Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 22

NIC

“Semalam di sini terjadi pertempuran antara orang-orang sakti. Racun-racun masih berkeliaran di tempat ini. Mungkin baru saja mereka merasakan pengaruh racun. Engkau pun, kalau tidak cepat pergi dari sini, bisa saja setiap saat terkena racun dan mati!”

Mendengar ini, orang itu cepat menggerakkan dayung dan dibantu oleh Ban-to Mo-li, mereka mendayung perahu itu ke tepi dan dengan wajah ketakutan pembantu keluarga Bu itu lalu menggali lubang besar dan mereka menguburan jenazah Bu Hok Gi dan isterinya. Giok Cu siuman dari pingsannya dan anak perempuan itu menangis sejadi-jadinya, berlutut di depan makam ayah dan ibunya.

Setelah selesai mengubur dua jenazah itu, Ban-tok Mo-li mengambil beberapa potong uang perak dan memberikan kepada pembantu keluarga Bu itu sambil berkata, “kulihat engkau pun terpengaruh hawa beracun. Cepat pergi dan cari tabib untuk mengobati dirimu. Nih, ambil uang ini dan pergilah!”

Tangan Ban-to Mo-li yang menyerahkan beberapa potong uang itu bergerak dan kuku jarinya menggores telapak tangan orang itu.

Orang itu tidak merasakan apa-apa, menerima uang lalu berpamit meninggalkan tempat itu. giok Cu yang menangisi makam ayah ibunya, tidak mempedulikan kepergian pembantu itu. ia tidak tahu bahwa dalam waktu dua hari, pembantu itu pun akan tewas tanpa dapat diobati lagi karena dia telah terkena goresan kuku beracun dari jari tangan Ban-to Mo-li. Agaknya iblis betina ini ingin melenyapkan semua orang yang berhubungan dengan Giok Cu.

“Bibi, apakah yang telah terjadi dengan Ayah ibu? Siapa yang membunuh mereka?”

“Mulai sekarang, jangan sebut aku Bibi, melainkan Su-bo (ibu Guru). Bukankah engkau ingin menjadi muridku, mempelajari ilmu silat agar kelak dapat kau pergunakan untuk membalas kematian Ayah ibumu?”

Giok Cu seorang anak yang cerdik. Ayah ibunya telah tewas dan ia tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini. Dan jelas bahwa ayah ibunya tewas tidak sewajarnya, melainkan ada yang membunuh mereka. Dan wanita di depannya ini, biarpun kejam, namun memiliki ilmu kepandaian tinggi, sehingga kalau ia akan mampu mencari pembunuh ayah ibunya dan membalaskan kematian mereka. Maka, mendengar ucapan wanita cantik itu, ia pun segera menjatuhkan diri berlutut.

“Subo, harap kasihani kepada teecu. Siapakah yang telah membunuh ayah ibu?” “Siapa lagi kalau bukan Liu Bhok Ki? Engkau mendengar sendiri keterangan pembantu ayahmu itu. Liu Bhok Kid an anak laki-laki itu datang, dan Liu Bhok Ki katanya mengobati ayah ibumu. Nah, kesempatan itulah dipergunakannya untuk membuat ayah ibumu terkena pukulan maut sehingga mereka tewas tadi.”

“Tapi, mengapa, Subo? Mengapa dia membunuh Ayah Ibuku? Dan siapakah Liu Bhok Ki itu?”

“Hemmm, siapa dapat menyelami hati Liu Bhok Ki? Dia orang aneh, dan jahat sekali. Isterinya sendiri dibunuhnya dan kepala isterinya itu direndam arak dan setiap hari dia minum arak rendaman kepala isterinya itu! kau bayangkan saja betapa jahatnya dia! Mungkin dia tidak ingin orang tuamu melihat dia membawa pergi anak laki-laki yang menghisap darah naga itu.”

“Si han Beng ” kata Giok Cu.

“Hemmmmm, bahkan bukan aneh kalau yang membunh ayah ibu Si Han Beng adalah dia juga.”

Giok Cu mengerutkan alisnya.

“Ah, betapa jahatnya Liu Bhok Ki itu! Dia itu orang macam apa, Subo?” Lalu ia bangkit duduk.

“Subo, maukah subo Menolong teecu? Mari kita cari Liu Bhok Ki itu dan Subo bunuh dia untuk membalaskan sakit hati teecu.”

“Hemmm, enak saja kau bicara, Giok Cu. Ketahuilah, Liu Bhok Ki itu berjuluk Sin-tiauw dan dia amat sakti. Aku sendiri belum tentu akan mampu mengalahkannya. Akan tetapi kelak, kalau engkau sudah dewasa dan engkau mempelajari ilmu silat dengan tekun, mungkin engkau akan mampu mengalahkannya. Eh, bukankah engkau juga menghisap darah anak naga?”

“Darah anak naga? Apa yang subo maksudkan?” Giok Cu bertanya heran, sama sekali tidak mengerti.

“Anak bodoh! Bukankah malam tadi engkau dibelit anak naga dan bersama Si Han Beng anak laki-laki itu kalian melawan anak naga dan menggigitnya, menghisap darahnya?”

Kini baru Giok Cu mengerti dan biarpun kepalanya masih pening, ia tertawa mendengar ini.

“Anak naga? Heh-heh, Subo ini aneh-aneh saja. Semalam ketika aku mengail ikan di perahu, umpanku disambar seekor ular dan aku terseret ke dalam air. Ular itu membelitku dan untung ada Han Beng menolongku. Dia anak baik sekali, subo. Ular itu lalu menyerang Han Beng, bahkan aku melihat betapa ular itu menggigit pundak Han Beng. Juga kulihat Han Beng membalas dan menggigit leher ular. Karena aku ingin membantu han Beng, aku pun lalu menggigit ekor ular itu!”

“Dan kau hisap dan minum darah anak naga itu?” “Subo, apakah ular itu benar-benar anak naga?”

“Ular atau anak naga, apakah engkau menghisap dan minum darahnya?”

Giok Cu tersenyum malu-malu.

“Ketika aku menggigit sekuat tenaga, aku merasakan darah itu, hangat, agak asin dan manis dan amis membuat aku ingin muntah. Akan tetapi karena ingin menolong han Beng, aku menggigit terus dan ya, aku menghisap dan menelan darahnya.” “Banyak?” Ban-tok Mo-li bertanya penuh gairah.

“Entah, Subo. Mungkin beberapa teguk, dan kuliht han Beng menggigit leher ular itu.”

“Hemmmm, tentu dia minum lebih banyak. Coba, kulihat tanganmu!” wanita itu memegang tangan Giok Cu, menggunakan kuku jari kelingking kiri, satu-satunya kuku yang putih bersih dan tidak mengandung racun, menorah kulit lengan bagian dalam.

Darah menetes keluar dan Ban-to Mo-li cepat membawa lengan anak itu ke mulut, dihisapnya darah yang keluar. Dan ia pun kecewa. Sebagai seorang ahli, ia pun dapat merasakan bahwa darah anak ini memang telah kemasukan hawa mukjijat darah anak naga, akan tetapi sedikit sekali. Tidak ada artinya dan tidak ada manfaatny bagi orang lain, paling-paling darah anak perempuan ini hanya dapat menjadi obat penguat tubuh yang dapat ia peroleh dari akar bahar atau rempah-rempah yang lain. Akan tetapi bagi gadis itu sendiri, mungkin mendatangkan kekuatan yang lain.

“Giok Cu, coba kerahkan tenagamu dan pukul telapak tanganku ini.”

Giok Cu mentaati perintah gurunya. Dikepalnya tangan kanannya dan dipukulnya telapak tangan kiri wanita itu sekuat tenaga.

“Plakkkk… !” Ban-tok Mo-li terkejut. Bukan main, pikirnya.

Anak perempuan ini, tanpa setahunya, karena khasiat darah anak naga, kini memiliki pukulan yang luar biasa, kuat dan panas!

Jago silat kebanyakan saja mungkin takkan kuat menahanpukulan tadi! Lengannya sendiri sampai tergetar. Dan ini dilakukan oleh Giok Cu tanpa disadarinya akan kekuatan yang tersembunyi di tubuhnya. Kalau anak itu sudah dapat mengendalikan tenaga mukjijat itu, tentu ia akan menjadi seorang yang amat tangguh! Dan anak ini akan menjadi muridnya! Biarpun ia tidak dapat mempergunakan darah di tubuh anak ini untuk kepentingannya sendiri, namun setidaknya ia akan mendapatkan seorang murid yang istimewa, pengganti puterinya dan ia pun mempunyai perasaan suka kepada Giok Cu.

Ban-tok Mo-li mengajal Giok Cu pulang ke Ceng-touw. Anak perempuan ini merasa kagum dan gembira sekali mendapat kenyataan bahwa gurunya tinggal di rumah yang besar dan mewah, dilayani oleh belasan orang pelayan wanita. Tak disangkanya bahwa gurunya ini ternyata amat kaya raya! Dan gurunya demikian saying kepadanya.

Semenjak itu, mulailah Giok Cu dilatih dasar-dasar ilmu silat oleh Ban-to Mo-li. Anak itu cerdas sekali, rajin dan juga lincah jenaka sehingga makin menyenangkan hati Ban-to Mo- li. Akan tetapi diam-diam Ban-to Mo-li merasa kuatir setiap kali ia teringat kepada puterinya.

Giok Cu begini cantik jelita, manis sekali dan wataknya demikian lincah jenaka, gembira. Anak perempuan seperti ini amat romantis dan satu-satunya hal yang mungkin jadi kelemahannya adalah kalau ia tergoda pleh seorang pria yang menawan hatinya. Jangan-janganakan terulang kembali peristiwa seperti dialami oleh Lan Cid an ia pun merasa kuatir sekali.

Dipanggilnya Giok Cu.

“Muridku yang baik, mulai sekarang engkau harus tekun, rajin dan mentaati semua perintahku.” “Tentu saja, Subo. Siapa lagi kalau bukan Subo yang kutaati. Aku tidak mempunyai orang lain kecuali Subo di dunia ini!” jawab Giok Cu gembira sambil memandang kepada gurunya dengan matanya yang indah, penuh kepercayaan. Ia samara-samar masih teringat betapa kejamnya guru yang cantik ini terhadap musuh-musuhnya, akan tetapi gurunya ini lihai sekali dan saying kepadanya.

“Nah, kini bersiaplah untuk menahan nyeri sedikit. Aku akan memberi suatu tanda kepadamu, demi kebaikanmu sendiri di kemudian hari. Luruskan lengankirimu!”

Tanpa rasa takut sedikit pun dan dengan pandang mata penuh kepercayaan kepada gurunya, Giok Cu meluruskan lengan kirinya. Ketika gurunya menyuruhnya, tanpa ragu ia pun menggulung lengan bajunya sehingga lengan kecil berkulit putih mulus itu nampak dari atas siku sampai ke tangan.

BAN-TOK MO-LI mengeluarkan sebuah kantong kuning yang sudah dipersiapkan, membuka kantong itu dan mengambil sebuah jarum emas yang dibungkus kain sutera putih. Jarum emas itu ujungnya kelihatan merah sekali dan memang jarum itu sudah diberi semacam racun merah di ujungnya.

“Sekarang siaplah menderita sedikit nyeri pada lenganmu, Giok Cu. Tidak takutkah engkau?”

Anak itu menggeleng kepala dan matanya bersinar-sinar. “Apa yang harus kutakutkan, subo? Aku yakin bahwa subo

akan melakukan segala hal yang baik bagiku.”

Diam-diam wanita iblis itu merasa girang. Anak ini memang menyenangkan sekali. Terbuka, jujur, polos, keras hati, pemberani dan anak seperti ini tentu kesetiaan yang boleh dipercaya.

“aku akan menusuk lenganmu dengan jarum ini!” katanya. Setelah meneliti lengan itu, ia pun menusukkan jarum emas itu pada bagian lengan Giok Cu sebelah dalam, sedikit di bawah siku.

Giok Cu merasa betapa lengan yang ditusuk itu nyeri sekali, perih dan panas, juga gatal. Namun, ia tidak mengeluarkan keluhan sedikit pun juga, bahkan menggigit bibirnya agar jangan sampai mengeluh. Ketika rasa nyeri itu menjalar sampai ke seluruh lengan, Giok Cu memejamkan mata dan memusatkan kekuatan hatinya untuk menahan. Tak lama kemudian, jarum itu dicabut kembali.

“Duduklah bersila, biarkan rasa nyeri itu menyebar ke seluruh tubuhmu, sampai akhirnya melemah dan lenyap.” Kata Ban-tok Mo-li, Giok Cu mentaati perintah ini. Ia duduk bersila dan masih memejamkan mata, dan ia merasa betapa rasa panas, perih dan gatal yang menimbulkan nyeri hebat itu benar saja menjalr ke seluruh tubuhnya. Dan masih juga belum pernah ia mengeluh. Akhirnya, rasa nyeri itu makin berkurang dan akhirnya lenyap. Barulah ia membuka matanya, memandang kepada gurunya dengan senang.

Posting Komentar