"Hm, siapakah Hek pa cu itu? Orang macam apakah dia?" tanya Tiong Kiat sambil memandang gadis yang bernama Loan Li itu.
Kini kakek itu yang memandang heran.
"jiwi tentu datang dari tempat jauh maka belum pernah mendengar nama Hek pa cu Tong Sun! Dia telah dikenal baik olen seluruh penduduk di sekitar daerah Heng-yang. Dialah pemimpin dari gerombolan Sorban Merah yang terkenal!"
"Kalau begitu mengapa pula kau menolak pinangannya? Bukankah ia seorang ternama seperti katamu tadi? Terima saja pinangannya, habis perkara!" kata Kui Hwa.
"Tidak ...... tidak sudi....... lebih baik mati!" gadis cantik berkata dan wajahnya berobah pucat, sambiI menggoyang-goyangkan kedua tangan ia menyatakan tidak setuju.
"Nah, itulah yang menggelisahkan hatiku. Anakku tidak mau menjadi bini muda Hek pa cu dan penolakan ini berarti kematian yang mengerikan bagi kami bertiga. Dari pada mati disiksa oleh kaki tangan Hek pacu lebih baik aku sendiri yang menjadi algojo atas nyawa kami bertiga."
"Hm, orang macam apakah Hek pa cu ini sehingga ia demikian berkuasa?" kata Tiong Kiat.
"Empek, jangan kau takut, kebetulan sekali aku adalah seorang ahli menangkap se-....
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
(ketikan tidak bisa terbaca karena terlalu gelap)
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Kami keluarga Gu, namaku Gu Seng, bertempat tinggal di dusun ini. Banyak terima kasih karena taihiap dan lihiap sudi menolong kami. Akan tetapi, Hek.pa cu adalah seorang yang kejam dan tangguh sekali, adapun kaki tangannya amat banyak jumlahnya. Bagaimanakah jiwi dapat menghadapinya?"
"Tak usah kuatir lopek " kata Kui Hwa,
"biarpun seandainya terdapat seratus orang Hek pa-cu kami berdua sanggup untuk mencabuti kumis dan ekor mereka!"
Dengan girang tiga orang itu berlutut menghaturkan terima kasih, kemudian mereka lalu kembali ke rumah mereka dan menanti dengan hati berdebar-debar.
"Hwa moi, agaknya Hek-pa-cu ini amat jahat dan berpengaruh. Lebih baik kita mendatangi sarangnya dan membasminya sama sekali agar daerah ini terhindar dari pada kejahatannya. Biarlah gadis itu dibawa ke sarang mereka dan diam-diam kita mengikutinya, Setelah tiba di sarang mereka, barulah kita turun tangan, menolong gadis itu dan sekalian menghancurkan sarang mereka. Bagaimana pendapatmu?"
"Memang sebaiknya demikian, koko. Akan tetapi, hal ini perlu kita beritahukan kepada keluarga Gu, agar mereka tidak menjadi terkejut dan gelisah, dan mengerti akan siasat kita."
Menjelang malam, kedua orang muda ini mendatangi rumah keluarga Gu, dan memberi-tahukan siasat mereka itu. Karena keluarga Gu tidak melihat jalan keluar dari pada ancaman ini, maka tentu saja mereka menurut segala petunjuk dan kehendak penolong mereka!
Dan pada malam hari ini, datanglah serombongan orang laki-laki yang bertubuh tinggi besar berpakaian seragam dengan sorban merah. Mereka ini adalah anak buah dari Hek-pacu yang datang membawa sebuah tandu untuk mengambil Loan Li. Jumlah mereka lima belas orang, semuanya nampak seram dan galak. Penduduk kampung itu yang sudah mendengar tentang kehendak Hek pa cu untuk mengambil Loan Li, siang-siang sudah menutup pintu dan yang berani keluar hanyalah orang-orang lelaki yang berdiri di depan rumah dengan sikap menghormat. Mereka memandang kepada rombongan orang-orang itu dengan ketakutan, bagaikan melihat serombongan macan tutul yang galak.
Dengan hati tidak karuan rasa, Gu Seng dan istrinya menyambut kedatangan rombongan itu dan dengan memaksa diri menarik muka manis dan ramah tamah, mereka lalu menghidangkan minuman dan makanan. Akan tetapi pemimpin rombongan itu menolak hidangannya sambil berkata,
"Orang she Gu tak perlu menyambut kami. Yang penting segera suruh anakmu berias dan masuk ke dalam tandu, ikut dengan kami. Twako sudah tidak sabar lagi, dan besok siang kau boleh datang ke hutan sebelah barat untuk menerima penghormatan dari twako serta hadiah-hadiah!"
Dengan wajah pucat dan kedua kaki gemetar, loan Li lalu berjalan keluar, dibimbing oleh ibunya, lalu setengah memaksa ibunya menyuruh gadis itu memasuki tandu yang sudah tersedia di depan rumah. Rombongan itu sambil tertawa-tawa melihat gadis ini dan kemudian tandu lalu dipanggul dan dibawalah gadis itu keluar dari dusun memasuki hutan sebelah barat!
Diam diam dua bayangan orang mengikuti gerak gerik rombongan Sorban Merah ini. Mereka bukan lain adalah Tiong Kiat dan Kui Hwa. Mereka mengikuti rombongan itu memasuki hutan dan ternyata bahwa rombongan itu membawa loan Li ke sebuah rumah besar yang terdapat di dalam hutan itu. Akan tetapi, ketika Kui Hwa dan Tiong Kiat mengintai dari atas genteng, mereka melihat bahwa gadis itu dimasukkan ke dalam kamar yang terjaga kuat, sedangkan di tempat itu tidak nampak bayangan Hek-pa cu! Kemudian mereka mendengar dari pembicaraan para penjaga itu bahwa Hek-pa-cu sebetulnya tinggal di kota Heng-yang dan keesokan harinya baru akan datang menjemput calon bini mudanya!
Terpaksa sepasang orang muda ini melewatkan malam itu di dalam hutan, akan tetapi karena mereka berdua dapat saling menghibur maka malam itu dilewatkan dengan penuh kegembiraan. Pada saat seperti itu dalam bujuk dan cumbu rayu Tiong Kiat yang tampan dan manis bahasa, lenyaplah segala keraguan hati Kui Hwa dan cinta kasihnya terhadap Tiong Kiat makin mendalam.
Pada keesokan harinya, baru saja matahari muncul dan burung-burung berkicau riuh rendah menyambut datangnya siang, terdengarlah suara gemuruh dari luar hutan. Suara ini ternyata adalah sorak-sorai yang penuh kegembiraan dari serombongan anggauta-anggauta Sorban Merah terdiri dari empat puluh orang lebih. Mereka mengiringkan seorang laki-laki tinggi besar yang berusia hampir empat puluh tahun, berbaju biru, bercelana hitam dan sorbannya merah sekali. Orang ini berjalan dengan langkah yang gagah dan yang mendatangkan rasa seram pada orang yang melihatnya, adalah sepasang matanya yang liar dan senjatanya yang luar biasa. Senjatanya ini adalah sebuah penggada yang aneh dan mengerikan bentuknya, bulat memanjang dengan ujung tiga meruncing. Penggada ini nampak berat sekali, akan tetapi biarpun senjata besar ini tergantung pada pinggangnya, ia berjalan dengan enak saja, seakan-akan senjata itu hanya merupakan benda yang ringan saja. Inilah dia Teng Sun yang berjuluk Hek pa cu Si Macan Tutul Hitam, kepala dari gerombolan Sorban Merah yang amat terkenal dan ditakuti oleh orang!
Ketika Hek.pa cu dengan rombongan telah tiba di dekat rumah besar itu, tiba tiba dari atas pohon melayang turun dua orang muda yang dengan tenang berdiri di depan kepala gerombolan ini. Teng Sun tercengang melihat seorang gadis cantik dan seorang pemuda tampan berdiri di depannya maka ia membentak keras,