Pedang Ular Merah Chapter 30

NIC

"Ha, ha, ha! Lai Siong Te, kau masih tidak mau memberikan patung itu!"

"Kau boleh membunuhku, akan tetapi jangan harap akan dapat merampas patung ini!"jawab piauwsu yang gagah itu.

"Orang gila! Kalau begitu mampuslah!" Pedang yang berkilat itu menyambar, Lai Siong Te tak dapat mengelak lagi, maka piauwsu ini dengan mata dipentang lebar-lebar menanti datangnya maut. Akan tetapi, tiba-tiba nampak bayangan hitam yang panjang bagaikan seekor naga menyambar dan menangkis pedang itu. Terdengar suara keras sekali dan bunga api berpijar. Sin kiam koai jin berseru kaget dan melompat mundur. Tangkisan tadi membuat pedangnya terpental ke belakang! Lai Siong Te menengok. Ia melihat seorang wanita tua sekali berdiri dengan tongkat panjang di tangan. Tongkat dari kayu biasa yang agak kemerahan warnanya, bengkak bengkok dengan kepala berbentuk seperti naga.

Nenek tua ini rambutnya sudah putih seluruhnya, pakaiannya seperti pakaian pertapa, berwarna putih dengan garis leher hitam. Biarpun ia sudah nampak tua, dengan rambut putih dan keriput di mukanya, namun mukanya masih kemerah-merahan dan terutama sekali sepasang matanya tajam bukan main mengeluarkan pengaruh yang menakutkan.

"Siluman wanita dari manakah berani berlaku kurang ajar terhadap Sin-kiam-koai-hiap?" bentak penjahat berkedok itu dan matanya di balik kedok sutera hitam itu bersinar-sinar merah.

"Bocah she Ang, kali ini benar benar kau tersesat jauh. Bukankah suhumu sudah memberi peringatan terakhir? Pergilah dan minta ampun kepada suhumu karena kalau kau melanjutkan kesesatanmu, aku Li Bi Hong tidak akan ragu-ragu untuk mewakili gurumu melenyapkan kau dari permukaan bumi!" kata nenek tua itu dengan suara berpengaruh. Lai Siong Te melihat betapa penjahat itu menjadi terkejut dan suaranya berobah ketika tahu siapa nenek itu terdengar suara,

"Jadi kau orang tua yang disebut Pat jiu Toanio Li Bi Hong? Suhu seringkali menyebut-nyebut namamu sebagai seorang tua yang sangat bijaksana dan pendekar besar, akan tetapi,mengapa sekarang kau hanya merupakan seorang nenek tua yang jail dan suka menyampuri urusan orang lain! Pat jiu Toanio Li Bi Hong, apakah kaukira aku Ang Koan takut kepadamu? Aku mengingini patung yang dibawa oleh Lai Siong Te, apakah hubungannya hal ini dengan kau orang tua!"

Li Bi Hong tersenyum mengejek dan heranlah hati Lai piauwsu ketika melihat betapa nenek itu masih mempunyai gigi penuh dan kuat! "Ang Koan," kata nenek itu,

"suhumu sendiri, Lui-kong-jiu Keng Kin Tosu tidak berani bicara demikian kurang ajar terhadap aku yang ia anggap sebagai saudara tua. Kau sebagai murid satu-satunya telah tiga kali diberi peringatan dan banyak menyusahkan hati orang tua itu, akan tetapi kau tidak sadar bahkan makin tersesat! Sudah menjadi kewajibanku untuk memberi hajaran kepadamu, bagaimana kau anggap aku jail? Pula, tentang patung ketahuilah, hai bocah lancang! Patung itu dibawa oleh Lai piauwsu yang setia untuk diserahkan kepada kuil Thian-hok si di kaki gunung Fu niu, dan tahukah kau siapa yang berada di kuil itu? Akulah orangnya yang membangun kuil itu dan aku yang berhak menerima patung itu. Kau mau bicara apa lagi sekarang?"

Tidak saja Sin kiam Koai jin yang terkejut mendengar keterangan ini, bahkan Lai Siong Te semenjak tadi sudah tertegun. Ia sudah lama mengenaI dan mendengar nama orang-orang yang terkenal sebagai tokoh tokoh persilatan tingkat tinggi seperti Pat jiu Toanio dan Lai-kong jin, sungguhpun ia belum pernah melihat orangnya. Lebih-lebih heran dan terkejutnya bahwa patung itu ternyata harus diserahkan kepada ketua Thian Hok si yang bukan lain adalah Pat Jiu Toanio sendiri!

Akan tetapi Sin kiam Koai jin memiliki keberanian luar biasa. Ia tidak takut kepada Pat jiu Toanio dan biarpun sudah mendengar keterangan tersebut, namun ia masih merasa sayang kalau harus melepaskan patung itu, setelah tadi hampir saja patung itu dapat dirampasnya. Sambil berseru nyaring, tiba tiba dengan cara yang sangat pengecut sekali tanpa memberi peringatan lebih dulu, ia bergerak cepat dan mengirim serangan kilat ke arah nenek tua itu.

Lai piauwsu menjadi terkejut sekali, akan tetapi tidak demikian halnya dengan nenek yang diserang itu. Dengan tenang nenek itu lalu mengangkat tongkat merahnya dan sekali saja ia menggerakan tongkat dengan perlahan, pedang Sin-kiam Koai-Jin telah dapat dibentur kembali. Sebelum AngKoan dapat mengetahuinya, tongkat yang bagaikan naga hidup itu luar biasa cepatnya telah mendorongnya sehingga tepat mengenai dadanya dan membuatnya terhuyung-huyung ke belakang!

"Ang Koan, itu baru peringatan pertama. kau kembalilah ke Heng san dan minta ampun kepada suhumu!"

Akan tetapi tanpa menjawab, Ang Koan yang menjadi makin marah itu lalu menyerang lebih hebat lagi, dengan gerak tipu yang disebut membabat rumput Membunuh Ular! Serangan ini begitu lihainya, karena pedang yang berkilauan itu menyambar-nyambar dan bertubi-tubi membabat ke atas dan ke bawah, mengancam kedua kaki dan pinggang nenek itu.

"Hm, kau mengeluarkan tipu-tipu yang paling sadis untuk membunuhku? Bocah lancang jangan kau mengimpi!" Tiba-tiba tubuh nenek itu berkelebat cepat dan tubuhnya telah melompat ke atas bersandarkan tongkatnya yang tertancap di tanah sehingga pedang berkali kali membacok tongkat dan mengeluarkan suara keras. Akan tetapi sama sekali tongkat itu tidak bergeming! Bahkan, dari atas nenek itu lalu mengebutkan ujung lengan bajunya ke arah kepala Ang Koan! Hebat sekali pukulan ini karena angin pukulannya saja membuat pakaian Lai piauwsu yang berdiri jauh menjadi berkibar. Apalagi Ang Koan yang terkena pukulan langsung. Kepalanya terasa disambar petir dan untuk kedua kalinya terhuyung-huyung ke belakang.

"Nah, itu peringatan kedua kali dan yang terakhir!" kata Pat-jiu Toanio.

"Kembalilah ke Heng-san atau mati di sini, tinggal kau pilih!"

"Siluman perempuan! Siapa takut mati!" tiba-tiba Sin-kiam koai jin menyerbu lagi dengan pedangnya. Akan tetapi Pai-jiu Toanio yang sudah menurunkan kakinya di atas tanah, memegang tongkat itu pada ujungnya dan mendahului lawannya menusuk ke depan. Tongkat itu jauh lebih panjang dari pada pedang dan digerakkan dengan cepatnya maka sebelum pedang di tangan Ang Koan dapat mengenai nenek itu, lebih dulu ujung tongkat telah menotok dadanya.

"Duk! suara beradunya ujung tongkat dengan dada ini perlahan saja akan tetapi akibat hebat sekali. Sin kiam Koai- jin Ang Koan terlempar ke belakang sampai satu tombak lebih, pedangnya terlepas dari pegangan, kemudian ia roboh tak berkutik lagi. Ternyata sekali totokan saja nyawanya telah melayang meninggalkan raganya! Pat jiu Toanio Li Bi Hong menghela napas panjang dan mengomel.

"Terlalu sekali kau, Ang Koan, telah memaksaku melakukan pembunuhan! Biarlah kau terbebas dari siksa dan derita dunia!"

Nenek ini lalu berpaling kepada Lai Siong Te yang telah menjatuhkan diri berlutut di depannya.

"Lai piauwsu kau urus baik-baik jenazah Ang Koan ini. Aku telah mendengar dan menyaksikan kegagahan serta kesetiaanmu. Berikan kepadaku patung itu!"

Lai piauwsu tidak ragu-ragu lagi dan segera mengeluarkan patung kecil yang indah dan berat itu. Terbelalak matanya ketika nenek itu memutar kaki patung, karena segera terbukalah sebuah lubang rahasia di bawah patung dan keluarlah emas besar yang gemilang cahayanya.

"Ah, benda macam ini yang membuat manusia-manusia beriman lemah menjadi mata gelap!"

Lai Siong Te benar-benar tidak mengira bahwa patung itu sebenarnya menyembunyikan emas yang demikian banyaknya. Pantas saja amat berat, pikirnya dan pantas saja Sin. kiam Koai jin menghendakinya.

"Lai-piauwsu bukalah kedoknya dan ambil pedangnya itu!" nenek itu memerintah.

Ketika Lai Siong Te membuka kedok sutera yang menutup muka Ang Koan, kembali ia terkejut sekali, wajah penjahat yang tampan itu ternyata telah cacad mengerikan, yaitu hidungnya telah copot dan bolong! Ia bergidik, mengambil pedang dan kembali menghampiri Pat jiu Toanio yang dipandangnya dengan mata mengandung penuh pertanyaan.

"Dulu dia adalah anak yang baik" kata nenek itu yang maklum akan tuntutan pandang mata Lai piauwsu.

Posting Komentar