"Jangan sebut-sebut tentang cintamu!" Kui Hwa memotong marah.
"Kau tentu masih ingat akan sumpahmu untuk bersetia? Dan sekarang apakah yang telah kaulakukan kepada gadis she Gu itu?"
Di dalam kegelapan senja Tiong Kiat mencoba untuk bersenyum.
"Apa maksudmu, sumoi? Gadis she Gu itu sudah kutolong dan kukembalikan kepada orang tuanya."
"Bohong! Pengecut yang berani berbuat tak berani mengaku! Telah lama semenjak siang hari kau membawa Loan Li kembali ke rumahnya akan tetapi sampai senja baru kau datang bersama dia! Sebelum kau membawanya pulang, ke mana kau bawa dia dan apa yang telah kau perbuat! Mengapa Loan Li datang-datang lalu membunuh diri? Apa kaukira aku begitu bodoh, ji suheng? Kau telah menyalahi janji, melanggar sumpah. Kau seorang laki-laki mata keranjang, berhati cabul, menjadi hamba nafsu jahat! Kau laki-laki tak beriman. perusak kehidupan orang lain, kaulah yang membunuh Loan Li!"
Tiong Kiat terdesak sekali oleh tuduhan-tuduhan ini, dan tiba-tiba dengan suara gagah ia berkata,
"Sumoi kau terlalu sekali! Apakah dengan adanya hubungan antara kita, aku harus mengikatkan kakiku kepadamu? Apakah aku tidak boleh hidup dengan bebas lagi? Harus selalu menurut dan menjadi budakmu? Memang kuakui bahwa aku telah mengadakan perhubungan dengan Loan Li! Akan tetapi, dia juga mencintaiku! Su moi, ketahuilah, seorang laki-laki tak dapat mengikat hatinya kepada seorang perempuan saja! Ini memang sudah menjadi sifat jantan, lihatlah buktinya. Lihatlah sifat jantan pada seekor ayam, pada binatang-binatang lain yang jantan! Lihat pula kepada raja dan para bangsawan. Cukupkah dengan seorang saja perempuan disampingnya? Ha, ha, moi-moi yang manis jangan kau cemburu, aku akan tetap mencintamu, moi-moi!"
"Bangsat besar!" Kui Hwa menjadi marah sekali.
"Aku sudah bersumpah akan membunuh perempuan yang main gila dengan kau dan karena perempuan she Gu itu sudah mati sekarang kaulah gantinya!" Setelah berkata demikian, Kui Hwa menyerang Tiong Kiat dengan hebatnya! Tiong Kiat terkejut sekali, akan tetapi juga menjadi penasaran dan marah.
Ia mencabut pedangnya dan berkata,
"Sumoi, kau ikut aku meninggalkan perguruan bukan karena kupaksa! Sekarang kau hendak memisahkan diri dari aku, bukan pula atas paksaanku. Kau memang berkepala batu! Tidak tahu dicinta orang!" Sambil berkata demikian, ia mainkan pedangnya dengan gerakan yang paling lihai. Memang, kepandaian Kui hwa masih kalah jauh apabila dibandingkan dengan ilmu silat Tiong Kiat. Apalagi pedang di tangan Tiong Kiat adalah pedang pusaka Ang.coa-kiam yang amat tajam dan kuat. Baru beberapa jurus saja terdengar suara keras dan pedang di tangan Kui Hwa terlempar kesamping. Tiong Kiat masih berlaku murah dan sengaja tidak mau mematahkan pedang bekas kekasihnya itu.
Biarpun telah kehilangan pedangnya, dengan nekad Kui Hwa masih maju menubruk, Tekadnya hendak membunuh atau dibunuh! Namun Tiong Kiat telah melompat pergi sambil mentertawakannya. Kui Hwa mengejar, akan tetapi pemuda itu telah menghilang di dalam gelap! Kui Hwa menjatuhkan diri di atas tanah dan menangis. Sampai setengah malam ia menangis sedih, terisak-isak mendekam di atas tanah itu.
Ia merasa menyesal sekali,menyesal, kecewa dan juga bersedih. Betapapun juga ia amat mencinta pemuda itu yang kini sudah meninggalkannya. Pada keesokan harinya, Kui Hwa yang saking hampir putus asa dan tidak tahu harus pergi ke mana, ia teringat akan permintaan anggauta Sorban Merah agar ia suka memimpin mereka. Timbul harapan baru padanya dan ia lalu menjumpai para tauwbak dan anak buah Sorban Merah yang menerimanya dengan gembira sekali. Semenjak hari itu, Kui Hwa diangkat menjadi kepala dari gerombolan Sorban Merah!
Adapun Tiong Kiat yang kini telah dapat memisahkan diri dari Kui Hwa, melanjutkan perantauannya seorang diri. Pada hari-hari pertama ia memang kesepian dan merasa amat rindu kepada Kui Hwa. Beberapa kali ia ingin kembali kepada sumoinya itu, ingin minta maaf dan berbaik kembali, akan tetapi keangkuhan hatinya menahannya melakukan hal yang dipandangnya lemah ini.
Akan tetapi, lambat laun dapat juga ia menghilangkan rindunya. Apalagi setelah ia melihat wanita-wanita lain dan dapat menghibur hatinya dengan mereka ini. Tiong Kiat adalah seorang pemuda yang sebetulnya tidak mempunyai hati buruk. Ia cukup berwatak gagah dan budiman. akan tetapi sayang sekali, ia gila perempuan! Dan kegilaannya dalam hal ini kadang-kadang merangsangnya sedemikian kuatnya sehingga hati nurani dan kebijaksanaannya tertutup! Di dalam perantauannya, tiap kali bertemu dengan kejadian yang tidak adil, dengan kekejaman-kekejaman dan penindasan, selalu ia turun tangan membela fihak yang tertindas. Dengan kejam sekali ia membasmi orang-orang jahat tanpa mengenal ampun lagi karena sesungguhnya ia amat benci akan kejahatan. Pernah ia membasmi sampai habis rombongan perampok yang dua puluh orang jumlahnya. Semua ia bunuh dan tak seorangpun anggauta perampok terlepas dari pada Ang-coa-kiam di tangannya!
Banyak hartawan yang kikir dan yang suka mengandalkan pengaruh uangnya untuk berlaku sewenang-wenang ia bakar rumahnya, dan merampas harta bendanya untuk dibagi-bagikan kepada rakyat miskin! Banyak pula bangsawan dan pembesar yang korup dan tidak bijaksana, ia datangi dan ia ancam sambil mencukur rambutnya atun bahkan memotong sebuah telinganya!
Akan tetapi, di samping semua kebaikan ini, banyak pula ia melakukan pelanggaran kesusilaan. Di mana saja ia berada, la selalu mengadakan perhubungan dengan wanita-wanita, baik perempuan golongan pelacur maupun wanita baik-baik, dan tidak perduIi apakah hubungan itu berjalan atas dasar sama suka ataupun dengan paksaan! Banyak pula wanita yang jatuh hati kepadanya, karena memang Tiong Kiat memiliki wajah yang tampan dan gagah. Pendeknya, ia menuntut penghidupan sebagai seorang hiapkek (pendekar) yang gagah dan cabul!