Seorang pelayan mendekati Ong Tiong Kun yang disangkanya hendak mencari kamar, akan tetapi pemuda ini lalu menanyakan tentang wanita muda tadi yang untungnya sudah dikenal oleh pelayan itu.
"Itulah Phang kouwnio. Memang sudah lima hari dia menginap disini, akan tetapi sekarang dia berada diruang atas, ditempat perjudian.."
"Terima kasih..." sahut Ong Tiong Kun yang lalu naik ketingkat atas dari rumah penginapan itu, yang rupanya memberikan kesempatan berjudi tidak melulu untuk para tamu penginapan, akan tetapi juga terbuka untuk setiap orang yang berminat.
Ruang judi itu ternyata sangat lebar dan luas, mempunyai beberapa bagian untuk tiap jenis permainan dan Ong Tiong Kun menemukan Phang kouwnio yang sedang asyik duduk berjudi. Ong Tiong Kun mendekati dan memilih tempat duduk yang tepat berseberangan dengan Phang kauwnio dan Phang kauwnio melihat sebentar kearah Ong Tiong Kun, namun dia tidak menghiraukan waktu pemuda itu kelihatan bersenyum.
Dipihak Ong Tiong Kun, pemuda ini justeru menjadi tambah terpesona dengan kecantikan Phang kauwnio, yang waktu itu sudah ganti pakaian yang mentereng seperti layaknya seorang puteri hartawan atau puteri bangsawan, berlainan dengan pakaian pemuda itu yang masih agak basah bekas bergumul didalam laut tadi.
Suatu hal yang tambah mempesona Ong Tiong Kun, dibalik kecantikan wajah muka Phang kouwnio kelihatan sikapnya yang agak agung, namun terselip atau bercampur dengan muka seseorang yang sedang menanggung derita. Dingin, tanpa senyum apalagi tertawa.
Melihat cara Phang kouwnio itu melakukan perjudian ternyata wanita muda yang cantik itu sangat berani melakukan pertaruhan yang besar jumlahnya sampai kemudian kelihatan Phang kouwnio kehabisan uang, dan dia memanggil seorang pelayan yang diajak bicara dengan suara perlahan.
"Phang Koawnio; majikan kami melarang memenuhi lagi permintaan kouwnio, sebab hutang koawnio sudah terlalu banyak,.,” terdengar kata si pelayan yang meskipun perlahan akan tetapi cukup didengar oleh Ong Tiong Kun yang memang sedang memberi perhatian.
Agak merah muka Phang kouwnio waktu dia mendengar perkataan pelayan itu, akan tetapi tanpa mengucap apa apa dia bangun berdiri lalu dia meninggalkan tempat perjudian itu. Ong Tiong Kun bergegas ikut meninggalkan ruang perjudian sampai dilain saat dia menemukan Phang kouwnio dihalaman belakang yang merupakan sebuah taman kecil yang tak banyak berkumpulan tamu lain.
"Phang kouwnio , ," Ong Tiong Kun menyapa, sehingga wanita cantik itu memutar tubuh dan mengawasi Ong Tiong Kun.
"Mengapa kau mengikuti aku , ,?” tanya Phang kouwnio
waktu Ong Tiong Kun sudah tambah mendekati.
"Aku , , , " batal Ong Tiong Kun meneruskan perkataannya kelihatannya dia gugup sekali.
“Apakah karena kuda milik kau yang aku pakai ?" Phang kouwnio menanya lagi, nada suaranya dingin, tak ada maksudnya untuk bersahabat, seperti yang diharapkan oleh Ong Tiong Kun.
"Tidak,.,” sahut Ong Tiong Kun cepat cepat sebab bukan soal kuda yang menyebabkan dia menyusul Phang kouwnio itu akan tetapi dia penasaran menghadapi wanita muda yang cantik tetapi yang pernah mencoba hendak bunuh diri itu.
"Atau karena aku belum mengucap terima kasih sebab kau sudah menggagalkan niatku yang hendak membuang diri ditengah laut ? Nah; sekarang aku ucapkan terima kasih…" dan Phang kouwnio itu menjura memberi hormat sambil dia mengucap terima kasih, namun nada suaranya tetap dingin bercampur mengejek.
Sementara itu Ong Tiong Kun buru buru menyisih; sebagai tanda dia tidak mau menerima pemberian hormat dari wanita muda yang cantik itu.
“Phang kouwnio, aku.." Phang kouwnio atau nona Phang itu mengawasi dengan sepasang mata yang tajam namun kelihatan bersinar hampa, agaknya dia tidak mengerti apa maunya pemuda tampan yang sudah menolong dia itu.
",,. namaku Ong Tiong Kun, aku bermaksud ,,”
Phang kouwnio masih diam mengawasi tanpa dia mengucap apa apa, akan tetapi sikapnya itu justeru membikin Ong Tiong Kun menjadi bertambah gugup.
" . , , aku bermaksud ingin berkenalan dengan kau ," akhirnya Ong Tiong Kun berhasil menyelesaikan perkataannya, dengan memaksakan diri untuk mengatasi rasa gugupnya.
Sementara itu, tetap dengan nada suara yang dingin dan hampa, maka Phang kouwnio itu berkata lagi ;
"Kau sudah tahu namaku bukan ?” “Tetapi ..."
“Oh, nama lengkapnya maksudmu ? Lan Ing atau Phang
Lan Ing, sudah cukup ...?”
Ong Tiong Kun merasa kehabisan daya karena menghadapi sikap dingin dara yang cantik itu; padahal ingin benar dia menanyakan sebab sebab Phang Lan Ing ingin membunuh diri. Mungkinkah karena banyak hutangnya atau mungkinkah ada hubungannya dengan kedua laki laki yang dia tempur dipantai tadi, yang barangkali sedang mengancam dara yang cantik itu ?
Selagi Ong Tiong Kun sedang berpikir dan mengawasi Phang Lan Ing yang masih berdiri dihadapannya, maka secara tiba tiba ada seseorang yang membungkus kepala pemuda ini dari bagian belakang, membungkus dengan suatu kantong kain warna hitam. Disaat Ong Tiong Kun hendak melakukan perlawanan: maka tercium oleh pemuda itu suatu bau harum yang langsung membikin dia pingsan lupa diri.
Tubuh Ong Tiong Kun yang kepalanya masih tertutup dengan kantong kain hitam itu; kemudian dibungkus lagi dalam suatu kantong yang besar ukurannya oleh dua orang laki-laki, sementara ada seorang lagi yang kelihatan sedang mendekati dan memberi hormat kepada Phang Lan Ing, namun dara yang cantik itu tidak menghiraukan, sebaliknya dengan langkah kaki yang tenang dara itu meninggalkan tempat itu.
Sejenak ketiga orang lelaki itu saling mengawasi diantara mereka. Dua diantaranya adalah orang orang yang pernah bertempur melawan Ong Tiong Kun dipantai laut tadi sedangkan yang seorang lagi berkepala botak, memakai pakaian imam sebab dia memang seorang hweeshio atau paderi.
Laki laki yang bertubuh tinggi besar itu kemudian mengangkat tubuh Ong Tiong Kun yang sudah dibungkus, dan mereka meninggalkan rumah penginapan itu lewat jalan belakang dengan melompati tembok halaman; akhirnya mereka mengangkut Ong Tiong Kun dengan sebuah kereta kuda yang sudah mereka sediakan.
Ong Tiong Kun tidak mengetahui, entah berapa lama dia dalam keadaan pingsan. Waktu dia siuman; maka diketahuilah olehnya bahwa dia telah berada disuatu kamar tahanan, yang bukan merupakan kamar tahanan dibawah tanah yang dia rasakan dari hawa yang lembab tidak segar; sedangkan kamar itu dari tembok seluruhnya, tidak ada jendela dan tidak ada lubang angin, hanya tulang tulang besi pada pintu merupakan satu-satunya lobang untuk udara memasuki ruangan kamar tahanan itu. Diatas sebuah meja batu, dilihatnya ada sepiring nasi berikut sekedar lauk pauk. Karena rasa laparnya yang tidak tertahan, maka Ong Tiong Kun makan nasi itu, sementara pikirannya mulai dia gunakan, entah siapa gerangan yang telah menangkap dan menahan dia.
Waktu kemudian Ong Tiong Kun telah selesai bersantap, maka pintu kamar tahanan itu dibuka orang dari sebelah luar, yakni oleh orang orang yang menangkap Ong Tiong Kun waktu berada dirumah penginapan.
Ketiga orang laki laki itu mengajak Ong Tiong Kun yang katanya hendak dibawa menghadap kepada pemimpin mereka, dan Ong Tiong Kun mengenali dua orang dari ketiga laki laki itu, yakni orang orang yang pernah dia tempur ditepi pantai laut.
Pada saat itu Ong Tiong Kun sengaja berlaku patuh menurut, mengikuti segala perintah ketiga orang laki laki itu. Pikirnya akan sia-sia mengajukan pertanyaan kepada tiga orang laki laki itu tentang siapa gerangan si pemimpin dan mengapa dia ditangkap. Sebaliknya dia merasa lebih baik dia dibawa menghadap supaya dia bisa melihat sendiri.
Beberapa kali mereka harus menaiki anak tangga dari bata dan melewati berbagai lorong yang lembab sampai kemudian mereka melewati berbagai ruangan yang ada penjaganya, dan akhirnya mereka memasuki sebuah ruang tamu yang perabotnya terdiri dari barang barang mewah, namun didalam ruangan tamu itu tidak terlihat adanya seseorang lain.
Ong Tiong Kun mengawasi laki laki bertubuh tinggi besar yang mengawal dia tepat di saat laki laki itu juga sedang mengawasi dengan sepasang sinar mata menyimpan dendam mungkin sebab laki laki itu masih merasa penasaran sebab tidak dapat mengalahkan Ong Tiong Kun waktu pertempuran dipantai sampai mereka terpaksa memakai obat bius buat menangkap Ong Tiong Kun.
Tiba tiba Ong Tiong Kun mendapat sebuah pikiran bahwa alangkah baiknya kalau dia dapat melabrak ketiga orang lelaki itu sebagai pelepas dendam karena dia telah dibokong setelah itu baru dia menemui si pemimpin.
Waktu itu sepasang lengan Ong Tiong Kun sedang dipegang oleh lelaki yang bertubuh tinggi besar serta seorang temannya yang berada disisi lain, sedangkan si hweesio botak sedang memberikan laporan kepada pemimpin mereka.
Segera Ong Tiong Kun mengerahkan tenaganya; lalu dia berontak melepaskan diri dengan lengan kirinya yang menyikut lelaki tinggi besar itu, tepat pada bagian perut sehingga lelaki itu membungkuk kesakitan dan memaki maki.
Membarengi geraknya itu, tangan kanan Ong Tiong Kun kemudian menghajar lelaki yang seorang lagi, akan tetapi waktu lelaki itu mengangkat tangannya hendak digunakan buat menangkis, maka kaki Ong Tiong Kun yang bergerak, dan suatu tendangan bagaikan geledek membikin tubuh laki laki itu tersungkur jatuh.