Memang aneh. Bukan hanya kaki tangan anak itu yang bergerak-gerak, akan tetapi ada tonjolan yang aneh bergerak- gerak di tubuhnya, kadang-kadang nampak tonjolan sebesar tikus bergerak di kedua pundaknya, di dadanya, di leher, bahkan di kepalanya! Seolah-olah di dalam tubuhnya itu ada seekor tikus yang ingin keluar akan tetapi terhalang oleh kuli!
Liu Bhok Ki bersikap tenang.
“Abak baik, tenanglah. Pusatkan perhatianmu dan kerahkan seluruh kekuatan kemauanmu untuk menguasai dirimu sendiri. Nah, kauc ontohlah aku, duduklah bersila di atas tanah, seperti ini!”
Han Beng sudah percaya sepenuhnya kepada kakek yang telah menyelamatkannya dari tangan orang-orang aneh yang jahat, yang memperebutkan dirinya. Maka, mendengar suara yang penuh wibawa itu, dia pun mengerahkan kemauannya untuk menguasai dirinya dan biarpun dengan susah payah akhirnya dia dapat pula memaksa tubuhnya untuk menjatuhkan diri duduk di atas tanah, lalu menekuk kedua kakinya, bersila.
“Tegakkan tubuhnmu, luruskan leher dan kepala, pusatkan perhatianmu ke tengah anatara kedua alismu, nah, begitu
Dan sekarang tarik napas panjang, hitung sampai delapan, tahan sekarang keluarkan dari hidung perlahan-lahan. Itu
kedua lengan, letakkan diatas pangkuan, begini ”
Liu Bhok Ki mulai mengajar anak itu untuk menenangkan diri, pelajaran permulaan Samadhi, dan dengan perlahan dia membimbing Han Beng untuk menguasai dirinya sendiri dan menguasai pula kekuatan dasyat yang terdapat dalam dirinya. Setelah anak itu mulai tenang dan mulai dapat mengendalikan tenaga dasyat itu, Liu Bhok Ki mengajak melanjutkan Perjalanan.
Sin-tiauw (Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki mengajak Han Beng yang menjadi muridnya itu ke sebuah bukit di lembah Huang- ho, bukit yang dikenal dengan nama Kim-hong-san (Bukit Burung Hong Emas). Bukit ini kecil saja dan mereka membuat sebuah pondok di puncaknya dan dari puncak ini mereka dapat melihat sungai Huang-ho mengalir di kaki bukit. Pemandangan di bukit itu indah sekali, sebuah bukit yang dipenuhi hutan belukar dan dusun terdekat terletak di akai bukit, di pantai sungai Huang-ho. Bukit itu sendiri sunyi, tidak di tempatai manusia karena memang merupakan hutan belukar yang liar. Begitu tiba di puncak Kim-hong-san, Liu Bhok Ki dibantu oleh Han Beng menebang pohon dan bamboo, membuat pondok darurat untuk mereka. Setelah selesai, Liu Bhok Ki memanggil han Beng yang berlutut dia ats lantai tanah kering, menghadap kakek yang duduk di atas bangku kayu buatan sendiri itu.
:Han Beng, engkau sudah menceritakan semua riwayatmu dan sekarang engkau adalah seorang anak yatim piatu yang tidak mempunyai orang tua dan keluarga lagi. Sudah bulatkah hatimu untuk berguru kepadaku?”
Han beng ad alah seorang anak yang tabah. Ketika dia bersama gurunya itu mencari perahu orang tuanya di sekitar pusaran maut, dia hanya menemukan ayah ibu Giok Cu yang terluka. Dari keluarga Bu ini dia mendengar bahwa ayah ibunya tewas dalam keributan ketika orang-orang kang-ouw memperebutkan anak naga kemudian memperebutkan dia dan Giok Cu. Hanya sebentar dia menangis, dan setelah itu, dia tidak pernah menangis lagi, maklum betapa sia-sia saja menangis dan berduka. Sekarang pun, diingatkan oleh gurunya bahwa dia anak yatim piatu yang tiada keluarga lagi, hatinya seperti di remas, akan tetapi dia tidak mau hanyut oleh kedukaan dan keharuan.
“Suhu, teecu sudah bertekad untuk menjadi murid suhu, dan teecu akan mentaati semua perintah dan petunjuk suhu.”
“Benarkah itu? Engkau berjanji akan memenuhi semua permintaanku sebagai syarat berguru kepadaku?”
“Teecu bukan hanya berjanji, bahkan teecu bersumpah untuk mentaati semua perintah suhu dengan taruhan nyawa teecu. Suhu bukan hanya guru teecu, akan tetapi juga suhu penolong dan penyelamat nyawa teecu.” “Bagus! Kalau begitu dengar baik-baik pesanku. Engkau akan belajar ilmu silat dariku selama lima tahun. Setelah lima tahun, engkau akan kuserahkan kepada Sin-ciang kai-ong. Dialah gurumu yang yang kedua dan aku sudah berjanji kepadanya selama lima tahun engkau menjadi muridku. Dialah yang melindungi kita, menyelamatkan kita dan memberikan kita kesempatan untuk terbebas dari kepungan mereka yang hendak merampasmu. Sanggupkah engkau untuk menjadi murid Sin-ciang Kai-ong selama lima tahun setelah engkau menjadi muridku selama lima tahun pula?”
“Teecu sanggup!”
“Sekarang yang kedua, dan mungkin ini akan terasa berat olehmu. Ketahuilah bahwa aku juga kehilangan keluargaku secara menyedihkan sekali, dan sampai selamanya aku tidak akan dapat melupakan sakit hati karena kehilangan keluarga itu ” Liu Bhok Ki melirik kea rah kepala yang berada di
dalam botol besar terisi arak.
Ketika membawa pergi Han Beng, dia lebih dulu mengambil dua buah kepala ini yang disembunyikan di sebuah tempat dekat sungai, lalu membawa dua buah kepala itu ke puncak Kim-hong-san. Ketika han Beng melihat dua buah kepala itu untuk pertama kalinya, dia terkejut dan merasa ngeri, akan tetapi tidak berani bertanya, melihat betapa gurunya amat berhati-hati merawat dua buah kepala itu dan kelihatan tidak senang kalau dia mencoba mendekati dua buah benda mengerikan itu. kini melihat betapa gurunya bicara tentang dendam sakit hati dan melirik kea rah dua buah kepala, Han Beng tidak dapat menahan keinginan tahunya.
“Suhu, apakah sakait hati suhu itu ada hubungan dengan dua buah kepala itu?”
Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar yang berhati keras dan berwatak kasar, jujur namun juga angkuh. Kalau saja hatinya tidak sudah bulat menerima Han Beng sebagai muridnya dan dia sudah mengenal watak muridnya yang juga gagah perkasa dan tabah, tentu dia akan tersinggung dan marah karena ada orang berani menyinggung soal dua buah kepala itu.
Kini, sejenak matanya mengeluarkan sinar mencorong, akan tetapi dia lalu menarik napas panjang dan mengangguk. Lalu dia mengambil botol anggur diatas meja dimana tersimpan sebuah kepala wanita yang cantik dan pucat, lalu dia menempelkan bibirnya di botol itu, seolah-olah hendak mencium bibir kepala wanita dalam botol itu yang menyeringai seperti menahan sakit.
“Ini ……. Ini kepala isteriku tercinta ”
Han Beng terbelalak dan dia melihat betapa kedua mata gurunya itu berlinang air mata! Diam-diam dia bergidik. Kenapa isteri suhunya tewas dan kenapa pula kepalanya disimpan oleh suhunya di dalam botol arak itu ? suhunya kelihatan demikian mencinta isterinya, akan tetapi mengapa kecintaan itu diperlihatkan dengan cara yang amat kejam dan di luar batas perikemanusiaan?
Agaknya Liu Bhok Ki dapat membaca pertanyaan yang tak terucapkan oleh muridnya itu, dan dia melanjutkan.
“Dan yang tergantung itu adalah kepala kekasih iateriku!”
Han Beng merasa semakin terkejut dan dia memandang kepada kepala yang tergantung itu. lebih mengerikan lagi kepala ini, kepala seorang pria muda yang tampan dan juga amat pucat. Kalau kepala wanita cantik di dalam botol itu hanya menyeringai dan tidak bergerak, kepala yang tergantung ini dapat bergerak dan berputar-putar di ujung tali kecil yang tergantung. Mata kepala ini melotot seperti orang marah dan mulutnya setengah terbuka. Kemudian Han Beng melihat hal yang baru pertama kali dilihatnya dan yang membuatnya menjadi semakin ngeri. Gurunya menuangkan anggur dari botol berisi kepala itu ke dalam cawan, lalu mengangkat cawan diacungkan kepada kepala yang tergantung seolah-oalh menawarkan minuman kepada mereka, lalu dia minum arak itu dari cawan dan nampaknya nikmat sekali! Han Beng bergidik! Di dalam benaknya yang belum banyak pengalaman itu terjadi dugaandugaan yang mengerikan, yang dibantahnya sendiri dalam hatinya. Gurunya adalah seorang pendekar besar yang gagah perkasa yang untuk menolongnya sudah menempuh bahaya maut menghadapi para orang-orang kang-ouw yang lihai. Mungkikah suhunya melakukan hal yang begini kejam?
“Tapi ……. Tapi mengapa suhu melakukan itu ……?” “Mereka adalah isteriku dan sahabatku, mereka telah
menghianatiku, menghancurkan kebahagiaan hidupku dengan berzina! Aku bunuh mereka dan menyimpan kepala mereka, agar mereka melihat betapa mereka telah menghancurkan kebahagiaan hidupku!”
“Ahhhhh… !” Han Beng menundukkan mukanya, hatinya
memberontak, dia tidak setuju sekali dan ingin dia mencela gurunya, akan tetapi dia tidak berani karena diam-diam dia pun merasa kasihan kepada gurunya yang entah sudah berapa puluh tahun menderita kesengsaraan batin yang amat hebat. Dua buah kepala itu masih muda, maka tentu peristiwa itu terjadi ketika suhunya masih muda, tentu sudah puluhan tahun lamanyaa hal itu terjadi dan selama itu, suhunya tak pernah merasa bahagia hidupnya.
“Sekarang dengar, han Beng. Sakit hatiku tak pernah dapat tertebus sampai kini, dank arena aku tidak dapat lagi menghukum kekasih isteriku, maka aku ingin membalas sakit hati ini kepada puteranya yang masih hidup!” berkata demikian, pendekar itu mengepal tinju kanannya dan terdengar bunyi tulang-tulangnya berkerotokan. “Akan tetapi , bukankah suhu sudah membalas sakit
hati itu dengan membunuhnya?”
“Tidak! Aku keliru! Dia membuat aku menderita selama ahidupku, dan aku hanya membunuhnya begitu saja, membuat dia mati dan tidak lagi merasakan penderitaan hidup! Tidak, sekarang anaknya yang harus merasakan penderitaan hidup seperti yang telah kutanggung selama ini. Terlalu enak dia. Biar kepalanya kugantung, tetap saja di tidak dapat melihat dan tidak dapat merasakan! Aku telah melakukan kesalahan dengan membunuh mereka dan sekarang aku harus membetulkan kesalahan itu dan menghukum puteranya!”
Han Beng bergidik. Suhunya yang demikian gagah perkasa, yang dihormatinya sebagai seorang pendekar sakti yang budiman, penentang segala kejahatan, kini diracun dendam dan menjadi iblis sendiri!
“Suhu, apa apa yang harus teecu lakukan?” tanyanya