Naga Beracun Chapter 21

NIC

Plakk!

Dipukul pundaknya, si codet te rpelanting

Tentu saja dia marah sekali dan mencabut golok, lalu meloncat bangun dan hendak menyerang pemukulnya

Akan te tapi, begitu dia mengenal Koan Tek, mukanya yang codet menjadi pucat

Dia mengenal pendekar ini yang membuat dia dan belasan orang kawannya lari tungganglanggang tiga hari yang lalu

Akan tetapi, dia tidak mungkin dapat lari lagi, maka te rpaksa dia memberanikan diri dan menyerang dengan bacokan goloknya ke arah kepala Koan Tek

Pendekar ini menggeser kaki sehingga tubuhnya miring dan ketika golok lawan meluncur le wat di samping tubuhnya, dia cepat menggerakkan tangan memukul pundak kanan lawan

Krekkkl

Tulang pundak itu hancur

Golok te rlepas dan si codet yang berteriak kesakitan hendak melarikan diri

Akan te tapi sebuah te ndangan membuat sambungan lutut kanannya te rlepas dan diapun roboh tak mampu bangkit lagi, hanya duduk dan mengaduh-a duh dengan muka pucat ketakutan

Lie Koan Tek tidak berhenti sampai disitu saja

Dia berkelebat ke sana-sini dan terdengar teriakante riakan ketika empat orang penjahat yang lain roboh terpukul olehnya

Ada yang remuk tulang le ngan atau kakinya, ada yang benjol-benjol kepalanya atau matang biru mukanya

Akan tetapi mereka semua tidak mampu melarikan diri lagi dan hanya mengaduh-aduh, ada pula yang pingsan

Lie Koan Tek tidak memperdulikan penduduk yang datang berlarian ke te mpat itu, juga tidak memperdulikan anggota perampok yang lain

Dia menyeret tubuh si codet dan membawanya lari keluar dari dusun

Si codet merintih-rintih ketakutan dan minta-minta ampun, Namun Koan Tek tidak perduli dan te rus menyeretnya keluar dusun sampai tiba di te mpat sepi, baru dia melepaskan cengkeramannya sehingga tubuh si codet terhempas ke atas tanah

Ampun......ampunkan hamba......,tai-hiap.......

kata si codet sambil berlutut menyembah- nyembah

Mudah saja mengampuni dan membunuhmu, akan te tapi cepat katakan di mana adanya nyonya yang kalian rampok tiga hari yang lalu itu

Katakan dengan sejujurnya kalau engkau tak ingin kusiksa sampai mati!

Ampun, tai-hiap

Bukan saya yang mengganggunya, akan te tapi nyonya itu dibawa pergi oleh toako........, ampunkan saya.......

Siapa itu toako?

It-gan Tiat-gu......

Di mana dia sekarang

Nyonya itu dibawa ke mana

Hayo katakan sejujurnya.

Mungkin ke sarangnya yang baru......Saya.....saya hanya menjadi pembantunya sementara saja, dan malam itu..

dia pergi melarikan nyonya itu......

Hemm, cepat antarkan aku ke sarangnya!

Jauh sekali, tai-hiap, perjalanan sehari penuh.....

Cerewet! Kau ingin mampus!

Koan Tek menendang dan tubuh orang itu te rle mpar sampai beberapa meter jauhnya

Dia mengerang dan merangkak bangun

Ampun, saya....

saya mau mengantarkan taihiap, tapi..........

saya takut, tentu dia akan marah kepada saya dan membunuh saya.

Huh, ada aku di sini, tidak perlu takut

Kalau engkau mengantar aku sampai berhasil menemukan nyonya itu, aku akan mencegah dia membunuhmu

Sebaliknya, kalau engkau tidak memenuhi permintaanku, engkau akan kusiksa sampai mati

Hayo cepat!

Si codet itu takut sekali dan diapun cepat bangkit lalu menjadi penunjuk jalan

Lie Koan Tek berjalan di belakangnya dan mendorong-dorongnya sehingga si codet, walaupun menderita nyeri di pundaknya, terpaksa berlari-lari

Untung bahwa karena gelisah memikirkan keselamatan Poa Liu Hwa, Koan Tek memaksa si codet berlari-lari sehingga dia tidak datang te rlambat

Karena kepala perampok yang berjuluk It-Gan Tiat-gu (Kerbau Besi Mata Satu) itu, setelah berhasil melarikan Liu Hwa dan meninggalkan Koan Tek dikeroyok anak buahnya, melakukan perjalanan yang santai menuju ke sarangnya, puncak sebuah bukit yang sunyi

Dia telah menotok wanita tawanannya itu hingga Liu Hwa tidak mampu meronta, tidak mampu pula berte riak

Dengan hati bangga dan girang, si mata satu itu memondong tubuh Liu Hwa, dibawa ke sarangnya dengan jalan kaki biasa saja tidak berlari-lari

Dia bangga karena telah berhasil menawan isteri ketua Hek-houw-pang dan akan memaksa wanita itu menjadi isterinya

Masih ada belasan orang anak buahnya di sarang itu

Mereka menyambut kedatangan It-gan Tiat-gu dengan gembira apa lagi ketika melihat bahwa wanita yang ditawan pemimpin mereka adalah isteri ketua Hek-houw-pang!

Siapkan pesta

Malam ini aku akan menikah dengan isteri ketua He k-houw-pang

Ha ha-ha!

Itgan Tiat-gu berkata lantang kepada anak buahnya dengan bangga, dan anak buahn ya yang belasan orang itupun tertawa gembira

Karena It-gan Tiat-gu hanya berjalan, sedangkan si codet yang didorong oleh Koan Tek itu berlarilari, maka tidak jauh selisih waktu antara kedatangan It-gan Tiat-gu dan mereka berdua di puncak bukit itu

Mereka tiba di puncak itu pada sore hari dan segera belas an orang anak buah Kerbau Besi Mata Satu yang tentu saja mengenal si codet sebagai rekan mereka

Melihat si codet datang sambil meringis kesakitan dan memegangi pundaknya, mereka segera merubungnya dan bertanya-tanya

Si codet maklum bahwa sedikit saja ia mengkhianati pendekar yang menawannya, pendekar itu tentu akan membunuhnya

Maka ketika kawan-kawannya membanjirinya dengan pertanyaan, dia menggerakkan tangan dengan tidak sabar

Sudahlah, jangan banyak bertanya dulu

Aku ingin menghadap toako, di mana dia

Aku akan melaporkan sesuatu yang amat penting.

Aihhh, toako sedang bersenang-senang dengan calon isterinya, jangan diganggu,!

kata seorang di antara mereka sambil menunjuk ke arah sebuah pondok tak jauh dari situ

Malam nanti kita pesta untuk pernikahan toako, ha-ha-ha!

kata yang lain

Mendengar ini, tanpa menanti lagi Lie Koan Tek meloncat ke depan pondok dan sekali tendang, daun pintu pondok itu roboh dan diapun menyerbu ke dalam

Apa yang dilihatnya di dalam kamar pondok itu membuat wajah Koan Tek jadi merah saking marahnya

Dia melihat Liu Hwa rebah telentang dalam kedaan te rtotok dan pakaiannya tidak karuan, karena It-gan Tiat-gu sedang te rkekehkekeh sambil mulai membukai pakaian wanita itu

Ehh?

It-gan Tiat-gu terkejut bukan main ketika tiba-tiba pintu pondok jebol

Dia meloncat sambil menyambar senjatanya, sebatang golok yang tadi ditaruh di atas meja

Dia terkejut ketika mengenal pria yang tadi mengamuk dan dikeroyok oleh anak buahnya

Jahanam busuk!

Koan Tek membentak dan biarpun lawan memegang golok dia tidak takut dan bahkan Koan Tek yang menyerang dengan dahsyatnya

Mata Satu menyambutnya dengan bacokan golok ke arah kepalanya

Koan Tek miringkan tubuh menghindar, dan tangannya terus melanjutkan serangannya dengan pukulan tangan te rbuka ke arah dada It-gan Tiat-gu

Kepala perampok itu mengelak dengan loncatan ke samping dan goloknya berkelebat, kini membabat ke arah pinggang tokoh Siauw-lim-pai itu

Koan Tek yang sudah marah bukan main melihat penjahat ini tadi nyaris memperkosa wanita yang selalu berada dalam ingatannya itu, menyambut serangan golok dengan te ndangan kaki dari samping

Trangggg....!

Golok terlepas dan membentur dinding

It-gan Tiat-gu terkejut bukan main dan merasa jerih, hendak melarikan diri

Akan tetapi Koan Tek mendahuluinya dengan tendangan yang mengenai belakang lututnya, kepala perampok itupun terpelanting

Sebelum dia sempat bangun, kaki Koan Tek menyusulkan tendangan yang diarahkan ke te ngkuknya

Krekkkk!

Patahlah tulang leher It-gan Tiat-gu dan diapun te was seketika

Pada saat itu, anak buah perampok sudah menyerbu dari luar pondok

Koan Tek cepat meloncat ke dekat pembaringan dan sekali tangannya bergerak, bebaslah totokan pada diri Liu Hwa

Sebelum wanita ini sempat berkata sesuatu, Koan Tek sudah meloncat keluar lagi dan mengamuklah dia dikeroyok belasan orang anak buah perampok itu

Dia melihat bahwa si codet yang tadi dipaksanya mengantar telah tewas, te ntu dibunuh oleh rekan-rekannya sendiri setelah dia lari menjebol daun pintu tadi

Lie Koan Tek mengamuk dan biarpun ia bertangan kosong, belas an orang anak buah perampok itu bukan tandingannya

Mereka kocarkacir dan le bih-lebih ketika Liu Hwa muncul dari dalam pondok memegang sebatang golok milik Itgan Tiat-gu

Kini pakaian Liu Hwa telah rapi kembali dan dengan golok di tangan, wanita ini mengamuk membantu Koan Tek

Tentu saja para perampok menjadi gentar dan merekapun lari cerai-berai meninggalkan yang terluka

Mereka saling pandang, berhadapan dalam jarak tiga meter

Lalu tiba-tiba Liu Hwa melepaskan goloknya, lari menghampiri Koan Tek dan menjatuhkan diri sambil menangis

Koan Tek cepat menyambutnya, memegang kedua pundaknya dan menariknya berdiri, melarangnya berlutut

Liu Hwa kini menangis di atas dada pendekar Siauw-lim-pai itu

Hampir saja kepala perampok mata satu itu memperkosanya

Ia sudah tidak berdaya sama sekali

Dalam saat te rakhir, muncul pula pendekar Siauw-lim-pai ini menyelamatkannya

Ia begitu bersyukur, te rharu dan juga bersedih karena ia te ringat lagi akan keadaannya yang kehilangan seluruh keluarganya, maka ia lupa diri dan menangis di atas dada yang bidang itu

Koan Tek juga seperti lupa, dengan sendirinya mendekap dan mengelus rambutnya dengan perasaan penuh kasih sayang! Setelah menumpahkan perasaan haru dan dukanya, Liu Hwa sadar akan dirinya dan iapun melepaskan diri, melangkah dua tindak ke belakang dan mukanya berubah merah sekali

Ahhh.......apa yang kulakukan......aih, tai-hiap, maafkan aku........aku te lah membuat bajumu basah.....

katanya memandang kepada baju pendekar itu yang basah di bagian dada oleh air matanya

Koan Tek te rsenyum

Tidak apa, engkau memang perlu dapat menangis sepuas hatimu, nyonya

Nah, marilah kita melanjutkan perjalanan

Kuantar engkau sampai ke dusunmu.

Liu Hwa mengangguk dan merekapun kini meninggalkan bukit itu, menuju dusun Ta-buncung

Malam telah tiba ketika mereka tiba di luar dusun, dan di luar pintu gerbang yang nampak sunyi, Koan Tek berhenti

Nyonya, pergilah engkau ke dalam

Aku le bih baik menanti saja di sini

Mereka tentu mengenaliku sebagai seorang di antara para penyerbu, dan mereka akan menyerangku.

Tidak, tai-hiap

Mari masuk saja, biar aku yang akan memberi penjelasan kepada mereka nanti,

kata Liu Hwa, akan tetapi Koan Tek merasa tidak enak

Posting Komentar