiapan sedemikian rupa, seolah-olah kiriman yang akan diberangkatkan pada hari itu, merupakan kiriman yang terbesar yang pernah dilakukan oleh pihak Intay piauwkiok.

Beberapa orang pengawal, bahkan beberapa orang piauwsu sengaja ditugaskan memesan perbekalan makanan dibeberapa rumah makan; dan mereka itu sengaja melepas berita tentang rencana perjalanan mereka yang hendak mengantar piauw yang bernilai sangat besar.

Tiga orang piauwsu dengan lagak dan gaya yang sangat gagah perkasa; telah memperkuat barisan pengawal iringan kereta piauw itu; sementara pada kelompok kedua yang mengikuti perjalanan iringan kereta piauw itu adalah Ong Tiong Kun bersama lima orang pembantu, dan mereka tidak memakai pakaian sebagai para piauwsu akan tetapi mereka menyamar sebagai orang orang perantau yang sedang melakukan perjalanan jauh; kemudian kelompok ketiga terdiri dari si tangan geledek Lie Thian Pa dengan lima orang pembantu, juga dengan melakukan penyamaran.

Dihari kedua iringan kereta piauw yang kosong itu memasuki sebuah dusun yang tidak terlalu banyak penduduk, namun yang sering kali menjadi tempat persinggahan kaum pelancong, sehingga tak heran bila satu- satunya rumah penginapan di dusun itu selalu banyak tamunya.

Piauwsu yang memimpin iringan kereta memutuskan untuk beristirahat semalaman di dusun itu, sebab hari sudah mendekati magrib sedangkan lewat dusun itu terdapat sebuah daerah pegunungan yang sunyi merupakan belukar, sehingga sangat sukar buat mereka berkemah.

Menurut keterangan seorang pembantu yang ikut didalam kelompok rombongan Ong Tiong Kun, katanya didaerah pegunungan yang belukar itu adalah tempat terjadinya peristiwa dijegalnya rombongan piauwsu Sun Ang Jin.

Malam harinya, seorang diri Ong Tiong Kun mengadakan pengintaian disekitar tempat penginapan itu; namun sampai sedemikian lamanya dia tidak menemukan sesuatu tanda yang mencurigai hatinya, sampai kemudian dia menyusuri hampir semua pelosok dusun itu.

Ada sebuah rumah yang dicurigai oleh Ong Tiong Kun didalam melakukan penyelidikan itu. Dusun itu memang tidak besar dan tidak ramai, akan tetapi rumah yang mendatangkan rasa curiganya itu justeru merupakan sebuah rumah yang sangat besar dan buat ukuran rumah dusun, Iagi pula kelihatan ada sinar lampu yang sangat terang dibeberapa ruangan.

Dengan gerak dan langkah berhati hati; Ong Tiong Kun mendekati sampai kemudian dia lompat naik keatas genteng rumah itu. Dekat ruangan terbesar dan masih menyala terang, maka Ong Tiong Kun berhenti, lalu dengan tubuh bergelantungan dia mengintai kebagian dalam ruangan.

Belasan orang berada didalam ruangan itu yang kelihatan sedang melakukan sesuatu pembicaraan; diantaranya terdapat tiga orang laki laki bangsa Mongolia yang kelihatan membekal senjata golok yang khas buatan Mongolia. Kemudian ada seorang laki laki muda bangsa cina yang lagak dan gayanya menandakan dia mahir ilmu silatnya, bahkan jelas kelihatan dia menjadi pemimpin atau atasan dari ketiga orang laki laki bangsa Mongolia yang bersenjata golok.

Lawan bicara dari ke empat orang laki laki itu adalah seorang laki laki tua yang usianya kira-kira sudah mencapai lima puluh tahun berpakaian sebagai seorang pedagang hartawan tetapi lincah gerak dan gayanya. Dia ditemani oleh belasan orang laki laki yang semuanya memakai pakaian warna hitam, membekal senjata dan pada bagian dada sebelah kiri baju mereka kelihatan memakai lambang seekor kepala binatang rase dalam lingkaran putih.

Ong Tiong Kun yang sedang mengintai, menjadi terkejut bercampur girang, karena dia merasa yakin bahwa dia telah menemukan orang orang dari persekutuan yang telah menumpas kereta piauw dari Intay piauwkiok.

“ .. sesuai dengan isi surat Hoat ong..” demikian antara lain terdengar perkataan si laki laki muda bangsa cina; yang masih meneruskan perkataannya: “.... memang menjadi siasat Hoat ong untuk mengadu domba orang orang yang dicurigai mempunyai hubungan baik dengan Gin Lun Hoat ong, sementara itu Cheng hwa liehiap Liu Giok Ing katanya sedang umpatkan diri diwilayah orang orang suku bangsa Biauw, jauh diperbatasan Inlam, Tali . , ,"

('entah siapa gerangan laki laki muda itu dan entah dia mengabdi dengan pangeran yang mana .,.') pikir Ong Tiong Kun didalam hati, dan dia terus mengintai hendak mendengarkan percakapan mereka selanjutnya,

".....,kemudian sudah pula diketahui oleh Hoat ong bahwa persekutuan Hek liong pang adalah yang paling besar pengaruhnya di wilayah utara ini dan Hoat ong berpendapat bahwa Kanglam liehiap Soh Sim Lan bermaksud menghubungi Hek liong pang untuk menjadi pendukung Gin Lun Hoat ong. Maksud kehendak Kang lam liehiap Soh Sim Lan ini harus dicegah supaya tidak menjadi biang penyakit dikemudian hari, dari itu Hoat ong memerintahkan supaya kauwcu yang mewakilkan Hoat ong buat mengikis habis orang orang Hek liong pang , .”

“Akan tetapi Lie ciangkun tentu mengetahui bahwa untuk bermaksud itu diperlukan banyak tenaga dan keuangan ..” sahut si hartawan yang disebut kauwcu atau pemimpin persekutuan.

"Benar , ," sahut Lie ciangkun, laki laki muda bangsa cina yang mengabdi pada pihak yang disebut 'Hoat ong' itu, dan dia menyambung perkataannya :

" .. akan tetapi bukankah pihak Hoat ong sudah memberikan perlindungan sehingga pihak pejabat Pemerintah setempat 'menutup mata dan telinga' membiarkan pihak kauwcu melakukan berbagai perbuatan perampokan, perdagangan kaum wanita muda dan berbagai perbuatan lain yang sebenarnya menyalahkan undang undang negara dan sekarang kauwcu bahkan meminta bantuanku secara pribadi buat ikut merampas iringan kereta piauw milik Intay piauwkiok , ..."

Ong Tiong Kun menjadi sangat terkejut waktu dia mendengar kalimat perkataan yang terakhir itu. Jelas bagi dia bahwa yang berulangkali telah merampas kereta piauw adalah orang orang yang memakai lambang kepala binatang rase akan tetapi apakah nama persekutuan itu dan dimanakah markas atau pusatnya ? Rumah yang sedang mereka gunakan untuk pertemuan sudah pasti bukan merupakan markas mereka; dan lelaki hartawan itu siapakah dia sebenarnya ?

Segera Ong Tiong Kun bermaksud meninggalkan tempat itu buat dia menghubungi pihak Lie Thian Pa serta pihak piauwsu yang mengawal kereta piauw; agar mereka mengatur siasat yang sebaik baiknya supaya pihak musuh benar benar akan masuk perangkap.

Akan tetapi waktu itu ada seorang peronda yang berhasil melihat Ong Tiong Kun. Pada mulanya peronda itu hanya melihat ada suatu bayangan hitam bagaikan seekor kelelawar yang hinggap diatas tiang kaso rumah. Dia memanah akan tetapi dia menjadi terkejut waktu melihat bayangan hitam itu lompat gesit keatas genteng rumah, lalu berpeta sebagai manusia. Segera dia memukul-mukul alat tabuhannya sehingga dalam waktu sekejap Ong Tiong Kun telah dikurung oleh sejumlah musuh yang sangat mahir dengan ilmu ringan tubuh.

“Kurang ajar siapa kau yang berani mengintai kami..." Lie ciangkun membentak sesudah dia juga lompat naik keatas genteng. Ong Tiong Kun tidak mau dilihat dalam suatu pertempuran melawan sedemikian banyak musuh yang tinggi ilmunya. Menggunakan waktu selagi Lie ciangkun belum siaga, maka tiba tiba dia lompat menerkam; menyerang Lie ciangkun (perwira Lie) dengan satu pukulan tangan kanan, bagaikan "bu siong membelah gunung" yang cukup dahsyat; akan tetapi dengan gerak yang tenang Lie ciangkun hanya miringkan sedikit tubuhnya untuk kemudian secepat kilat dia sudah mengeluarkan pedang yang hendak dia gunakan untuk balas menyerang.

Ong Tiong Kun memang bukan bermaksud hendak bertempur dengan Lie ciangkun. Gerak terkamannya tadi hanya merupakan satu ancaman belaka, karena selekas ujung kakinya tiba didekat Lie ciangkun; maka Ong Tiong Kun lompat lagi dan langsung hendak turun dari atas genteng akan tetapi geraknya kalah cepat dengan si hartawan tua atau si kauwcu, yang waktu itu telah menyabet Ong Tiong Kun memakai senjata cambuk lemas (joan pian) membikin tubuh Ong Tiong Kun yang sedang lompat melayang tidak mungkin berkelit dari cambuk yang menyerang itu, dan andaikata pada waktu itu Ong Tiong Kun mengetahui dengan siapa sebenarnya saat itu dia berhadapan, sudah pasti dia tidak berani menangkis atau menangkap cambuk lawan memakai tangan kosong, sebab cambuk lemas itu penuh duri yang mengandung bisa racun sedangkan si hartawan itu adalah laki laki yang pernah mengaku bernama Cio Eng Liong dihadapan Pouw Keng Thian dan dia adalah Hong bie kauwcu Gan Hong Bie.

Ong Tiong Kun tidak takut karena dia beIum pernah bertemu dengan si biang racun itu. Langkah termudah buat dia menghindar dari hajaran cambuk adalah menangkap ujung cambuk, lalu membiarkan dirinya ditarik sekiranya musuh akan menarik agar dengan meminjam tenaga tarikan itu, dia akan berhasil terlempar jauh, lalu meninggalkan tempat itu buat dia menghubungi kawan kawannya. Akan tetapi disaat Ong Tiong Kun hendak menyambuti dan memegang ujung cambuk, ternyata dia kalah cepat dengan gerak seorang pemuda yang ternyata adalah Pouw Keng Thian dan pemuda itu entah dari mana datangnya telah melayang mendatangi lalu dengan goloknya dia menangkis cambuk Hong bie kauwcu Gan Hong Bie membikin sejenak cambuk itu melibat goloknya Pouw Keng Thian gagal diraih oleh Ong Tiong Kun; lalu dengan lincah dan gesit Pouw Keng Thian berhasil melepas libatan cambuk musuh pada goloknya sampai dilain saat dia melancarkan serangan bergelombang terhadap Hong bie kauwcu yang telah dia ketahui sebagai musuhnya berdasarkan pengakuan dari sihartawan tua itu yang merupakan ujud penyamaran dari Gan Hong Bie dan Hong bie kauwcu terus didesak sampai dia harus lompat turun dari atas genteng namun telah disusul oleh Pouw Keng Thian yang kemudian dibantu oleh seorang dara yang perkasa yang menggunakan senjata sebatang pedang. Meskipun diluar rencana, namun Ong Tiong Kun membatalkan niatnya yang hendak meninggalkan tempat itu, sebaliknya dia Iompat turun hendak membantu Pouw Keng Thian berdua dara yang perkasa itu yang sudah dikepung oleh pihak musuh akan tetapi selekas Ong Tiong Kun sudah lompat turun maka dia langsung diserang oleh Lie ciangkun yang juga bersenjata pedang, dengan gerak bagaikan seekor burung elang yang menyambar anak kelinci.

Ong Tiong Kun berkelit menghindar meskipun pedangnya sudah siap ditangannya. Waktu sekali lagi dia diserang maka dia sudah siap memasang kuda kuda dan dia menangkis membikin pedang mereka saling bentur dengan keras sampai mengeluarkan lelatu anak api sehingga keduanya sama terkejut karena telah berhasil menjajaki kekuatan tenaga masing-masing. Akan tetapi dipihak Ong Tiong Kun, kepelan tangan kirinya lalu bergerak hendak memukul dan waktu Lie ciangkun berhasil menghindar maka kaki kanan Ong Tiong Kun yang menendang membikin sekali lagi Lie ciangkun harus buru buru lompat berkelit.

"Bagus... !" seru Lie ciangkun memuji; akan tetapi dia tidak menunda geraknya, karena dia telah menikam lagi memakai pedangnya untuk kemudian keduanya mengadu kepandaian ilmu pedang mereka!

Sementara itu, rasa penasaran telah menyebabkan Pouw Keng Thian membatalkan maksudnya yang hendak menyambangi makam kedua orang tuanya, dan rasa penasaran membikin pemuda ini memutar haluan perjalanan, mengikuti jejak berdarah dari Hong bie kauwcu Gan Hong Bie, yang sudah dia ketahui berujud sebagai seorang hartawan setengah tua dan mengakui bernama Cio Eng Liong.

Hari sedang panas terik waktu Pouw Keng Thian memasuki sebuah dusun, tetap dengan memakai kudanya; sementara pakaiannya basah dengan peluh bercampur debu.

Posting Komentar