Laki laki yang tinggi besar itu kemudian siap menghadapi Ong Tiong Kun. Dia memasang kuda kuda; lalu sepasang tangannya terangkat dengan sepuluh jari tangan membentang bagaikan cakar burung gagak yang liar, dan dia menerkam hendak merobek dada Ong Tiong Kun.
Sepasang tangan Ong Tiong Kun mengibas; membentur sepasang lengan laki Iaki yang bertubuh tinggi besar itu. Sebagai akibat dari benturan itu, tubuh Ong Tiong Kun terdorong mundur tiga Iangkah kebelakang, dan lawannya juga menghadapi hal yang serupa. Ong Tiong Kun ingin melakukan serangan balasan, akan tetapi tiba tiba didengarnya suara dari laki laki yang dia tendang tadi, dan laki laki itu menyerang Ong Tiong Kun memakai sebatang pisau belati.
Ong Tiong Kun sebenarnya sangat mahir dengan ilmu silat pedang, akan tetapi waktu itu dia tidak bersenjata oleh karena pedangnya disita waktu dia kena ditangkap.
Waktu serangan pisau belati datang, Ong Tiong Kun hanya sedikit menggeser tubuh menyamping; membiarkan pisau belati lewat didekat pinggangnya lalu tangannya memukul lengan musuh yang memegang pisau dan lawan itu tidak bersempatan untuk berkelit menghindar sehingga lengan itu kena dipukul dan pisau belati lepas jatuh dilantai, akan tetapi waktu Ong Tiong Kun hendak menyambung geraknya dengan suatu serangan lain, maka mendadak tubuhnya dirangkul dari bagian belakang oleh laki laki yang bertubuh tinggi besar, dirangkul erat erat bagaikan hendak membikin remuk semua tulang tulang Ong Tiong Kun !
Ong Tiong Kun berusaha hendak membebaskan dirinya dari rangkulan itu namun rangkulan itu mengunci dengan ketat, sedangkan musuh yang tadi menyerang memakai pisau belati, sekarang menggunakan kepelan tangan kirinya hendak memukul dada Ong Tiong Kun.
Pemuda ini lalu membiarkan dirinya tergantung didalam rangkulan laki laki yang bertubuh tinggi besar, dan dengan kedua kakinya yang dapat bergerak bebas itu, digunakan buat menendang laki laki yang hendak memukul membikin laki laki itu terlempar jatuh tidak dapat cepat cepat bangun.
Setelah berhasil dengan tendangannya itu maka Ong Tiong Kun membungkuk sambil dia mengerahkan tenaga membikin tubuh besar dari lawannya terbang lewat kepala Ong Tiong Kun namun masih dia berusaha tidak melepaskan pegangannya sampai lutut Ong Tiong Kun menghajar leher laki laki itu, sehingga laki laki itu berteriak kesakitan dan melepaskan pegangannya.
Adalah pada saat itu; pundak kiri Ong Tiong Kun dihajar seseorang dari bagian belakang !
Ong Tiong Kun berusaha menghindar namun lima jari tangan si penyerang berhasil menyobek baju dan sedikit kulit pundak sehingga mengeluarkan darah.
Segera diketahui oleh Ong Tiong Kun, bahwa si pembokong itu adalah si hweeshio botak. Dengan sangat marah Ong Tiong Kun lompat menerkam sambil dia melancarkan suatu pukulan pendek; akan tetapi waktu dilihatnya hweeshio itu hendak menangkis dengan menggunakan tenaga cakar elang atau Eng jiauw kang, maka adalah kaki Ong Tiong Kun yang berhasil menendang dada kiri si hweesio, namun akibatnya tubuh Ong Tiong Kun yang terlempar mundur dan jatuh duduk sedangkan si hweeshio itu juga ikut terjatuh duduk !
"Bagus !" terdengar teriak suara seorang laki laki.
Ong Tiong Kun menganggap laki laki yang berteriak itu juga hendak menyerang dia yang masih terduduk jatuh. Sebelah tangannya segera meraih pisau belati yang kebenaran berada didekat bekas dia jatuh tadi, dan pisau belati itu dia lontarkan kearah suara laki laki yang berteriak tadi, akan tetapi dengan tenang laki laki itu hanya miringkan sedikit kepalanya, dan pisau belati itu pun lewat didekat muka laki laki itu, lalu membenam pada sebuah patung baja setinggi manusia tepat pada bagian mata yang memang bolong !
Sejenak laki laki itu mengawasi kearah patung baja yang berada disebelah belakangnya; lalu dia memutar tubuhnya menghadapi Ong Tiong Kun; akan tetapi waktu dilihatnya si hweeshio dan laki laki yang tinggi besar hendak melakukan penyerangan lagi, maka dia mencegah dengan teriak suaranya yang berwibawa ;
"Tahan ... !" demikian dia berseru, yang dengan patuh telah dituruti oleh kedua orang orang yang hendak menyerang Ong Tiong Kun.
(‘agaknya inilah sipemimpin , ..') pikir Ong Tiong Kun didalam hati: sambil dia berdiri dan bersikap waspada.
Umur laki laki yang menjadi pemimpin itu sudah lebih dari empat puluh tahun, bertubuh sehat agak gemuk akan tetapi gesit dan tangkas: memiara sedikit kumis sementara pakaiannya dari bahan sutra yang mahal.
Si pemimpin itu lalu duduk pada sebuah kursi yang lebar mewah, berhadapan dengan sebuah meja tulis yang diatasnya banyak terdapat buku buku serta alat tulis; setelah itu dia memerintahkan ketiga orang-orangnya ke luar, meninggalkan dia berdua dengan Ong Tiong Kun.
('suatu perbuatan yang sangat berani, membiarkan diri berada berdua dengan musuh ..') pikirnya Ong Tiong Kun didalam hati; sebab dia menganggap dirinya sebagai musuh dari lelaki yang menjadi pemimpin itu.
“Kau bernama Ong Tiong Kun bukan ?” akhirnya tanya lelaki itu dengan nada suara berwibawa, dan dia membiarkan Ong Tiong Kun tetap berdiri.
"Apakah harus aku menyebut namaku dan apakah harus aku bicara sambil berdiri...?” sahut Ong Tiong Kun dengan nada suara menghina, tak sedikitpun perlihatkan rasa gentar atau takut.
“Ha ha-ha! kau telah berhasil mengalahkan tiga orangku yang terbaik, dan kau berani mengucap kata kata seperti tadi terhadap aku. Sesungguhnya aku bangga dengan kau. Silahkan kau duduk!” sahut laki laki itu sambil dia tertawa; suatu hal yang benar benar diluar dugaan Ong Tiong Kun, karena semula dia menganggap pemimpin itu akan menjadi marah-marah.
Dengan sikapnya yang wajar dan tenang, Ong Tiong Kun memilih tempat duduk yang cukup berhadapan dengan si pemimpin, akan tetapi yang dia merasa tidak mungkin untuk dibokong dari bagian belakang.
“Tahukah kau siapa aku .. , ?” tanya laki laki itu, tetap dengan nada suara yang penuh wibawa, namun dengan menyertai sebuah senyuman yang ramah.
Ong Tiong Kun hanya menggelengkan kepala, lalu laki laki itu yang berkata lagi :
“Namaku adalah Phang Bun Liong, pemimpin dari persekutuan Hek liong pang , , .”
"Phang Bun Liong atau It-ci sian si Jeriji sakti ... ?” Ong Tiong Kun mengulang menyebut nama, bagaikan dia tidak sengaja; karena sesungguhnya dia tidak menyangka bahwa dia telah ditahan dan sedang berhadapan dengan ketua Hek Liong pang, suatu persekutuan yang sangat kenamaan dan luas pengaruh kekuasaannya dimulai oleh berbagi kalangan orang orang rimba persilatan, tidak melulu diwilayah sebelah utara; bahkan tembus sampai ke wilayah sebelah selatan.
Sementara itu It ci sian Phang Bun Liong lagi lagi tertawa. Agaknya dia merasa bangga karena Ong Tiong Kun kelihatan terkejut dan terpesona waktu mengetahui nama dia; lalu dengan sikap bangga dia berkata lagi ;
"Aku tidak perduli dengan kesimpulan orang orang tentang Hek Liong Pang dan tentang diriku. Ada yang mengatakan bahwa Hek-Liong Pang merupakan persekutuan kawanan garong yang suka merampok, atau ada yang menuduh sebagai penyelundup, bahkan ada yang mengatakan atau menuduh sebagai penghianat bangsa, oleh karena aku ogah ikut mendukung gerakan orang orang yang katanya sedang berjuang untuk bangsa dan negara. Buat aku, yang penting semua orang orang Hek liong pang harus taat dengan peraturan Hek Liong pang, dan bagi mereka yang menyeleweng, aku tidak ragu ragu untuk memberikan hukuman ..."
ONG TIONG KUN diam mendengarkan. Memang sering kali dia mendengar kesan orang orang tentang persekutuan Hek liong pang, dan kesan orang orang itu memang banyak yang saling bertentangan.
"... sekarang marilah kita bicarakan tentang urusan kita....." kata lagi Phang Bun Liong, kembali dengan nada suara penuh wibawa, kelihatan bersungguh-sungguh bagaikan dia sedang menghadapi sesuatu urusan besar dan yang sangat penting, padahal Ong Tiong Kun merasa belum pernah mempunyai sesuatu urusan dengan orang orang Hek liong pang, apalagi dengan ketuanya !
" ... aku sudah mengetahui bahwa kau telah menyelamatkan nyawa putriku, selagi dia hendak membuang diri ke laut. Aku juga sudah menerima surat dari putriku yang mengatakan kau telah berlaku baik terhadap dia, dan dia menghendaki aku tak mencelakai kau, bahkan menghendaki supaya aku melepaskan kau, Ha ha ha ha , , , !"
Benar benar Ong Tiong Kun menjadi sangat terkejut meskipun sebenarnya urusan sudah menjadi jelas bagi dia.
Phang Lan Ing atau Phang kouwnio atau dara yang pernah dia tolong waktu hendak membunuh diri, ternyata adalah anak perempuannya ketua dari Hek liong pang ini. Akan tetapi mengapa dia diserang oleh orang orang Hek liong pang dan ditangkap ?
Sementara itu, Phang Bun Liong telah menyambung perkataannya; selagi Ong Tiong Kun diam berpikir.
"... pada mulanya anak buahku menyangka kau hendak mencelakai putriku, sebab mereka melihat di saat kau sedang mengejar puteriku. Mereka berhasil menangkap kau tetapi puteriku mengirim surat dan menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya.."