Pergi
Sekarang juga, subo?
Liu Hwa mengangguk
Sekarang ini juga, kita pergi meninggalkan dusun kita dan pergi menyusul Cin Cin.
Tentu saja Siong Ki merasa heran
Malam itu biarpun ada bulan, namun te tap saja cuaca hanya remang-remang
Mengapa subonya demikian te rgesa-gesa
Akan tetapi dia tidak berani membantah
Baik subo
Mari!
Dia lari ke makam ayahnya, memberi hormat lagi untuk yang terakhir kalinya, kemudian membawa buntalan pakaiannya dan berjalan di samping subonya
Ketika Siong Ki hendak mengambil jalan keluar dari pintu gerbang, Liu Hwa memegang tangannya, dan menariknya ke kiri
Kita ambil jalan ini saja, Siong Ki.
Kembali anak itu te rheran
Jalan keluar dari dusun itu memang ada beberapa buah, a kan tetapi yang paling enak adalah jalan keluar melalui pintu gerbang
Akan te tapi subonya mengajak ia keluar dari dusun melalui jalan setapak yang penuh semak belukar! Akan tetapi diapun tidak berani banyak bertanya dan dengan hati-hati mereka keluar dari dusun itu
Sama sekali Poa Liu Hwa tidak pernah menduga bahwa hanya tiga hari setelah dia pergi, Sim Lan Ci dan Thian Ki datang ke dusun itu pula! Kalau saja hal itu terjadi, pasti jalan hidupnya akan menjadi lain! Hati Liu Hwa menjadi lega setelah mereka keluar dari dusun dan tiba di le reng bukit
Matahari pagi memandikan bumi dengan cahayanya yang hangat dan segar menghidupkan
Biar pun merasa lelah sekali karena selain baru saja mengalami ancaman malapetaka dan te rpendam kedukaan, apa lagi semalam sama sekali tidak tidur, namun Liu Hwa tidak mau berhenti berjalan
Siong Ki berjalan di sebelahnya sambil menggendong buntalan pakaiannya
Kantung berisi emas dan perak oleh Liu Hwa juga dititipkan kepadanya dalam buntalan
Hanya pedang itu kini tergantung di punggung nyonya muda itu
Sudah sejak malam tadi Liu Hwa melihat betapa anak itu kelelahan, juga mungkin sekali kelaparan
Namun, biarpun jalannya kadang te rhuyung, anak itu sama sekali tidak pernah mengeluh
Hal ini saja membuat Liu Hwa semakin suka kepada anak yang kini menjadi muridnya itu
Anak ini keras hati dan tabah bukan main, pikirnya
Ia merasa kasihan akan te tapi tidak mau mengajak Siong Ki berhenti karena ia khawatir kalau sampai bertemu dengan Lie Koan Tek yang ingin dihindarinya
Ia sendiri juga le lah, akan tetapi ia memaksa diri untuk melewati sebuah bukit lagi, baru akan mengaso dan mencari makanan
Ketika ia mulai mendaki bukit itu dan tiba di sebuah hutan kecil, tiba-tiba saja di depannya muncul seorang pria muda yang tam pan sekali
Usianya sekitar duapuluh tujuh tahun, tubuhnya sedang dan dia mengenakan pakaian pelajar yang mewah
Wajahnya tampan dan ganteng, dengan hidung besar mancung, bibir merah seperti diberi pemerah bibir, matanya hitam sekali maniknya
Dan kepalanya yang berambut hitam tebal itu te rtutup sebuah caping le bar
Di pinggangnya te rselip sebatang suling dan melihat penampilannya, Liu Hwa menduga bahwa pemuda ini tentu seorang pemuda kaya yang te rpelajar
Namun kemunculannya yang tiba-tiba itu mengejutkan hatinya dan ia memandang dengan khawatir
Pemuda itu bukan lain adalah Can Hong San
Setelah dia berpis ah dari Pangeran Cian Bu Ong dan memperoleh sekantung emas, Hong San lalu sengaja pergi ke dusun Ta-bun-cung
Dia masih merasa penasaran, ingin melihat apa yang te rjadi di dusun itu, terutama sekali dia ingin mencari Lie Koan Tek, pendekar Siauw-lim-pai bekas rekannya itu yang dia lihat melarikan seorang wanita cantik ketika mereka menyerbu dusun itu
Kini, bertemu dengan Liu Hwa dan seorang anak laki-laki, dia segera mengenal wanita itu sebagai wanita yang pernah dilarikan Lie Koan Tek, maka cepat dia menghadang wanita itu dan dia tersenyum girang ketika melihat bahwa wanita yang usianya sekita tigapuluh tahun ini juga cukup cantik untuk menggelitik wataknya yang memang mata keranjang.! Hong San tersenyum dan wajahnya nampak tampan dan menarik sekali
Karena sikapnya memang sopan dan halus Liu Hwa juga te rsenyum malu-malu dan nyonya ini menggandeng tangan Siong Ki untuk diajak melewati pemuda itu sambil membungkukkan tubuh sebagai penghormatan
Melihat ini, Hong San cepat melangkah dan menghadang lagi
Perlahan dulu, enci
Kalau aku tidak salah sangka, enci tentu datang dari dusun Ta-bun-cung, bukan?
Dia mengangkat kedua tangan memberi hormat
Melihat sikap yang sopan dan ramah itu, Liu Hwa membalas penghormatan pemuda itu dan menjawab,
Benar, kongcu
Kami memang penduduk Ta-bun-cung.
Bukankah enci wanita yang dilarikan oleh Lie Koan Tek malam itu?
Bukan main kagetnya Liu Hwa mendengar pertanyaan itu dan ia memandang Hong San dengan pernuh perhatian
Malam terjadinya penyerbuan di dusun itu te rlalu gelap sehingga ia tidak mengenal para penyerangnya
Bagaimana engkau bisa tahu, kongcu?
tanyanya penuh selidik
Ha-ha-ha, aku tahu segalanya, enci
Beberapa malam yang lalu, He k-houw-pang di dusun Tabun-cung diserbu oleh pembunuh-pembunuh bayaran, bukan
Dan seorang di antara para pembunuh itu adalah Lie Koan Tek
Kemudian, setelah membunuhi banyak orang, mungkin yang te rbanyak di antara rekan-rekannya, Lie Koan Tek agaknya te rtarik kepadamu dan membawamu lari! Apakah kini Lie Koan Tek sudah bosan denganmu dan membiarkanmu pergi, enci yang baik?
Wajah Liu Hwa menjadi merah sekali
Merah karena marah dan merah karena malu
Juga ia merasa dihina ole h pemuda halus ini
Tidak! Lie Koan Tek adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai yang gagah dan bukan pembunuh bayaran
Dia telah tertipu
Juga dia melarikan aku karena dia ingin menyelamatkan aku!
Ha-ha-ha-ha! Enci yang baik, agaknya engkau telah tergila-gila kepada pembunuh itu! Aku yang le bih tahu bahwa dialah yang membunuh banyak tokoh Hek-houw-pang!
Paman yang baik, apakah Lie Koan Tek itu pula yang te lah membunuh ayahku
Ayahku bernama The Ci Kok, dia suheng dari mendiang ketua He khouw-pang....
Siong Ki!
Liu Hwa menegur muridnya
The Ci Kok
Ha, siapa lagi yang membunuhnya kalau bukan Lie Koan Tek
Aku melihatnya sendiri....
Engkau bohong! Sudahlah, jangan mengganggu kami
Kami akan melanjutkan perjalanan kami!
Liu Hwa kini berkata dengan marah
Mari, Siong Ki, kita pergi!
Ia menggandeng tangan muridnya dan menariknya pergi
Nanti dulu, enci yang manis
Engkau cukup manis untuk menemaniku
Jangan kau pergi dulu
Kalau anak ini mau pergi, biarkan dia pergi, akan tetapi engkau harus menemaniku bercakap-cakap
Aku kesepian sekali, enci yang manis.
Kini tahulah Liu Hwa dengan orang macam apa ia berhadapan
Biarpun pemuda ini amat tampan dan dapat bersikap halus dan ramah, namun ia dapat menduga bahwa pemuda ini adalah seorang pria yang suka memandang rendah dan mempermainkan wanita
Singg...!
Ia mencabut pedangnya dan matanya mencorong marah
Manusia rendah, jangan ganggu kami atau te rpaksa aku akan menggunakan pedang ini!
Akan te tapi tentu saja gerakan itu merupakan sesuatu yang lucu bagi Hong San sehingga dia te rtawa
Ha-ha-ha, sungguh aneh dan lucu
Seekor kelinci betina yang gemuk mengancam seekor harimau! Ha-ha-ha !
Liu Hwa tidak sabar lagi dan iapun menggerakkan pedangnya menusuk ke arah dada pemuda yang kurang ajar itu
Akan tetapi, dengan amat mudahnya Hong San mengelak dan sekali tangannya bergerak, dia telah menyentuh dada Liu Hwa secara kurang ajar sekali
I hhhh......!
Liu Hwa menjerit dan meloncat ke belakang
Wajahnya menjadi merah karena malu dan marah, akan tetapi iapun terkejut karena tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang lawan yang amat lihai
lapun menjadi nekat dan dengan ganas wanita itu memutar pedangnya melakukan penyerangan bertubi-tubi
Namun, semua serangan itu dapat dihindarkan dengan amat mudahnya oleh Hong San
Kalau pemuda ini menghendaki, dalam satu dua jurus saja tentu ia mampu merobohkan Liu Hwa
Akan tetapi watak pemuda ini memang aneh
I a ingin menjadi seperti seekor kucing mempermainkan tikus
Dia akan membekuk wanita ini setelah mempermainkannya
Ia hanya mengelak, menangkis sambil mencolek dagu, dada, mengelus pipi sambil tertawa, membuat Liu Hwa menjadi semakin marah dan nekat
Siong Ki melihat ini dengan alis berkerut
Hatinya kecewa
Wanita yang diangkatnya sebagai guru itu te rnyata tidak berdaya sama sekali melawan pemuda itu! Mempunyai guru se le mah itu sungguh tidak ada untungnya baginya
Can Hong San, jangan kurang ajar kau!
tibatiba te rdengar bentakan dan muncullah Lie Koan Tek yang langsung menyerang dengan rantai baja yang selalu dipakai sebagai ikat pinggang
Pendekar ini menanti Liu Hwa di luar pintu gerbang
Ketika pagi tadi dia tidak melihat Liu Hwa keluar dia lalu mencari-cari, menyusul ke tanah kuburan dan melihat bekas peralatan sembahyang
Ketika dia tidak menemukan lagi wanita itu di dusun, tahulah dia bahwa Liu Hwa tentu telah pergi meninggalkan dusun, meninggalkan dia melalui jalan lain
Dia cepat melakukan pengejaran dengan hati merasa aneh dan heran
Mengapa Liu Hwa meninggalkan dia
Andaikan tidak ingin bersamanya, setidaknya wanita itu akan memberi tahu kepadanya lebih dulu
Akhirnya dia menemukan Liu Hwa yang sedang dipermainkan oleh Hong San
Biarpun dia tahu bahwa Hong San amat lihai, melihat wanita yang telah menjatuhkan hatinya itu dipermainkan, dia menjadi marah dan langsung menyerang dengan rantai bajanya
Hong San meloncat ke belakang dan mencabut sulingnya
Ha-ha , Lie Koan Tek!
Engkau pengkhianat besar
Engkau hendak melindungi wanita yang kau larikan ini, ya
Bagus, aku memang sedang mencarimu untuk memberi hukuman atas nama Pangeran Cian Bu Ong!
Lie Koan Tek yang sudah nekat itu tidak menjawab melainkan segera menyerang dengan dahsyatnya
Liu Hwa tidak mau tinggal diam dan iapun membantu pendekar Siauw-lim-pai itu dengan pedangnya