Cin Kun Hosiang menjadi kekhi (gemas) juga. Pada saat pedang Kui Hwa menyambar dari atas, ia cepat menangkis dengan tongkatnya, dan membarengi dengan serangan pukulan tangan kirinya ke arah dada gadis itu! Inilah serangan dari ilmu pukulan Lwee-khi-ciang- hoat yang luar biasa hebatnya, karena pukulan ini dilakukan dengan pengerahan tenaga khi-kang. pukulan ini tidak perlu mengenai tubuh, hawa pukulannya saja cukup mengalahkan lawan. Yang paling hebat adalah pukulan ini takkan terasa oleh lawan dan tidak melukai tubuh luar, namun menyerang dan melukai tubuh bagian dalam.
Untung bagi Kui Hwa selama itu, Tiong Kiat memandang pertempuran dengan penuh perhatian. Ketika ia melihat betapa Kui Hwa dapat mendesak lawannya dan meyakinkan bahwa kekasihnya itu pasti akan dapat mengalahkan Cin Kun Hosiang, ia merasa lega dan tidak mau turun tangan membantu. Akan tetapi ketika melihat gerakan pukulan hwesio itu, ia menjadi terkejut sekali."Awas pukulan Lwee-khi!" teriaknya memperingatkan Kui Hwa dan berbareng ia mengirim pukulan dengan tenaga khikangnya ke arah hwesio itu. Cin Kun Hosiang terkejut ketika merasa angin pukulan yang luar biasa kuatnya menyambar dari samping.
Ia terpaksa menarik kembali pukulannya itu dan mencoba menjejak, akan tetapi Kui Hwa yang merasa marah sekali kepada lawannya, tidak memberi hati dan ketika pedangnya meluncur ke depan biarpun Cin Kun Hosiang mencoba untuk mengelak, tetap saja ujung pedang itu menancap ke pundaknya sebelah kanan. Ketika Kui Hwa mencabut pedangnya, Cin Kun Hoaiang terhuyung ke belakang, kemudian roboh mandi darah dalam keadaan pingsan.
Tiong Kiat memegang tangan kekasihnya, menariknya sambil berkata,
"Hayo kita pergi, moi moi" Kui Hwa beberapa kali menengok ke arah ayahnya, akan tetapi ia hanya terisak sedih dan mengikuti kekasihnya yang berlari cepat.
Setelah jauh dari tempat itu, Kui Hwa berhenti berlari, menjatuhkan diri di atas rumput dan menangis tersedu-sedu. Tiong Kiat menghampirinya, lalu memeluknya.
"Koko mengapa kau melukai ayah? Bagaimana kalau kalau ia mati? Ah, kau yang membunuhnya"
Tiong Kiat mnmegang kedua pundak Kui Hwa dan memaksa gadis itu memandangnya.
"Kui Hwa, pikirlah baik-baik. Dalam keadaan seperti itu, kau hanya tinggal memilih, ayahmu atau aku! Dia telah menyerangku mati- matian, dan kaupun tahu bahwa tadinya aku selalu mengalah. Akan tetapi, kalau aku terus mengalah, bukan dia yang roboh pasti aku yang roboh, pasti akulah yang telah dirobohkannya. Kalau aku yang terluka, apakah ayahmu akan mau melepaskan aku begitu saja tanpa membunuhku lebih dulu?"
Mendengar ucapan ini, Kui Hwa menundukkan mukanya sambil terisak-isak menahan kepedihan.
"Aku aku menyesal sekali, koko....... Bagaimanakah nasioku menjadi begini? Aku bermusuh dengan ayah sendiri......."
Tiong Kiat menghiburnya, menggunakan tangannya untuk menghapus air mata kekasihnya yang mengalir turun di sepanjang pipinya, lalu mendekap kepalanya.
"Jangan takut, moi-moi. Bukankah ada aku yang akan selalu melindungimu? Tidak apalah kalau ayahmu membencimu, bukankah sudah ada aku seorang yang akan mencinta dan membelamu selama hidupku?"
Terhibur juga hati Kui Hwa mendengar ucapan yang penuh cinta kasih ini.
"Koko, betul-betulkah kau akan tetap mencintaiku selama hidupmu? Tidak akan tertarik oleh gadis lain yang lebih cantik dari pada aku?" bisiknya manja.
"Aku bersumpah, moi-moi. Bukankah sudah berkali-kali aku menyatakan bahwa aku mencintamu dengan segenap nyawaku?" kata Tiong Kiat kepada Kui Hwa yang merem melek terayun oleh bujuk rayu yang dikeluarkan dengan suara halus dan yang cukup kuat untuk merobohkan hati seoiang gadis ini. Demikianlah amat berbahaya kalau seorang gadis hanya membuka telinga untuk mendengarkan bujuk rayu seorang pemuda, tanpa membuka kewaspadaan hatinya dan kewaspadaan matanya untuk dapat melihat apakah yang tersembunyi di balik senyum manis, dan apa yang terdengar di balik cumbu rayu itu. Sekali ia telah terjebak dan masuk perangkap sukarlah baginya untuk keluar kembali.
"Koko, sekali lagi aku mohon kepadamu, janganlah kau melupakan aku, jangan meninggalkan aku, dan jangan pula kau bermain gila dengar wanita lain. Aku takkan kuat menahannya dan aku lebih baik mati dari pada harus berpisah dengan kau, dari pada harus melihat engkau berkasih-kasihan dengan wanita lain. Akan kubunuh wanita itu!"
"Jangan khawatir, kekasihku, tidak ada wanita yang lebih cantik, lebih manis dan lebih setia dari padamu!"
Terhiburlah hati Kui Hwa dan anak ini telah melupakan lagi ayahnya yang ditinggalkan dalam keadaan terluka parah. Tidak teringat lagi ia apakah ayahnya akan mati akibat tendangan kekasihnya itu, ataukah masih hidupi Bahkan Kui Hwa tidak perduli lagi akan nama Cin Kun Hoaiang yang sudah ia lukai. Pada hal kalau pikirannya sadar, ia akan mengeluarkan keringat dingin kalau teringat betapa telah melukai seorang pendekar yang sudah tersohor namanya, seorang gagah yang dicintai oleh orang-orang kang-ouw, yang mempunyai banyak sekali kawan-kawan yang tentu saja takkan tinggal diam. Mereka lalu melanjutkan perjalanan, merantau tanpa arah tujuan tetap. Di mana saja mereka mendengar ada tempat yang bagus dan menyenangkan, mereka lalu mendatangi tempat itu. Keadaan mereka tiada ubahnya seperti sepasang pengantin baru yang melakukan perjalanan berbulan madu.
Akan tetapi, tepat sebagaimana yang di ajarkan oleh para cerdik pandai dan para bijaksana di jaman dahulu, bahwa segala sesuatu mengenai tindakan dalam hidup, harus dilakukan dengan hati suci, bersih dari pada Lima Sifat yang dipergunakan sebagai garis dan batas hidup. Lima Sifat itu adalah Jin, Gie, Lee, Ti, Sin. Demikianlah dengan hubungan antara Tiong Kiat dan Kui Hwa. Kedua orang muda ini melakukan hubungan hanya karena dorongan nafsu semata, nafsu yang membikin buta mata batin mereka, yang melumpuhkan keteguhan iman mereka. Dan semua penyelewengan ini terjadi karena tidak adanya Lee, karena tidak adanya peraturan. Mereka telah melanggar Lee, melanggar peraturan yang diajarkan oleh para bijaksana. Hubungan mereka setelah dewasa melampaui kesopanan dan sama sekali melanggar peraturan kesopanan dan kesusilaan.
Akibatnya mereka terkena bujukan iblis, dan kemudian mereka bahkan meninggalkan suhu dan orang tua, minggat dan melakukan pelanggaran peraturan yang kedua. Ketiga kalinya mereka hidup seperti suami isteri di luar pernikahan yang sah, dan hal ini lebih-lebih melakukan pelanggaran peraturan yang amat buruk. Semenjak jaman dahulu, orang orang di negeri Tiongkok selalu berpegang teguh kepada peraturan, terutama sekali dalam hal hubungan antara laki-laki dan wanita, dan bagaimana bukti kebaikannya? Bagi seorang rakyat Tiongkok, pernikahannya hanya terjadi satu kali selama mereka hidup. Jarang sekali, hampir tidak ada, terjadi perceraian-perceraian, dan suami isteri hidup rukun sampai di hari tua.
Setelah melakukan perjalanan beberapa bulan saja, mulai lunturlah "cinta kasih" yang didengungkan oleh mulut Tiong Kiat terhadap Kui Hwa. Biarpun kini pemuda itu sama sekali tidak menyatakan kelunturan cinta kasihnya dalam kata kata, namun pandangan mata dan sikapnya membuat Kui Hwa amat gelisah. Gadis ini benar-benar mencinta Tiong Kiat, bahkan telah membuktikan cintanya itu dengan memberatkan pemuda itu dari pada ayahnya. Berkali-kali mulai timbul percecokan dan perbantahan diantara mereka karena soal kecil saja dan hati Kui Hwa makin lama makin gelisah dan sedih. Ia membujuk-bujuk kekasihnya itu untuk menghentikan perantauan mereka dan tinggal di dalam sebuah kota, mencari rumah dan hidup berumah tangga sebagaimana yang diidam-idamkan oleh semua gadis di dunia ini. Akan tetapi Tiong Kiat selalu menyatakan tidak setuju.
"Aku tidak betah tinggal di rumah. Kalau kau merasa lelah ikut aku merantau, marilah kita mencari rumah dan kau beristirahat di situ. biar aku melanjutkan perantauan seorang diri."
Semenjak mendapat jawaban ini, Kui Hwa tidak berani lagi bicara tentang menghentikan perantauan mereka. Ia juga tidak membantah ketika melihat Tiong Kiat mendatangi rumah gedung orang-orang hartawan untuk mencuri emas dan perak guna dipakai membiayai perjalanan mereka. Beberapa bulan kemudian, mereka tiba di sebuah dusun di luar kota Heng-yang. Baru saja mereka berjalan mematuki pagar dusun, tiba-tiba terdengar jeritan-jeritan dan mereka melihat dua orang wanita sedang berlari ketakutan, dikejar oleh seorang laki-laki tua yang membawa golok yang diangkatnya tinggi-tinggi. Dua orang wanita itu adalah orang-orang dusun, akan tetapi yang seorang biarpun berpakaian sederhana seperti pakaian orang dusun, ternyata masih muda dan amat cantiknya. Adapun wanita kedua sudah setengah tua, berlari sambil menggandeng dan menarik lengan gadis cantik manis itu.
Melihat bahaya maut mengancam kedua orang wanita itu, Tiong Kiat dan Kui Hwa segera turun tangan. Kui Hwa melompat ke dekat kedua orang wanita itu untuk melindungi mereka, adapun Tiong Kiat cepat menyerbu laki-laki bergolok itu. Akan tetapi, alangkah herannya ketika sekali saja mengulur tangan, golok itu dengan mudah telah dapat dirampasnya.
Ternyata laki laki itu seorang dusun yang lemah dan sama sekali tidak pantas menjadi orang jahat yang mengganggu dan mengancam wanita! la menyangka bahwa mungkin orang ini berotak miring, maka bentaknya,"Orang gila darimana berlaku kurang ajar kepada orang perempuan?"
Akan tetapi orang laki-laki yang usianya sudah empat puluh tahun lebih itu, menjadi marah dan menegur Tiong Kiat dengan mata merah,
"Orang muda, kau perduli apakah dengan urusan rumah tangga orang lain? Mereka adalah istri dan anakku, aku hendak membunuh mereka kemudian membunuh diri sendiri, ada hubungan apakah dengan engkau?"
Tiong Kiat tersenyum jenaka.
"Kakek lucu, kau ingin mati mengapa mengajak orang lain? Bila kau memaksa anak istri untuk ikut sertamu mati, sungguh pengecut!"
Kakek itu makin marah,"mengapa kau bilang aku pengecut!"
"Itu karena kau takut hidup, takut menghadapi kesukaran, maka kuanggap kau pengecut! Sudah terang bahwa anak istrimu tidak sudi mati, akan tetapi kau hendak memaksa mereka. Dengan perbuatan ini, kembali kau pengecut, jadi dua kali pengecut!" Mendengar ucapan ini, tiba-tiba wajah yang tadinya marah itu menjadi muram dan laki-laki itu menjatuhkan diri duduk di atas tanah dan menangis! Kedua orang wanita yang dikejar-kejar tadi lalu berlari menghampiri dan bertangis-tangisanlah ketiga orang itu! Tentu saja Tiong Kiat dan Kui Hwa hanya bisa saling pandang dengan heran dan geli hatinya.
"Eh, ah, bagaimana pula ini?" Kui Hwa kini maju bertanya.
"Seperti anak keciI saja kalian ini. Tadi berkejar-kejaran sekarang bertangis-tangisan! Kesusahan apakah yang mengganggu kalian? Beritahukan kepada kami, pasti kami akan dapat membantu kalian."
Ketiga orang itu mengangkat muka memandang kepada dua orang muda itu dan setelah kini melihat dari dekat, diam diam Tiong Kiat mengerling kagum ke arah gadis dusun yang benar benar cantik sekali itu! Karena menangis sepasang pipi gadis itu menjadi kemerah-merahan dan bibirnya demikian menarik dan indah sehingga diam-diam Tiong Kiat menelan ludah!
"Kami adalah orang orang yang tertimpa kemalangan hebat," kata kakek itu.
"Loan Li puteri kami yang hanya seorang ini telah terlihat oleh Hek pa cu (Macan Tutul Hitam) dan telah dipinang! Kami tidak melihat jalan keluar, maka kupikir lebih baik kami binasa daripada anak kami menjadi korban Hek pa cu!