Lima tahun yang lalu, pikirnya
Tentu keponakannya ini baru berusia sembilanbelas tahun, dan dia mendengar bahwa Liu Bhok Ki yang berjuluk Sin-tiauw (Rajawali Sakti) itu jauh lebih tua darinya, mungkin sekarang sudah mendekati tujuhpuluh tahun, dan ketika bertemu dengan keponakannya te ntu usianya sudah enampuluh tahun lebih! Llu Hwa yang juga ikut mendengarkan, tidak merasakan sesuatu yang ganjil karena ia hanya pernah mendengar nama Sin-tiauw Liu Bhok Ki sebagai seorang datuk persilatan yang lihai
Ketika akhirnya Bi Lan mengangkat mukanya, Koan Tek telah dapat menguasai hatinya dan wajahnya tidak membayangkan sesuatu
Legalah hati Bi Lan dan iapun melanjutkan dengan suara yang bernada sedih
Setelah kami menikah, aku merasa hidupku berbahagia sekali, paman
Dia amat baik kepadaku, dan dia kuanggap sebagai guru, orang tua, dan suami yang amat kucinta
Akan te tapi, agaknya luka yang dideritanya karena ulah muridnya yang mengingkari janji itu tidak pernah dapat diobati
Dia tetap saja menderita, dan akhirnya, setelah menikah denganku selama dua tahun le bih, guruku dan suamiku itu meninggal dunia karena sakit dalam hatinya.
Bi Lan berhenti dan biarpun ia tidak menangis namun kedua matanya basah dan punggung tangannya mengusap beberapa butir air mata
Ah
Rajawali Sakti itu telah meninggal dunia?
Lie Koan Tek berseru perlahan dan memandang kepada keponakannya dengan penuh perasaan iba
Tiba-tiba wajah yang menunduk itu terangkat dan sepasang mata Bi Lan mengeluarkan sinar mencorong, dan kedua tangannya dikepal
I ni semua gara-gara Si Han Beng! Aku akan pergi mencari nya dan dia harus membayar kematian suamiku, guruku dan orang tuaku itu dengan nyawa!
Bi Lan!
Koan Tek berseru kaget
Apa maksudmu
Si Han Beng
Kau maksudkan Huangho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning)
Ada apa pula dengan dia
!
Dialah suhengku itu! Dialah murid suhu dan suamiku itu!
Akan tetapi.....Huang-ho Sin-liong adalah seorang pendekar sakti yang ilmu kepandaiannya amat tinggi!
Aku tidak perduli, dan tidak takut
Aku rela mati di tangannya untuk membela kematian suamiku juga guruku!
kata Bi Lan dan kini sikapnya amat keras
Dan dia te rkenal sebagai seorang pendekar budiman yang selalu membela kebenaran dan keadilan
Bi Lan, ingatlah dan jangan menurutkan perasaan!
kata pula pamannya
Hemm, paman mengira bahwa aku sakit hati karena dia membatalkan ikatan perjodohan itu
Sama sekali tidak, paman! Ketika ikatan perjodohan itu dilakukan oleh suhu, aku masih belum mengenal Si Han Beng
Aku tidak atau belum mempunyai perasaan cinta kepadanya
Apalagi setelah aku menjadi isteri suhu
Cintaku hanya untuk suamiku seorang! Dan suamiku yang bertubuh sehat dan kuat itu te ntu belum mati kalau hatinya tidak dirusak oleh kemurtadan Si Han Beng!
Bi Lan, bersabarlah, ingatlah bahwa engkau hanya te rdorong oleh perasaan dendam yang timbul dari kedukaan
Kematian setiap manusia berada di tangan Thian, engkau tidak boleh mencari Si Han Beng untuk membalas dendam kematian gurumu.....eh, suamimu!
Tidak, paman
Aku harus pergi mencarinya dan mengadu nyawa dengannya
Aku sudah bersumpah di depan makam suamiku!
Wanita muda itu meloncat dan memandang kepada pamannya dengan sinar mata mencorong
Paman atau siapapun juga tidak berhak melarangku
Selamat tinggal, paman!
Dan iapun meloncat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu
Bi Lan.....!
Lie Koan Tek hendak mengejar
Tidak ada gunanya dikejar
Ia takkan mau membatalkan niatnya,
kata Liu Hwa dan Koan Tek tahu akan hal ini maka diapun membatalkan niatnya untuk mengejar, duduk kembali di atas batu di depan Liu Hwa dan menghela napas panjang menggele ng-gelengkan kepalanya
Bi Lan memiliki kekerasan hati yang luar biasa
Aku dapat melihat pada pandang matanya,
kata pula Liu Hwa yang merasa kasihan kepada penolongnya itu
Kembali Koan Tek menghela napas panjang
Seingatku, Bi Lan adalah seorang gadis yang le mbut hati
Aku tahu, perubahan pada dirinya itu pertama karena kedukaan yang mendalam, kedua karena agaknya watak suaminya te lah menular kepadanya
Aku mendengar bahwa Sin tiauw Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar yang berhati baja, keras dan sukar diluluhkan
Aih, apa yang akan terjadi nanti kalau sampai ia berte mu dengan Huang-ho Sin-liong?
Tai-hiap, menurut apa yang kudengar, pendekar sakti Si Han Beng adalah seorang pendekar yang berhati budiman dan le mbut
Siapa tahu dia akan bisa menundukkan kekerasan hati Bi Lan sehingga tidak perlu terjadi perkelahian di antara mereka.
Mudah-mudahan begitu
Sekarang kita bicara te ntang dirimu sendiri, nyonya Kam.......
Tay-hiap, harap jangan menyebutku nyonya Kam
Suamiku meninggal dunia dan sebutan itu hanya mengingatkan aku kepadanya
Namaku Poa Liu Hwa dan tai-hiap boleh menyebut namaku saja.
Lie Koan Tek menahan senyumnya, senyum gembira
Baiklah, akan te tapi engkaupun jangan menyebutku tai-hiap
Se but saja namaku, Lie Koan Tek.
Liu Hwa memandang wajah pendekar itu dengan hati terharu
Engkau penolongku yang budiman dan di dekatmu aku merasa aman seolah berada di dekat seorang kakak yang baik
Biarlah kusebut engkau Lie-toako (kakak Lie).
Baik sekali, adik Liu Hwa
Nah, sekarang, katakan
Kenapa engkau meninggalkan dusun Tabun-cung dengan mengambil jalan lain dan tidak memberitahu kepadaku yang menantimu di luar pintu gerbang?
Liu Hwa menundukkan mukanya yang berubah merah
Ia merasa malu sekali
Ia menghindarkan diri dari pendekar ini sehingga ia bertemu orang jahat dan kembali pendekar ini yang menyelamatkannya, bahkan hampir berkorban nyawa kalau tidak muncul keponakan pendekar ini
Tai-hiap......eh, toako
Sesungguhnya, aku sengaja mengambil jalan ini untuk menghindarkan perte muan denganmu.......maafkan aku, toako.
Lie Koan Tek mengerutkan alisnya
Ehh
Kenapa, Hwa-moi (adik Hwa)?
Makin merah wajah Liu Hwa mendengar sebutan
adik Hwa
yang demikian le mbut
Maaf, toako
Aku merasa betapa aku telah banyak merepotkanmu, bagaimana mungkin aku berani membuat toako menjadi semakin sibuk untuk melindungiku te rus
Bagaimana aku akan mampu membalas budimu yang bertumpuk-tumpuk
Siapa tahu, di sini aku berte mu dengan penjahat keji itu dan kembali engkau yang telah menolongku
Toako, maafkan aku.....
Lie Koan Tek menarik napas panjang
Dia dapat mengerti dan sikap itu bahkan membuat nyonya muda ini menjadi semakin te rpuji
'Hwa-moi, kenapa engkau mempunyai anggapan bahwa engkau merepotkan aku
Dan mengapa pula tidak mungkin aku menjadi pelindungmu selamanya
Aku sanggup melindungimu se lamanya, Hwa-moi.
Pendekar itu menghentikan ucapannya dengan kaget, karena tanpa disengaja dia telah membongkar rahasia hatinya sendiri
Wanita itupun dapat merasakan apa yang tersirat dalam kata-kata itu, jantungnya berdebar keras, dan ia merasa berdosa terhadap suaminya
Baru saja beberapa hari, belum sebulan, ia ditinggal mati suaminya dan sekarang sudah ada pria yang menyatakan perasaan tertarik kepadanya! Ia juga te rkejut bukan main, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pendekar perkasa yang dikagumi itu diam-diam te rnyata mengandung perasaan cinta kepadanya
Taihiap......?
Ia berkata lirih sambil te rbelalak, lupa lagi akan sebutan kakak
Aku......aku tidak bermaksud buruk, Hwa-moi
Maafkan kata-kataku kalau mengejutkan hatimu
Sudahlah, aku menerima alasanmu tadi
Akan tetapi, bukankah engkau katakan bahwa engkau hendak mencari anakmu
Tadinya kusangka Siong Ki itu anak yang kaucari-cari.
Ucapan ini mengingatkan kembali Liu Hwa kepada anaknya dan kepada Siong Ki sehingga rasa kaget dan sungkannya te rusir
Siong Ki bukan ana kku, toako
Sudah kukatakan tadi, aku berte mu dengannya di depan makam ayahnya
Ayahnya adalah The Ci Kok, suheng dari mendiang suamiku
Melihat dia sebatang kara, yatim piatu, maka aku ingin mengajaknya pergi dan mengakui sebagai murid
Adapun ana kku, Cin Cin, seorang anak perempuan, telah diajak pergi oleh Lai Kun, sute dari suamiku, atas pesan kakek Coa Song.
Dibawa pergi
Ke mana, Hwa-moi?
Ke dusun Hong-cun di te pi Sungai Huang-ho untuk diserahkan kepada Huang ho Sin-liong Si Han Beng, disertai surat dari kakek Coa Song agar Cin Cin dapat diterima sebagai murid pendekar itu.
Ah, kalau begitu bagus sekali
Anakmu te ntu akan menjadi seorang pendekar wanita yang hebat kelak kalau ia dapat menjadi murid Huang-ho Sinliong!
seru Lie Koan Tek dengan girang
Lalu, apa, kehe ndakmu sekarang, Hwa-moi
Tadinya bersama Siong Ki, engkau hendak pergi ke manakah?
Aku hendak menyusul Cin Cin.
Apa
Engkau hendak minta anakmu agar tidak menjadi murid pendekar sakti itu?
Bukan begitu, toako
Akupun senang sekali mendengar bahwa Cin Cin diantar paman gurunya untuk menjadi murid Si Tai-hiap
Akan te tapi.........sekarang aku hanya mempunyai ia seorang, tai-hiap
Bagaimana aku dapat berpisah darinya
Aku hanya akan menjenguknya, dan aku sendiri yang akan menyerahkan dan menitipkan anakku kepada keluarga Si Tai-hiap, kemudian aku akan tinggal di dusun itu, bekerja apa saja di sana, pokoknya aku tidak jauh dari anakku dan setiap waktu dapat menengoknya
Lie Koan Tek mengangguk-angguk
Me mang kukira sebaiknya begitu, Hwa-moi
Nah, karena te mpat tinggal Huang-ho Sin-liong amat jauh dari sini, dan kini perjalanan amat tidak aman dan banyak orang jabat, mari kuantar engkau sampai dapat berte mu dengan puterimu.
Biarpun hatinya merasa sungkan sekali, akan tetapi terpaksa Liu Hwa menyambut penawaran itu dengan hati girang
Kalau ia melakukan perjalanan menyusul puterinya bersama pendekar ini, ia akan merasa aman, dan juga tidak akan sesat di jalan
Terima kasih
Lie-toako
Engkau begini baik kepadaku, aku tidak mungkin dapat membalas semua budi kebaikanmu
Biarlah Thian yang akan membalasnya, toako
Biarlah kelak dalam penjelmaan yang lain aku akan menjadi pelayanmu,
katanya terharu
Aih, Hwa-moi, lupakan saja semua itu
Aku tidak mengharapkan balasan, juga tidak merasa menolongmu
Memang akupun ingin sekali berte mu dengan pendekar sakti yang kukagumi itu
Mari kita berangkat.
Setelah mereka berangkat, baru Liu Hwa teringat bahwa sekantung uang yang tadinya ia terima dari Siong Ki, ia titipkan kepada anak itu dan ketika pergi, agaknya anak itu membawa pergi pula uang yang dia berikan kepada subonya
Ia tidak mempunyai apa-apa lagi, bahkan pakaianpun hanya yang menempel pada tubuhnya.! Tentu saja ia merasa canggung dan sungkan bukan main
Apalagi setelah mereka melewati sebuah kota, Koan Tek yang berpengalaman dan bijaksana itu, tanpa bertanya sudah mengetahui keadaannya dan pendekar itu mengajaknya ke toko dan membelikan beberapa potong pakaian untuknya!