Sun Tiong Kun terima perintah dengan hati memukul keras, dengan kedua tangannya ia persembahkan pedang yang diminta, kedua tangannya diangkat sampai diatasan kepalanya.
Sucou itu sambuti gagang golok, ketika ia menarik, Tiong Kun menjerit dengan tiba-tiba: "Aduh!" Lantas saja darah mengucur dari tangannya yang kiri, di mana jari kelingking telah tertabas kutung pedangnya sendiri, hingga ia merasakan sakit bukan main.
0o-d.w-o0
Bok Jin Ceng geraki pula tangannya yang memegang pedang itu, untuk mana tangan kanannya dibantu tangan kiri, atas mana, pedang itu terpatah dua dengan menerbitkan suara nyaring.
"Mulai hari ini sampai selanjutnya, aku larang kau gunai pedang!" Berkata sang kakek guru dengan suaranya yang bengis.
"Teecu terima," sahut Tiong Kun dengan menahan sakit.
Ia malu dan kaget, air matanya sampai mengucur keluar.
Kwie Jie-nio robek ujung bajunya, untuk pakai itu membungkus luka jeriji muridnya itu.
"Bagus, tak nanti kau dihukum pula," ia bisiki sang murid.
Tiong Kun berdiam, ia cuma bisa menangis.
Bwee Kiam Hoo saksikan caranya sang kakek guru patahkan pedang, sekarang Barulah ia percaya habis kepandaian Sin Cie, ketika pemuda ini patahkan pedangnya Tiong Kun. Karena ini ia pun jadi insyaf, ilmu silat Hoa San Pay sangat liehay, bahwa ia Baru dapat pelajarkan kulitnya saja, hingga tidak ada alasan untuk ia menantang di luar, untuk menjagoi. Ia menyesal, ia pun kuatir nanti dihukum kakek itu, diam-diam ia kucurkan keringat dingin di bebokongnya.
Bok Jin Ceng deliki cucu murid ini tapi ia diam saja. "Kau telah janjikan orang itu pelajaran silat, kau mesti
ajarkan dia baik-baik," cousu ini kata kepada Sin Cie,
kepada siapa ia berpaling. "Kau hendak ajarkan apa padanya?"
Mukanya Sin Cie menjadi merah.
"Teecu belum dapat perkenan dari suhu, tidak berani teecu sembarang turunkan pelajaran kita kepada lain orang," ia jawab. "Tadinya teecu memikir untuk ajari dia ilmu golok tunggal Tok-pie-too-hoat, ialah semacam pelajaran yang teecu ciptakan sendiri dari hasil campur- baur."
"Pelajaran campur-baurmu terlalu sedikit kelebihan!" berkata sang guru, yang tapinya tidak gusar. "Ketika kau barusan layani jie-sukomu, kau seperti gunai ilmu silat istimewa Pek pian kwie eng dari Bhok Siang Tooyu. Kau telah dapatkan satu sahabat-karib tukang main tiokie, yang suka membantu kepadamu, maka itu pasti sekali jie-sukomu tidak sanggup berbuat suatu apa atas dirimu!. "
Lalu jago tua ini tertawa terbahak-bahak. Bhok Siang Toojin juga tertawa lebar.
"Eh, Sin Cie," katanya kepada si anak muda," brani atau tidak kau mendusta didepan gurumu?" "Teecu tidak berani, tootiang," Sin Cie jawab.
"Kau tidak berani, bagus!" imam itu kata. "Sekarang aku hendak tanya kau: Sejak kau meninggalkan Hoa San, pernah atau tidak aku mengajarkan pula ilmu silat kepadamu? Dengar biar tegas, aku maksudkan, benar atau tidak aku sendiri yang mengajarkan pula padamu?"
Sin Cie bercekat. Baru sekarang ia mengerti kenapa imam itu, untuk ajarkan ia "Pek pian kwie eng" mesti pakai perantaraannya Ceng Ceng. Jadi inilah maksudnya, untuk cegah Jie-sukonya Kwie Sin Sie nanti mengiri dan menegur gurunya berat sebelah. Sungguh si imam sangat licik, hingga siang-siang ia sudah sedia tameng!
"Tootiang belum pernah ajarkan sendiri ilmu silat lainnya kepadaku," ia jawab imam itu. "Sejak pertemuan kita paling belakang, begitu bertemu kita berdua lantas main catur."
"Nah, itulah dia!" berseru Bhok Siang Toojin, yang tertawa pula. "Sekarang kau coba berlatih pula dengan suhengmu ini, aku larang kau gunai semua ilmu silat yang dahulu pernah aku ajarkan padamu."
"Jie-suko tersohor dengan julukannya Sin-kun Bu-tek, itulah pujianyang sebenar-benarnya," Sin Cie bilang, "tadi pun teecu sudah kewalahan, selagi teecu berniat minta pertandingan dihentikan saja, sukur suhu keburu datang. Coba temponya terlambat, tentulah teecu habis daya. "
Bok Jin Ceng tertawa. Ia puas karena murid muda ini pandai sekali bawa dirinya.
"Sudah, sudah," kata dia. "Tootiang ingin kau berlatih pula, cobalah lagi sekali kau pertontonkan keburukanmu. " Sin Cie terdesak, tak berani ia membantah pula. Maka setelah rapikan pakaiannya, ia hampirkan Kwie Sin Sie untuk menjura kepada jie-suheng itu.
"Jie-suko, aku mohon kau beri pimpinan padaku," ia minta. Kembali ia unjuki sifat halusnya, yang suka merendah.
"Jangan ucapkan itu," kata Kwie Sin Sie, yang terus berpaling kepada gurunya, untuk kata: "Jikalau ada yang salah, tolong suhu unjuki."
Begitulah kedua suheng dan sutee ini berdiri berhadapan, untuk "berlatih" pula, dalam satu pertempuran yang beda daripada yang tadi. Sebab Kwie Sin Sie, di depan gurunya, dimuka orang-orang lainnya, tak ingin mendapat malu. Ia menyerang dengan sebat dan keras, tapi ia juga membela diri dengan waspada dan teguh.
Di hadapan Sin-kun Bu-tek, Wan Sin Cie berkelahi dengan tenang tetapi cepat, akan imbangi sang suheng. Sekarang ia mau menyerang, tidak lagi main menangkis atau berkelit saja seperti tadi. Ia taat kepada pesannya Bhok Siang Toojin, ia terus gunai pelbagai tipu dari Hoa San Pay. Maka itu bisa dimengerti, bagaimana hebatnya latihan ini.
Dengan cepat, seratus jurus telah dilalui, selama itu, tidak pernah salah satu pihak berbuat keliru atau keteter, hingga Kwie Sin Sie heran dan penasaran yang ia tak mampu rubuhkan atau desak saja sang sutee yang usianya masih demikian muda. Baru sekarang ia insaf benar-benar liehaynya sutee ini.
Bok Jin Ceng dan Bhok Siang Toojin tonton pertandingan itu, keduanya bersenyum sambil urut-urut jenggot mereka. "Memang benar, guru terkenal menciptakan murid pandai!" Bhok Siang memuji. "Ini dia yang dibilang, di bawah pimpinan panglima perang pandai tidak ada tentara yang lemah. Melihat dua muridmu ini, aku bisa mengiri, menyesal kenapa dulu aku tidak mengajarkan beberapa muridku dengan sungguh-sungguh. "
Bok Jin Ceng Cuma bersenyum atas pengutaraan sahabatnya itu.
Pertandingan berjalan lagi beberapa jurus, masih Sin Sie tak dapat menangkan suteenya itu, ia menjadi sibuk bukan main, hingga karenanya, ia lantas mengadakan perubahan.
Sin Cie menginsyafi desakannya suheng itu, ia berpikir sebaliknya.
"Setelah sampai disini, aku mesti mengalah terhadap suheng," demikian pikirnya. "Tapi mengalah adalah sangat sulit, karena suheng liehay, apabila aku berayal sedikit saja, bisa aku nampak bahaya. Bagaimana sekarang?"
Sin Cie lantas asah otaknya.
"Dari ucapan suhu tadi, nampaknya ia kurang puas kepadaku karena pelajaranku terlampau campur aduk," demikian ia ingat. "Tadi aku gunai tiga macam kepandaian untuk layani jie-suko, aku lantas menang di atas angin, sekarang aku gunai satu kepandaian saja kita berimbang. Apakah itu bukannya alasan untuk bilang, pelajaran lain kaum menangkan kaum kita? Baik aku gunai akal. "
Pikiran ini lantas diwujudkan, anak muda ini segera bersilat dengan "Kim Coa kim hoo kun," atau ilmu silat "Ular emas menawan burung hoo." Inilah pelajarannya Kim Coa Long-kun.
Kwie Sin Sie terperanjat begitu lekas ia kenali lawan gunai ilmu pukulan yang asing baginya, sebab didalam Hoa
616 San Pay tidak ada gerak-gerakan yang mirip dengan itu. Setelah empat jurus serangannya sang sutee, ia berlaku waspada, untuk lindungi diri.
Sin Cie lihat perubahan sikapnya sang suheng, ia bernapas lega, lalu sembari berkelahi terus, ia empos tenaganya ke bebokongnya. Gerakan ini pun memperlambat gerakannya, hingga Sin Sie lantas lihat satu lowongan dibelakangnya sang sutee. Seperti biasanya satu ahli silat, tak suka ia mensia-siakan lowongan, malah tanpa sangsi lagi, ia lantas kirim serangannya.
Sin Cie sudah siap, ia antap bebokongnya kena dihajar, selagi terhuyung, hingga ia sempoyongan empat-lima tindak.
"Aku kalah," kata ia selagi ia membalik tubuh.
Kwie Sin Sie menyesal setelah ia serang jitu suteenya itu, ia kuatir sang sutee terluka parah, maka ia lompat maju, dengan niat mengasi bangun, akan tetapi bukan kepalang herannya apabila ia tampak sutee itu tidak kurang suatu apa! Benar-benar ia tidak mengerti. Ia tidak tahu, disamping mengatur tenaganya, untuk lawan serangan, Sin Cie juga andali baju kaos suci dari Bhok Siang Toojin.
Tatkala si anak muda memutar tubuh, untuk bertindak, Baru ketahuan, bajunya di bagian bebokong telah hancur dan beterbangan sepotong demi sepotong!
Ceng Ceng berkuatir sekali, hingga ia lari menghampiri. "Kau tidak apa-apa?" tanyanya.
"Jangan kuatir," sahut Sin Cie dengan tenang.
Bok Jin Ceng sendiri sudah lantas pandang muridnya yang kedua. "Pelajaranmu telah peroleh kemajuan, akan tetapi barusan seranganmu terlalu keras, kau tahu?" tanya guru ini.
"Teecu mengerti, suhu," sahut sang murid. "Pelajaran Wan Sutee adalah di atasanku, aku takluk padanya."
"Selama yang belakangan ini sering aku dengar tentang kamu berdua suami dan isteri," kata pula sang guru, "aku dengar kamu berdua telah terlalu umbar murid-muridmu, hingga mereka jadi petantang-petenteng, menarik perhatian umum. Aku pikir, isterimu mungkin seorang yang kurang sadar, akan tetapi kau bukan seperti dia. Sekarang aku lihat sikapmu terhadap suteemu begini rupa, hm!. "
Kwie Sin Sie tunduk.
"Aku menerima salah, suhu," dia bilang.
"Sudahlah," Bhok Siang menyelak. "Di dalam piebu, siapa juga tak dapat berhati mulia. Sin Cie toh tidak terluka, kau orang tua buat apa kau omong banyak-banyak?"
Ditegur demikian rupa, Bok Jin Ceng berdiam.
Sementara itu, Kwie Sin Sie dan isterinya jadi tidak puas terhadap Sin Cie. Mereka sudah lama memperoleh nama, untuk di Kanglam, mereka seperti memimpin dengan diam- diam kaum Rimba Persilatan, sekarang mereka ditegur di muka umum oleh guru mereka, mereka jadi malu dan tak senang.
Kemudian Bok Jin Ceng ubah haluan.
"Giam Ong akan mulai bergerak di dalam musim rontok ini," demikian katanya, "maka lekas kamu pergi ikat perhubungan dengan saudara-saudara rimba persilatan di wilayah kanglam, untuk sambut gerakan mulia itu." Kwie Sin Sie dan isterinya, kepada siapa kata-kata itu diucapkan, menyahuti bahwa mereka bersedia akan jalankan titah itu.
Lantas Bok Jin Ceng kata pada Sin Cie dan Ceng Ceng: "Pergilah kau ke Pakkhia bersama-sama sahabat
mudamu ini, disana kamu musti serep-serepi gerak-geriknya
pemerintah, tetapi ingat, janganlah keprak rumput hingga kau membikin ular kaget, terutama jangan sembarang bunuh menteri-menteri di istana. Jikalau ada kabar yang penting, segera berangkat ke Siamsay untuk memberi laporan!"
"Baik, suhu," Sin Cie jawab.
"Sekarang aku hendak pergi menemui Cit cap jie to - tocu The Kie In serta Sip Lek Taysu dari Siau Liem Sie," Bok Jin Ceng kata pula. "Bhok Siang Tooheng, kau hendak pergi kemana?"
"Kami orang-orang gagah pencinta Negara, yang senantiasa pikirkan Negara dan rakyat, pantas kamu repot terus-terusan seluruh hari," tertawa Bhok Siang Toojin, "tidak demikian denganku, aku adalah seumpama si burung hoo liar yang pesiar di tengah udara. Aku pikir akan berdiam lagi beberapa hari di sini dengan muridmu ini, kau akur atau tidak?"