Pendekar Bunga Cinta Chapter 102

NIC

Phang Bun Liong berhenti sebentar, dia menarik tali genta yang bergantung disisi tempat dia duduk; dan waktu seorang pengawal datang, maka Phang Bun Liong minta disediakan minuman buat dia dan buat tamunya, Ong Tiong Kun.

Setelah pengawal itu pergi buat melakukan tugas yang diperintahkan, maka Phang Bun Liong berkata lagi pada Ong Tiong Kun :

" .. setahun yang lalu, puteriku Lan Ing berhubungan akrab dengan seorang pemuda perkasa yang bernama Pui Keng Kan. Keduanya kelihatan sangat rukun dan akupun menyukai pilihan puteriku itu. Akan tetapi malang bagi Lan Ing, pemuda itu tewas tanpa diketahui siapapun pembunuhnya, oleh karena hanya mayatnya yang ditemukan oleh seorang sahabatnya; dan sahabatnya itu kemudian membawa berita buat Lan Ing..."

"...sejak saat itu Lan Ing merana lalu dia berkelana hendak mencari orang yang membunuh kekasihnya. Tidak pernah Lan Ing memberi khabar padaku, sebaliknya aku selalu memerintahkan orang orang buat mengikuti dan mengawasi dia, akan tetapi dia selalu menghindar karena tidak mau ada orang orang yang mengetahui bahwa dia adalah anaknya seorang ketua Hek liong pang, kecuali kalau dia memerlukan uang, dia bisa menghutang ditempat- tempat yang ada hubungannya dengan persekutuan Hek liong pang. Baru sekali ini dia menulis surat kepadaku, dan dia bahkan memuji kau sebagai seorang pemuda yang gagah serta baik budi, sehingga aku jadi sangat merasa terharu .,"

Sekali lagi Phang Bun Liong menunda perkataannya, membiarkan seorang pelayan menyediakan minuman, lalu dia mempersilahkan Ong Tiong Kun minum setelah itu baru dia menyambung bicara :

" , , kalau kau sungguh sungguh berminat dan sungguh sungguh ingin menikah dengan Lan Ing, akan kuberikan kau lima ratus ribu tail perak. Kalau jumlah itu masih kurang akan aku tambah lagi. Kau bawa dia, kau ajak dia bertamasya kemana saja supaya dia senang, supaya dia gembira..."

"Phang Bun Liong ! kau terlalu menghina aku...!" tiba tiba Ong Tiong Kun memutus perkataan ketua Hek liong pang itu, dan dia langsung menyebut nama ayahnya Phang Lan Ing tanpa memakai basa basi lagi, lalu selekas itu pula dia menyambung perkataannya:

"....kau anggap cinta kasih seseorang dapat dibeli, kau anggap aku mau menjual cinta...!"

Ong Tiong Kun tak kuasa meneruskan bicara lagi, padahal waktu itu Phang Bun Liong tidak merintang buat dia meneruskan perkataannya sebanyak dia mau. Ayahnya Phang Lan Ing itu hanya tunduk bagaikan dia tak mendengarkan perkataan Ong Tiong Kun, kelihatan dia benar benar sedang diliputi suasana haru.

Ketika diketahuinya bahwa Ong Tiong Kun tidak meneruskan bicara maka Phang Bun Liong menengadah dan menatap Ong Tiong Kun lalu dia berkata dengan suara yang lebih perlahan.

“Lain bulan pada tanggal yang sama aku akan merayakan hari ulang tahunku. Kalau kau ada waktu; aku mengharapkan kedatangan kau. Aku masih ingin bicara lebih banyak akan tetapi waktu ini aku sedang menghadapi suatu pekerjaan yang penting; dari itu kau maafkan aku ..."

Sehabis berkata begitu, maka Phang Bun Liong menarik tali genta, lalu kepada seorang pengawal dia memerintahkan supaya mengantarkan Ong Tiong Kun, dan mengembalikan senjata milik pemuda itu.

Dalam perjalanan keluar dari markas Hek Liong pang, maka diketahui oleh Ong Tiong Kun bahwa letak markas itu ada diteluk Hek liu ouw. Mereka harus menggunakan perahu yang laju mengambang perlihatkan keahlian orang orang Hek liong pang yang memegang kemudi.

Setelah tiba didarat yang ternyata merupakan pantai kota In tay, maka Ong Tiong Kun melihat adanya sebuah pos penjagaan, dimana dia menerima kembali kuda dan segala perlengkapannya, berikut pedangnya.

Sepanjang perjalanan memasuki kota In-tay, maka tak sudahnya Ong Tiong Kun memikirkan peristiwa yang baru dia alami.

Dara Phang Lan Ing memang sangat cantik. Pada kesempatan pertemuan yang pertama; hati Ong Tiong Kun terasa begitu terguncang, apalagi karena adanya sikap agung meskipun dara itu sedang merana. Apakah pemuda ini jatuh cinta dengan dara yang sedang merana atau yang sedang patah hati ? Dia sendiri tak tahu meskipun orang seringkali mengatakan, bahwa kadang kadang cinta itu bersemi dikala pertemuan yang pertama kali. ('memang mungkin bersemi; akan tetapi cinta tak dapat dibeli dengan uang ’) bisik Ong Tiong Kun didalam hati,

sebab dia benar tenar merasa amat tersinggung dengan perkataan perkataan Phang Bun Liong, yang hendak memberikan dia sejumlah uang kalau dia mengawini puterinya pemimpin persekutuan Hek Liong pang itu.

Kemudian waktu Ong Tiong Kun sudah berada ditengah keramaian kota In tay, maka pemuda ini memasuki sebuah rumah makan untuk dia bersantap siang.

Sambil dia menikmati hidangannya sempat Ong Tiong Kun mendengarkan percakapan beberapa orang tamu, yang katanya habis melamar pekerjaan pada Intay piauw kiok yang waktu itu sedang memerlukan tambahan beberapa orang tenaga piauwsu.

Maksud kehendak Ong Tiong Kun melakukan perjalanan memang adalah untuk mencari pekerjaan, dan pekerjaan menjadi piauwsu justeru dia anggap sesuai dengan jiwa petualangannya sebab dia memang gemar merantau melakukan perjalanan sambil mengawal kereta piauw, oleh karena itu cepat cepat Ong Tiong Kun menyudahi makannya; lalu dia bergegas mendatangi perusahaan pengangkutan yang katanya sedang membutuhkan tenaga itu.

Intay piauwkiok waktu itu dipimpin oleh Lie Tiauw Eng, seorang laki laki berusia empat puluh tahun lebih, bertubuh agak pendek dan agak gemuk, akan tetapi mahir ilmu silatnya dan lincah gerak tubuhnya.

Dari sekian banyaknya para pelamar, piauwtauw Lie Tiang Eng yang luas pengalamannya telah memilih dan menerima antara lain Ong Tiong Kun, dengan janji bayaran yang cukup baik, lengkap dengan makan dan tempat pemondokan, sehingga mulai hari itu juga Ong Tiong Kun menempati kamarnya didalam perusahaan pengangkutan yang cukup kenamaan diwilayah utara.

Malam harinya, diadakan perjamuan makan sambil merupakan malam perkenalan bagi para piauwsu yang baru diterima bekerja, dengan para tenaga lama dari Intay piauwkiok.

Ada empat orang piauwsu yang baru diterima bekerja termasuk Ong Tiong Kun; dan dalam pandangan atau pendapat pemuda ini yang mahir ilmu silatnya dan yang menarik perhatiannya adalah seorang tenaga baru yang bernama Kiang Hui Him, usia tiga puluh atau lebih sedikit, bermuka hitam tapi ramah tamah. Kemudian ada seorang pemuda yang bernama Lie Thian Pa, yang katanya merupakan keponakan dari piauwtauw Lie Tiauw Eng, sementara dikalangan rimba persilatan, nama Lie Thian Pa katanya sudah terkenal sebagai si 'tangan geledek' atau 'Pan lui ciu'.

Adalah pada kesempatan perkenalan itu, maka piauwtauw Lie Tiauw Eng membentangkan tentang usaha Intay piauwkiok.

Bertahun tahun perusahaan pengangkutan ini mengembang tanpa banyak menghadapi rintangan atau gangguan dari pihak para penjahat atau dari golongan persekutuan mana pun juga, akan tetapi sejak dua bulan terakhir berturut-turut perusahaan itu mendapat gangguan dari pihak penjahat yang tidak diketahui berasal dari mana atau persekutuan mana, bahkan tempat kediamannya pun tidak diketahui.

Pertama kali terjadi peristiwa perampasan adalah disuatu daerah pegunungan yang letaknya masih di daerah Kanglam. Iringan kereta piauw itu dikawal oleh dua orang piauwsu pembantu serta puluhan tenaga pengawal yang berpengalaman, akan tetapi semua tenaga Intay piauwkiok itu tewas, dan kereta piauw hilang tidak berbekas, sedangkan peristiwa itu diketahui oleh piauwtauw Lie Tiauw Eng sebab rombongan itu tidak pernah tiba ditempat tujuan, dan tidak pernah kembali ketempat mereka bertugas; sementara pihak pemilik barang menyatakan belum menerima kiriman barang barang itu.

Piauwtauw Lie Tiauw Eng memerintahkan pemuda Lie Thian Pa mengajak dua orang pembantu, untuk mencari jejak kereta piauw berikut para pengawalnya yang hilang itu sampai kemudian mereka menemukan bekas-bekas terjadinya pertempuran, tanpa ada mayat mayat atau orang orang terluka yang ditemukan, meskipun terdapat sisa darah yang berceceran, Lie Thian Pa bertiga telah berusaha untuk mencari keterangan pada para penduduk dusun yang letaknya tak terlalu jauh terpisah dari bekas tempat peristiwa ditemukan; akan tetapi tak ada seseorang yang mengetahui atau mendengar bahwa ditempat itu pernah terjadi pertempuran atau perampokan. Hal ini tak terlalu mengherankan sebab jarak terpisah kedua tempat itu tak kurang dari dua puluh mil.

"Bagaimana piauwtauw dapat memastikan kalau bekas tempat pertempuran itu memang benar pernah terjadi pertempuran; adalah menjadi tempat hilangnya kereta piauw , , ?” tanya Ong Tiong Kun yang mendengarkan dengan penuh perhatian.

"Suatu pertanyaan yang tepat , , ,” sahut Lie Tiauw Eng

yang kemudian menambahkan perkataannya :

" , , Lie Thian Pa bertiga mengetahui oleh karena mereka menemukan sebuah bendera kecil sebagai lambang perusahaan kita , . “ Ong Tiong Kun diam tidak mengucap apa apa, juga rekan-rekannya yang lain tidak ada yang mengajukan pertanyaan, sementara piauwtauw Lie Tiauw Eng kemudian menambahkan keterangannya:

Iringan kereta piauw kedua yang hilang atau dirampok, adalah suatu kiriman buat daerah selatan. Suatu kiriman jarak jauh yang besar nilainya, dari itu dikawal oleh dua orang piauwsu kepercayaan yang berpengalaman luas, antaranya yang seorang bernama Sun Ang Jin, bermuka agak merah dan bertenaga raksasa serta tiga puluh orang tenaga pengawal yang pilihan.

Dihari kelima setelah iringan kereta ini berangkat, lalu kami dikejutkan dengan kedatangannya seorang sahabatnya LieThian Pa yang bernama Suma Eng. Dia datang dengan membawa Sun Ang Jin tewas disaat Lie Tiauw Eng baru saja menemui pembantu yang diandalkan itu. Jadi, sebelum sempat Sun Ang Jin maupun Lie Tiauw Eng mengucap sesuatu perkataan.

"Pasti terlalu parah lukanya ....." kata seorang piauwsu yang baru saja diterima bekerja ketika Lie Tiauw Eng menunda bercerita.

"Justeru tidak ada sedikitpun tanda tanda dia terluka, Sun piauwsu tewas akibat kena racun yang sangat dahsyat ,

, .!" sahut piauwtauw Lie Tiauw Eng yang kelihatan sangat penasaran bercampur dendam sebab seseorang atau sesuatu golongan sedang mengganggu usahanya.

Waktu keterangan yang diperoleh dari Suma Eng sangat sedikit, sebab pemuda itu hanya mengatakan bahwa dia kebenaran sedang dalam perjalanan menuju ke kota Intay, dan di tengah perjalanan yang agak sunyi tetapi terik dengan sinar matahari dia menemukan piauwsu Sun Ang Jin yang setengah rebah bersandar pada sebuah pohon. Suma Eng turun dari kudanya dan mendekati piauwsu Sun Ang Jin yang memang sudah dia kenal, namun keadaan Sun Ang Jin sudah tidak dapat mengucap sesuatu perkataan. Dari mulutnya keluar busa putih sedangkan sekujur tubuhnya kejang berwarna agak biru, akan tetapi selain dari itu tidak ada tanda tanda dia terluka.

Suma Eng tidak mengetahui bahwa Sun Ang Jin sedang tugas mengawal kereta piauw, dan Suma Eng tidak pula mengetahui apakah telah terjadi sesuatu perampasan, akan tetapi pemuda ini menyadari bahwa dia harus cepat cepat menolong Sun Ang Jin yang langsung dia bawa pulang kekota Intay, yang terpisah seharian perjalanan dengan kuda.

Posting Komentar