Bibi Sui Su, le paskan aku! Aku mau pergi dan siapapun tidak boleh menahan dan menghalangiku!
Cin Cin membentak marah
Cin Cin, engkau tidak boleh pergi sebelum paman gurumu kembali! Dia menitipkan engkau di sini
Kami bertanggung-jawab dan harus menahanmu di sini sampai dia kembali
Engkau tidak boleh pergi!
kata Sui Su dan pegangan pada le ngan anak itu semakin kuat
Bibi Sui Su, sekali lagi
lepaskan aku
Engkau sudah bersikap baik jangan membuat aku marah dan menganggap engkau Jahat!
Cin Cin, engkaulah yang jahat kalau memaksa pergi
Kami bertanggung-jawab dan harus menahanmu di sini.
Kini Cin Cin memandang marah
Bagus! Agaknya bibi bersekutu dengan susiok untuk menahanku di sini, ya?
Tiba-tlba Cin Cin menarik tangannya yang memegang kuat sehingga Sui Su mengerahkan tenaga menahan dan menarik
Mendadak Cin Cin memutar le ngannya dan mendorong! Karena-saat Itu
Sui Su sedang mempertahankan dan menarik, maka dorongan yang tiba-tiba itu membuat ia te rje ngkang dan te rhuyung, pegangannya terlepas! Cin Cin yang sejak kecil sudah dilatih I lmu silat oleh mendiang ayahnya itu, segera meloncat ke arah pintu untuk melarikan diri
Akan te tapi tibatiba di pintu muncul Cia Ma
Tubuhnya yang gembrot memenuhi pintu sehingga Cin Cin tidak dapat keluar
Eh, anak manis
Engkau hendak pergi ke manakah?
tanya Cia Ma sambil mengembangkan kedua le ngannya sehingga makin penuhlah lubang pintu itu
Cia Ma, biarkan aku pergi dari sini! Susiok Lai Kun menipuku!
kata Cin Cin dengan sabar karena sejak kemarin nenek gendut itu bersikap amat baik dan ramah kepadanya
Cia Ma, tahan anak itu! Ia hendak memaksa melarikan diri!
Sui Su yang tadi terjatuh dan pantatnya te rbanting agak keras di atas lantai sehingga terasa nyeri, kini merangkak bangun dan berte riak kepada Cia Ma
Ehh
Cin Cin, engkau tidak boleh pergi dari sini! Engkau sudah menjadi anak angkatku
De ngar, engkau sudah jadi anakku
Tempat tinggalmu disini dan engkau tidak boleh pergi dari sinl!
kata Cia Ma, kini tidaklagi manis dan lembut melainkan keras karena la tahu bahwa sekarang saatnya menggunakan kekerasan untuk menakutnakuti Cin Cin
Akan te tapi ia salah besar kalau hendak menakut-nakuti anak perempuan berusia lima tahun itu
Melihat sikap dan mendengar ucapan Cia Ma, Cin Cin membelalakkan matanya dan mengepal tinjunya
Ah, kiranya engkaupun bersekongkol dengan suslok, nenek gendut Siapapun tidak boleh menahanku disini!
Dan lapun menerjang nenek itu, kakinya menendang
Tukk!
Sepatunya menendang te pat mengenai tulang kering kaki kiri Cia Ma
Aduh h.....aduh, aduhh......
anak setan ......aduhh.....!
Cia Ma berjingkrak dengan kaki kanannya sambil berusaha mengelus atau memegang kaki kiri dengan kedua tangannya yang agaknya terlalu pendek
Minggir kau!
Cin Cin membentak dan ia menyeruduk ke depan, menggunakan pundaknya untuk menerjang nenek yang sedang berjingkrak dengan sebelah kaki itu
Aughhh....
brukkk.....!
tentu saja Cia Ma te rjatuh, terpelanting dan pinggulnya yang besar itu menimpa meja tepat pada ujung meja segi empat yang runcing
Melihat kesempatan ini, Cin Cin lari keluar dari dalam kamar itu
Cin Cin, jangan lari!
teriak Sui Su sambil mengejar
Dari ruangan luar menerobos masuk dua orang laki-laki yang usianya sekitar empatpuluh tahun, bertubuh tinggi besar dan bersikap garang
Mereka adalah dua orang tukang pukul yang dipelihara oleh Cia Ma
Mereka mendengar teriakan majikan mereka, maka mereka la-i l ke dalam
Melihat mereka, Cia Ma berteriak-teriak
Tangkap anak itu! Tangkap, jangan sampai ia lari!
Dua orang laki-laki itu segera menghadang di te ngah jalan
Mlnggir!
te riak Cin Cin berani dan menerjang di antara dua orang laki-laki itu
Akan tetapi, dua orang tukang pukul itu te rtawa, Disangkanya ada bahaya, tidak tau hanya hanya seorang anak perempuan kecil yang hendak melarikan diri! Seorang di antara mereka, yang brewok dan bermuka hitam, menggerakkan tangan kiri dan sekali cengkeram, dia sudah menangkap punggung baju Cin Cin dan begitu tangannya diangkat keatas, tubuh Cin Cin tergantung di udara!
Lepaskan aku, kau babi hitam! Lepaskan aku!
Cin Cin meronta-ronta dan memaki-maki, kakinya mencoba untuk menendang-nendang, kedua tangannya mencakar dan memukul
Ha-ha-ha-ha-ha!
Laki-laki ke dua yang bermuka bersih dan pucat kekuningan te rtawatawa melihat anak perempuan itu memaki-maki te mannya dengan sebutan babi hitam! Si muka hitam mulai marah
Bukannya karena makian itu, akan te tapi juga karena Cin Cin menendang, mencakar memukul, bahkan mencoba untuk menggiglt le ngnnnya dan meludah ke arah mukanya!
Eh-eh, anak setan, anak liar
Engkau minta ditampar, ya?
Tangan kanannya yang le bar sudah siap untuk memukul dengan tamparan
Heii, Hek-gu (Kerbau Hitam), Jangan pukul anakku! Awas kau, kalau berani memukulnya!
Cia Ma mengancam muka hitam sambil terseok-seok la menghampiri karena pinggulnya te rasa nyeri
Ah, tidak
Cia Ma, aku hanya menakut-nakuti Habis , ia liar sekali
kata si muka hitam yang berjuluk Kebau Hitam itu
Kau, Kerbau Hitam, Anjing Hitam, Babi Hitam, le paskan aku!
kembali Cin Cin meronta-ronta dengan marah
Anak ini memang memiliki keberanian luar biasa
Melihat ini, Cia Ma mengerutkan alisnya
Celaka, pikirnya
Ia sudah mengeluarkan uang duaratus tali perak dan memang anak ini mungil sekail, kelak pasti menjadi seorang gadis cantik yang menjadi sumber keuangan besar baginya
Akan te tapi sungguh tidak disangka, anak ini memiliki watak yang demikian keras dan bandel, sukar diurus
Harus dipergunakan kekerasan untuk anak sebengal ini
Sekap ia dalam kamarnya
Jaga jangan sampai dapat lari
Kalau perlu, Ikat kakinya dengan rantai!
Cin Cin tidak dapat meronta pula karena kedua kaki tangannya diikat dengan sabuk dan ia dilempar ke atas pembaringan dalam kamarnya
Ia melotot, memakl-maki, akan te tapi tidak mampu meronta lagi
Anak ini memang bandel bukan main dan juga amat tabah
Dalam keadaan seperti itu, la tidak pernah menangis, hanya marah-marah dan memaki-maki! Kalau Cia Ma tidak berpesan kepada dua orang tukang pukulnya agar Jangan memukul anak itu, tentu Hek-gu (Kerbau Hitam) dan Pek-gu (Kerbau Putih) sudah menamparnya karena mereka dimaki-maki
Sampai habis suara Cin Cin dipakai memaki dan berte riak-te riak
Juga kedua kaki tangannya terasa nyeri dan lelah
Ia haus sekali, juga lapar, akan tetapi ia tidak mau mengatakan penderitaannya ini
Setelah tubuhnya le maa, ia mendiamkan diri dan mencoba untuk tidur
Sementara itu, dua orang tukangi pukul menjaga di luar pintu
Ketika siang hari itu seorang wanita pelayan datang mengantar makanan, Cin Cin tidak mau makan, tidak mau minum dan tidak mau bicara, hanya rebah dengan muka cemberut
Sebetulnya ia menangis, akan tetapi tangisnya ditahan! dan hanya kedua matanya saja basah, tidak ada keluhan keluar dari mulutnya
Ia merasa haus bukan main, dan lapar, dan lelah
Akan tetapi semua itu ditahannya dan iapun mengenangkan semua peristiwa yang terjadi dengan diri nya
Biarpun ia baru berusia lima tahun akan tetapi la seorang anak cerdas
Ia kini yakin bahwa Susioknya, Lai Kun, telah menipunya
Ia memang oleh Susioknya diberikan kepada Cia Ma, dan kini entah ke mana perginya Susiok itu
Ia marah kepada Susioknya
Akan te tapi iapun tidak berdaya
Andaikata ia dapat kembali ke Ta-buncung, kepada siapa ia akan melaporkan perbuatan susioknya itu
Kakek Coa Song telah tiada, demikian pula ayah dan ibunya
Supeknya, Coa Siang Lee juga te was dan isteri supeknya bersama Thian Ki lenyap pula
Tidak, ia tidak dapat melaporkan kepada siapapun
Akan tetapi yang te rpenting sekarang adalah mencari jalan untuk membebaskan diri dari kurungan ini
Akan te tapi, sampai terasa pening kepalanya, anak itu tidak dapat menemukan jalan
Ia disekap dalam kamar, kaki tangannya diikat rantai, dan di depan kamarnya ada dua orang jahat dan kejam itu melakukan penjagaan secara bergiliran
Ia sungguh tidak berdaya
Ingin rasanya ia menangis, akan te tapi ditahannya
Ia demikian benci kepada mereka semua sehingga tidak ingin menyenangkan hati mereka dengan memperlihatkan kelemahannya! Sejak kecil, ayahnya menekankan perlunya sikap gagah bagi seorang calon pendekar! ' Beberapa kali dalam sehari itu, Cia Ma menjenguknya dari pintu dan bicara lirih dengan penjaga
Dan nenek itu mengerutkan alis, menarik napas panjang dan menggeleng-geleng kepala
Melihat nenek itu marah-marah dan kecewa, ada perasaan lega yang merupakan hiburan di hati Cin Cin
Setidaknya, ia mampu membalas dengan membuat orang itu kecewa, pikirnya
Malam itu, yang datang mengantar makanan, selain seorang pelayan wanita itu juga ikut masuk ke kamar itu Sui Su
Melihat wanita ini, Cin Cin membuang muka
Biarpun selama ini Sui Su memperlihatkan sikap baik kepadanya, namun mengingat bahwa pertama kali susioknya membawanya ke situ yang menerima adalah Sui Su, maka la menduga bahwa tentu wanita genit ini ikut pula menjadi komplotan yang menipunya
Sui Su duduk di te pi pembaringan Cin Cin menggulingkan tubuhnya, menghadap dinding membelakanginya
Sstt......Cin Cin, aku mau bicara denganmu
Penting untuk kebaikanmu sendiri........
Cin Cin tidak perduli, atau setidaknya mengambil sikap tidak perduli walaupun kedua telinganya dipasang baik-baik untuk memperhatikan apa yang akan dikatakan wanita itu
Anak baik, Jangan engkau bersikap seperti ini
Engkau menyiksa dirimu sendiri
Susiokmu bermaksud baik, menitip engkau di sini, dan kalau engkau taat, tentu engkau akan diperlakukan dengan baik, engkau akan dapat makan enak setiap hari, dapat pakaian yang bagus-bagus, dan engkau akan dihormati semua orang karena engkau telah menjadi anak angkat Cia Ma.
Aku tidak sudi! Lebih baik aku mati!
kata Cin Cin ketus, akan tetapi kini ia membalikkan tubuhnya untuk memandang kepada wanita itu
Hussh, Cin Cin, jangan begitu bodoh,
bisik Sui Su,
kalau engkau mati, berarti engkau akan membikin gembira hati mereka yang membencimu
Bodoh sekail
Kata-kata ini tepat sekali dan membuat Cin Cin te rbelalak memandang kepada wanita itu
Tapi.......
aku tidak mau di sini
Aku tidak mau menjadi anak Cia Ma
Aku ingin pulang, mencari ibuku!
Sssst ..jangan berteriak-teriak
bisik lagi Sui Su