Ban Hwa Yong tertawa bergelak dan hendak maju membunuh kedua orang ini. Akan tetapi pada saat itu terdengar bentakan keras,
"Penjahat kejam jangan main gila di sini!"
Ban Hwa Yong tidak memperdulikan bentakan ini, pedangnya terus hendak membacok leher kedua piauwsu muda yang telah dilukainya itu, akan tetapi tiba-tiba berkelebat sinar putih yang menyilaukan, menangkis pedangnya.
"Traang!" terdengar suara keras tahu-tahu pedang itu telah terbabat putus! Ban Hwa Yong terkejut dan marah sekali. Ia cepat memutar tubuhnya dan ternyata bahwa yang membabat putus pedangnya itu tadi adalah seorang tua yang bersikap tenang.
"Hm jadi inikah orang she Lai yang menjadi pemimpin dari Gin houw piauwkiok? Kau berani membikin putus pedang rampasan di tangan Ban Hwa Yorg bagus sekali!"
Sementara itu, Lai Siong Te biarpun berhasil membuat putus pedang tadi, namun ia merasa tangannya tergetar, maka ia tadi menjadi terkejut juga. Kini mendengar nama orang tinggi kurus yang berhidung bengkok ini, makin terkejutlah dia. Ia telah mendengar nama Thian te Sam- kui dan tahu bahwa tiga orang iblis itu amat lihai, maka sering kali ia memberi nasihat kepada anak buahnya agar supaya menjauhi tiga iblis itu, Tidak tahunya sekarang orang termuda dari pada tiga iblis itu datang sendiri mencari perkara! la cepat menjura dan berkata,
"Maaf, maaf, tidak tahunya kami berhadapan dengan Ban taihiap yang terkenal gagah perkasa! Setelah sekarang aku mengetahui dengan siapakah aku berhadapan aku harap sudilah kiranya taihiap memberi maaf kepada murid-muridku yang telah berlaku kurang ajar. SiIakan taihiap datang ke rumah kami yang buruk untuk menerima penghormatan kami dan beristirahat!"
Ucapan ini amat merendah dan sesungguhnya telah membuat hati Ban Hwa Yong menjadi dingin. Penjahat ini mempunyai hati yang suka sekali mendapat pujian orang. Melihat sikap merendah dari piauwsu tua itu, dia melihat betapa semua orang memandangnya dengan takut-takut dan penuh hormat, ia sudah menjadi bangga sekali sehingga ia tertawa terbahak-bahak.
"Bagus, bagus, Lai-piauwsu. Baiknya kau masih mengenal orang dan dapat membedakan mana ulat mana naga! Kalau tidak, aku khawatir Gin houw-piauwkiok akan tinggal namanya saja hari ini!"
Biarpun Lai Siong Te merasa mendongkol sekali mendengar kesombongan ini, namun ia menekan perasaan marahnya dan hanya tersenyum saja. Agaknya semua akan berjalan beres dan damai kalau saja Kim Bwe tidak bertindak. Nyonya muda ini merasa kecewa sekali. Ia sengaja hendak mengadu-dombakan kedua orang ini agar supaya Ban Hwa Yong dikalahkan dan ia dapat terlepas dari pada orang yang dibencinya itu.
Maka ketika ia melihat betapa Lai Siong Te memperlihatkan sikap lemah dan mengalah dan Ban Hwa Yong sudah reda marahnya, ia cepat melangkah maju, memungut pedang seorang piauwsu yan tadi dirobohkan oleh Ban Hwa Yong, kemudian berkata dengan nyaring,
"Lai-lo enghiong, lupakah kau kepadaku? Aku adalah isteri dari Ouw Teng Sin dari Pek eng-piauwkiok! Seluruh keluarga Pek-eng piauwkiok telah terbunuh mati oleh jahanam terkutuk ini, maka tolonglah kau membantuku membalas dendam kepada jahanam ini " Sambil berkata demikian Kim Bwe menggerakkan pedang itu menusuk dada Ban Hwa Yong!
Jai-hwa cat (penjahat cabul) ini terkejut, heran dan marah bukan main. Ia mengelak sambil melompat ke belakang dan tahu-tahu ia telah mencabut sepasang kaitannya, senjatanya yang amat diandalkan dan memang amat berbahaya itu. Lai Siong Te dan murid-muridnya ketika mendengar ucapan nyonya muda itu, terkejut sekali dan serentak mereka lalu maju sambil mengeluarkan senjata masing-masing.
Namun mereka kalah cepat oleh Ban Hwa Yong, karena dengan gerakan yang amat hebat, la mendesak maju dan tiba tiba terdengar pekik mengerikan dari mulut Kim Bwe ketika sepasang kaitan baja di tangan penjahat cabul itu telah mengenai tubuhnya. Kaitan di tangan kanan menancap dan mengait lehernya. sedangkan kaitan kiri menembus Iambungnya! Ketika Ban Hwa Yong menarik kembali senjatanya tubuh Kim Bwe terkulai dan roboh tak bernafas lagi.
"Ha. ha, ha, perempuan hina! Kau mencoba mengkhianati Ban Hwa Yong? Dasar kau mencari mampus!" Setelah berkata demikian, ia mengangkat kaitannya untuk menangkis pedang Lai Siong Te yang sudah maju menyerangnya dengan marah sekali.
"Ban Hwa Yong, kau benar-benar berhati kejam sekali! Hari ini aku Lai Siong Te pasti mengadu jiwa denganmu!"
"Tua bangka! Tak usah kau mengejek, aku memang sudah mengambil keputusan untuk menjadikan Gin houw-piauwkiok seperti Pek-eng piauwkiok yang sudah musnah! Bersiaplah kalian untuk mampus di tangan Ban Hwa Yong yang perkasa!" Kaitannya bergerak cepat dan masih baik bagi Lai Siong Te bahwa ia memegang sebuah pedang pusaka, karena kalau tidak, tentu ia takkan dapat bertahan lama menghadapi penjahat yang lihai itu.
Ketika melihat ketua dan guru mereka terdesak hebat oleh Ban Hwa Yong, para piauwsu yang lain serentak lalu maju mengeroyok sehingga sebentar saja Ban Hwa Yong setelah dikeroyok oleh tujuh orang piauwsu termasuk Lai Siong Te! Akan tetapi penjahat Itu tak merasa gentar, bahkan sambil tertawa-tawa ia menghadapi para pengeroyoknya dengan gagah sekali.
Dan pada saat itulah Sim Tiong Han pemuda tokoh Kim liong-pai itu datang dan akhirnya berhasil mengusir Ban Hwa Yong! Setelah mendengar penuturan tuan rumah, Tiong Han menarik napas panjang dan berkata agak menyesal,
"Sayang sekali aku tidak tahu akan hal ini sebelumnya, kalau aku tahu, pasti aku takkan membiarkan penjahat kejam itu melarikan diri! Akan tetapi biarlah akan kuingat dia dan kalau sampai aku dapat bertemu lagi dengan dia pasti akan kubereskan jahanam itu!"
Ketika Lai Siong Te mendengar bahwa pemuda yang bernama Sim Tiong Han ini adalah murid dari Kim liong pai, ia cepat-cepat menyatakan hormatnya dan berkata,
"Tidak heran bahwa ilmu silatmu sedemikian hebat, Sim-taihiap! Tidak tahunya kau adalah murid dari Kim-liong-pai! Hanya sayang sekali kau tidak membawa pedang Ang coa-kiam, pedang pusaka dari Kim Iiong pai itu. Kalau kau membawa pedang itu, tak usah kau memperkenalkan diri, pasti mataku yang tua akan mengenalmu, karena aku pernah melihat dan menyaksikan kelihaian pedang Ang coa. kiam ketika aku masih muda dulu."
Tiong Han menghela napas.
"Itulah sebabnya mengapa aku turun gunung. Lai piauwsu. Pedang pusaka kami telah lenyap dicuri orang! Maka tolonglah kau mendengar dan melihat kalau kalau ada orang yang membawa bawa pedang itu beri kabarlah kepadaku! Aku akan mencari ke utara."
"Tentu saja, taihiap, kami akan membantumu. Dan untuk sementara sebelum kau dapat menemukan kembali Ang coa.kiam kau pakailah pedangku Hui-liong-kiam ini! Aku persembahkan kepadamu dengan hati rela, karena kau lebih pantas menggunakan pedang ini taihiap."
Tiong Han memandang kepada pedang yang diletakkan di atas meja di depannya itu,
"Pedarg baik." katanya.
"Tidak mudah mendapatkan pedang pusaka seperti ini, Lai piauwsu. Mengapa kau memberikannya kepadaku? Sungguh aku merasa sukar untuk dapat menerimanya."
Lai Siong Te tertawa bergelak,
"Memang demikianlah sifat seorang gagah, dia tidak ingin memiIiki barang orang lain betapapun indah dan berharga barang itu! Aku hargai sikapmu ini taihiap. Akan tetapi, pedang ini kuberikan dengan rela hati. Dengan setulusnya aku memberikan pedang ini kepadamu, karena untuk apakah orang tua seperti aku memiliki pedang ini? Seperti seekor domba memakai tanduk kerbau saja! Dan pula, dengan memberikan pedang ini kepadamu berarti bahwa aku tidak melanggar janjiku kepada pemberi pedang ini!"
Tertarik hati Tiong Han mendengar ucapan ini.
"Siapakah pemilik pedang ini dan mengapa diberikan kepadamu, Lai piauwsu?"
Piauwsu itumenarik napas panjang.
"Seorang gagah, seorang wanita yang luar biasa."
Kemudian Lai Siong Te menuturkan kepada pemuda itu tentang riwayat pedang yang tajam dan keramat itu. Kurang lebih sepuluh tahun yang lalu, Lai Siong Te sudah menjadi seorang piauwsu di daerah Santung. Namanya sudah cukup terkenal sebagai seorang piauwsu yang jujur dan baik, yang menjaga barang kiriman dengan sungguh-sungguh, bahkan yang berani yang bertanggung jawab dan mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi barang yang dipercayakan kepadanya untuk dikirim.
Pada waktu itu di sepanjang lembah sungai kuning. Sebelah selatan kota Cin-an, terkenal sebagai tempat yang amat berbahaya dan jarang sekali ada yang berani melalui jalan ini. Telah beberapa lamanya tempat itu menjadi daerah yang ditakuti karena munculnya seorang perampok tunggal yang berjuluk Sin-kiam-koai-jin (Manusia Aneh Berpedang Sakti). Bahkan Lai piauwsu sendiri tidak berani melalui tempat ini dan selalu mengantarkan barang-barang berharga dengan jalan memutar. Telah banyak sekali orang-orang gagah mencoba untuk mengusir perampok ini, akan tetapi akibatnya mereka itu roboh seorang demi seorang di tangan Sin-kiam-koai-jin yang kosen.
Pada suatu hari seorang bangsawan tinggi memanggil Lai piauwsu dan ketika piauwsu ini datang menghadap bangsawan itu berkata kepadanya,