Demikian cepatnya gerakan wanita ini sehingga mengejutkan hati Tung-hai Cin-jin! Cepat dia memutar pedang samurai di tangan kanannya dengan pengerahan tenaga. Pedang itu besar dan berat dia menangkis dengan sekuatnya dengan maksud membuat pedang wanita itu terpental dan terlepas.
Akan tetapi, ban-to Mo-li adalah seorang datuk sesat yang selain amat lihai ilmu silatnya, juga cerdik bukan main. Ia tidak mau mengadu tenaga dengana lawan kakek pendek ini, apalagi pedang di tangan lawan itu berat dan besar. Biarpun ia tidak takut kalau sin-kangnya kalah kuat, setidaknya ia kuatir kalau-kalau pedangnya akan rusak.
Cepat ia mengelebatkan pedangnya menghindarkan pertemuan dengan samurai lawan dan tangan kirinya sudah menggerakkan kipas. Kipas itu menutup dan gagangnya menotonk kearah pundak kanan Tung-hai Cin-jin.
Kakek kate ini terkejut bukan main, namun dia masih dapat melempar tubuh kebelakang dan berjungkir balik sampai lima kali membuat salto. Gerakannya cepat dan indah sehingga Ban-tok Mo-li kagum juga. Kakek yang sudah amat tua itu ternyata masih gesit bukan main.
Sementara itu, ketika dibawa jungkir balik, Giok Cu yang sudah lemas dan hampir pingsan itu, tiba-tiba menjadi sadar kembali.
Begitu sadar dan melihat dirinya dikempit oleh seorang kakek kate dan wanita cantik itu menyerang penawannya, iapun berpendapat bahwa lebih baik terjatuh ke tangan wanita cantik itu daripada ke tangan kakek pendek yang tua dan bau pakaiannya apak itu. maka, ia pun lalu memukul dengan tangan kanannya dan kepalanya berada di belakang, dengan sekuatnya anak perempuan ini memukul kearah punggung Tung-hai Cin-jin.
“Dukkk… !”
“Aduhhh………. Ahhh, panas !” kakek pendek itu
terpaksa melepaskan kembali kempitannya dan dia terpelanting, lalu cepat berguling sambil memutar pedang melindungi tubuhnya. Ketika dia melihat bahwa Ban-tok Mo-li tidak mengejarnya, kakek it uterus berguling menjauh, kemudian meloncat bangun dan melarikan dir dengan muka kecewa sekali.
Dia gagal memperoleh obat awet muda, bahkan sebaliknya menerima pukulan dai punggungnya yang walaupun tidak mendatangkan luka parah, namun hawa panas itu mengacaukan jalan darah di punggungnya dan mungkin akan membuat dia menderita penyakit encok yang berat di punggung!
Ban-to Mo-li menghampiri Giok Cu yang tadi terlempar ketika kakek itu melepaskannya dan memandang anak perempuan itu penuh perhatian. Seorang anak perempuan yang amat cantik, pikirnya. Bentuk hidungnya, mulutnya, terutama sepasang matanya amat indah dan kelak menjadi seorang wanita yang cantik sekali.
“Hemmm, siapakah namamu?” tanyanya mendekati.
Giok Cu sudah bangkit berdiri, dan biarpun tubuhnya lemas dan kepalanya masih pening, namun aneh, setelah ia melakukan pukulan tadi, kini keadaannya mendingan. Ia tidak tahu bahwa kalau ia mempergunakan tenaganya, maka hawa panas yang ditimbulkan oleh darah ular tadi sebagaian akan keluar sehingga dirinya tidak begitu tertekan.
Dengan tabah ia memandang wanita itu dan Giok Cu juga merasa suka karena wanita itu memang cantik sekali dan pakaiannya indah, juga mulutnya tersenyum manis.
“Namaku Bu Giok Cu,” jawabnya singkat.
“Giok Cu (batu kemala)? Wah, namamu indah. Giok Cu, kenapa kau tadi memukul kakek itu?”
“Karena aku tidak suka padanya, bajunya berbau apak dan dia tentu tidak akan bersikap baik kepadaku.”
“Hemmmm, apakah engkau tidak tahu bahwa aku pun akan membawamu?” ia berhenti sebentar melihat sepasang mata yang memandangnya dengan terbuka lebar tanpa sedikitpun perasaan takut terbayang di dalamnya itu.
Seorang anak yang baik sekali, pikirnya. Kelak tentu menjadi seorang gadis yang selain cantik jelita, juga pemberani. Akan tetapi darah naga ditubuhnya itu! ia amat membutuhkannya.
“Apakah engkau memilih aku daripada dia?”
Giok Cu mengangguk.
“Aku memilih engkau. Engkau cantik dan ramah.” “Baiklah, kalau begitu mari ikut aku. Aku akan mengajak
pula anak laki-laki itu.”
“Han Beng? Ah, sungguh hatiku senang sekali kalau begitu, bibi. Kau tolonglah dia!” Dan Giok Cu sedikit pun tidak membantah, bahkan ikut berlari disamping wanita itu yang menggandeng tangannya. Melihat betapa anak perempuan itu dapat berlari ringan dan cepat, Ban-tok Mo-li merasa heran dan ia mempercepat larinya. Aneh sekali! Giok Cu dapat mengimbangi larinya tanpa banyak kesukaran! Dan tanpa diketahui oleh Giok Cu, ketika ia berlari, berarti ia mempergunakan tenaga dan hawa panas di tubuhnya itu pun menerobos keluar an membuat keadaan tubuhnya menjadi lebih baik lagi!
Diam-diam wanita iblis itu kagum dan girang. Ia tahu bahwa anak ini tidak pernah mempelajari ilmu berlari cepat, akan tetapi secara tiba-tiba saja menguasai tenaga yang amat hebat. Tentu berkat darah anak naga, pikirnya!
Mereka tiba ditempat tadi, dimana Liu Bhok Ki masih dikeroyok banyak orang. Pria perkasa itu mengamuk dan biarpun para tokoh kang-ouw mulai mengeroyoknya dengan senjata di tangan, Liu Bhok Ki melawan hanya untuk menjaga diri dan melindungi Han Beng saja. Dengan sabuknya, dia menghalau semua senjata, merobohkan beberapa orang tanpa bermaksud membunuh mereka.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa merdu.
“Hi-hi-hik, kalian ini semua adalah orang-orang kang-ouw yang tolol! Lihat baik-baik, anak laki-laki itu telah terluka oleh kuku tanganku! Dia sudah keracunan dan siapa pun yang mendapatkan dia, hanya akan melihat dia mati dengana daging dan darah yang membusuk! Darahnya tidak ada gunanya lagi bagi siapapun juga. Hanya aku yang dapat mengobatinya. Untuk pa kalian masih memperebutkan dia?”
Mendengar ini, semua orang tertegun dan menahan senjata mereka. Kalau benar apa yang dikatakan wanita iblis itu, maka memang tidak ada gunanya memiliki bocah itu, dan mereka tadi pun sudah melihat Han Beng ditampar oleh wanita iblis itu. Juga Liu Bhok Ki menjadi tertegun, lalu dia menghampiri Han Beng. Dilihatnya betapa ada bekas tapak tangan menghitam di leher anak itu, dan ada guratan kuku yang lebih hitam lagi, wanita iblis itu tidak berbohong! Akan tetapi, dia merasa semakin kasihan kepada Han Beng dan bermaksud untuk menolongnya, dan untuk berusaha mencarikan obatnya kalau benar anak itu terancam racun maut. Maka, dia lalu mengangkat tubuh Han Beng keatas punggungnya. Bocah itu membuka mata dan Liu Bhok Ki Berbisik kepadanya.
“Jangan takut, rangkul leherku kuat-kuat dan aku akan melindungimu dari mereka.”
Han beng memang sudah menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Liu Bhok Ki semenjak dia melihat pria gagah perkasa ini diatas perahu. Tadi dia melihat betapa kakek itu membelanya mati-matian maka dia pun menurut saja dan dia merangkul pundak dan leher kakek itu. liu Bhok Ki sambil memutar sabuknya hendak melarikan Han Beng, akan tetapi para tokoh kang-ouw tidak membiarkan dia lolos begitu saja.
Mereka ini menghadang dan mengepung sehingga kembali terjadi perkelahian sambil menggendong tubuh han Beng. Bocah ini tidak tinggal diam. Biarpun dia digendong, kedua tangannya tidak mau tinggal diam dan setiap kali ada lawan yang dekat, dia berusaha memukul dengan kedua tangannya yang masih mengeluarkan hawa panas!
Tiba-tiba terdengar suara orang tertawa bergelak. “Ha-ha-ha! Sungguh lucu sekali! Aku tidak lagi dapat
membedakan mana pendekar dan orang kang-ouw, dan mana
anjing-anjing kelaparan yang memperebutkan tulang! Dan agaknya orang-orang dunia persilatan sudah kehilangan kegagahan mereka, karena nafsu yang menyala-nyala lupa akan kegagahan sehingga main keroyok seperti ini! Sungguh tidak tahu malu dan aku tidak boleh membiarkan begitu saja!” Lenyaplah suara ini digantikan munculnya seorang laki-laki tua yang pakaiannya penuh tambalan, bertubuh tinggi kurus seperti orang kurang makan, namun wajahnya selalu gembira dan tangananya memegang sebatang tongkat butut.
Begitu dia muncul, dia mengobat-abaitkan tongkat bututnya, menghantam sana-sini dan orang-orang yang mengeroyok Liu Bhok Ki menjadi kacau balau!
Tongkat butut ini lihai bukan main. Ke mana pun menyambar, sukar dielakkan atau ditangkis karena gerakannya memukul dan biarpun ditangkap, tongkat itu dapat menyelinap, luput dari tangkisan lawan namun tetap saja mengenai sasaran. Terdengar suara bak-bik-buk karena ada saja punggung, pinggul atau kaki orang yang kena gebuk!
Melihat munculnya kakek berpakaian pengemis ini, Liu Bhok Ki menjadi senang.
“Sin-Ciang kai-ong, terima kasih atas bantuanmu!” katanya sambil memutar sabuknya semakin cepat untuk mencari jalan keluar.
“Ha-ha-ha-ha-ha, Sin-tiauw (Rajawali Sakti), begitu muncul engkau menggegerkan dunia persilatan! Engkau tahu, tidak ada pohon tak berbunga, tidak ada perbuatan tanpa pamrih! Ha-ha-ha!”
Sambil menangkisi senjata para pengeroyok dengan sabuknya, Liu Bhok Ki mengerutkan alisnya. Betapa bodohnya dia mengira bahwa Raja Pengemis ini mau membantunya tanpa pamrih!
“Apa kehendakmu, Kai-ong?” “Aku mengagumi bocah itu. Berjanjilah untuk membiarkan dia menjadi muridku selama lima tahun setelah dia menjadi muridmu lima tahun!”
Liu Bhok Ki mengenal baik Raja Pengemis itu. seorang gagah perkasa yang amat terkenal karena dia berhasil merajai semua perkumpulan pengemis dan dapat mencegah para apengemis menjadi penjahat-penjahat, sebaliknya memberi bimbingan kepada para jembel sehingga banyak diantara mereka itu yang dapat kembali ke masyarakat sebagai orang- orang berguna. Bahkan semenjak dia menjadi Kai-ong (Raja pengemis), bermunculanlah pengemis-pengemis yang lihai dan berjiwa pendekar!
Orang seperti Sin-ciang Kai-ong (Raja Pengemis Tangan Sakti) ini tidak mungkin akan berbohong dan tidak akan sudi membunuh anak ini untuk diambil darahnya! Dan tidak aneh kalau Sin-Ciang Kai-ong ingin mengambil anak ini menjadi murid karena tertarik melihat sepak terjang Han Beng tadi.