Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 27

NIC

Akan tetapi karena para pendekar siauw-lim-pai itu di mana-mana telah menyebar perbuatan yang gagah perkasa dan baik, akhirnya Kaisar Yang Cien mau mengampuni mereka dan bahkan memperkenankan kembali vihara Sia lim- si dibangun.

Sampai Kaisar Yang Cien diganti oleh puteranya, yaitu Kaisar Yang Ti, keadaan Siauw-lim-si tetap baik walaupun Kaisar Yang Ti lebih condong medekat para to-su (pendeta) dari Agama To (Taoism) daripada Agama Buddha.

Sudah sejak lama terjadi semacam permusuhan antara para tokoh Agama Buddha dan para tokoh Agama To. ini terjadi karena adanya semacam persaingan dan iri hati. Kalau kaisar pemerintahnya mendekati Agama Budda maka pihak para to-su merasa iri hati sebaliknya kalau kaisar mendekati pa to-su, maka para hwesio yang merasa iri hati dan tidak senang. Iri hati ada suatu penyakit batin yang timbul dan penonjolan dan pementingan si -aku pula. . Pikiran ini membentuk si-aku dibesar-besarkan, dipentingkan sedemikian rupa sehingga kalau diabaikan timbul perasaan iri hati dan kecewa. Ki ta sudah sedemikian egois, setiap saat selalu mementingkan diri pribadi se¬hingga segala hal-hal yang menyenang¬kan dan baik hendak kita monopoli, sedapat mungkin segalanya itu diperuntuk¬kan diri sendiri. Bahkan Tuhan Yang Maha Adil pun, ingin kita monopoli agar keadilan- Nya hanya untuk kita, demi ke¬pentingan dan kesenangan kita, demi¬kian pula kasih sayang dari Yang Maha Kasih ingin kita monopoli. Karena se¬tiap perorangan memiliki sikap memen¬tingkan diri sendiri masing-masing, maka tidaklah mengherankan apabila dunia im penuh dengan permusuhan pribadi, permusuhan antara keluarga, antara go¬longan, antar suku dan antar bangsa. Bertabrakanlah kepentingan masing- masing dan menimbulkan konflik. Permusuhan selalu mendatangkan den¬dam. Ketika Siauw-Lim-si dimusuhi kaisar dan pemerintah, bukan hanya jagoan-jagoan istana dan para panglima saja yang menyerbu Siauw-lim-si, akan tetapi di antara mereka terdapat pula tokoh- tokoh dari kalangan Agama To, yaitu para to-su yang membantu pemerintah.

Oleh karena itu, ketika pemerintah condong mendekati para hwesio, giliran to-su yang dimusuhi! Dendam mendendam yang tiada habisnya agaknya sudah menjadi pakaian manusia. Hanya kita sendiri yang mampu menanggalkannya dari diri kita masing-masing.

Kini keadaan kembali berubah, lihat betapa pelaksanaan pembuatan terusan itu mengorbankan banyak rakyat jelata, membikin sengsara rakyat dengan adanya kerja-paksa yang dilakukan oleh pembesar-pembesar daerah, dengan penjilatan ke atas atau korupsi, banyak pendekar Siauw-lim-pai menjadi penasaran. Mulailah terjadi penentang penentangan dari pihak Siauw-lim-si. Para pendekar Siauw-lim-pai bentrok dengan pelaksana pengumpul tenaga rakyat. Di mana-mana terjadi perkelahian antara para pelaksana yang mempunyai jagoan- jagoan dengan para pendekar Siauw-lim-pai. Tentu saja hal ini terdengar oleh para pejabat dan mulai timbul perasaan tidak senang kepada Siauw-Lim-si.

Inilah kesempatan yang amat baik bagi saingan para hwesio, yaitu para tosu. Para tosu yang tadinya merasa tersisih melihat akrabnya hubungan antara pa¬ra hwesio dan pemerintah, kini melihat kesempatan baik sekali untuk maju ke depan. Mereka berusaha untuk mem¬perlebar jurang pemisah antara pemerintah dan pihak Siauw-lim-si, ada yang menghasut dan banyak yang membantu pemerintah dalam menghadapi para pen¬dakar Siauw-lim-pai. Campur-tangan dari para tosu ini tentu saja memperhebat pertentangan para para hwesio dan pendekar Siauw-Lim -pai dengan pihak pemerintah sehingga seringkah terjadi perkelahian besar- besaran yang menjatuhkan korban cukup banyak, terutama di pihak pasukan pemerintah. Hal ini terdengar oleh pihak atasan, Kaisar yang mendengar oleh berita laporan bahwa orang-orang Siauw-lim-pai menentang kebijaksanaan pemerintah untuk membangun terusan besar, bahkan menyerang para pelaksana pekerjaan besar itu, tentu saja menjadi marah dan Kaisar Yang Ti memerintahkan untuk menghukum Siauw-lim-pai, membasmi mereka yang memberontak dan mcmusnahkan vihara besar Siauw-lim-si yang dulu dibangun dengan bantuan istana juga.

Pihak Siauw-lim-pai maklum akan keadaan yang amat gawat itu dan pada pagi hari itu, para pimpinan Siauw-lim-pai berkumpul di vihara. Pagi yang sunyi dan penuh ketegangan karena para pendekar murid-murid Siauw-lim-pai yang berdatangan membawa berita yang tidak menggembirakan,

Vihara Siauw-lim itu memang luas sekali.Dikelilingi pagar tembok yang tebal dan tinggi seperti benteng. Pintu gerbang depan besar dan tebal, selalu dijaga oleh murid-murid vihara. Di bagian dalamnya yang luas terdapat bermacam bangunan, dan cukup banyak Pada waktu itu, para pendekar murid Siauw-lim-pai yang sudah hidup di bagian kuil dan berdatangan ke situ, berduyun- duyun naik ke bukit kecil di

dalam kompleks vihara. Bukit kecil itu tidak berapa tinggi, akan tetapi di puncaknya terdapat sebuah bangunan mungil. Disinilah tinggalnya pimpinan tertinggi dari kuil Siauw-lim-si, bahkan menjadi tokoh tertinggi dari perguruan Siauw-lim-pai pada umumnya.

Pondok mungil itu ternyata tidak berkamar, merupakan ruangan yang luas dan terbuka. Dua orang hwesio tua nampak duduk di atas dipan bundar, bersila dan berhadapan. Mereka itu sudah tua. sedikitnya tentu sudah tujuh puluh tahun usia mereka. Yang seorang bertubuh tinggi kurus dengan jubah kuning, mukanya bersih seperti kepalanya, tanpa ada rambut sedikit pun. Wajahnya pun dan matanya banyak menunduk, akan tetapi terbayang- ketegasan dalam sinar mata dan dalam tarikan garis-garis di tepi mulut, di dagu dan di tepi kedua matanya. Dia adalah ketua Siauw-Im-pai pada waktu itu, seorang hwesio yang sudah pernah mempelajari keagamaan di India, dan di samping itu juga telah mewarisi ilmu-ilmu silai dari siauw-lim-pai. Julukannya adalah Thian¬-cu Hwesio, dan dia terkenal sebagai seorang pemimpin yang jujur, adil, dan tegas maka disegani oleh semua murld Siauw-lim-pai. Karena sudah merasa tua dan lebih suka bersamadhi, maka selama hampir dua tahun ini Thian-cu Hweslo hampir tidak pernah mencampuri urusan di luar kuil. Dia hanya bersamadhi di dalam kamarnya dan baru keluar dari kamar kalau dia merasa perlu untuk member i penerangan tentang pelajar agama kepada para muridnya, atau adakalanya kalau hatinya sedang gembira dia mengamati para murid yang berlatih silat di lian- bu-thia (ruangan berlatih silat) dan memberi petunjuk kepada beberapa orang murid yang melakukan gerakan yang kurang sempurna.

Akan tetapi, selama beberapa hari ini, Thian-cu Hwesio kedatangan seorang tamu, yaitu seorang hwesio yang sebaya dengan dia. Hwesio ini adalah kakak seperguruannya, juga seorang pendeta Buddha yang banyak melakuka perantauan untuk kepentingan penyebaran Agama Buddha. Hwesio ini, karena terlalu banyak hidup di luar, kulitnya sampai berubah menghitam dan julukannya berubah Hek-bin Hwesio (Pendeta Muka Hitam) karena mukanya memang hitam sekali terbakar sinar matahari ketika merantau sampai bertahun-tahun di padang pasir di utara. Puluhan tahun lamanya dia memperdalam ilmu-ilmunya di India, Nepal dan di Himalaya, dan di tempat terakhir itulah dia bertemu dengan Thian-Cu Hwesio dan sama-sama belajar dan seorang pertapa yang sakti sehingga Hek-bin Hwesio terhitung su-heng (kakak seperguruan) dari ketua Siauw-lim-pai itu.

Bukan main gembira rasa hati Thian-Cu Hwesio menerima kunjungan suhengnya ini dan beberapa hari lamanya mereka bercakap-cakap, bukan saja tentang perkembangan Agama Buddha, melainkan juga tentang kekacauan di antara rakyat sehubungan dengan adanya paksaan terhadap rakyat untuk bekerja menggali terusan.

“Bagaimana hati pin-ceng tidak akan merasa resah, Suheng. Biarpun sudah lama pinceng tidak pernah keluar dari kuil, akan tetapi banyak laporan para murid yang menceritakan tentang kesengsaraan rakyat jelata dengan adanya usaha pemerintah menggali terusan besar antara Sungai Huang-ho dan Ya-ce itu. Mau tidak mau, para murid Siauw-Lim-pai harus melindungi rakyat jelata dan karenanya seringkali terjadi bentrokan dengan para petugas pemerintah yang melaksanakan pengumpulan tenaga rakyat itu. Bukan bentrokan kecil-kecilan, bahkan sampai terjadi pertempuran yang menjatuhkan korban di kedua pihak. Sungguh hal ini memprihatinkan hati pin-ceng, Suheng," kata Thian Hwesio yang mengeluh karena ada pertentangan itu.

Hwesio tamu itu bertubuh gendut dengan perut besar bulat, kepalanya yang gundul itu pun bundar dan licin, mulutnya selalu tersenyum lebar seperti orang yang selalu gembira, sepasang matanya juga lembut dan ramah, akan tetapi sesuatu yang mencorong di dalam yang menunjukkan bahwa di balik muka yang kekanak-kanakan penuh senyum. Tubuh yang gendut seperti patung Ji-Lai-hud itu tersembunyi sesuatu yang dasyat dan amat kuat. Memang Hek-Bin Hwesio yang mukanya hitam seperti pantat kuali ini seorang yang selalu ra¬mah dan penuh senyum tawa, memandang dunia dan kehidupan manusia dari segi yang menggembirakan saja. Akan tetapi jangan dipandang rendah semua keramahan dan kelembutan itu karena hwesio tua ini sesungguhnya memiliki kesaktian yang lebih tinggi dan lebih hebat dibanding¬kan dengan sutenya yang menjadi ketua Siauw-lim-pai. Mendengar keluhan sute¬nya, Hek-bin Hwesio tertawa, lalu membelalakkan matanya yang bundar itu, me¬mandang sutenya.

"Sute, sebagai ketua Siauw-lim-pai, mengapa engkau membiarkan murid-muridmu menentang pemerintah? Bukan¬lah pemerintah pula yang telah bersikap baik dan murah hati kepada Siauw-lim-Si, membangun vihara ini dan bahkan memberi tanah yang luas?"

"Omitohud tentu saja pin-ceng tidak akan melupakan

itu justeru karena itulah maka pin-ceng merasa prihatin

dan hati menjadi resah suheng.

Kami tidak menentang pemerintah, sama sekali tidak memusuhi pemerintah, kami cukup mengerti bahwa rencana pemerintah itu baik sekali. Menggali itu membangun terusan besar antara sungai Huang-ho dan Yang-ce memang amat besar manfaatnya, melancarkan lalu lintas perdagangan. Akan tetapi. pelaksanaannya itulah, Suheng!

Pelaksanaannya menyimpang dari tujuannya yang baik. Bayangkan saja. Rakyat diperas tenaganya, dipaksa bekerja tanpa dibayar, bahkan menerima ransum yang sedikit sekali, tidak ada pengobatan dan tidak ada pertolongan kalau ada yang sa¬kit. Entah berapa banyaknya rakyat yang mati, belum lagi keluarganya yang menjadi terlantar karena terpaksa ditinggalkan. Kami menentang perlakuan tidak adil itu, yang kami tentang adalah para pelaksana itu, orang-orang yang korup dan yang mempergunakan kesem¬patan itu untuk mengeruk keuntungan sebesarnya, menari di atas mayat rakyat jelata, beruntung di atas ratap tangis rakyat! Bagaimana menurut pendapat Suheng?"

Senyum di wajah hitam itu melebar

“Sute sendiri tentu sudah tahu sejelasnya bahwa segala macam bentuk kekerasanlah tidak benar. Pelaksanaan kekerasan, dalam bentuk apa pun, tidak akan mungkin mendatangkan hasil yang penuh kedamaian. Sute sendiri tahu bahwa betapapun baiknya tujuan, kalau pelaksanaannya tidak benar maka jadinya pun pasti tidak benar. Nah, kalau sekarang tujuan Sute yang baik itu mendatangkan sejahtera dan damai dari kehidupan rakyat, dilaksanakan dengan kekerasan, dengan perkelahian, bagaima mungkin hasilnya akan baik?”

"Omitohud. apa yang dikatakan Suheng memang benar

dan pinceng dapat melihat kebenaran itu. Akan tetapi, apakah kita harus tinggal diam saja melihat rakyat ditindas, ditekan, diperas dan dibunuh?"

"Siancai Siancai Siancai Masih perlu berheran-herankah

kita melihat semua peristiwa itu, Sute? Ti¬dak ada yang perlu diherankan, tidak ada yang patut disesalkan, walaupun bukan berarti bahwa kita akan tinggal berpang¬ku tangan dan bermasa bodoh saja. Ma¬nusia wajib berikhtiar, Sute, namun segala pelaksanaan dan ikhtiar itu sen¬diri harus berada di jalan benar, bukan dengan kekerasan dan permusuhan. Ti¬dakkah sebaiknya kalau misalnya Sute mengajukan pelaporan kepada Istana agar Kaisar sendiri mengetahui betapa para pelaksana pekerjaan besar itu melakukan penyelewengan?*'

Thian-cu Hwesio menggeleng kepala¬nya dan menarik napas panjang.

"Belum kami coba, Suheng. akan tetapi kiranya akan percuma saja. Pertama, tidak mung¬kin membuat laporan langsung kepada Kaisar tanpa melalui para pembesar dan Menteri, dan melalui mereka tentu akan sia-sia belaka dan tidak akan sampai ke telinga Kaisar. Ke dua, andaikata da¬pat sampai kepada Kaisar sekalipun, apakah Kaisar tidak lebih percaya ke¬pada laporan para pembesar daripada laporan kita? Sudahlah, Suheng. Kurasa sepak terjang para murid kami tidak keliru, yaitu secara langsung membela rakyat dari penindasan para petug yang korup itu. Sekarang, ada hal lain yang lebih memprihatinkan hati pin-ceng."

"Omitohud. Sute, kenapa engkau mengisi hidupmu

dengan keluh kesah dan keprihatinan belaka? Lihatlah baik- baik Sute, bukankah segala hal itu telah terjadi karena kehendak Yang Maha Kuasa. Kenapa harus dibuat penasaran? Kita mengetahui bahwa segala sesuatu di permukaan dunia ini tidak akan terlepas daripada lingkaran roda Karma. Kewajiban kita bukanlah mengubah kenyataan melainkan menyadarkan manusia agar masing-masing dapat memperbaiki jalan hidupnya, karena hanya diri sendiri yang akan mampu memperbaiki karma masing masing. Diri sendiri yang menanam diri sendiri yang memelihara, dan diri sendiri yang akan menuainya kelak.. Sudahlah, semuanya itu sudah Sute ketahui, tidak perlu kuulang lagi. Sekarang coba ceritakan apakah hal lain yang lebih memprihatinkan hatimu itu, Su¬te?"

Kembali ketua Siauw-lim-pai itu me¬narik napas panjang. Tentu saja, sebagai seorang tokoh besar, baik dalam ilmu silat maupun dalam ilmu keagamaan se¬mua yang diucapkan suhengnya itu sudah dimengertinya dengan baik. Namun, dia pun tahu bahwa bagaimanapun juga, dia tidak akan dapat membebaskan diri dari semua kerepotan batin seperti halnya suhengnya. Suhengnya hidup sebatang-

kara, bebas lepas di udara seperti seekor burung, tidak ada ikatan sama sekali, baik lahir maupun batin. Maka, lebih mudah bagi suhengnya untuk bebas dalam arti yang sebenarnya. Akan tetapi

dia?

Dia menjadi ketua Siauw-lim-pai biarpun dia mengusahakan agar batinnya bebas, bagaimana' dia dapat terbebas dari kewajiban sebagai ketua?

Bagaimana mungkin dia diam saja mendengar laporan para muridnya? Tidak, dia adalah manusia biasa yang masih penuh ikatan! Dan dia tahu, selama ada ikatan, maka aku-nya masih merajalela karena aku itulah yang terikat dan suka mengikatkan diri, dan selama ada ikatan ini pasti hidupnya akan selalu penuh dengan konflik, dengan kekhawatiran, kekecewaan,kekerasan dan kedukaan. Kembali dia menghela napas panjang. Nasib Ini juga karmanya? "Tidak lain adalah pertentangan ya makin menjadi dengan para penganut Agama To, Suheng.”

Posting Komentar