"Saudara, kalau kau benar sute diri Bhok Enghiong, mengapa kau juga mengaku menjadi suteku? Bukankah ini aneh dan bohong belaka?" tiba-tiba Bie Cauw Giok menyela.
"Bie suheng, mana siauwte berani membohong. Dengan sebenarnya siauwte juga murid dari suhu Pauw Kim Kong yang mengajarku bersama-sama dengan suhu Hong In, suhu Bie Kong Hosiang dan juga suhu Hee Ban Kiat!" Mendengar ini, kedua suheng itu memandangnya heran dan kagum. Hong Ing yang ikut merasa bangga bahwa kokonya menjadi pusat kekaguman orang, segera bertindak maju dan memperkenalkan lebih lanjut,
\"Tidak hanya koko Han Liong murid keempat cianpwe itu, juga dia adalah murid dari Kam Hong Siansu."
"Stt, Ing moi...!" Han Liong mencegah, dan semua orang tercengang mendengar bahwa pemuda cakap itu disebut Ing-moi! Hong Ing mana mau menurut teguran dan cegahan Han Liong, ia terus saja menyombong,
"Dan tahukah semua Enghiong dan cianpwe yang berada disini, siapa Han-ko ini? Ia bukan lain ialah putera tunggal dari almarhum Si Enghiong..."
"Betulkah itu?" tiba-tiba tuan rumah bertanya heran. Orang tua she Siok int pernah berjuang bahu-membahu dengan Si Cin Hai atau yang lebih terkenal dengan sebutan Si-Enghiong. Terpaksa Han Liong tak dapat menyembunyikan diri dan asal-usulnya lagi, sehingga semua orang mengerumuninya dengan kagum. Juga Bhok Kian Eng daa Bie Cauw Giok yang tadinya merata penasaran, kini bahkan merasa bangga mempunyai seorang sute yang bukan lain adalah putera Si Enghiong yang mereka semua puja itu.! Kemudian Han Liong bertanya tentang keadaan perempuan buruk yang datang mengganggu tadi.
"Kau belum kenal dia, sute?" kata Bhok Kien Eng dengan suara mengandung kepuasan dan kebanggaan bahwa betapaun juga, dalam kalangan kang-ouw ternyata ia jauh lebih berpengalaman dari pada sutenya.
"Dia itu bernama Kiu Lau yang dijuluki Jie siauw-moli, sebenarnya iblis wanita itu biasanya keluar berpasangan dengan cicinya yang bernama Kiu Hwa Twa-moli. Kepandaian silat kedua enci adik itu memang luar biasa, teristimewa Kiu Hwa, kakak iblis wanita yang datang tadi, sehingga mereka berdua ditakuti orang banyak di kalangan kang-ouw. Sebenarnya mereka sendiri tak berapa kejam atau jahat, tetapi yang membuat orang menjadi takut adalah mengingat bahwa mereka berdua ini adalah murid dari Loh-san Sam-moli atau Tiga Iblis Wanita dari Gunung Loh-san."
"Hm, agaknya mereka keluarga iblis-iblit, tapi yang datang tadi iblis kecil tak berapa hebat kepandaiannya" berkata Hong Ing. Bie Cauw Giok memandang wajah Hong Ing dengan tajam.
"Sute, kepandaian adikmu ini lumayan juga hingga berani menahan Jie siauw-moli. Dari mana Lihiap mempelajari permainan siang-kiam sehebat itu?" Hong Ing mengerling ke arah Han Liong dengan penyesalan mengapa katak ini kurang hati-hati hingga tadi membuka rahasianya dan membuat semua orang tahu bahwa ia sebenarnya adalah seorang gadis! Tapi, mendengar semua orang juga mengagumi ilmu silatnya, ia terpaksa tersenyum merendah.
"Ah, aku hanya belajar sedikit ilmu silat dari guruku Sang Bouw Nikouw di kelenteng Bok-sin tang. Mana aku dapat disamakan dengan Han-ko yang mempunyai banyak guru" Demikianlah dengan gembira mereka bercakap-cakap dan Han Liong diperkenalkan kepada para tamu lain. Han Liong bertanya kepada Siok Houw Sianseng mengapa iblis wanita itu datang membikin gaduh, dan apakah yang menyebabkan tuan rumah itu dimusuhi oleh Jie-siauw-moli.
"Si hiante," jawab Siok Houw yang menganggap Han Liong sebagai keponakan sendiri,
"Aku selamanya belum pernah bertemu maupun bermusuhan dengan mereka, tapi hal ini juga terjadi pada almarhum ayahmu. Maka, mudah saja diduga dari mana dan siapa yang menyuruh mereka datang ke sini menggangguku. Tak lain menurut dugaanku mereka itu pasti bekerja untuk pemerintah musuh"
"Ini benar sekali," sambung Bie Cauw Giok,
"suhu belum lama ini juga mengirim kabar padaku bahwa sekarang banyak sekail orang kalangan liok-lim yang diperalat oleh kaisar untuk membasmi semua orang yang bersikap memusuhi pemerintahannya. Dan menurut berita-berita yang kudengar, bahkan sekarang Tiga Iblis Wanita dari Loh-san itu telah menjadi pembantu yang dipercaya dari para pengawal istana kaisar. Siok Houw Sianseng menghela napas.
"Aku yang tua dan tak berguna ini tieda harganya untuk merepotkan para Enghiong. Biarlah mereka datang dan mengambil jiwaku. Tapi yang membuat aku menyesal ialah mengapa mereka justeru memilih waktu sekarang? Mengapa mereka tidak menunggui sampai aku selesai merayakan perkawinan anakku?"
"Siok Sianseng jangan takut. Biar iblis-iblis itu datang, aku orang she Bhok, pasti akan mengajak mereka adu jiwa." Kata-katanya ini biarpun terdengar jumawa namun diam-diam Han Liong merasa girang karena ia mendapat kenyataan bahwa biarpun tabiatnya kasar, namun subengnya ini ternyata gagah berani dan jujur.
"Bhok twako benar. Kami takkan tinggal diam," Bie Cauw Giok menghibur Siok Sianseng,
"Tapi kita harus berhati-hati, musuh yang akan datang besok itu bukanlah orang-orang lemah. Harap Bhok twako berhati-hati dan waspada. Baiknya di sini ada Si sute dan Lihiap yang merupakan tenaga bantuan tangguh hingga kita tak usah merasa takut."
"Dua orang wanita itu tak berapa berbahaya," kata Han Liong,
"Terus terang saja aku dan adikku bertemu dengan mereka siang tadi" Lalu ia menceritakan pengalamannya kepada semua orang. Melihat Han Liong agaknya tidak takut terhadap kedua iblis wanita itu, semua orangpun berbesar hati. Setelah itu mereka beristirahat. Han Liong sekamar dengan kedua suhengnya, sedangkan Hong Ing bermalam dengan Kim Lian,. puteri Siok Sianseng yang akan kawin besok harinya. Gadis ini merasa kagum dan senang sekali, berkenalan dengan nona pendekar itu.
Malam itu semua orang gagah tidur dengan bergiliran tapi semalam-malaman itu tak terjadi sesuatu. Pada keesokan harinya, udara terang dan cuaca bagus, maka sudah sepantasnya orang-orang bergembira. Tapi jika seseorang memperhatikan wajah orang-orang dalam ramah Siok Sianseng, tentu mereka akan melihat betapa wajah orang-orang itu mengandung kecemasan hebat. Tamu-tamu baru datang dari segala tempat sehingga dalam sekejap saja rumah keluarga Siok penuh orang. Banyak pula jago silat datang bertamu, maka Bhok Kian Eng menjadi tambah girang karena mereka ini dapat diharapkan bantuannya bila iblis-lblis itu datang mengganggu. Hampir semua tamu yang datang, baik ia sasterawan maupun jago silat, terdiri dari para orang gagah pencinta bangsa dan pengikut-pengikut Si Enghiong dulu atau sisa-sisa kaum pemberontak yang dihancurkan oleh pemerintah bangsa Boan.
Ketika rombongan pengantin laki-laki datang menjemput calon isterinya, keadaan menjadi ramai dan suasana menjadi sangat meriah, orang-orang lupa sejenak akan ancaman bahaya. Suara tambur dan gembreng, mercon dan orang-orang tertawa memenuhi suasana rumah itu. Tiba-tiba tampak tiga bayangan orang berkelebat! Dua orang tua laki-laki dan seorang wanita tampak berdiri di depan tuan rumah, lalu menjura memberi selamat. Semua orang heran karena gerakan mereka demikian cepatnya sehiniga tahu-tahu sudah berada disitu, entah dari mara datangnya! Bhok Kian Eng dan Bie Cauw Giok diam-diam bersiap dengan senjata masing-masing. Tetapi Siok Sienseng memandang mereka dengan wajah girang, sedangkan Han Liong tiba-tiba meloncat ke depan ketiga orang tua itu dan memberi hormat sambil berlutut.
"Suhu! Ie-ie!!"
"Han Liong, kau juga berada di sini? Syukurlah!" seru ketiga orang itu terdengar girang sekali seperti suara orang yang terbebas dari kekhawatiran besar ketika melihat muridnya-pun berada di situ. Ternyata wanita setengah tua yang kelihatan gagah itu bukan lain adalah Yo Leng Ing, bibi Han Liong, sedangkan kedua orang tua ita adalah Siauw lo-ong Hee Ban Kiat si mata satu dan Kim-to Bie Kong Hosiang, dua diantara guru-garu Han Liong! Tentu saja pertemuan ini sangat menggirangkan dan Siok Sianseng merasa bangga menerima tamu-tamunya yang terdiri dari orang-orang gagah golongan tua dan patriot-patriot bangsa yang terkenal. Dihadapan tuan rumah, ketiga orang tua ini tidak menyatakan apa-apa, hanya sekedar datang memberi selamat. Tapi ketika mendapat kesempatan, Hee Ban Kiat menarik tangan Han Liong ke samping dan berkata,
"Han Liong, kita harus waspada, Siok Sianseng akan didatangi orang-orang jahat" Han Liong menyangka dua iblis wanita yang datang malam tadi itulah yang dimaksudkan oleh gurunya, tapi ia bertanya.
"Siapakah mereka itu, suhu?"
"Loh-san Sam-moli!"