Pedang Ular Merah Chapter 25

NIC

Sungguh amat sayang betapa seorang pemuda gagah perkasa yang memiliki dasar amat baik seperti Tiong Kiat, dapat terjerumus sampai demikian dalam. Perbuatan-perbuatan baik yang dilakukannya telah dinodainya sendiri. Kebajikan dan kejahatan tak dapat berjalan sama. Kebaikan akan lenyap sifatnya apabila dilakukan di samping kejahatan, seperti sebuah lukisan indah yang terkena noda kotor. Sebaliknya, kejahatan takkan lenyap sifatnya biarpun disampingnya orang melakukan pula kebaikan, seperti sebuah lukisan yang buruk takkan menjadi baik biarpun akan diberi pigura yang betapa indahpun.

Demikianlah, pada suatu hari dengan kebetulan sekali ia bertemu dengan Suma Eng, atau Eng Eng, gadis gagah perkasa yang roboh pingsan terkena pukulan Pek-lek-jiu dari Ban Yang Tojin yang telah dikalahkannya. Melihat keadaan gadis itu, timbullah rasa kasihan dalam hati Tiong Kiat dan segera ia memondong tubuh Eng Eng dan dibawanya ke tempat tinggalnya di dalam hutan itu. Memang telah beberapa pekan ia tinggal di hutan ini.Dengan sungguh-sungguh ia lalu mengohati gadis yang ternyata menderita luka berat didalam dadanya itu. Tiong Kiat memang pernah mempelajari sedikit ilmu pengobatan, yakni pengobatan yang khusus untuk mengohati luka-luka di sebelah dalam, ilmu pengetahuan yang amat penting bagi orang perantau dan ahli silat. la dapat menolong nyawa Eng Eng akan tetapi sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, pemuda yang mata keranjang ini mana dapat tahan menghadapi kecantikan Eng Eng yang memang luar biasa sekali? Melihat wajah yang cantik Jelita dan manis, melihat tubuh yang menggiurkan, tidak kuatlah ia menahan nafsu jahatnya. Melihat luka di dada gadis itu, Tiong Kiat dapat menduga bahwa gadis ini tentu berkepandaian tinggi sekali karena kalau tidak memiliki Iweekang yang tinggi, pasti orang akan mati terkena pukulan sehebat itu!

Sampai setengah malam pemuda ini termenung. Perang hebat terjadi di dalam hatinya, perang antara nafsu jahat dan hati nuraninya. Nafsu jahat mendorongnya agar ia melakukan perbuatan jahat terhadap gadis cantik yang ditolongnya ini, sedangkan hati nuraninya berbisik agar ia tidak mengganggu gadis ini. Akhirnya hati nuraninya kalah dan Eng Eng telah menjadi korban kelemahan hati pemuda itu!

Pada keesokan harinya, Tiong Kiat amal menyesal atas perbuatannya. Ia maklum bahwa gadis ini bukanlah gadis sembarangan, dan baru sekarang ia merasa takut akan perbuatannya sendiri. Ia melarikan diri, meninggalkan Eng Eng yang masih pingsan di dalam kuil itu. Baru kali ini Tiong Kiat melarikan diri karena ketakutan. Ia tidak tahu akan kepandaian Eng Eng, tidak tahu apakah gadis itu memiliki ilmu silat yang luar biasa. akan tetapi entah bagaimana, ia merasa takut dan menyesal sekali. Mungkin karena ia merasa amat kasihan kepada Eng Eng, merasa betapa hatinya amat tertarik kepada gadis yang tidak berdaya dan pingsan itu! Biasanya, ia mengenangkan wanita-wanita yang menjadi korbannya dengan hati senang dan gembira. Akan tetapi, kali ia mengenangkan wajah Eng Eng dengan menyesal dan amat malu!

Sementara itu marilah kita ikuti perjalanan Eng Eng. Ketika pagi-pagi itu ia sadar dari pingsannya, ia mendapatkan dirinya berada di kuil bobrok seorang diri. Hancurlah rasa hati dan pikirannya, dan ia menangis tersedu-sedu. Ingin ia mencabut pedang dan membunuh diri akan tetapi tiba-tiba ia menghentikan isaknya dan pandangan matanya menjadi liar. kalau ada orang yang melihat pandangan matanya ini, tentu orang itu akan menjadi terkejut sekali. Nafsu membunuh terbayang pada matanya.

"Aku akan bunuh dia...... aku akan bunuh dia......." ucapan ini terulang beberapa kali oleh bibirnya yang gemetar. Wajahnya pucat sekali dan ia merasa tubuhnya lemah. Ketika meraba dadanya, ia menyentuh ampas daun-daun obat yang ditempelkan pada lukanya.

Dengan gemas ia merenggut obat itu dan membantingnya di atas tanah. Sesungguhnya, iapun maklum bahwa orang telah menoIongnya dan kini lukanya di dalam dada sudah sembuh, hanya tinggal bekasnya saja. Akan tetapi oleh karena ia marah, jengkel, gemas dan berduka, dadanya terasa amat sesak lagi. Kini rasanya jauh lebih sakit dari pada ketika ia terpukul oleh Ban Yang Tojin. Yang terasa perih bukan kulit dan daging dada, melainkan dalam sekali, jauh di dalam dada dan kepalanya!

Dengan air mata bercucuran, Eng Eng jalan terhuyung huyung keluar dari dalam kuil bobrok. ia mengerahkan tenaga kakinya dan berlari untuk menyusul atau mencari orang yang telah menolongnya akan tetapi juga yang telah menghancurkan hidupnya. Nafsu membunuh menyesakkan nafasnya dan kepalanya menjadi panas dan pening sekali. Setelah ia berlari cepat beberapa lamanya, rasa panas dari kepalanya itu menjalar turun dan membuat seluruh tubuhnya terasa panas membara, seakan api di dalam tubuhnya bernyala-nyala!

Akhirnya dara yang sengsara itu tidak kuat menahan lagi. Kepalanya berdenyut-denyut, pandangan matanya berkunang, segala sesuatu dihadapannya serasa terputar-putar, bumi yang diinjaknya bergoyang-goyang bagaikan air laut terayun-ayun. la mencoba untuk mempertahankan dirinya, akan tetapi sia-sia. Tubuhnya terguling dan tanpa mengeluarkan sedikitpun suara Eng Eng jatuh pingsan lagi! Kali ini bukan roboh pingsan karena Iuka pukulan, melainkan oleh pukulan yang datang dari hatinnya sendiri sehingga luka akibat pukuIan Ban Yang Tojin telah merekah kembali.

Sampai berapa lama ia pingsan, Eng Eng tak dapat ingat lagi. Ketika ia siuman dan membuka matanya perlahan, ia merasa betapa kepala dan mukanya menjadi basah. Ternyata hujan turun di dalam hutan itu dan biarpun hari masih siang, namun hutan nampak gelap oleh mendung. Sukarlah baginya untuk membuka mata karena air hujan menyerang kedua matanya dari atas. Ia melindungi matanya dengan tangan dan memandang ke atas. Alangkah herannya ia ketika melihat seorang Iaki-Iaki tengah berlutut di dekatnya dan ternyata bahwa tubuhnya telah ditutupi selimut. Ketika Eng Eng memperhatikan, penutup tubuhnya itu bukan selimut melainkan sehelai mantel warna biru. Orang itu sendiri kini telah menjadi basah kuyup karena air hujan!

Untuk sesaat Eng Eng tidak mengenal orang ini, karena air hujan manghalangi pandangan matanya. Akan tetapi ketika ia memandang dengan penuh perhatian, tiba-tiba ia melompat bangun.

"Kau.......! Manusia jahanam, bagus kau datang mengantarkan nyawa! Setelah berkata demikian, Eng Eng lalu mencabut pedangnya dan menyerang dengan hebat!" Laki-laki itu adalah seorang pemuda yang tampan sekali dan pakaiannya berwarna biru.

Tidak salah lagi pikir Eng Eng. inilah laki-laki yang telah mendatangkan malapetaka atas dirinya! Biarpun ia merasa heran mengapa laki-laki ini berani muncul lagi, namun ia tidak banyak pikir dan cepat menyerang sambil mengerahkan seluruh kepandaiannya. Hujan yang turun telah membuat tubuhnya terasa segar dan karena yang membuat ia menderita adalah hati dan pikirannya, maka ketika pingsan tadi, keadaannya sudah menjadi banyak baik. Apa lagi ketika ia masih siuman, pemuda yang tadi berlutut di dekatnya telah menotok dan mengurut pundaknya berkali-kali kemudian pemuda itu untuk beberapa lama telah memegang tangannya dan menyalurkan hawa di dalam tubuh untuk membantu gadis itu pulih kembali jalan darahnya.

Pemuda itu sesungguhnya mirip sekali dengan Tiong Kiat, karena dia adaIah Tiong Han! Ketika tadi melihat seorang dara jelita rebah pingsan di dalam hutan, ia menjadi terkejut dan merasa kasihan sekali. Sekali memandang saja maklumlah Tiong Han bahwa gadis itu menderita luka, maka ia cepat maju untuk memberi pertolongan. Ketika hujan turun dengan lebatnya, pemuda ini tidak pergi dari situ hanya mengangkat tubuh Eng Eng ke bawah pohon besar dan mempergunakan mantelnya untuk menyelimuti tubuh orang dan berusaha mengohati gadis itu yang ternyata berhasil baik sekali. Tidak disangkanya sama sekali setelah siuman gadis itu menyerangnya dengan demikian ganasnya!

Tiong Han telah berbulan-bulan mencari jejak Tiong Kiat untuk minta kembali pedang Ang.coa kiam sesuai dengan perintah suhunya. Di sepanjang jalan, ia tidak pernah Iupa untuk mempelajari ilmu pedang dari kitab Ang-coa-kiam coansi. Dengan bantuan kitab ini, maka ilmu pedangnya banyak mendapat kemajuan.

Ia mendengar keterangan orang-orang yang di jumpai di jalan, bahwa ada seorang pemuda yang serupa benar dengannya memasuki hutan itu, maka cepat-cepat Tiong Han mengejar ke dalam hutan. Tidak disangkanya bahwa ia tidak bertemu dengan adiknya, sebaliknya melihat seorang gadis cantik yang rebah terluka hebat di dalam hutan.

Melihat serangan Eng Eng, Tiong Han terkejut bukan main. Serangan itu menunjukkan bahwa gadis ini memiliki ilmu pedang yang amat luar biasa. Cepat Tiong Han mengelak, akan tetapi sinar pedang gadis itu mengejarnya bagaikan kilat cepatnya sehingga ia cepat melompat ke sana ke mari untuk menghindarkan diri dari bencana. Namun pedang itu terus mengejarnya dan menyerang dengan serangan berbahaya yang bertubi tubi datangnya!

"Eh, eh, tahan dulu nona! Mengapa kau menyerangku tanpa sebab? Apakah salahku terhadapmu?" tanya Tiong Han sambil melompat ke belakang dengan gerak tipu Le-hi-ta teng (Ikan Le Melompat Tinggi) Dengan cara mengelak ini ia dapat menjauhkan diri dan untuk sementara dapat bernafas karena terlepas dari serangan yang bertubi-tubi itu.

"Keparat jahanam!" Dengan nafas terengah-engah saking marahnya, Eng Eng menudingkan pedangnya.

"Kau masih bertanya-tanya lagi? Anjing bermuka manusia kalau aku tidak membunuhmu sekarang juga, aku tidak bernama Suma Eng lagi! Akan kuhancurkan tubuhmu menjadi makanan srigala!" Kembali ia menubruk maju dan menyerang dengan cepat kembali.

Tiong Han terpaksa mencabut pedangnya dan menangkis. Ia maklum bahwa kalau ia menghadapi gadis ini dengan tangan kosong saja, ia pasti akan roboh dan benar-benar akan dicincang sampai hancur oleh gadis berotak miring ini. Akan tetapi ia merasa kasihan sekali. Mungkin gadis ini tiba-tiba menjadi gila karena telah menderita luka hebat, pikirnya.

"Nona, aku tidak kenal padamu. Baru sekarang kita bertemu muka, kau telah salah lihat, nona!"

"Bangsat rendah! Pengecut besar! Kau lebih pengecut daripada anjing! Anjing yang menggigit masih melingkarkan ekornya (karena takut) akan tetapi kau berpura-pula baru sekarang bertemu denganku. Bagus, akan kuantar kau ke neraka, hendak kulihat apakah di sana kau masih akan dapat menyangkal pula!" kembali ia menyerang, dan Tiong Han yang merasa makin terkejut melihat gerakan pedang yang luar biasa anehnya itu, dengan cepat menangkis dan melindungi dirinya. Ia makin terheran-heran karena gerakan pedang gadis ini pada dasarnya hampir bersamaan dengan Ang coa.kiamsut yang dipelajarinya akan tetapi yang aneh sekali adalah perkembangannya, karena ilmu pedang gadis itu benar benar ilmu pedang yang aneh. Sama sekali terbalik daripada ilmu pedang yang pernah dipelajarinya!

"Nona, nona..... kau tenang dan sabarlah! Aku bersumpah, selama hidupku, aku Sim Tiong Han belum pernah bertemu dengan kau. belum pernah aku mendengar nama Suma Eng! Bagaimanakah kau bisa menuduhku yang bukan-bukan? Kesalahan apakah yang telah kuperbuat terhadapmu?"

"Bagus! Namamu yang hina dina akan teringat selalu olehku sehingga kalau kali ini aku tidak berhasil, lain kali aku masih ada kesempatan untuk mencari dan membunuhmu! Kau tak perlu bersumpah, sumpah laki-laki hina dina macam engkau tiada harganya!

Mampuslah!" Eng Eng menyerang lagi, kali ini dengan gerak tipu yang paling berbahaya! Hujan masih turun dengan lebatnya dan pertempuran berjalan makin seru. Tiong Han yang hanya menangkis dan mengelak saja, terdesak hebat. Selain ilmu pedang nona ini benar benar aneh dan berbahaya, juga pedang di tangan Eng Eng yang mengeluarkan sinar merah amat Iihai! Beberapa kali pedang Tiong Han bertemu dengan pedang Eng Eng dan ketika pemuda itu memperhatikan, ia terkejut sekali karena pedangnya telah gompal di beberapa bagian!

Posting Komentar