“Benar saja, subo tentu tidak akan mencelakai aku. Akan tetapi, bolehkah aku mengetahui apa artinya tusukan jarum dan rasa nyeri ini, subo?”
“Lihatlah lenganmu di bagian yang kutusuk tadi.”
Giok Cu melihat lengannya. Disitu, di bawah siku di sebelah dalam lengannya, terdapat bintik merah seperti tahi lalat kecil. Tidak buruk, bahkan menjadi pemanis seperti hiasan pada kulit lengannya yang putih mulus itu.
“Apa ini, Subo?” Ia menggosok-gosok dengan jari tangan kananya untuk mencoba apakah tahi lalat merah itu dapat dilenyapkan oleh gosokan.
“takkan dapat kau lenyapkan, biar dicuci dengan apa pun, Giok Cu. Tanda merah itu hanya akan lenyap kalau engkau kehilangan keperawanmu! Tanda merah itu tanda keperawananmu dan sekali engkau berhubungan dengan pr
Sepasang mata kecil itu terbelalak memandang gurunya, mengandung keheranan dan ketidakpercayaan.
“Aih, Subo, haraap jangan main-main dan menakut-nakuti aku!”
“Anak bodoh! Siapa main-main denganmu?” “Tapi…… tapi “ Gadis itu bingung. Ia masih terlalu kecil,
usianya baru sepuluh tahun, untuk mengerti tentang keperawanan segala macam, akan tetapi karena ia seorang anak yang cerdik, ia dapat menduga bahwa gurunya menanamkan semacam racun di tubuhnya yang merupakan semacam Hukuman atas dilanggarnya suatu larangan.
“Mengapa Subo melakukan ini kepadaku?”
“Ketahuilah, muridku. Bagi seorang wanita, betapun tinggi ilmu kepandaiannya, ada suatu bahaya yang amat berbahaya dan besar sekali, yaitu pria! Pria adalah makhluk yang jahat, pandai merayu dan berpalsu-palsu untuk menjatuhkan hati seorang wanita. Semua rayuan itu hanya dipergunakan sebagai alat menjebak, dan celakalah seorang gadis yang lemah dan terbius oleh rayuan itu, karena ia akan kehilangan keperawananya, kehilangan kehormatan dan masa depannya, satu-satunya pantangan adalah kehilangan keperawanan. Oleh karena itu, terpaksa aku memberi tanda tahi lalat merah ini kepadamu, tanda keperawanan agar engkau selalu ingat bahwa engkau tidak boleh terbujuk rayuan pria. Kalau sekali waktu engkau tertarik, kemudian melihat tanda tahi lalat merah ini, engkau tentu akan sadar kembali. Ingat baik-baik. Kalau tanda ini lenyap, berarti engkau bukan perawan lagi, ilmu-ilmu yang kau pelajari dan belum sempurna akan rusak dan engkau akan mati dalam waktu satu bulan sesudah itu.”
Diam-diam Giok Cu bergidik. Ia tidak kuatir karena sedikit pun belum terbayang olehnya akan rayuan pria dan akan bahayanya terbius rayuan lalu kehilangan keperawananya.
“Tapi, subo. Apakah tanda ini akan selamanya berada di lenganku? Mengapa subo sendiri tidak memiliki tanda seperti ini di lengan subo?” anak itu memang cerdik. Ia tidak memperlihatkan keraguan atau ketidakpercayaan melainkan keheranan karena tidak mengerti. “Tentu saja tidak selamanya, Giok Cu. Kalau engkau menjadi murid yang baik, tidak melanggar pantangan sehingga tanda merah itu tetap ada padamu, tentu akan tiba saatnya aku melenyapkannya. Hanya aku seoranglah yang akan mampu menghilangkan tanda itu, tanpa harus menghilangkan keperawananmu.”
Giok Cu mengangguk maklum dan tidak banyak bertanya lagi. Biarpun masih kecil, namun ia dapat menduga bahwa perbuatan subonya ini merupakan suatu tekanan baginya, merupakan suatu ancaman bahwa ia harus selalu mentaati guruya dan tidaka melanggar semua perintah dan larangannya. Ia tidak tahu bahwa wanita iblis itu melakukan hal ini kepadanya karena pernah dikecewakan puteri kandungnya sendiri yang meyerahkan keperawanannya kepada cucu ketua Hek-houw-pang itu.
Demikianlah, mulai hari itu, Giok Cu berlatih semakin tekun dan memang Bn-tok Mo-li tidak keliru memilih murid. Giok Cu merupakan seorang murid yang selain cerdas, juga amat rajin dan tahan uji. Apalagi dengan modal tenaga sakti dari darah ular di tubuhnya, anak ini segera dapat menghimpun sin-kang dan mengendalikannya secara baik sekali. Kelak kalau ia dewasa, ia tentu memiliki kekuatan sin-kang yang jauh melampaui tingkat gurunya sendiri!
oooOOooo
Kita ikuti perjalanan Sin-tiauw (Rajawali Sakti) Liu Bhok Ki yang membawa lari Si Han Beng. Pendekar perkasa ini merasa berterima kasih sekali kepada Sin-Cing Kai-ong yanag telah menolongnya, karena tanpa pengemis ini, agaknya akan sukarlah baginya untuk dapat meloloskaan diri membawa Han Beng dari kepungan para pendekar dan tokoh kang-ouw, apalagi di situ terdapat Ban-to Mo-li yang lihai. Dia akan selalu ingat janjinya seperti yang diminta Sin-ciang Kai-ong, yaitu bahwa kelak, setelah Han Beng menjadi muridnya selama lima tahun, anak itu harus menjadi murid Raja Pengemis itu selama lima tahun pula.
Sambil memondong tubuh han Beng pergi menjauhi tempat berbahaya itu, Liu Bhok Ki teringat akan janji itu dan di pun berpikir apakah semua itu kelak akan dapat dipenuhi. Keselamatan anak itu sendiri sampai sekarang masih menjadi pertanyaan besar baginya. Dia tahu bahwa anak itu keracunan hebat, terkena pukulan tangan Ban-tok Mo-li, ada goresan kuku di kulit leher Han Beng. Tadi, ketika dia memondong han Beng, dia sudah melihat betapa leher itu melepuh seperti terbakar, bengkak dan kehitaman amat mengerikan.
Setelah berlari cukup jauh dan memasuki sebuah hutan yang besar yang penuh pohon liar, Liu Bhok Ki berhenti sebentar, mencurahkan perhatian kea rah belakang untuk melihat apakah ada orang yang melakukan pengejaran. Sepuluh menit kemudian, yakinlah dia bahwa tidak ada orang mengejarnya, maka dia pun menurunkan Han Beng dari pondongannya ke atas rumput. Anak laki-laki itu dalam keadaan pingsan dan ketika dia direbahkan diatas rumput, tidak seperti orang yang sudah tidak bernyawa lagi. Wajahnya pucat dan napasnya seperti gelombang air laut yang sedang pasang.
Dengan hati-hati Liu Bhok Ki memeriksa leher yang tadinya terkena pukulan dan goresan kuku beracun dari ban-tok Mo-li dan dia hampir mengeluarkan seruan kaget dan heran, juga girang melihat betapa leher itu sudah normal kembali! Tidak ada warna hitam, tidak ada bengkak! Bahkan luka bekas goresan kuku yang tadi mengeluarkan darah hitam, kini sudah kering.
Dirabanya leher itu dan tidak terasa panas! Juga bagaian tubuh lain dari anak ini yang tadinya amat panas, kini sudah tidak panas lagi, hangat biasa saja. Dipegangnya pergelangan tangan anak itu. darahnya pun berjalan dengan baiknya. Hanya napas anak itu yang bergelora, seolah-olah ada kekuatan di dalam tubuhnya yang masih agak liar. Akan tetapi segala bagian tubuh anak itu sehat sama sekali, tidak ada gangguan, apalagi pengaruh racun!
Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar yang sudah lama berkecimpung di dunia kang-ouw. Biarpun dia bukan seorang ahli pengobatan yang pandai, namun pengalamannya amat banyak dan dia tahu akan cara pengobatan orang terkena racun, asalakan jangan racun sehebat racun tangan Ban-tok Mo-li. Dia memandang anak yang masih rebah seperti orang tidur itu dan mengerutkan alisnya. Dia memutar otaknya dan akhirnya dia mengangguk-angguk dengan senyum gembira.
“Thian Maha Adil……” pujinya dengan hati penuh kelegaan. Dia dapat menduga apa yang telah terjadi dalam diri anak
itu. gigitan ular yang disebut anak naga di pusaran maut
Sungai Huang-ho itu, juga darah binatang aneh itu yang dihisap oleh Han Beng, tentu membuat anak ini kecarunan hebat. Tanda keracunan itu mudah dilihat, yaitu membuat anak itu kepanasan dan memiliki kekuatan dasyat sehingga ketika anak itu mengamuk, banyak tokoh kang-ouw yang berkepandaian tinggi roboh oleh pukulan anak yang tidak tahu ilmu silat itu.
Racun anak naga itu hebat sekali, dan mungkin Han Beng takkan kuat bertahan, mungkin akan dapat tewas karena kehebatan darah anak naga itu akan menghapuskan semua jaringan otot dan syarafnya. Akan tetapi, sungguh suatu kemukjijatan terjadi. Ketika anak itu terkena pukulan beracun dan goresan kuku Ban-to Mo-li maka ada semacam racun lain yang memasuki tubuhnya dan justru racun dari tangan ban-tok Mo-li inilah yang merupakan penyembuhan ketika dua macam racun yang berlawanan itu bertemu dan saling melumpuhkan! Inilah kiranya yang terjadi, demikian, piker Liu Bhok Ki.
Dengan hati-hati Liu Bhok Ki lalau mengurut tengkuk dan punggung Han Beng. Baru saja beberapa kali dia mengurut untuk membuka kesadaran anak itu, tiba-tiba Han Beng mengeluh, membuka matanya dan dia pun meloncat bangun. Matanya terbelalak dan kaki tangannya tidak mau diam, bergerak-gerak seperti bukan atas kehendak sendiri, dan kaki tangan itu mengeluarkan bunyi berkerotokan. Ketika Liu Bhok Ki mendekat dan dan hendak memegang lengan anak itu, tangan kiri Han Beng menyambar dan ada hawa pukulan demikian kuatnya mendahului tangan itu sehingga Liu Bhok Ki terkejut dan menangkis.
“Dukkkk!” Tangkisan ini membuat tubuh Liu Bhok Ki terdorong dan hampir terhuyung.
“Ahhhhh… !” Pendekar itu berseru penuh kagum. Dia
melangkah mundur dan melihat betapa anak itu masih menggerak-gerakkan kaki tangannya, dan ada hawa pukulan menyambar-nyambar dari kaki tangan itu. akan tetapi sinar mata anak itu waras, hanya kini Han Beng menjadi bingung sendiri.
“Lo-cian-pwe ……. Tolong ………… tolonglah aku Kaki
tanganku taak dapat kuhentikan bergerak sendiri, dan ada sesuatu dalam perutku bergerak-gerak ………, seperti
seperti ada ularnya!”