Naga Beracun Chapter 24

NIC

Melihat ini, kembali Hong San te rtawa sambil memutar suling untuk menangkis kedua senjata pengeroyoknya

Ha ha, si penculik dan yang diculik saling bantu! Bagus, agaknya kalian sudah saling jatuh hati

Ha-ha-ha!

Dan sulingnya diputar sedemikian rupa sehingga amat merepotkan Lie Koan Tek

Apa lagi Liu Hwa

Setiap kali pedangnya berte mu suling, ia pasti terdorong dan te rhuyung

Untung baginya bahwa Hong San tidak ingin membunuh wanita ini, kalau demikian halnya, tentu ia sudah roboh dan tewas

Hong San hendak membunuh Lie Koan Tek akan tetapi ingin menangkap Poa Liu Hwa hidup-hidup

Bagaimanapun juga, Lie Koan Tek adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai yang sudah matang dalam pengalaman

Dia pernah diuji kepandaiannya melawan Hong San dan dia tahu betapa lihainya suling di tangan pemuda itu

Maka pengalamannya ketika dia bertanding melawan Hong San kini dia pergunakan untu k berjaga diri, tidak menuruti kemarahan hatinya sehingga dia dapat bertahan ketika Hong San mulai membalas dengan desakan sulingnya

Sementara itu, biarpun beberapa kali pedangnya hampir te rlepas dari tangannya yang kadang seperti lumpuh kalau pedang itu bertemu suling, Liu Hwa tidak pernah mundur dan dengan nekat ia membantu Lie Koan Tek tanpa memperdulikan lagi keselamatan dirinya sendiri

Ia merasa yakin bahwa Lie Koan Tek adalah seorang pendekar tulen, sedangkan pemuda yang bernama Can Hong San ini seorang penjahat yang berbahaya sekali

Kiranya Can Hong San ini yang memimpin penyerbuan te rhadap He k-houwpang itu dan kini ia pun ingat

Can Hong San inilah yang telah merobohkan dan membunuh suaminya, Kam Seng Hin! Maka iapun menyerang dengan mati-matian

Namun, kini Hong San juga sudah mencabut pedangnya

Dia mempergunakan pedang di tangan kanan dan suling di tangan kiri, dan desakandesakannya membuat Lie Koan Tek makin repot

Pada saat itu te rdengar bentakan nyaring,

Penjahat dari mana berani mengganggu paman Lie Koan Tek?

Dan muncullah seorang wanita muda yang usianya sekitar duapuluh empat tahun, wajahnya bulat berkulit putih, hidungnya mancung dan matanya tajam

Gerakannya ringan bukan main dan begitu muncul, ia telah menggerakkan sepasang pedangnya dan menyerang Hong San dengan cepat dan kuat! Hong San terkejut sekali

Dia menangkis dengan pedangnya sambil mengerahkan tenaga untuk membuat pedang kiri gadis itu patah atau te rpental

Akan tetapi, tangkisannya luput dan tubuh gadis itu sudah meloncat ke atas, bagaikan seekor burung rajawali ia sudah menyerang lagi dengan tubuh menukik ke arah Hong San!

Trang! Tranggg........!

Hong San menangkis dan te rpaksa melangkah ke belakang

Diam-diam gadis itupun terkejut karena tangkis an pemuda tampan itu membuat kedua tangannya terasa panas dan te rgetar hebat

Mengertilah ia mengapa pamannya, Lie Koan Tek pendekar Siauw-lim pai itu tadi te rdesak hebat, iapun turun dan menyerang lagi dengan dahsyatnya, membantu Lie Koan Tek dan Liu Hwa yang juga sudah menyerang lagi

Lie Koan Tek terheran-heran, tidak mengenal gadis yang menyebutnya paman itu

Akan te tapi dia tidak sempat banyak berpikir, hanya mencurahkan seluruh perhatiannya untuk bersama gadis itu dan Liu Hwa mengeroyok Hong San

Ternyata kepandaian gadis yang baru datang itu hebat pula, bahkan tidak kalah dahsyatnya dibandingkan kepandaian Lie Koan Tek sendiri

Biarpun belum te ntu kalau dikeroyok tiga dia akan kalah, Hong San merasa tidak ada gunanya untuk berkelahi te rus

Gadis itu cukup lihai, dan kalau mereka itu nekat, diapun mungkin akan te rluka

Maka, setelah mendapatkan kesempatan, diapun meloncat jauh ke belakang dan melarikan diri dengan cepat

Gadis itu hendak mengejar sambil berseru,

Jangan lari !

akan tetapi Lie Koan Tek cepat mencegahnya

Nona, jangan kejar dia

Dia berbahaya!

Gadis itu tidak jadi mengejar

Iapun agaknya tahu bahwa seorang diri saja, ia bukanlah lawan pemuda tampan yang lihai tadi, maka iapun berhenti dan kini menghadap Lie Koan Tek sambil memberi hormat

Paman, bertahun-tahun saya mencari paman tanpa hasil

Sekarang, secara kebetulan kita dapat berte mu di sini!

katanya dengan nada suara girang

Nanti dulu, maafkan aku, nona

Akan tetapi, siapakah engkau?

Gadis itu memandang aneh

Paman Lie Koan Tek lupa kepada saya

Saya Bi Lan, paman, Kwa Bi Lan.

Bi Lan......

Ah, Bi Lan, kiranya engkau ini?

Lie Koan Tek memandang dengan wajah berseri dan girang

Tentu saja aku lupa

Engkau sudah begini dewasa dan ilmu kepandaianrau hebat sekali.

Aih, paman terlalu memujiku

Siapakah enci ini, paman?

tanya Bi Lan sambil menunjuk kepada Liu Hwa

I a

Ah, ia ini adalah isteri mendiang ketua Hekhouw-pang di dusun Ta-bun-cung

Panjang ceritanya, Bi Lan, dan......eh, engkau mencari siapakah, nyonya?

Koan Tek mengalihkan pembicaraannya kepada Liu Hwa yang nampak kebingungan dan mencari-cari dengan pandang matanya

Saya mencari Siong Ki! Di mana dia

Siong Ki......! Siong Ki, di mana engkau.......?

Siapa Siong Ki?

tanya Koan Tek heran

Dia muridku, anak laki-laki berusia enam tahun, putera dari suheng suamiku yang juga menjadi korban pembunuhan.....

Liu Hwa mencari-cari dan kini dibantu oleh Koan Tek dan diikuti pula oleh Bi Lan

Akan tetapi sia-sia saja usaha pencarian mereka

Siong Ki lenyap dan tidak meninggalkan je jak

Melihat Liu Hwa bingung dan khawatir, Koan Tek juga ikut merasa khawatir

Can Hong San itu jahat dan licik bukan main

Jangan-jangan dia yang menculik anak itu dan membawanya lari.

Liu Hwa mengerutkan alisnya mengingat-ingat, lalu menggeleng kepalanya

Kurasa tidak begitu

Agaknya anak itu memang.......sengaja hendak meninggalkan saya, tai hiap

Tadi, ketika pemuda itu muncul, sebelum tai-hiap datang pemuda itu menyebut-nyebut nama tai-hiap sebagai pembunuh ayah Siong Ki

Ole h karena itu,ketika tai-hiap datang dan membantuku, a gaknya dia lalu diam-diam pergi meninggalkan aku

Dia anak yang cerdik sekali, tai-hiap

Aku berte mu dengan dia di depan makam ayahnya dalam keadaan pingsan, lalu kuajak dia sebagai muridku.

Hemmm.......

Lie Koan Tek menggumam marah kepada Hong San

Hong San memang dapat melakukan kejahatan apa saja

Biar nanti aku yang membantumu mencari anak itu, nyonya

Sekarang perkenalkan, ini keponakanku bernama Bi Lan, pute ri dari enciku

Bi Lan, ini adalah nyonya.......

Namaku Poa Liu Hwa, adik Bi Lan

Terima kasih atas pertolonganmu tadi sehingga pemuda yang jahat sekali itu dapat diusir,

kata Liu Hwa

Aih, enci jangan terlalu sungkan

Aku hanya kebetulan lewat dan melihat enci dan paman didesak, maka aku te ntu saja segera membantu

Masih untung ada paman dan enci sendiri, kalau aku seorang diri harus melawannya, kurasa aku tidak akan mampu menang.

Akan tetapi kulihat ilmu kepandaianmu sudah maju pesat, Bi Lan, dan bukan sepenuhnya ilmu silat Siauw-lim-pai

Oya, bagaimana dengan ibumu

Sekarang di manakah ia tinggal?

Ditanya tentang ibunya, Bi Lan menarik napas panjang

Aih

paman

Ibu sudah meninggal lima tahun lebih yang lalu.

Ah, kasihan! Engkau menjadi yatim piatu....

Karena kematian ibu itulah aku lalu pergi mencarimu, paman

Aku hidup sebatangkara setelah ibu meninggal, dan satu-satunya keluarga hanyalah paman

Akan te tapi, sia-sia aku mencari paman.......

Tentu saja

Aku ditangkap pemerintah dan dipenjarakan, bagaimana engkau dapat menemukan aku

Lalu, bagaimana engkau sampai le wat di s ini

Ceritakanlah pengalamanmu, Bi Lan

Setelah itu, baru nanti kuceritakan semua pengalamanku dan tentang nyonya ini.

Mereka lalu memilih tempat yang te duh di bawah sebatang pohon besar di dalam hutan itu

Mereka duduk di atas batu dan Bi Lan menceritakan pengalamannya

Kwa Bi Lan adalah seorang gadis Siauw-lim-pai pula, pute ri tunggal dari kakak perempuan Lie Koan Tek

Ibunya seorang janda karena ayahnya sejak ia kecil telah meninggal dunia

Ketika ibunya meninggal dunia, Bi Lan menjadi sebatangkara

Ia lalu meninggalkan rumahnya, bahkan menjual semua miliknya dan mulai merantau mencari pamannya, satu-satunya keluarga yang ada

Namun, segala jerih payahnya sia-sia belaka karena ia tidak pernah berhasil menemukan pamannya yang menjadi buruan pemerintah karena Siauw-lim-pai dianggap sebagai pemberontak oleh pemerintah Kerajaan Sui yang ketika itu belum jatuh

Setelah hampir putus-asa mencarimu, paman, pada suatu hari aku hampir celaka menghadapi segerombolan perampok

Untung ada bintang penolong, yang kemudian menjadi guruku

Dia adalah Sin-tiauw Liu Bhok Ki.

Ah, dia seorang pendekar besar!

kata Lie Koan Tek

Namanya terkenal sekali di dunia persilatan.

Aku menjadi muridnya, bahkan kemudian aku dijodohkan oleh suhu kepada seorang muridnya yang ketika itu belum pernah kujumpai karena murid itu sudah turun gunung

Karena suhu amat baik kepadaku, seolah menjadi pengganti orang tuaku, maka akupun menurut saja, yakin bahwa suhu tentu telah mengatur sebaiknya untuk diriku

Akan tetapi....

Bagaimana selanjutnya, Bi Lan?

tanya Koan Tek yang melihat wajah gadis itu berubah muram

Ternyata kemudian bahwa suhengku yang menjadi calon suamiku itu, yang ketika itu sudah menyetujui, di luar tahu suhu te lah menikah dengan seorang wanita lain

Mendengar berita itu kemudian, suhu menjadi marah sekali, juga menjadi sakit hati

Akan tetapi dia tidak mampu berbuat sesuatu, karena dia maklum bahwa ketika itu kepandaian murid pertama itu sudah jauh lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri

Agaknya, kalau tidak ada aku, suhu te ntu telah membunuh diri

Dia merasa dikhianati, merasa tidak dipandang dan hina oleh muridnya sendiri yang amat disayang dan dibanggakan

Aku merasa kasihan sekali, aku menangis dan menderita batin bersama suhu

Sejak mudanya suhu sudah banyak menderita karena ditinggal isterinya yang tercinta.! Suhu tidak mempunyai anak, tidak mempunyai siapa-siapa

Akhirnya......sudah kehendak Thian agaknya, kami........maksudku, suhu dan aku......

kami menikah dan menjadi suami isteri.

Gadis itu menghentikan ceritanya sambil menundukkan muka

Koan Tek memandang heran, akan te tapi tidak sampai hati untuk memberi komentar

Posting Komentar