Naga Beracun Chapter 25

NIC

Lima tahun yang lalu, pikirnya

Tentu keponakannya ini baru berusia sembilanbelas tahun, dan dia mendengar bahwa Liu Bhok Ki yang berjuluk Sin-tiauw (Rajawali Sakti) itu jauh lebih tua darinya, mungkin sekarang sudah mendekati tujuhpuluh tahun, dan ketika bertemu dengan keponakannya te ntu usianya sudah enampuluh tahun lebih! Llu Hwa yang juga ikut mendengarkan, tidak merasakan sesuatu yang ganjil karena ia hanya pernah mendengar nama Sin-tiauw Liu Bhok Ki sebagai seorang datuk persilatan yang lihai

Ketika akhirnya Bi Lan mengangkat mukanya, Koan Tek telah dapat menguasai hatinya dan wajahnya tidak membayangkan sesuatu

Legalah hati Bi Lan dan iapun melanjutkan dengan suara yang bernada sedih

Setelah kami menikah, aku merasa hidupku berbahagia sekali, paman

Dia amat baik kepadaku, dan dia kuanggap sebagai guru, orang tua, dan suami yang amat kucinta

Akan te tapi, agaknya luka yang dideritanya karena ulah muridnya yang mengingkari janji itu tidak pernah dapat diobati

Dia tetap saja menderita, dan akhirnya, setelah menikah denganku selama dua tahun le bih, guruku dan suamiku itu meninggal dunia karena sakit dalam hatinya.

Bi Lan berhenti dan biarpun ia tidak menangis namun kedua matanya basah dan punggung tangannya mengusap beberapa butir air mata

Ah

Rajawali Sakti itu telah meninggal dunia?

Lie Koan Tek berseru perlahan dan memandang kepada keponakannya dengan penuh perasaan iba

Tiba-tiba wajah yang menunduk itu terangkat dan sepasang mata Bi Lan mengeluarkan sinar mencorong, dan kedua tangannya dikepal

I ni semua gara-gara Si Han Beng! Aku akan pergi mencari nya dan dia harus membayar kematian suamiku, guruku dan orang tuaku itu dengan nyawa!

Bi Lan!

Koan Tek berseru kaget

Apa maksudmu

Si Han Beng

Kau maksudkan Huangho Sin-liong (Naga Sakti Sungai Kuning)

Ada apa pula dengan dia

!

Dialah suhengku itu! Dialah murid suhu dan suamiku itu!

Akan tetapi.....Huang-ho Sin-liong adalah seorang pendekar sakti yang ilmu kepandaiannya amat tinggi!

Aku tidak perduli, dan tidak takut

Aku rela mati di tangannya untuk membela kematian suamiku juga guruku!

kata Bi Lan dan kini sikapnya amat keras

Dan dia te rkenal sebagai seorang pendekar budiman yang selalu membela kebenaran dan keadilan

Bi Lan, ingatlah dan jangan menurutkan perasaan!

kata pula pamannya

Hemm, paman mengira bahwa aku sakit hati karena dia membatalkan ikatan perjodohan itu

Sama sekali tidak, paman! Ketika ikatan perjodohan itu dilakukan oleh suhu, aku masih belum mengenal Si Han Beng

Aku tidak atau belum mempunyai perasaan cinta kepadanya

Apalagi setelah aku menjadi isteri suhu

Cintaku hanya untuk suamiku seorang! Dan suamiku yang bertubuh sehat dan kuat itu te ntu belum mati kalau hatinya tidak dirusak oleh kemurtadan Si Han Beng!

Bi Lan, bersabarlah, ingatlah bahwa engkau hanya te rdorong oleh perasaan dendam yang timbul dari kedukaan

Kematian setiap manusia berada di tangan Thian, engkau tidak boleh mencari Si Han Beng untuk membalas dendam kematian gurumu.....eh, suamimu!

Tidak, paman

Aku harus pergi mencarinya dan mengadu nyawa dengannya

Aku sudah bersumpah di depan makam suamiku!

Wanita muda itu meloncat dan memandang kepada pamannya dengan sinar mata mencorong

Paman atau siapapun juga tidak berhak melarangku

Selamat tinggal, paman!

Dan iapun meloncat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu

Bi Lan.....!

Lie Koan Tek hendak mengejar

Tidak ada gunanya dikejar

Ia takkan mau membatalkan niatnya,

kata Liu Hwa dan Koan Tek tahu akan hal ini maka diapun membatalkan niatnya untuk mengejar, duduk kembali di atas batu di depan Liu Hwa dan menghela napas panjang menggele ng-gelengkan kepalanya

Bi Lan memiliki kekerasan hati yang luar biasa

Aku dapat melihat pada pandang matanya,

kata pula Liu Hwa yang merasa kasihan kepada penolongnya itu

Kembali Koan Tek menghela napas panjang

Seingatku, Bi Lan adalah seorang gadis yang le mbut hati

Aku tahu, perubahan pada dirinya itu pertama karena kedukaan yang mendalam, kedua karena agaknya watak suaminya te lah menular kepadanya

Aku mendengar bahwa Sin tiauw Liu Bhok Ki adalah seorang pendekar yang berhati baja, keras dan sukar diluluhkan

Aih, apa yang akan terjadi nanti kalau sampai ia berte mu dengan Huang-ho Sin-liong?

Tai-hiap, menurut apa yang kudengar, pendekar sakti Si Han Beng adalah seorang pendekar yang berhati budiman dan le mbut

Siapa tahu dia akan bisa menundukkan kekerasan hati Bi Lan sehingga tidak perlu terjadi perkelahian di antara mereka.

Mudah-mudahan begitu

Sekarang kita bicara te ntang dirimu sendiri, nyonya Kam.......

Tay-hiap, harap jangan menyebutku nyonya Kam

Suamiku meninggal dunia dan sebutan itu hanya mengingatkan aku kepadanya

Namaku Poa Liu Hwa dan tai-hiap boleh menyebut namaku saja.

Lie Koan Tek menahan senyumnya, senyum gembira

Baiklah, akan te tapi engkaupun jangan menyebutku tai-hiap

Se but saja namaku, Lie Koan Tek.

Liu Hwa memandang wajah pendekar itu dengan hati terharu

Engkau penolongku yang budiman dan di dekatmu aku merasa aman seolah berada di dekat seorang kakak yang baik

Biarlah kusebut engkau Lie-toako (kakak Lie).

Baik sekali, adik Liu Hwa

Nah, sekarang, katakan

Kenapa engkau meninggalkan dusun Tabun-cung dengan mengambil jalan lain dan tidak memberitahu kepadaku yang menantimu di luar pintu gerbang?

Liu Hwa menundukkan mukanya yang berubah merah

Ia merasa malu sekali

Ia menghindarkan diri dari pendekar ini sehingga ia bertemu orang jahat dan kembali pendekar ini yang menyelamatkannya, bahkan hampir berkorban nyawa kalau tidak muncul keponakan pendekar ini

Tai-hiap......eh, toako

Sesungguhnya, aku sengaja mengambil jalan ini untuk menghindarkan perte muan denganmu.......maafkan aku, toako.

Lie Koan Tek mengerutkan alisnya

Ehh

Kenapa, Hwa-moi (adik Hwa)?

Makin merah wajah Liu Hwa mendengar sebutan

adik Hwa

yang demikian le mbut

Maaf, toako

Aku merasa betapa aku telah banyak merepotkanmu, bagaimana mungkin aku berani membuat toako menjadi semakin sibuk untuk melindungiku te rus

Bagaimana aku akan mampu membalas budimu yang bertumpuk-tumpuk

Siapa tahu, di sini aku berte mu dengan penjahat keji itu dan kembali engkau yang telah menolongku

Toako, maafkan aku.....

Lie Koan Tek menarik napas panjang

Dia dapat mengerti dan sikap itu bahkan membuat nyonya muda ini menjadi semakin te rpuji

'Hwa-moi, kenapa engkau mempunyai anggapan bahwa engkau merepotkan aku

Dan mengapa pula tidak mungkin aku menjadi pelindungmu selamanya

Aku sanggup melindungimu se lamanya, Hwa-moi.

Pendekar itu menghentikan ucapannya dengan kaget, karena tanpa disengaja dia telah membongkar rahasia hatinya sendiri

Wanita itupun dapat merasakan apa yang tersirat dalam kata-kata itu, jantungnya berdebar keras, dan ia merasa berdosa terhadap suaminya

Baru saja beberapa hari, belum sebulan, ia ditinggal mati suaminya dan sekarang sudah ada pria yang menyatakan perasaan tertarik kepadanya! Ia juga te rkejut bukan main, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa pendekar perkasa yang dikagumi itu diam-diam te rnyata mengandung perasaan cinta kepadanya

Taihiap......?

Ia berkata lirih sambil te rbelalak, lupa lagi akan sebutan kakak

Aku......aku tidak bermaksud buruk, Hwa-moi

Maafkan kata-kataku kalau mengejutkan hatimu

Sudahlah, aku menerima alasanmu tadi

Akan tetapi, bukankah engkau katakan bahwa engkau hendak mencari anakmu

Tadinya kusangka Siong Ki itu anak yang kaucari-cari.

Ucapan ini mengingatkan kembali Liu Hwa kepada anaknya dan kepada Siong Ki sehingga rasa kaget dan sungkannya te rusir

Siong Ki bukan ana kku, toako

Sudah kukatakan tadi, aku berte mu dengannya di depan makam ayahnya

Ayahnya adalah The Ci Kok, suheng dari mendiang suamiku

Melihat dia sebatang kara, yatim piatu, maka aku ingin mengajaknya pergi dan mengakui sebagai murid

Adapun ana kku, Cin Cin, seorang anak perempuan, telah diajak pergi oleh Lai Kun, sute dari suamiku, atas pesan kakek Coa Song.

Dibawa pergi

Ke mana, Hwa-moi?

Ke dusun Hong-cun di te pi Sungai Huang-ho untuk diserahkan kepada Huang ho Sin-liong Si Han Beng, disertai surat dari kakek Coa Song agar Cin Cin dapat diterima sebagai murid pendekar itu.

Ah, kalau begitu bagus sekali

Anakmu te ntu akan menjadi seorang pendekar wanita yang hebat kelak kalau ia dapat menjadi murid Huang-ho Sinliong!

seru Lie Koan Tek dengan girang

Lalu, apa, kehe ndakmu sekarang, Hwa-moi

Tadinya bersama Siong Ki, engkau hendak pergi ke manakah?

Aku hendak menyusul Cin Cin.

Apa

Engkau hendak minta anakmu agar tidak menjadi murid pendekar sakti itu?

Bukan begitu, toako

Akupun senang sekali mendengar bahwa Cin Cin diantar paman gurunya untuk menjadi murid Si Tai-hiap

Akan te tapi.........sekarang aku hanya mempunyai ia seorang, tai-hiap

Bagaimana aku dapat berpisah darinya

Aku hanya akan menjenguknya, dan aku sendiri yang akan menyerahkan dan menitipkan anakku kepada keluarga Si Tai-hiap, kemudian aku akan tinggal di dusun itu, bekerja apa saja di sana, pokoknya aku tidak jauh dari anakku dan setiap waktu dapat menengoknya

Lie Koan Tek mengangguk-angguk

Me mang kukira sebaiknya begitu, Hwa-moi

Nah, karena te mpat tinggal Huang-ho Sin-liong amat jauh dari sini, dan kini perjalanan amat tidak aman dan banyak orang jabat, mari kuantar engkau sampai dapat berte mu dengan puterimu.

Biarpun hatinya merasa sungkan sekali, akan tetapi terpaksa Liu Hwa menyambut penawaran itu dengan hati girang

Kalau ia melakukan perjalanan menyusul puterinya bersama pendekar ini, ia akan merasa aman, dan juga tidak akan sesat di jalan

Terima kasih

Lie-toako

Engkau begini baik kepadaku, aku tidak mungkin dapat membalas semua budi kebaikanmu

Biarlah Thian yang akan membalasnya, toako

Biarlah kelak dalam penjelmaan yang lain aku akan menjadi pelayanmu,

katanya terharu

Aih, Hwa-moi, lupakan saja semua itu

Aku tidak mengharapkan balasan, juga tidak merasa menolongmu

Memang akupun ingin sekali berte mu dengan pendekar sakti yang kukagumi itu

Mari kita berangkat.

Setelah mereka berangkat, baru Liu Hwa teringat bahwa sekantung uang yang tadinya ia terima dari Siong Ki, ia titipkan kepada anak itu dan ketika pergi, agaknya anak itu membawa pergi pula uang yang dia berikan kepada subonya

Ia tidak mempunyai apa-apa lagi, bahkan pakaianpun hanya yang menempel pada tubuhnya.! Tentu saja ia merasa canggung dan sungkan bukan main

Apalagi setelah mereka melewati sebuah kota, Koan Tek yang berpengalaman dan bijaksana itu, tanpa bertanya sudah mengetahui keadaannya dan pendekar itu mengajaknya ke toko dan membelikan beberapa potong pakaian untuknya!

Posting Komentar