Pedang Ular Merah Chapter 31

NIC

"la adalah murid tunggal dari Lui-kong jim (Tangan Dewa Geledek) Keng Kin Tosu di Heng-san. Akan tetapi setelah tamat pelajarannya, ia minggat turun gunung, melakukan segala macam kejahatan yang hebat. Keng Kin Tosu telah tiga kali memberi peringatan dan yang terakhir malah ia memotong hidung murid itu akan tetapi ternyata dia lebih suka mati dari pada menjadi orang baik-baik! Sayang sekali!" Ia memandang pedang yang berkilauan di tangannya.

"Pedang baik! Hui-liong-kiam yang ampuh" katanya pula.

"Sayang terjatuh dalam tangan seorang berhati rendah. Lai piauwsu, terimalah pedang ini sebagai tanda terima kasihku kepadamu. Kau seorang gagah dan jujur lagi setia, maka kau berhak menerima pedang ini."

"Akan tetapi, teecu tidak memiliki kepandaian tinggi, apa artinya pedang pusaka sebaik ini berada dalam tangan teecu?" Lai-piauwsu membantah dan merendahkan diri.

"Lai piauwsu, sampai di manakah tinggi rendahnya kepandaian? Sedikit kepandaian ditambah kejujuran dan kebersihan hati jauh lebih tinggi nilainya dari pada banyak kepandaian yang terbenam dalam lumpur kesombongan dan kejahatan. Terimalah Hui liong-kiam ini dan apabila kelak kau anggap tidak perlu lagi kau memegangnya, boleh kau sampaikan atau berikan kepada seorang gagah yang kau pandang patut memegangnya." Setelah berkata demikian, tubuh nenek tua itu berkelebat dan lenyap dari pandangan mata Lai Siong Te. Piauwsu ini menghela napas dengan kagum, lalu mengubur jenazah Ang Koan, kemudian membawa pedang itu kembali ke rumahnya.

"Demikianlah, Sim taihiap, aku selalu merasa tidak puas bahwa pedang yang demikian baiknya berada di dalam tanganku yang kurang pandai menggunakannya. Apalagi semenjak kecil aku lebih biasa memainkan golok dari pada pedang. Hari ini secara kebetulan aku dapat bertemu dengan kau yang muda, gagah dan bijaksana. Oleh karena itu, pedang ini kuserahkan kepadamu dengan ikhlas dan tentu takkan mendapat teguran dari Pat-jiu Toanio Li Bi Hong karena tindakanku ini sudah cukup tepat.

Akhirnya Tiong Han tak dapat menolak pemberian pedang Hui liong kiam itu, apalagi setelah ia mendengar penuturan tentang asal-usul pedang itu. Dari suhunya ia pernah mendengar nama-nama seperti Pat . jiu Toanio Li Bi Hong juga Lui kong jiu Keng Kin Tosu di Heng-san adalah sahabat baik suhunya, ia menghaturkan terima kasihnya dan sampai dua hari ia tinggal di rumah Lai piauwsu.

Kemudian ia lalu melanjutkan perjalanannya mencari adiknya untuk minta kembali pedang pusaka Ang coa-kiam. Hatinya menjadi lega setelah memiliki pedang Hui liong-kiam oleh karena ia maklum bahwa tanpa pedang pusaka di tangannya, sukarlah baginya untuk mengimbangi kelihaian Ang-coa-kiam pedang ular merah itu! Sekarang marilah kita menengok keadaan Tiong Kiat, adik kembar dari Tiong Han, pemuda berilmu tinggi yang telah tersesat ke jalan kejahatan itu.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan terjadi perpecahan dalam hubungan antara Tiong Kiat dan Kui Hwa, karena gadis ini merasa cemburu. Di dalam pertempuran, Tiong Kiat telah berhasil melukainya dan kemudian pemuda ini melarikan diri dari Kui Hwa. la berlari dengan cepat. Untuk beberapa lama hatinya merasa kecewa dan juga berduka harus berpisah dari Kui Hwa. Semenjak turun gunung, ia melakukan perjalanan berdua dengan sumoinya atau kecintaannya itu dan selalu bergembira. Akan tetapi kini ia harus melakukan perantauan seorang diri.

Namun, beberapa hari kemudian, timbul lagi kegembiraannya, bahkan ia kini merasa seperti seekor burung yang terbang bebas terlepas dari ikatan. Kalau dulu dengan adanya Kui Hwa disampingnya, ia selalu masih harus membatasi diri, takut-takut dan mengalah terhadap kekasihnya yang amat cemburu. Akan tetapi sekarang tanpa ada seorangpun yang akan melarangnya, nafsu jahat yang menguasai diri pemuda sesat ini makin meluap dan membuat lupa daratan. Ia boleh melakukan apa saja tanpa ada orang yang akan menghalanginya!

Tak lama kemudian, di dunia kaum hek-to (jalan gelap atau penjahat) muncullah seorang penjahat muda yang amat menggemparkan dengan perbuatan-perbuatannya yang rendah dan ganas. Penjahat muda ini selalu memperkenalkan perbuatannya dengan lukisan sebuah pedang, bukan lain pedang Ang coa kiam, karena penjahat ini memang Sim Tiong Kiat adanya. Kalangan kang ouw menjadi gempar pula setelah beberapa orang gaga yang hendak menangkapnya tidak saja gagal, bahkan menderita luka oleh pedang Ang coa-kiam.

Perbuatan apakah yang dilakukan oleh Tiong Kiat? Bukan lain adalah pengumbaran nafsu jahatnya, menjadi penjahat jai-hwa-cat (pemetik bunga) pengganggu anak bini orang dan apabila ia sedang membutuhkan uang, ia selalu mengambilnya dari peti uang hartawan hartawan. Tiap kali ia mengganggu rumah orang, selalu ia membuat gambar di atas tembok. Gambar ini dibuatnya dengan mengguratkan pedangnya dalam tembok, melukis sebatang pedang lalu menambahkan tiga buah huruf "Ang Coa Kiam" di bawah pedang itu! Di dalam kesombongan dan kesesatannya Tiong Kiat telah menggila dan tidak ragu-ragu ataupun takut-takut lagi untuk mempergunakan nama pedang pusaka yang namanya menjadi benda keramat dari Kim.liong-pai itu!

Biarpun Tiong Kiat telah bertemu dengan banyak wanita cantik namun diam-diam di sudut hatinya ia tidak dapat melupakan gadis yang dulu dijumpainya terluka di dalam hutan. Gadis yang telah ditolongnya akan tetapi yang kemudian menjadi korban nafsu jahatnya pula. la tidak dapat melupakan EngEng gadis yang belum diketahui siapa namanya dan dari mana datangnya itu. Entah bagaimana, ia selalu terbayang dan terkenang kepada gadis itu dengan hati berkasihan dan juga rindu. Baginya, tidak ada seorangpun di antara para wanita itu yang memiliki daya penarik lebih tebal dari pada gadis di hutan rimba itu.

Di dalam perantauannya, ia mengharap-harapkan untuk bertemu dengan gadis itu. Kalau ia bisa menjadi istriku dan selama hidup berada di sampingku, aku takkan perdulikan lagi lain perempuan, pikir Tiong Kiat dalam rindunya. Tanpa disadarinya pemuda ini telah jatuh hati dan mencintai Eng Eng, gadis yang telah dipatahkan hatinya, yang telah dihancurkan hidupnya, gadis yang kini sedang merantau, mencari-cari untuk membalas dendam. Ia tidak tahu betapa setiap kali duduk melamun, Eng Eng menggigit-gigit bibirnya dan bersumpah di dalam hatinya untuk menghancurkan kepala laki laki yang telah merusak hidupnya itu! Kalau saja Tiong Kiat tahu siapa Eng Eng dan apa yang kini terkandung dalam hati gadis ini, mungkin ia akan merasa takut dan ngeri!

Pada suatu hari, Tiong Kiat tiba di kota I-kiang yang terletak di pantai sungai Yang-ce di propinsi Hopak. Ketika ia memasuki kota tak seorangpun akan mengira bahwa dia adalah Ang Coa Kiam, nama julukan penjahat muda yang amat ditakuti orang itu. Tiada orang akan mengira bahwa pemuda yang tampan dan lemah lembut seperti putera bangsawan ini adalah penjahat yang suka mengganggu anak bini orang dan suka melakukan pencurian besar-besaran? Pakaiannya berwarna biru dan terbuat dari sutera mahal dan halus. Bajunya dihias dengan pinggiran berwarna kuning emas dengan sulaman yang indah sedangkan rambut di kepalanya yang hitam terbungkus dengan kain kepala yang berwarna kuning dan bersih sekali. Pedang Ang-coa kiam tersembunyi di bawah bajunya, hanya tampak ujungnya sedikit menonjol di bawah baju. la cakap sekali dalam pakaian yang mahal ini.

Dengan muka gembira dan mata berseri-seri, Tiong Kiat berjalan di sepanjang jalan raya dalam kota I-kiang. Ia sedang gembira, kantongnya penuh uang. Ia tidak butuh uang dan tidak perlu mencuri di kota ini. Ia ingin beristirahat dan menghibur diri, maka begitu masuk ke kota, ia lalu menyewa kamar dalam hotel terbesar di kota itu, kemudian bertanya kepada pelayan hotel dimana terdapat tempat pelesiran di kota itu.

Pelayan itu memandangnya sambil tertawa gembira.

"Kongcu agaknya baru datang dan belum pernah datang ke kota ini? Kebetulan sekali kalau begitu, karena kedatangan kongcu di Kota ini tidak rugi! Di sini terdapat tempat pelesiran yang amat indah, kongcu. Dan keindahan tempat itu sudah terkenal sampai ke kota raja!"

Eh, kau bicara dalam rahasia, lopek," kata Tiong Kiat kepada pelayan setengah tua itu.

"Katakan sajalah, di mana adanya tempat itu dan apakah keindahannya?"

"Di sebelah barat dalam kota ini, kongcu. Di bagian sungai yang membelok. Di situ dijadikan tempat pelesiran yang indah sekali dan banyak orang dari luar kota datang sengaja untuk bermain perahu sambil menikmati arak I-Kiang dan mendengarkan nyanyian bidadari bidadari I-Kiang."

"Apa katamu? Bidadari-bidadari I-Kiang, siapakah mereka itu?"

Kembali senyum gembira bermain di bibir pelayan itu.

"Aah, benar-benar kongcu telah menyia-nyiakan hidup dan masa mudamu! Siapa orangnya yang belum pernah mendengar bidadari-bidadari I-Kiang? Kalau belum pernah mendengar suara nyanyian mereka, sedikitnya tentu telah mendengar akan nama mereka."

Pelayan itu lalu menuturkan dengan gerakan kaki tangan, ia merasa girang sekali dapat menuturkan semua itu kepada seorang tamu muda yang nampaknya tampan dan kaya raya karena ia mengharapkan hadiah besar. Menurut penuturan pelayan ini, ternyata bahwa di kota itu memang terdapat tempat pelesiran sebagaimana yang disebutkan tadi.

Air sungai Yang-ce masuk ke dalam kota itu dengan aliran perlahan karena banyak tikungan. Dan karena sungai itu amat lebarnya, di sepanjang pantainya dibangunlah oleh orang-orang kaya tempat-tempat peristirahatan yang indah. Banyak orang berpelesir, di atas air naik perahu-perahu yang banyak disewakan orang di tempat itu. Air yang tenang membuat tempat itu merupakan tempat sunyi untuk bersenang diri memancing ikan.

Disamping keindahan pemandangan alam di sekitar tempat ini, yang merupakan daya penarik terbesar agaknya adalah rumah kapal milik Cia-ma, seorang janda tua yang kaya. Rumah ini didirikan di atas air, yakni di pinggir sungai itu dan bentuknya seperti kapal besar. Kalau orang berada di tingkat atas dan memandang ke arah air sungai Yang-ce yang mengalir perlahan, orang akan merasa seakan-akan sedang berada di atas perahu besar.

Keindahan rumah inipun sesungguhnya tidak akan mendatangkan banyak pelancong dari luar kota, akan tetapi terutama sekali adalah "bidadari-bidadari" yang menjadi anak angkat Cia ma! Sebetulnya semenjak ditinggal mati oleh suaminya dengan peninggalan beberapa ratus tail perak, janda tua ini tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak mempunyai anak dan akhirnya ia lalu bekerja sebagai penghibur para pelancong. Dibelinya budak-budak belian, yakni wanita wanita muda yang cantik, diajarnya gadis gadis itu menari dan bernyanyi atau mainkan alat musik, kemudian ia dapat menarik hati dan isi saku para pelancong yang datang di tempat itu.

Sebentar saja Cia ma telah dapat mengumpulkan banyak uang, akhirnya ia dapat membangun sebuah rumah kapal di tepi sungai Yang ce. Telah banyak gadis gadis cantik datang dan pergi dari rumahnya. Datang sebagai budak belian dan kalau kebetulan gadis itu bernasib baik, maka akan datang seorang hartawan yang suka kepadanya dan menebusnya dengan bayaran tinggi untuk dijadikan bini muda.

Pada waktu itu, di antara anak-anak angkat Cia ma, yang paling terkenal adalah tiga orang gadis yang dibelinya dari selatan. Gadis ini amat cantik, pandai menulis dan bersisir, pandai menari, bernyanyi dan menabuh musik. Oleh karena itu, tidak mudahlah bagi seorang laki laki untuk dapat menghibur hati mendekati tiga bunga peliharaan Cia ma ini. Cia ma tidak sembarangan mengeluarkan tiga bunga peliharaannya ini kalau tidak dengan bayaran yang amat tinggi. Dipasangnya tarip-tarip tertentu untuk tiga orang gadis ini, terutama sekali gadis pertama yang bernama Li Lan. Untuk dapat melihat wajah cantik Li Lan dan melihatnya menari di depan mata? Keluarkan uang lima belas tail perak!

Posting Komentar