Ban Hwa Yong mempertahankan diri sampai dua puluh Jurus, akan tetapi sekarang ia bertempur sambil mundur teratur, terus terdesak hebat tanpa dapat berdaya lagi. Akan tetapi, betapapun keuletannya boleh dipuji. Ia telah puluhan tahun merantau dan menjagoi di dunia kang-ouw, sudah mengalami banyak sekali pertempuran, maka ia telah dapat mempertahankan diri dengan amat kuatnya.
Baru setelah bertempur selama dua puluh tujuh jurus terdengar suara keras dan kaitan di tangan kanan Ban Hwa Yong terpental jauh ke atas! Penjahat cabul ini mengeluarkan teriakan keras dan tiba-tiba la merogoh sakunya dengan tangan kanan dan tiga buah senjata rahasia berbentuk paku hitam menyambar kearah jalan darah di tubuh Tiong Han!
Pemuda ini cepat memutar pedangnya untuk menangkis paku-paku itu akan tetapi kesempatan itu dipergunakan oleh lawannya untuk melompat dan berlari pergi secepat mungkin seperti orang dikejar setan! Tiong Han yang tidak ingin mencari permusuhan, melihat lawannya berlari ketakutan, tidak mau mengejar, bahkan lalu menghampiri piauwsu tua yang memberi pinjam pedang itu.
"Lo-enghiong. pedangmu ini benar-benar bagus sekali. Terima kasih atas bantuanmu "
Tiong Han mengembalikan pedang itu. akan tetapi piauwsu itu memegang lengannya dengan muka girang sekali dan berkata,
"Tak usah berlaku sungkan, hohan. Pedang pusaka ini telah berpuluh tahun berada di tanganku dan sesungguhnya aku tidak berharga untuk memiliki pedang ini. Biarlah untuk pertolonganmu kepada kami, pedang ini kami persembahkan kepadamu!"
Tentu saja Tiong Han menjadi terkejut sekali. Ia merasa malu dan sungkan, karena bagaimanakah ia dapat menerima pemberian pedang mustika begitu saja dari orang yang tak dikenalnya?
Piauwsu itu melihat keraguannya, maka ia lalu berkata,"Orang muda yang gagah. Marilah kau ikut kami dan mari kaudengarkan penuturan kami agar kau dapat mengerti betapa besar jasamu tadi! Kau telah menghindarkan penyembelihan besar-besaran terhadap keluarga piauwkiok (perusahaan ekspedisi) kami!"
Karena ia merasa letih dan juga pundaknya terasa perih, terutama sekali karena ia ingin mendengar siapakah adanya wanita cantik yang mati di situ dan mengapa tokoh Thian. te Sam-kui itu sampai bentrok dengan kawanan piauwsu ini, maka Tiong Han tidak menampik undangan ini, dan beramai ramai mereka lalu pergi ke rumah piauwkiok yang tidak jauh dari situ. Seperti telah kita ketahui, ketiga Thian-te Sam kui setelah berhasil membasmi dan membunuh semua keluarga Pak eng piauwkiok di kota Hun-leng, tiga manusia iblis ini lalu melarikan diri sambil menculik Lo Kim Bwe atau nyonya Ouw Tang Sin yang cantik jelita dan genit. Atau lebih tepat lagi, yang membawa lari Kim Bwe adalah Ban Hwa Yong si penjahat cabul.
Oleh karena memang ketiga orang penjahat ini mempunyai kesukaan sendiri-sendiri maka setelah keluar dari kota Hun leng mereka lalu berpisah dan mengambil Jalan masing-masing, Ban Hwa Yong yang membawa Kim Bwe lalu melanjutkan perjalanannya. Girangnya bukan main, ketika ia mendapat kenyataan bahwa wanita yang diculiknya ini tidak seperti yang lain-lainnya. Biasanya wanita yang diculik dan dipermainkannya selalu melawan dan berduka atau bahkan ada yang nekad membunuh diri, akan tetapi Kim Bwe tidak demikian. Perempuan ini tidak nampak bersedih meskipun keluarganya telah terbasmi semua, bahkan ia nampaknya suka melakukan perjalanan dengan Ban Hwa Yong!
"Sayang kau dan suheng-suhengmu tidak mau menunggu dulu kedatangan dara yang cantik jelita seperti bidadari!" katanya kepada penjahat cabul itu, dan ia lalu menceritakan perihal Eng Eng kepada Ban Hwa Yong. Penjahat ini hanya tertawa saja dan berkata.
"Betapapun juga, ia tidak mungkin secantik engkau manisku!"
Demikianlah sampai sebulan lebih Kim Bwe melakukan perjalanan menurut saja ke mana penjahat itu membawanya. Ban Hwa Yong nampaknya amat sayang kepadanya dan sebaliknya Kim Bwe juga memperlihatkan kasih sayangnya. Padahal semua sikap Kim Bwe ini hanya dilahir saja. Ia merasa melawan tiada gunanya, dan berarti sama dengan membunuh diri. Sesungguhnya ia amat benci kepada laki-laki ini, bukan hanya karena Ban Hwa Yong telah membunuh semua keluarganya termasuk ayah dan adiknya yang tercinta, akan tetapi terutama sekali karena Ban Hwa Yong berwajah buruk. Kalau saja laki-aki yang menculiknya ini seorang laki laki muda yang tampan, bukan tak mungkin Kim Bwe akan dapat menerimanya dan melupakan sakit hatinya! Diam diam Kim Bwe selalu mencari kesempatan baik untuk membunuh jai hwa cat ini. Pertama-tama karena Ban Hwa Yong amat tinggi ilmu kepandaiannya, kedua kalinya karena penjahat cabul itu selalu berlaku hati-hati sekali.
Pada suatu hari, ketika mereka berdua sedang berjalan hendak memasuki dusun Cia-keng-bun, mereka melihat serombongan piauwsu menyusul mereka dan mendahului masuk ke dalam dusun itu. Mereka itu terdiri dari sembilan orang dan karena mereka ini menunggang kuda mengiringi sebuah kereta barang, maka mudah dilihat dari bendera di atas kereta bahwa mereka adalah piauwsu-piauwsu dari perusahaan Gin-houw piauwkiok (Perusahaan Ekspedisi Macan Perak). Piauwsu yang termuda ketika lewat, berpaling dan memandang ke arah Kim Bwe dengan penuh perhatian, lalu tersenyum. Kim Bwe melihat wajah piauwsu muda yang tampan itu, membalas senyum ini. la melakukan hal ini dengan sengaja, bahkan ketika rombongan piauwsu itu telah lewat, Kim Bwe mengeluarkan saputangan dari dalam bajunya dan melambaikan ke arah piauwsu muda tadi!
Tentu saja Ban Hwa Yong menjadi cemburu dan marah sekali. Hampir saja ia memukul muka kekasihnya itu, akan tetapi Kim Bwe segera berkata,
"Mengapa kau marah-marah? Gin houw piauwkiok adalah piauwkiok yang amat terkenal, dan orang-orangnya memiliki ilmu kepandaian yang amat lihai. Mereka pernah datang di tempat tinggalku dan mengenal mendiang suamiku. Sebagai kenalan-kenalan lama, tidak bolehkah aku memberi salam kepada mereka?" Kemudian ia sengaja membikin panas hati Ban Hwa Yong.
"Kurasa lebih baik kita jangan masuk ke dusun itu dan melewatinya saja dengan mengambil jalan lain, karena kalau para piauwsu itu melihat aku berjalan bersamamu, mereka tentu akan merasa curiga dan kalau mereka menyelidiki celakalah kau!"
Benar saja, usahanya memancing-mancing dan membikin panas hati Ban Hwa Yong untuk mengadudombakan penjahat ini dengan para piauwsu itu, telah mendapat hasil baik. Ban Hwa Yong yang merasa cemburu menjadi benci kepada piauwsu-piauwsu itu, apalagi mendengar Kim Bwe memuji-muji. Kini mendengar ucapan nyonya muda ini, mukanya menjadi merah saking marahnya,
"siapa yang celaka? Aku? Mengapa aku yang celaka?" tanyanya penasaran.
"Karena kepandaian mereka benar-benar tinggi! Mendiang suamikupun tidak dapat mengalahkan ilmu silat pemimpin-pemimpin Gin-houw-piauwkiok," kata Kim Bwe pula.
Ban Hwa Yong hampir saja membanting-banting kakinya.
"Suamimu? Hm, cacing tanah itu bisa apa sih! Kau lihat saja nanti, akan kubasmi habis pemimpin-pemimpin Gin houw-piauwkiok dan kuratakan dengan bumi perusahaan mereka seperti halnya Peng eng-piauwkiok! Akan tetapi kalau di situ terdapat wanitanya yang cantik seperti engkau, engkau harus mengalah dan membiarkan aku membawanya!"
Bukan main girangnya hati Kim Bwe mendengar bahwa usahanya mengadu domba ini berhasil, akan tetapi ia berpura-pura memperlihatkan muka marah mendengar ucapan terakhir dari Ban Hwa Yong.
"Dasar mata keranjang! Orang yang selalu mencari wanita cantik seperti kau, mana bisa menangkan piauwsu-piauwsu dari Gin-houw piauwkiok?"
Ucapan ini merupakan minyak yang menyiram api kemarahan Ban Hwa Yong sehingga tanpa banyak Cakap lagi penjahat cabul ini lalu memegang lengan tangan Kim Bwe dan membawanya lari cepat memasuki dusun itu!
Memang sesungguhnya dalam kata-kata Kim Bwe kepada Ban Hwa Yong tadi, tidak semuanya bohong. Pemimpin Gin houw-piauwkiok memang kenal dengan Pak.eng piauwkiok milik suaminya. Ketua dari Gin-houw-piauwkiok itu adalah seorang piauwsu setengah tua, berusia lima puluh tahun akan tetapi masih nampak gagah dan kuat. Piauwsu ini bernama Lai Siong Te seorang gagah yang amat pandai bermain pedang. Oleh karena kegagahannya, nama Gin-houw-piauwkiok amat terkenal dan tidak sembarang perampok berani mengganggu barang-barang yang dikawal oleh piauwsu-piauwsu dari Gin-houw-piauwkiok. Bendera piauwkiok yang bersulam lukisan harimau dari benang perak itu merupakan tanda yang ditakuti oleh para perampok.
Lai Siong Te memang pernah berkunjung ke Hun leng dan berkenalan dengan Ouw Teng Sin dan Ting Kwan Ek, kedua piauwsu dari Pek-eng-piauwkiok itu. Bahkan pernah ia melihat Kim Bwe yang ketika itu masih menjadi nyonya Ouw Teng sin. Di dalam perjalanan tadi, Lai Siong Te tidak ikut karena piauwsu tua ini sekarang jarang sekali mengantar sendiri barang-barang yang dilindungi oleh piauwkioknya. Cukup dilakukan oleh anak buahnya dan murid-muridnya saja. Tentu saja untuk mengawal barang-barang amat berharga kadang-kadang ia sendiri turun tangan.
Ketika rombongan piauwsu itu tiba Lai Siong Te menyambut dengan gembira karena mendengar bahwa rombongan itu tidak menemui kesulitan sesuatu di dalam perjalanan. Sebagai seorang ketua yang pandai, ia lalu memerintahkan para pelayan untuk menyediakan minuman dan hidangan sebagai hiburan kepada para pegawainya.
Pada saat-saat orang-orang itu sedang makan minum tiba tiba datang seorang piauwsu yang menghadap Lai Siong Te dengan muka pucat dan memberi laporan,
"Celaka, Lai piauwsu, di perempatan sebelah selatan itu ada seorang laki-laki dan seorang wanita yang memaki-maki dan menantang semua piauwsu dari Gin-houw piauwkiok!"
Mendengar ucapan ini, marahlah para piauwsu muda yang berada di situ. Tanpa menanti jawaban kepala piauwsu itu, dua orang piauwsu muda telah lari sambil mencabut pedang mereka! Benar saja di tengah jalan perempatan, tak jauh dari rumah piauwkiok itu, tampak seorang laki-laki tinggi kurus dengan seorang wanita muda yang cantik sekali berdiri sambil memaki-maki.
"Manakah tikus-tikus dari Gin-houw piauwkiok? Biar mereka maju ke sini hendak kuhitung berapa helai kumisnya!"
Seorang di antara piauwsu muda ini adalah seorang muda yang tadi telah tertarik oleh kecentilan Kim Bwe dan telah bertukar pandang dan senyum dengan nyonya muda itu, maka ia lalu main ke depan bersama kawannya dan membentak.
"Manusia kurang ajar dari manakah yang berani datang menghina nama piauwkiok kami? Siapakah namamu dan mengapa kau datang-datang ngaco belo seperti orang gila?"
Melihat piauwsu muda yang tadi telah berani bermain mata dengan Kim Bwe, Ban Hwa Yong marah sekali.
"Ha. ha, ha, begini sajakah macamnya tikus-tikus dari Gin houw-piauwkiok? Tidak tahunya hanya tikus selokan yang kotor, pemakan kecoa dan kotoran!"
Bukan main marahnya kedua orang piauwsu muda itu mendengar hinaan ini. Biarpun yang ditanya belum memberitahukan namanya namun kekurangajarannya membuat keduanya tak sabar lagi. Serentak mereka maju menyerang dengan pedang di tangan. Akan tetapi, dengan bertangan kosong Ban Hwa Yong maju menyambut serangan mereka dan baru lima jurus saja, ia berhasil merampas pedang seorang di antaranya dan begitu pedang rampasan ini digerakkan, robohlah kedua orang piauwsu muda itu dengan luka pada lengan dan pundak!