Ratapan rakyat ini tidak terdengar oleh pemerintah, akan tetapi terdengar oleh para pendekar. Dan pada waktu Itu, para pendekar adalah mereka yang memiliki ilmu silat tinggi dan watak yang bersih, jujur, adil dan pemberani. Dan pusat dari ilmu silat, sebagian besar terletak di dalam biara-biara dan tempat-tempat pertapaan. Terutama sekali di kuil Siauw-lim-si yang menjadi pusat dari Siauw-Lim-pai, sumber para ahli silat tingkat tinggi. Seringkali pa¬ra murid Siauw-lim-pai yang sudah menjadi pendekar di luar kuil, datang ber¬kumpul untuk berunding dengan para tokoh Siauw-lim-pai, membicarakan tentang kesengsaraan rakyat yang timbul karena adanya pembuatan terusan yang mempergunakan tenaga ratusan ribu orang itu.
Pusat dari perkumpulan Siauw-li pai ini berada di kuil Siauw-lim-si yang besar, selain menjadi pusat perguruan silat tinggi, juga menjadi pusat penyebaran Agama Buddha. Kuil Siauw-li atau Siauw-lim-si ini berdiri di Sion san sebuah gunung yang tanahnya subur yang juga dikenal dengan nama Cong san. Siong- -san bukanlah gunung ya besar dan bukan pula pegunungan yang luas seperti Min-san, Cin-ling-san, Kun-lun-san dan masih banyak lagi. Akan tetapi biarpun tidak berapa besar, nama Siong-san menjadi amat terkenal karena adanya vihara atau kuil Siauw-lim yang besar itu. Terutama sekali di dunia per silatan, nama Siauw-lim-si amat terkenal,disegani dan ditakuti karena di situ menjadi sumber ahli-ahli silat yang me jadi pendekar-pendekar kenamaan.
Kuil yang megah itu dibangun ol seorang pendeta Buddha yang datang datang dari India untuk menyebar pelajaran Agama Buddha, dan pada mulanya hanya merupakan vihara di mana orang-orang belajar keagamaan. Para calon pendeta,
.calon penyebar pelajaran agama, dididik di dalam vihara ini. Oleh karena pada zaman itu (sekitar tahun 500) merupakain jaman yang belum teratur, apalagi dengan adanya perang saudara yang tiada henti-hentinya sejak jaman Sam-Kok (T iga Negara) (Tahun 221 - 265), maka perkembangan Agama Buddha pun menglami gangguan dalam suasana yang ser¬ba kacau ini.
Kemudian, sekitar tahun 520, muncullah seorang pendeta dari India pula yang memiliki kesaktian tinggi. Berbeda dengan pendeta Pa To yang menjadi pendiri vihara Siauw-lim dan yang hanya seorang ahli tentang agama, Tat-mo Couw-su, pendeta dari India yang baru ditang ini, memiliki kesaktian yang hebat.
Apalagi ketika dalam perantauan¬nya dari See-thian (India) ke Tiongkok dia banyak mengembara di Himalaya, bertemu dengan para per tapa yang tinggi ilmunya dan dia senantiasa memperdalam ilmu-ilmunya, maka ketika tiba di vihara Siauw- lim, dia merupakan seorang pendeta Buddha yang amat tinggi ilmu kesaktiannya. Banyak sekali kisah yang aneh-aneh diceritakan orang turun temurun, terutama yang datang dari para hwesio (pendeta Buddha) di kuil Siau lim tentang tokoh Tat-mo Couw-su ini.
Ada yang mengatakan bahwa ketika berada di vihara Siauw-lim itu. Tat-Couw-su pernah menggali sumur dengan hanya menggunakan kedua tangannya sampai ada air muncrat keluar! Ada pula yang mengatakan bahwa dia membuat ukir-ukiran di atas dinding batu mengunakan jari tangannya melukiskan rakan orang bersilat dalam berbagai jurus. Bahkan ada cerita bahwa dia bertapa di kuil itu selama sembilan tahun untuk memperdalam ilmu-ilmunya. dan tubuhnya tercetak di atas batu tempat dia duduk, juga punggungnya tercetak di dinding batu yang menjadi sandarannya. Pendeknya, banyak sekali dongeng tentang Tat- mo Couw-su ini yang mencereritakan tentang kesaktiannya yang seperti dewa!
Bagaimanapun juga, harus diakui berdasarkan sejarah yang ada bahwa Tat-mo- Couw-su inilah yang menjadi pelopor adanya ilmu silat di dalam kuil Siauw-lim, yang kemudian menjadi terkenal sekali, bahkan menjadi sumber banyak macam ilmu silat yang ada di daratan Tiongkok.
Pada waktu sebelum Tat-mo Couw-su datang ke kuil Siauw-lim, tentu saja tidak ada murid atau pendeta kuil Itu yang mempelajari ilmu silat. Mereka belalah penganut-
penganut agama yang Imtuh dan Agama Buddha mengajarkan cinta kasih, menjauhi pertentangan, per¬musuhan, apalagi kekerasaan. Sedangkan Ilmu silat adalah ilmu berkelahi! Tentu taja tidak ada hwesio yang mau mem¬belajari ilmu untuk memukul orang itu!
Akan tetapi pada suatu hari, Tat-mo Couw-su melihat betapa para pendeta dan murid di kuil Siauw-lim itu bertubuh lemah dan karena kelemahan tubuh ini mereka menjadi malas dan tidak betah duduk bersamadhi, lebih suka bermalas- malasan dan tidur. Karena tubuh yang lemah ini banyak pula diantara mereka yang terkena penyakit, selain itu, juga pada jaman itu banyak terjadi kerusuhan dan para penjahat itu agaknya tidak memandang bulu ketika melakukan kejahatan yang mengandalkan kekerasan. Bahkan beberapa kali ki diserbu dan dirampok, para hwesio dianiaya, bahkan ada pula yang sampai dibunuh. Dua hal ini menggerakkan hati Tat-mo, yaitu nama pendeta ini yang kemudian ditambah sebutan Couw-(Guru Besar), untuk memberi latihan kepada para pendeta dan murid Siau lim agar tubuh mereka menjadi sehat dan kuat.
Mula-mula pendeta yang sakti menciptakan semacam ilmu olah raga yang kalau dilatih dapat menyehatkan tubuh, bahkan memperkuat batin. Ilmu ini yang kemudian terkenal dengan sebutan it-kin-keng, ilmu gerakan yang melenturkan otot-otot, membersikan darah dan memperkuat tulang-tulang. It-kin- keng dibagi menjadi delapan belas gerakan pokok. Manfaat ilmu ini setingkat atau bahkan lebih tinggi dari gerakan dalam Yoga. Selain ilmu It-kin-keng, Juga Tat-mo Couw-su menciptakan ilmu silat untuk para hwesio yang ber¬tugas jaga untuk menjaga kuil dari gangguan orang-orang jahat. Ilmu silat ini diberi nama Cap-pwe Lo-han-kun, juga terdiri dari delapan belas jurus. Lo-han-kun atau Silat Arhad ini memang di¬peruntukkan para hwesio, selain untuk memperkuat tubuh juga untuk dapat di pakai membela diri dan melindungi keamanan Kuil.
Itulah permulaan ilmu silat yang di¬ajarkan kepada para hwesio di kuil Siauw-lim. Kemudian, melihat kegunaan dar ilmu-ilmu itu, maka para cerdik pandai tokoh-tokoh keagamaan Buddha memperkembangkan ilmu silat itu dan mulailah ilmu silat Siauw-lim memegang peran penting di dunia persilatan. Latihan-latihan yang dilakukan para murid di kuil Siauw-lim terkenal amat berat, na¬mun justeru latihan berat inilah yang membuat ilmu silat Siauw-lim terkenal sebagai ilmu yang kokoh kuat, dan murid yang lulus dari perguruan ini miliki ilmu silat yang sudah matang dengan tenaga yang boleh diandalkan. Banyak tokoh bermunculan dan ilmu silat siauw- lim terus berkembang, semakin banyak macamnya dan para cerdik pandai tiada hentinya mengerahkan segala bakat dan kepandaian mereka untuk menciptakan jurus-jurus baru.
Pada Pada jaman pemerintah Kaisar Li Wu Ti (502-549), seorang Kaisar dinasti Liang yang menjadi penganut Agama Buddha yang patuh, mempunyai hubungan dekat dengan Siauw-lim-si. lagi ketika terjadi banyak kerusuhan pemberontakan di sana-sini, kaisar ini minta bantuan para ahli silat dari Siau lim-pai. Pada waktu itu, sudah banyak pendekar lihai yang menjadi murid Siauw-lim-pai, dan para pendekar ini berhasil baik sekali dalam penumpasan para perusuh. Kaisar Liang Wu Ti merasa gembira dan berterima kasih, maka kaisar itu lalu memperluas bangunan vihaha Siauw-lim. Makin majulah vihara itu dan semakin banyak muridnya. Usaha menyebarkan Agama Buddha juga berkembng dengan baik dan memperoleh kemajuan pesat seperti juga pengembangan pelajaran ilmu silatnya. Semua ini karena dukungan Kaisar Liang Wu Ti yang juga beragama Buddha.
Akan tetapi, pemberontakan besar meletus ketika wangsa Sui, dipimpin oleh yang Cien, menyerbu dan utara dan menghancurkan kekuasaan dinasti Liang. dalam perang ini, pihak Siauw-lim-pai membantu Kaisar Liang Wu Ti. Oleh karena itu, ketika Dinasti Liang kalah, Dinasti Baru dari Wangsa Sui membasmi semua Vihara agama Buddha, juga Siauw-lim-Si ikut dimusnahkan Para murid dan pendekar Siauw-lim-pai yang berhasil meloloskan diri, lari cerai berai dan para liwesio lari bersembunyi atau bertapa di puncak- puncak gunung dan di tempat-tempat sunyi.