Pendekar Bunga Cinta Chapter 103

NIC

“Kalau benar terjadi perampasan, tentu tempat peristiwa itu tak jauh terpisah dari tempat ditemukannya Sun piauwsu; dalam arti kata masih tetap diwilayah Kanglam ..” Ong Tiong Kun ikut bicara :

“Pikiranmu sama dengan pikiran Suma-hiantit berdua Lie Thian Pa ..” sahut Lie Tiauw Eng yang kemudian meneruskan bercerita :

Lie Thian Pa berdua Suma Eng kembali ketempat bekas diketemukannya piauwsu Sun Ang Jin, dan didekat tempat itu tidak terdapat tanda tanda bekas terjadi suatu pertempuran.

Dengan cermat kedua pemuda itu melakukan penyelidikan, sampai mereka menemukan bekas jejak tubuh Sun Ang Jin yang merangkak bahkan menyeret tubuh sampai dia ditemukan oleh Suma Eng.

Yang mengherankan kedua pemuda itu, jejak bekas piauwsu Sun Ang Jin ternyata menuntun mereka berdua menuju ketempat yang belukar; jadi bukan sepanjang jalan raya yang umumnya dipakai oleh jalan kereta piauw. Lie Thian Pa berdua Suma Eng meneruskan penyelidikan mereka, sampai mereka tiba disuatu hutan pohon jati; disini mereka menemukan tanda tanda bekas terjadinya sesuatu pertempuran, artinya ada noda noda darah yang berceceran akan tetapi tiada mayat ataupun orang orang terluka yang ditemukan, sampai akhirnya menemukan tubuh Kho piauwsu atau teman seperjalanan piauwsu Sun Ang Jin; dan Kho piauwsu itu tewas dengan lengan kanan putus sebatas pundak.

Baik Suma Eng maupun Lie Thian Pa mempunyai pendapat yang sama, bahwa tewasnya Kho piauwsu bukan melulu akibat lengannya yang putus, akan tetapi dia juga terkena racun; terbukti pada mulutnya yang keluar busa yang serupa dengan Sun Ang Jin, dan tubuhnya juga berwarna biru gelap.

"Tentunya akibat bisa racun dari senjata , ,” Ong Tiong Kun menyelak bicara lagi.

“Tentu , .. !” sahut piauwtauw Lie Tiauw Eng menegaskan, dan dia lalu meneruskan perkataannya:

“, , .rombongan kita biasa berlaku waspada terhadap racun didalam makanan maupun minuman, akan tetapi menurut Suma hiantit maupun Lie Thian Po yang menemukan mayat Kho piauwsu dan luka pada lengannya yang putus, adalah akibat kena ditebas oleh senjata tajam, dan mereka yakin bahwa senjata tajam itu tidak mengandung racun. Oleh karena itu Suma hiantit berdua Lie Thian Pa memeriksa Iagi kalau kalau ada luka lain ditubuh Kho piauwsu, namun mereka tidak menemukan adanya tanda tanda luka yang lain . , , .”

“Heran , ,” kata ketiga orang piauwsu yang baru diterima bekerja, sementara Ong Tiong Kun diam berpikir. “ , , peristiwa ketiga terjadi dengan membawa sedikit titik terang buat kita mencari jejak pihak musuh , , " piauwtauw Lie Tiauw Eng berkata; yang kemudian meneruskan bercerita :

Hari itu telah terjadi lagi iringan kereta piauw yang dihadang hendak dirampas, sehingga terjadi pertempuran antara pihak pengawal dengan para penghalang. Secara tidak diduga kemudian datang seorang pemuda yang ikut memasuki kancah pertempuran dan membantu pihak Intay piauwkiok; akan tetapi mereka yang memberikan perlawanan akhirnya tewas semuanya, termasuk pemuda tidak dikenal yang memberikan bantuan itu mengakibatkan akan hilang lagi jejak peristiwa itu, sekiranya seseorang tidak ikut menyaksikan peristiwa itu.

Seseorang itu adalah seorang pemuda anak keluarga hartawan, pedagang bahan cita terbesar di kota raja. Dia sedang melakukan perjalanan bersama seorang sahabatnya seorang pemuda perkasa yang bernama Pui Keng Han.

(Diam-diam Ong Tiong Kun menjadi terkejut waktu dia mendengar disebutnya nama itu namun dia diam mendengarkan dengan memusatkan perhatiannya).

Kedua pemuda itu sedang melakukan perjalanan bersama sama waktu mereka berdua melihat adanya peristiwa penghadangan kereta piauw oleh sejumlah orang- orang yang semuanya berpakaian serba hitam serta memakai tutup muka dengan secarik kain warna hitam yang menutup bagian bawah mata sampai kebatas bagian bawah mulut sehingga tak mungkin buat orang orang mengenali wajah muka mereka, kecuali pada baju bagian dada sebelah kiri terdapat tanda atau lambang berupa kepala seekor binatang rase dalam suatu lingkaran putih. Pemuda Pui Keng Han terjun kedalam kancah pertempuran sementara temannya lari ke arah kota hendak mencari bala bantuan kepada pihak tentara negeri, akan tetapi ditengah perjalanan dia bertemu dengan rombongan Lie Thian Pa yang kebenaran sedang dalam perjalanan pulang habis mengantar kereta piauw.

Waktu diajak oleh Lie Thian Pa untuk kembali ketempat terjadinya peristiwa perampasan pemuda itu pada mulanya ketakutan, sebab melihat rombongan Lie Thian Pa tidak sebanyak orang orang yang sedang melakukan perampasan, akan tetapi setelah dibujuk oleh Lie Thian Pa maka pemuda itu akhirnya mau juga mengantarkan rombongan Lie Thian Pa akan tetapi mereka tiba disaat itu sudah selesai dan kereta piauw sudah hilang dirampas oleh pihak penghadang.

“...suatu hal yang merupakan petunjuk bagi kita adalah pihak penjahat belum sempat menghilangkan mayat orang- orang kita kecuali pihak mereka yang sempat mereka bawa kabur...” piauwtauw Lie Tiauw Eng meneruskan memberikan keterangannya sehabis dia menunda untuk minum arak.

“...meskipun sudah tidak bisa bicara, akan tetapi salah seorang anggota pengawal kita dapat menunjuk bagian belakang telinganya, dan disitu kedapatan suatu liang kecil dengan setitik darah hitam, sehingga jelas bahwa orang itu terkena serangan jarum halus yang mengandung bisa racun maut...”

“Jadi semua korban tewas karena terkena serangan jarum halus yang mengandung bisa racun....” seorang piauwsu yang baru diterima bekerja ikut bicara.

“Semua mayat-mayat yang ditemukan oleh Lie hiantit, ternyata memang terkena serangan jarum-jarum halus yang serupa, mungkin korban-korban yang terdahulu pun

demikian pula. ” sahut piauwtauw Lie Tiauw Eng dengan muka kelihatan berobah menjadi muram.

“Dikalangan rimba persilatan pada waktu ini orang- orang yang biasa menggunakan senjata rahasia berupa jarum-jarum halus, antara lain adalah Gin ciam Tio Tiang Cun yang sekarang khabarnya dia sedang mengembara ke wilayah selatan, kemudian Tok pinnie Bok lan siancu. ”

kata seorang piauwsu yang baru, agaknya sudah banyak pengalamannya di kalangan rimba persilatan atau hanya pernah mendengar dari lain orang.

"Benar...!" sahut pemuda Lie Thian Pa yang mewakili pamannya, dan dia meneruskan perkataannya.

“ , , , akan tetapi tidak semua mengetahui bahwa Tok pin nie Bok lan siancu sudah mengasingkan diri, sedangkan jarum-jarum milik Gin ciam Tio Tiang Cun berwarna putih seperti perak sedangkan jarum jarum maut yang kami temukan pada korban ternyata berwarna agak kehitam- hitaman."

“Selain dari itu...,” kata piauwsu Lie Tiauw Eng yang

Posting Komentar