Naga Sakti Sungai Kuning Chapter 19

NIC

“Baiklah, aku berjanji!” kata Liu Bhok Ki,

“Ha-ha-ha, janji seorang Liu Bhok Ki takkan berubah walaupun langit runtuh dan bumi kiamat! Nah, bawalah pergi anak itu, biar aku yang menghadapi mereka ini!”

Melihat majunya Sin-Ciang Kai-ong yang membantu Liu Bhok Ki, orang kang-ouw menjadi jerih dan mereka pun tidak mempunyai harapan lagi untuk merampas han Beng, apalagi mendengar ucapan ban-tok Mo-li bahw darah anak itu telah keracunan hebat oleh kuku tangan iblis betina itu. mereka mundur, bahkan sebagian besar lalu pergi, ada pula yang merawat teman yang terluka dalam pertempuran tadi.

Akan tetapi ban-tok Mo-li Phang Bi Cu masih merasa penasaran. Sambil memondong Giok Cu, ia melompat dan hendak mengejar Liu Bhok Ki. “Hendak lari kemana kau? Serahkan dulu bocah itu kepadaku!” bentaknya, dan begitu kipasnya mengebut, ada belasan batang jarum hitam beracun menyambar kea rah Liu Bhok Kid an Sin-ciang kai-ong.

Liu Bhok Ki cepat memutar sabuknya dan melompat ke samping, sedangkan Sin-Ciang kai-ong terkekeh dan tongkat bututnya memukul kesana-sini meruntuhkan semua jarum hitam.

“Heh-heh-heh, ban-tok Mo-li kini semakin cantik akan tetapi juga semakin beracun dan kejam! Heh-heh, orang lain hanya berambut pada kepala dan beberapa tempat lagi di luar tubuh, akan tetapi agaknya engkau lain, di dalam hatimu juga berbulu, berambut. Engkau membunuhi orang seperti membunuh semut saja.”

“Jembel busuk, engkau pun akan kubunuh!” bentak ban-to Mo-li Phang Bi Cu marah.

Ia mengenal raja pengemis ini yang selalu bersikap ugal- ugalan dan memandang rendah orang lain walaupun juga amat lihai, maka kini ia menyerang dengan hebat, mengerahkan seluruh tenaganya. Pedangnya menyambar dasyat dan ketika Sin-ciang kai-ong meloncat jauh kebelakang, dari kipasnya menyambar sinar hitam dengan cepat sekali.

Sin-ciang Kai-ong memutar tongkat butut dan mengelak, akan tetapi tiba-tiba ia mengeluh dan tubuhnya terguling, jatuh miring di atas tanah! Agaknya ada satu dua batang jarum beracun yang mengenai tubuhnya dank arena jarum beracun itu mengandung racun yang berbahaya, maka dia pun tak mampu bangkit kembali.

“Huh!” Ban-tok Mo-li mendengus dan mencibir. Kiranya hanya sekian saja kelihaian orang yang disebut Raja Pengemis itu. sambil memondong tubuh Giok Cu yang kini juga berada di punggungnya digendong seperti halnya han Beng digendong Liu Bhok Ki, wanita ini mengerahkan tenaga dan lari mengejar, karena Liu Bhok Ki sudah melarikan diri sambil mengendong han Beng.

Ketika Ban-tok Mo-li meloncati tubuh kai-ong, tiba-tiba ia mengeluarkan seruan kaget dan hampir saja ia jatuh terguling karena tiba-tiba sebatang tongkat butut telah menjegal kakinya dan ketika ia meloncat untuk menghindar, ujung tongkat itu menotok kearah kedua kututnya, dan yang ke tiga kalinya menotot lebih keatas lagi di antara kedua pahanya!

Tentu saja iblis betina itu mengeluarkan suara kaget dan nyeri, namun ia memang lihai bukan main. Tubuhnya yang meloncat lebih tinggi lagi, lalu menukik dan kepalanya ke bawah, pedangnya diputar untuk menyerang Sin-Ciang Kai- ong yang ternyata tadi hanya pura-pura jatuh saja!

Raja pengemis itu bergulingan dan meloncat berdiri sambil menyeringai lebar, lagaknya mengejek sekalai, bahkan dia menjulur lidahnya kepada Ban-tok Mo-li seperti ejekan diantara kanak-kanak.

“Ha-ha, ban-to Mo-li. Kaukira aku begitu mudah jatuh oleh jarum-jarummu yang kotor itu?” dia mengebutkan bajunya dan beberapa batanag jarum runtuh keatas tanah.

“Sayang, lain kali kirimilah aku jarum-jarum yang bersih untuk menjahit dan menambal pakaianku, Mo-li.”

Sin-ciang Kai-ong sengaja mengejek dan menggoda untuk memancing kemarahan Ban-to Mo-li dan dia berhasil mengalihkan perhatian iblis betina itu sehingga tidak dapat mengejar Liu Bhok Ki yang sudah berlari jauh. Wanita itu marah sekali. “Sin-ciang Kai-ong! Selama ini, diantara kita tidak ada urusan dan kita tidak saling mengganggu. Akan tetapi sekarang, agaknya engkau mencari mampus!” Berkata demikian, ban-to Mo-li Phang Bi Cu menggerakkan pedang dan kipasnya, melakukan serangan dengan dasyat. Kebutan kipasnya mengandung angina dan pedangnya membentuk gulungan sinar yang mengeluarkan bau amis dan harum aneh karena mengandung racun yang amat jahat.

“Heiiiiiiiit ……!” Dengan gerakana lucu Sin_ciang kai-ong mengelak sambil menggerakkan tongkat bututnya.

“Tok-takkk-trangggg !” Berulang kali tongkat butut itu,

dengan gerakan yang aneh dan lucu, dapat menangkis kipas dan pedang. Gerakan kai-ong memang aneh sekali, dan kadang-kadang kelihatan kaku dan tidak teraatur, namun setiap kali tubuhnya terancam pedang atau gagang kipas, selalu tongkat itu sudah datang menolongnya dan menangkis senjata lawan dengan amat kuatnya mengandung tenaga yang dasyat sehingga Ban-tok Mo-li merasa betapa tangannya tergetar hebat ban-to Mo-li terkejut.

Ia sudah banyak mendengar tentang kelihaian Raja Pengemis ini, akan tetapi baru sekarang ia mengadu kepandaian. Kai-ong adalah seorang ahli permaianan tongkat yang beraneka macam. Yang dimainkan ini mungkin yang dinamakan Ilmu Tongkat Setan Arak (Ciu-kwi Tung-hoat), kelihatan seperti orang mabuk mengobat-abit tongkat secara ngawur, akan tetapi hebatnya, kemana pun pedang dan kipas Ban-to Mo-li menyambar, selalu kedua senjata itu bertemu dengan ujung tongkat yang menangkis dengan kuatnya.

Dan serangan balasan dari ujung tongkat yang lain menyambar secara tidak terduga-dua sehingga beberapa kali Mo-li terkejut dan terpaksa harus meloncat tinggi ke belakang untuk menghindarkan diri.

Setelah mereka bertanding selama belasan jurus, tahulah ban-to Mo-li bahwa tingkat kepandaian lawannya ini memang tinggi dan tidak boleh dibuat main-main. Ia baru mengerti mengapa orang ini dapat menjadi Raja Pengemis dan kekuasaannya diakui oleh semua kai-pang (perkumpulan pengemis) di empat penjuru dunia! Setidaknya, tingkat Raja Pengemis ini tidak berada dibawahnya, dan dalam keadaan menggendong Giok Cu, sungguh tidak mudah bagi ban-to Mo- li untuk mengalahkan Sin_ciang kai-ong.

“Ha-ha-ha, Ban-to Mo-li, kiranya selain makin cantik, engkau pun semakin lihai saja! Akan tetapi, bocah di punggungmu itu mengganggu gerakanmu. Bagaimana kalau bocah itu kau titipkan dulu kepadaku? Biarlah aku yang mengendong dan melawanmu. Kalau begitu baru seru. Dan aku pun tidak menolak kalau menjadi guru anak perempuan itu!”

Diejek demikian, ban Tok Mo-li menjadi semakin marah, akan tetapi ia juga merasa kuatir. Kalau sampai si jembel ini benar-benar hendak merampas Giok Cu, repot juga ini! Apalagi kalau Bhok Ki muncul dan membantu jembel itu, ia akan celaka. Maka, ia pun menuding pedangnya kepada jembel tua itu dan membentak.

“Sin-ciang kai-ong, hari ini aku tidak sempat melayanimu, biarlah lain hari aku ingin menguji sampai dimana kepandaianmu. Hendak kulihat apakau engkau mempunyai tiga buah kepala!”

“Ha-ha-ha!” Sin-ciang kai-ong meraba-raba muka dan kepalanya dengan gaya lucu mempermainkan.

“Sebuah kepala saja sudah repot mengurus cuci muka, rambut, kumis, jenggot dan menggosok gigi, apalagi tiga buah kepala. Wah repotnya! Tapi kau tentu senang mempunyai kekasih dengan tiga buah kepala, Mo-li. Tentu dia pandai merayu dan bercinta, heh-heh!” “Keparat!” Wanita itu memaki dan kedua tangannya bergerak cepat. Berhamburanlah jarum dan paku kearah tubuh Sin-ciang kai-ong, puluhan batang banyaknya! Tentu saja Sin- ciang Kai-ong tidak berani main-main lagi menghadapi serangan senjata rahasia dari seorang Ban-to Mo-li.

Repotlah dia memutar tongkat bututnya dan berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari serangan senjata- senjata rahasia kecil yang amat berbahaya karena kesemuanya mengandung racun yang mematikan itu. dan ketika dia berhenti bergerak lalu mengangkat muka memandang, ternyata wanita itu telah lenyap!

Sin-ciang Kai-ong menghentikan senyumnya dan dia menarik napas panjang.

“Huiiiii! Sungguh berbahaya sekali wanita itu !” Diapun

segera meninggalkan tempat itu yang kini menjadi sunyi kembali karena para tokoh kang-ouw sudah sejak tadi pergi meninggalkan tempat itu setelah mereka melihat munculnya orang-orang sakti seperti Ban-to Mo-li, Liu Bhok Ki, dan Sin- ciang Kai-ong.

Mereka maklum bahwa tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk membawa pulang seorang di antara dua orang anak yang minum darah anak naga itu, apalagi setelah mengetahui bahwa anak laki-laki itu telah terluka oleh pukulan beracun Ban-tok Mo-li sehingga darahnya pun tentu telah beracaun.

Tempat di tepi pantai Sungai Kuning itu kembali sunyi seperti sebelum terganggu oleh kehadiran banyak tokoh kang- ouw tadi. Dan matahari sudah naik tinggi.

oooOOooo

Gedung itu besar dan Indah, juga dalamnya mewah dengan perabot rumah yang serba mahal. Akan tetapi rumah di luar kota Ceng-touw itu jauh dari tetangga dan mempunyai kebun yang luas di sekelilingnya.

Rumah terpencil dan bukan hanya terpencil, akan tetapi juga dijauhi oleh semua orang yang tinggal di sekitar kota Ceng-touw di Propinsi Shan-tung.

Rumah itu terkenal oleh semua penduduk sebagai rumah Phang Toa-nio (Nyonya Besar Phang) yang tinggal bersama puterinya yang dikenal dengan sebutan Phang Siocia (Nona Phang) bersama belasan orang pelayan wanita.

Posting Komentar