Pedang Ular Merah Chapter 26

NIC

"Nona, sabarlah, kau masih terluka! Berbahaya bagimu kalau terus mengerahkan tenaga lweekang!" Ia masih berseru memperingatkan biarpun ia berada dalam bahaya. Betapa pun juga Tiong Han merasa amat kasihan kepada gadis ini yang masih disangkanya gila.

Akan tetapi jawaban dari Eng Eng adalah serangan yang mengganas. Tiong Han menangkis akan tetapi pedangnya terbabat putus menjadi dua dan pedang di tangan Eng Eng menyambar cepat ke arah lehernya dibarengi seruan girang dari gadis itu! Tiong Han menjatuhkan diri, pundaknya terserempet pedang sehingga terluka. Akan tetapi ia lolos dari bahaya maut karena begitu ia menjatuhkan diri ia lalu menggelundung dengan gerakan Trenggiling Turun dari Lereng! Setelah dapat menjatuhkan diri, ia cepat melompat dan lari secepat mungkin!

"Jahanam hina dina, jangan lari!" Eng Eng berseru mengejar, akan tetapi ia mengeluh kesakitan dan terpaksa duduk di bawah sebatang pohon karena dadanya terasa sakit dan napasnya sesak. Betul seperti yang dikatakan Tiong Han tadi, pengerahan tenaga dalam membuat lukanya kambuh kembali, ia merasa amat sakit pada dadanya dan cepat gadis ini lalu berjungkir balik, kepala di atas tanah dan kaki di atas lalu mengerahkan tenaga dan mengatur nafas.

Beginilah caranya melatih lweekang dan pernafasan sebagaimana yang dipelajarinya dari suhunya, yakni Hek Sin-mo! Sampai beberapa lama ia berjungkir balik dan baru ia berhenti mengatur pernafasannya setelah merasa dadanya ringan dan tidak sakit lagi. Barulah ia duduk beristirahat dan ia mempergunakan tenaga hatinnya untuk melawan keinginannya hendak menangis saking sedihnya.

"Aku tak boleh terlalu bersedih, aku harus sembuhkan luka ini, aku harus dapat hidup beberapa lama lagi untuk membalas penghinaan ini! Tiong Han... Tiong Han... sebelum aku dapat menghancur-leburkan tubuhmu mencincang kepalamu, aku takkan berhenti berusaha....... Tiong Han...!" Ia mendekap dadanya dan cepat mengatur nafasnya panjang-panjang karena kesedihan membuat dadanya terasa sesak dan sakit lagi.

Menjelang senja, hujan berhenti dan nampaklah tubuh seorang wanita yang layu dan lemah lunglai berjalan keluar dari hutan itu. Wanita ini adalah Eng Eng.

Sementara itu, Tiong Han berlari cepat meninggalkan tempat itu. Ia masih merasa terharu, kagum dan juga heran. Ia merasa terharu, melihat keadaan nona yang benar-benar kenal ilmu pedangnya itu. Tiada hentinya sambiI berlari ia memikirkan gadis itu. Siapakah gadis itu? Alangkah cantik manisnya dan alangkah lihai ilmu silatnya. Kalau saja ia membalas serangan gadis itu dan memiliki pedang yang baik, agaknya kepandaian mereka berimbang. Belum tentu ia akan dapat menangkan gadis itu karena ia dapat membayangkan betapa hebat dan lihainya gadis itu kalau tidak sedang terluka dadanya. Ia benar-benar merasa kagum sekali, dan hatinya tertarik. Bayangan gadis itu tak dapat ia usir dari depan matanya. Akan tetapi ia merasa heran sekali, karena mengapakah gadis itu marah-marah dan membencinya? Mengapa gadis itu berusaha sekuat tenaga untuk membunuhnya?

Mengapa ia disangka telah berbuat sesuatu yang amat jahat kepada gadis Itu? Apakah ia disangka orang yang telah melukai dada gadis itu? Ah, Tiong Han menghadapi teka-teki yang amat sulit dalam diri Eng Eng. Namanya Suma Eng, alangkah indah nama itu. Akan tetapi mengapa sikap gadis itu demikian aneh? Gilakah dia? Tak mungkin, gadis yang bicara demikian jelas dan yang dapat bersilat demikian Iihai, sungguhpun ilmu silatnya amat aneh tak mungkin gila!

Demikianlah Tiong Han benar-benar menjadi bingung. Akan tetapi ia tidak berani mendekati gadis itu, karena ia yakin bahwa gadis itu takkan berhenti sebelum dapat membunuhnya. Hal yang amat menyakitkan hati dan membuatnya berduka. Setelah berlari jauh, barulah Tiong Han merasa betapa pundaknya perih karena pundak itu sudah terluka dan lecet kulitnya. Terasa amat panas luka itu dan ketika ia memandang, ia menjadi terkejut sekali. Ternyata luka itu kini menjadi bengkak.

"Ah, lihai sekali! Agaknya pedang itu mengandung bisa pula!" Katanya dalam hati.

Cepat-cepat ia membuka bungkusannya dan mengeluarkan obat pemunah bisa. Setelah menelan dua butir pel putih dan menghancurkan obat bubuk dengan arak yang dibawanya dalam sebuah guci kecil untuk dipergunakan sebagai obat luar, ia merasa lega. Ternyata bisa yang terkandung oleh pedang gadis itu tidak berapa jahatnya.

Beberapa hari kemudian ketika ia tiba di luar sebuah dusun, Tiong Han mendengar suara ribut-ribut dan ketika ia telah tiba di tempat itu, ia melihat seorang laki-laki tinggi kurus yang hidungnya seperti burung kakaktua dan bersenjata sepasang besi kaitan sedang dikeroyok oleh banyak orang. llmu silat laki laki itu benar-benar lihai dan tujuh orang yang berpakaian seragam piauwsu (pengawal barang kiriman) itu biarpun mengeroyok dengan senjata golok dan pedang, sama sekali tidak berdaya menghadapinya.

Tiong Han yang sedang merasa sedih dan menyesal karena pikirannya masih penuh dengan bayangan Suma Eng, tadinya tidak begitu tertarik hatinya. Akan tetapi karena ia melihat betapa di atas tanah menggeletak tubuh seorang wanita cantik yang sudah menjadi mayat dan ada pula dua orang piauwsu yang merintih-rintih dengan tubuh terluka berat, ia menjadi tertarik dan segera melompat menghampiri. Pada saat itu ia tiba di tempat pertempuran, laki-laki bersenjata kaitan itu sedang mendesak para pengeroyoknya dengan senjatanya yang luar biasa dan dengan satu sabetan keras, ia kembali telah merobohkan seorang pengeroyok!

"Ha, ha, ha! Buka matamu lebar-lebar, hendak kucongkel matamu!" kata laki laki itu dan kaitannya cepat menyambar ke arah mata orang yang telah roboh terlentang itu! Akan tetapi tiba-tiba laki-laki itu berseru keras dan tubuhnya terjengkang ke belakang. Ia cepat berpaling untuk melihat siapa orang yang dapat mendorongnya tanpa ia ketahui lebih dulu itu.

Ternyata di depannya telah berdiri seorang pemuda tampan yang robek baju pada pundaknya dan pundak itu terluka karena masih tampak tanda-tanda darah dan kulit pundak tertutup oleh obat.

"Sabar dulu, kawan " kata Tiong Han kepada orang tinggi kurus yang bukan lain adalah Ban Hwa Yong orang ketiga dari Thian-te Sam kui!

"Bangsat rendah! Kau berani sekali mencampuri urusan Ban Hwa Yong, tokoh besar dari Thian-te Sam-kui?" teriak Ban Hwa Yong marah dan cepat kaitannya menyambar ke arah leher Tiong Han! Pemuda ini melihat gerakan lawannya yang cepat dan kuat, segera melompat mundur dengan marah sekali. Akan tetapi Ban Hwa Yong tidak memberi kesempatan kepadanya dan cepat melangkah maju mengejar dan menyerangnya secara bertubi-tubi.

Sepasang kaitannya menyambar-nyambar dan senjata ini memang berbahaya sekali, karena penyerangannya berbeda dengan senjata-senjata lain, bukan dari depan bahaya yang datang, melainkan dari belakang dan dari samping. Senjata ini dipergunakan untuk menggali dan sekali saja tubuh tergait oleh kaitan yang kuat dan runcing sekali itu, akan robeklah kulit dan daging!

Diam-diam Tiong Han merasa terkejut sekali. Tak disangkanya lawan ini demikian lihainya. Ia pernah mendengar nama Thian-te Sam kui, tiga orang iblis bumi langit yang terkenal jahat, maka kini menghadapi seorang diantara iblis ini, la tahu bahwa ia harus turun tangan! Akan tetapi, dengan pundak terluka dan bertangan kosong, bagaimana ia bisa menghadapi seorang tokoh dari Thian- te Sam-kui yang berkepandaian tinggi?

Akan tetapi, Tiong Han mengerahkan ginkangnya dan mengandalkan kelincahan gerakan tubuhnya untuk menghindarkan setiap serangan lawan. Sampai tiga puluh jurus Tiong Han dapat menghadapi lawannya dan dapat juga melakukan serangan balasan dengan pukulan-pukulan dari ilmu silat Kim-liong pai. Ban Hwa Yong merasa penasaran sekali. Betulkah dia tidak dapat merobohkan seorang pemuda bertangan kosong yang sudah terluka dan tampaknya lemah? Ia berseru marah dan mempercepat gerakan senjatanya, menyerang dengan gerak tipu yang paling dahsyat. Kewalahan jugalah Tiong Han menghadapi Jai-hwa-cat (penjahat penculik bunga) ini!

Tiba tiba seorang piauwsu yang paling tua usianya, melemparkan sebatang pedang ke arah Tiong Han sambil berseru,"Hohan (orang gagah) silakan kau menggunakan pedangku ini!"

Bukan main girangnya hati Tiong Han melihat berkelebatnya pedang ini. Ban Hwa Yong juga melihat pedang yang dilemparkan ini, maka ia cepat mendesak Tiong Han dengan pukulan kaitan kiri, sedangkan kaitan kanan dipergunakan untuk memukul ke arah pedang itu! Tiong Han cepat mempergunakan gerak tipu Dewa Awan Menyambut Pelangi. Ia miringkan tubuh untuk menghindari sabetan senjata kiri lawan, kaki kanannya bergerak cepat menendang pergelangan tangan kanan Ban Hwa Yong dan dengan tangan kiri diulur cepat menangkap pedang itu! Ban Hwa Yong terpaksa menarik kembali kaitannya yang tadi hendak dipergunakan untuk memukul pedang karena ujung sepatu lawannya mengancam pergelangan tangan dan sementara itu, Tiong Han telah melompat ke belakang dan kini pemuda ini telah memegang sebatang pedang yang berkilauan tajamnya!

Semua piauwsu dan orang orang dusun yang menonton pertempuran itu bersorak memuji melihat ketangkasan dan keindahan gerakan Tiong Han tadi. Akan tetapi Tiong Han sebaliknya memandang kepada pedang yang dipegangnya sambil berkata kagum,

"Pokiam (pedang pusaka) yang bagus!"

Baru saja ia menutup mulutnya, angin yang keras menyambar dari kanan-kiri dan kini sepasang kaitan di tangan Ban Hwa Yong telah menyambarnya dengan gerak tipu Menutup Pintu Menggencet Lawan! Akan tetapi, dengan gerakan indah sekali Tiong Han menggerakkan pedang di tangan kanannya, memutarnya merupakan sinar melengkung dari kanan ke kiri.

"Trang! Trang!" Bunga bunga api memancar keluar ketika sepasang kaitan itu sekaligus terbentur oleh pedang ini dan Ban Hwa Yong merasa betapa telapak tangannya kesemutan. Ia menjadi terkejut sekali, apalagi ketika tlba-tiba matanya silau oleh sinar pedang Tiong Han yang kini membalas dengan serangan-serangan hebat!

Harus diketahui semenjak turun gunung dan mempelajari ilmu pedang Ang coa-kiam sut dari kitab peninggalan sucouwnya, ilmu kepandaian pemuda ini telah maju pesat sekali. Apalagi kini yang dimainkannya adalah sebatang pedang pusaka, maka tentu saja gerakannya amat hebat dan pedangnya bergulung-gulung merupakan sinar putih yang menyilaukan mata.

Posting Komentar