"Omitohud. , itu penyakit Iama kambuh kembali
namanya! Sungguh ini lebih aneh lagi. Jelas bahwa kita adalah orang-orang beragama yang selalu menjauhi kekerasan, permusuhan dan menghapus kebencian. Demikian pula para penganut Agama To, pin-ceng yakin bahwa mereka pun adalah manusia-manusia yang mencari jalan terang melalui agamanya, ingin memperbaiki diri sendiri dan orang lain agar menjadi manusia yang berbudi. Akan tetapi, bagaimana sekarang antara mereka dan kita dua kelompok beragama yang gandrung akan kedamaian dan kesejahteraan hidup manusia, kini bahkan bermusuhan dan mengobarkan pertentangan dan permusuhan antara mereka sendiri?"
"Sekali ini mereka keterlaluan sekali, Suheng. Melihat betapa pihak kita menentang para pelaksana penggalian terusan dan menentang kesewenang-wenangan para petugas korup itu, mereka sengaja membantu para petugas itu dan menentang kita, bahkan merekalah yang nengatakan bahwa kita memberontak terhadap pemerintah.
Mereka itu agaknya sengaja mempergunakan pertentang¬an antara pihak Siauw-lim-pai dan para tugas pemerintah, untuk mengadu Domba dan memburukkan nama Siauw-lun-pai kepada pemerintah. Bukankah hal itu berbahaya sekali bagi kita?”
Pada saat itu, tiba-tiba terdengar Tiga orang berkelebat memasuki ruangan itu. Mereka adalah tiga orang laki-laki yang gagah perkasa, murid-murid Siauw-lim-pai dan begitu tiba di ruang¬an pondok di mana dua orang hwesio tua itu bercakap- cakap, mereka segera menjatuhkan diri berlutut.
"Harap Suhu dan Supek (Uwa Guru) memaafkan teecu bertiga kalau teecu mengganggu Ji-wi Suhu." Thian-cu Hwesio memandang kepada tiga orang muridnya itu dengan alis berkerut, lalu memandang ke luar.
"Kenapa kalian sudah datang menghadap? Bukankah pertemuan akan dimulai setelah tengah hari? Sekarang masih terlalu pagi dan kalau para murid sudah datang berkumpul semua, silakan mereka menununggu di ruang pertemuan. Nanti tengah hari pinceng akan ke sana."
"Memang para Suheng sudah datang berkumpul, Suhu, dan mereka pun sudah menanti, akan tetapi mereka tahu bahwa Suhu baru datang membuka pertemuan setelah tengah hari. Akan tetapi teecu bertiga memberanikan diri menghadap bukan karena itu, melainkan untuk laporkan bahwa di bawah bukit terjadi bentrokan besar antara banyak Suheng yang dipimpin oleh Susiok, menghadapi sekelompok to-su. Mula- mula hanya merupakan perkelahian antara dua orang saja, akan tetapi kawan-kawan mereka berdatangan sehingga akhirnya Susiok sendiri bersama beberapa orang Suheng pergi ke sana. Karena khawatir, maka teecu, setelah berunding dengan para suheng yang masih berada di sini, segera menghadap Suhu untuk memberi laporan."
"Omitohud ! Tosu-tosu itu sungguh tidak tahu diri!"
kata Thian-cu Hwesio dengan marah dan dia mengepal tinju, melihat sikap sutenya ini. Hek-bin Hwesio tersenyum.
“Sute, tenanglah dan sebaiknya kalau sute membuka saja persidangan dengan para murid Siauw-lim-pai itu dan biar pin- ceng yang akan turun dan melihat apa yang terjadi di sana."
Thian-cu Hwesio mengangguk dengan hati lega. Kalau suhengnya itu yang maju, dia tidak khawatir lagi. Suhengnya itu ir memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi darinya, dan dia tahu bahwa para to-su itu bukan orang-orang yang boleh dipandang ringan. "Baiklah, Suheng. Harap Suheng dapat mengatasi keadaan di sana."
Hek-bin Hwesio lalu keluar dari pondok tempat tinggal ketua Siauw-lim itu dan setelah memperoleh keterangan di bagian mana para tosu itu bertempur melawan para murid Siauw-lim-pai, lalu berkelebat dan lenyap dari depan para murid Siauw-lim-pai yang memandang kagum.
Dengan cepat sekali Hek-bin Hwesio berlari turun dari Siong-san (Gunung Siong) sebelah selatan. Bagaikan terbang saja dia menuruni bukit itu sehingga tidak lama kemudian dia sudah sampai di kaki bukit, di mana dia melihat terjadi pertempuran yang sengit antara belasan orang murid Siauw- lim-pai melawan belasan orang tosu. Para murid Siauw-Iim-pai itu dipimpin oleh seorang Hwesio tua tinggi besar yang dikenalnya sebagai Thian Gi Hwesio, yaitu sute dari Thian-cu Hwesio yang menjadi wakil ketua Siauw-lim-pai. Biarpun antara Hek-bin- Hwesio dan Thian-cu Hwesio, ada hubungan persaudaraan seperguruan, namun dengan Thian Gi Hwesio, hwesio bermuka hitam itu tidak ada hubungan perguruan karena kalau dia satu perguruan dengan Thian-cu Hwesio ketika menjadi murid pertapa sakti di Himalaya, sebaliknya Thian Ci Hwesio men jadi saudara seperguruan dari Thia Hwesio dalam perguruan Siauw-lim Karena itu, Thian Gi Hwesio adalah orang yang ahli dalam ilmu silat Si-lim-pai dan terutama sekali, dia ahli bermain toya dalam ilmu silat Lo-kun.
Pertempuran yang terjadi di bukit itu memang tadinya disebab oleh perkelahian perorangan antara seorang murid Siauw-Lim-pai melawan seorang tosu yang lewat di tempat itu. Karena memang sudah ada permusuhan antara kedua pihak, maka terjadilah saling mengejek yang berakhir dengan perkelahian. Akan tetapi, teman-teman to-su itu berdatangan dan mengeroyok. Hal ini diketahui oleh murid-murid Siauw-lim- pai yang segera membantu saudara mereka, dan terjadilah pertempuran hebat yang melibatkan belasan orang Siauw- lim- pai melawan belasan orang to-su.
Karena para murid Siauw-lim-pai yang terlibat dalam pertempuran itu adalah murid-murid kelas satu dan dipimpin sendiri oleh Thian-Gi Hwesio, sedangkan para tosu itu pun orang-orang yang memiliki ilmu silat tinggi, maka per¬tempuran itu seru bukan main dan sung¬guhpun ketika Hek-bin Hwesio tiba disitu belum ada yang terluka parah, na¬mun kakek ini maklum bahwa kalau di¬lanjutkan tentu kedua pihak akan menderita hebat dan jatuhnya banyak korban di kedua pihak takkan dapat dihindarkan lagi. Dia juga melihat betapa Thian-Gi Hwesio yang amat lihai itu memperoleh seorang lawan yang juga amat lihai, yaitu seorang tosu berjenggot panjang yang memainkan sepasang pedang dengan amat baiknya. Tongkat atau toya di ta¬ngan Thian Gi Hwesio yang digerakkan amat cepat berubah menjadi gulungan sinar yang lebar itu saling desak dengan gulungan sinar pedang di tangan kanannya.
Pertempuran itu sudah mem¬pergunakan senjata dan sewaktu-waktu Musti jatuh korban kalau dia tidak se¬gera turun tangan, pikir Hek-bin Hwesio. Dan satu-satunya usaha terbaik untuk melerai dan mendamaikan dua pihak yang bertentangan adalah mengundurkan pihaknya sendiri lebih dahulu.
"Saudara-saudaraku dari Siauw-lim-pai, kuminta kepada kalian, mundurlah dan hentikan perkelahian!" Berkata demikian, Hek-bin Hwesio melompat ke medan pertempuran dan menggunakan kedua tangannya untuk melakukan dorongan-dorongan ke arah Thian-Gi Hwcsio dan para murid Siauw-lim-pai. Dari kedua tangannya menyambar hawa yang lembut namun amat kuatnya, membuat para murid Siauw-lim- pai terkejut da terdorong mundur!
Pada saat itu, terdengar suara lembut.
"Siancai , orang-orang penganut To tidak akan
menggunakan kekerasan menentang kekuasaan Alam atas diri manusia, mundurlah kalian, Saudara-saudaraku!" Dan sesosok bayangan pakaian putih berkelebat, seperti yang dilakukan Hek-bin Hwesio, bayang putih ini pun mendorong ke arah para tosu sehingga mereka terpaksa mundur. Maka, berhentilah pertempuran mati-matian itu. Thian Gi Hwesio dan para murid Siauw-lim-pai yang tadinya merasa pena¬saran melihat ada orang menghalangi mereka, ketika melihat bahwa yang menghalangi adalah hwesio tua bermuka hitam, mereka terkejut. Biarpun baru dua kali mereka bertemu dengan Hek-bin Hwesio, mereka semua telah mengenalnya sebagai suheng dari ketua mereka dan memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, lebih lihai daripada ketua mereka. Maka kemarahan Thian Gi Hwesio lenyap, berubah menjadi keheranan dan juga penasaran mengapa suheng dari ketua Siauw-
lim-pai ini, yang biarpun bukan anggauta Siauw-lim, akan tetapi juga seorang pendeta Buddha, melerai perkelahian itu dan tidak membantu para murid Siauw-
lim-pai!
Sementara itu, para tosu juga ter¬kejut melihat bayangan putih yang me¬larai dan mengundurkan mereka, akan tapi ketika mereka mengenal tosu ber¬jenggot panjang dan berjubah putih itu, mereka pun terkejut dan segera memberi hormat. Tosu itu memang terkenal sekali di antara para penganut Agama To, terutama sekali di kalangan para tokoh besarnya karena tosu itu meru¬pakan seorang datuk Agama To yang berilmu tinggi. Nama julukannya adalah Pek I Tojin (Penganut To Berbaju Putih). Dia amat sederhana, bahkan julukannya hanya memakai Tojin (Penganut To) dan jelas julukan itu hanya menunjuk pakai¬annya yang putih sebagai identitasnya. Dia seorang pertapa di puncak Gunung Thai-san, dan kadang-kadang merantau mengunjungi kuil-kuil Agama To untuk bertemu dengan para ketuanya, memberi¬kan pengarahan dalam Agama To, dan juga memberi petunjuk dalam ilmu silat. Baik ilmu silatnya maupun ilmu penge¬tahuannya dalam Agama To, amat luas.
Setelah kedua pihak menghentikan pertempuran, bahkan mundur berkelompok di tempat masing-masing, dua orang kakek itu kini saling berhadapan dalam jarak hanya dua meter. Mereka saling pandang, keduanya tersenyum dan Hek-bin Hwesio yang lebih dulu tertawa. “Ha-ha-ha. ,” sungguh menyenangkan telah bertemu
dengan seorang bijaksana, apakah pin-ceng berhadapan dengan Pek-I-Tojin."
Pek-I Tojin mengelus jenggotnya dan perlebar senyumnya. "Sian cai sudah lama mendengar nama besar Hek-bin
Hwesio dan sungguh bahagia rasa pin-to hari ini dapat
berhadapan demgan dia."
Keduanya tertawa gembira dan dua jika yang tadi saling berkelahi dan kini berkelompok, hanya mendengarkan tanpa mengeluarkan kata-kata. Mereka masing-masing mengharapkan agar orang sakti-sakti itu membantu pihak masing-masing.
"Omitohud Pek I Tojin benar-benar mengenakan pakaian putih sesuai dengan ita julukannya!"
"Benar, dan Hek-bin Hwesio juga mempunyai muka hitam sesuai dengan jukannya!" Kembali keduanya tertawa.