Plakk!
Dipukul pundaknya, si codet te rpelanting
Tentu saja dia marah sekali dan mencabut golok, lalu meloncat bangun dan hendak menyerang pemukulnya
Akan te tapi, begitu dia mengenal Koan Tek, mukanya yang codet menjadi pucat
Dia mengenal pendekar ini yang membuat dia dan belasan orang kawannya lari tungganglanggang tiga hari yang lalu
Akan tetapi, dia tidak mungkin dapat lari lagi, maka te rpaksa dia memberanikan diri dan menyerang dengan bacokan goloknya ke arah kepala Koan Tek
Pendekar ini menggeser kaki sehingga tubuhnya miring dan ketika golok lawan meluncur le wat di samping tubuhnya, dia cepat menggerakkan tangan memukul pundak kanan lawan
Krekkkl
Tulang pundak itu hancur
Golok te rlepas dan si codet yang berteriak kesakitan hendak melarikan diri
Akan te tapi sebuah te ndangan membuat sambungan lutut kanannya te rlepas dan diapun roboh tak mampu bangkit lagi, hanya duduk dan mengaduh-a duh dengan muka pucat ketakutan
Lie Koan Tek tidak berhenti sampai disitu saja
Dia berkelebat ke sana-sini dan terdengar teriakante riakan ketika empat orang penjahat yang lain roboh terpukul olehnya
Ada yang remuk tulang le ngan atau kakinya, ada yang benjol-benjol kepalanya atau matang biru mukanya
Akan tetapi mereka semua tidak mampu melarikan diri lagi dan hanya mengaduh-aduh, ada pula yang pingsan
Lie Koan Tek tidak memperdulikan penduduk yang datang berlarian ke te mpat itu, juga tidak memperdulikan anggota perampok yang lain
Dia menyeret tubuh si codet dan membawanya lari keluar dari dusun
Si codet merintih-rintih ketakutan dan minta-minta ampun, Namun Koan Tek tidak perduli dan te rus menyeretnya keluar dusun sampai tiba di te mpat sepi, baru dia melepaskan cengkeramannya sehingga tubuh si codet terhempas ke atas tanah
Ampun......ampunkan hamba......,tai-hiap.......
kata si codet sambil berlutut menyembah- nyembah
Mudah saja mengampuni dan membunuhmu, akan te tapi cepat katakan di mana adanya nyonya yang kalian rampok tiga hari yang lalu itu
Katakan dengan sejujurnya kalau engkau tak ingin kusiksa sampai mati!
Ampun, tai-hiap
Bukan saya yang mengganggunya, akan te tapi nyonya itu dibawa pergi oleh toako........, ampunkan saya.......
Siapa itu toako?
It-gan Tiat-gu......
Di mana dia sekarang
Nyonya itu dibawa ke mana
Hayo katakan sejujurnya.
Mungkin ke sarangnya yang baru......Saya.....saya hanya menjadi pembantunya sementara saja, dan malam itu..
dia pergi melarikan nyonya itu......
Hemm, cepat antarkan aku ke sarangnya!
Jauh sekali, tai-hiap, perjalanan sehari penuh.....
Cerewet! Kau ingin mampus!
Koan Tek menendang dan tubuh orang itu te rle mpar sampai beberapa meter jauhnya
Dia mengerang dan merangkak bangun
Ampun, saya....
saya mau mengantarkan taihiap, tapi..........
saya takut, tentu dia akan marah kepada saya dan membunuh saya.
Huh, ada aku di sini, tidak perlu takut
Kalau engkau mengantar aku sampai berhasil menemukan nyonya itu, aku akan mencegah dia membunuhmu
Sebaliknya, kalau engkau tidak memenuhi permintaanku, engkau akan kusiksa sampai mati
Hayo cepat!
Si codet itu takut sekali dan diapun cepat bangkit lalu menjadi penunjuk jalan
Lie Koan Tek berjalan di belakangnya dan mendorong-dorongnya sehingga si codet, walaupun menderita nyeri di pundaknya, terpaksa berlari-lari
Untung bahwa karena gelisah memikirkan keselamatan Poa Liu Hwa, Koan Tek memaksa si codet berlari-lari sehingga dia tidak datang te rlambat
Karena kepala perampok yang berjuluk It-Gan Tiat-gu (Kerbau Besi Mata Satu) itu, setelah berhasil melarikan Liu Hwa dan meninggalkan Koan Tek dikeroyok anak buahnya, melakukan perjalanan yang santai menuju ke sarangnya, puncak sebuah bukit yang sunyi
Dia telah menotok wanita tawanannya itu hingga Liu Hwa tidak mampu meronta, tidak mampu pula berte riak
Dengan hati bangga dan girang, si mata satu itu memondong tubuh Liu Hwa, dibawa ke sarangnya dengan jalan kaki biasa saja tidak berlari-lari
Dia bangga karena telah berhasil menawan isteri ketua Hek-houw-pang dan akan memaksa wanita itu menjadi isterinya
Masih ada belasan orang anak buahnya di sarang itu
Mereka menyambut kedatangan It-gan Tiat-gu dengan gembira apa lagi ketika melihat bahwa wanita yang ditawan pemimpin mereka adalah isteri ketua Hek-houw-pang!
Siapkan pesta
Malam ini aku akan menikah dengan isteri ketua He k-houw-pang
Ha ha-ha!
Itgan Tiat-gu berkata lantang kepada anak buahnya dengan bangga, dan anak buahn ya yang belasan orang itupun tertawa gembira
Karena It-gan Tiat-gu hanya berjalan, sedangkan si codet yang didorong oleh Koan Tek itu berlarilari, maka tidak jauh selisih waktu antara kedatangan It-gan Tiat-gu dan mereka berdua di puncak bukit itu
Mereka tiba di puncak itu pada sore hari dan segera belas an orang anak buah Kerbau Besi Mata Satu yang tentu saja mengenal si codet sebagai rekan mereka
Melihat si codet datang sambil meringis kesakitan dan memegangi pundaknya, mereka segera merubungnya dan bertanya-tanya
Si codet maklum bahwa sedikit saja ia mengkhianati pendekar yang menawannya, pendekar itu tentu akan membunuhnya
Maka ketika kawan-kawannya membanjirinya dengan pertanyaan, dia menggerakkan tangan dengan tidak sabar
Sudahlah, jangan banyak bertanya dulu
Aku ingin menghadap toako, di mana dia
Aku akan melaporkan sesuatu yang amat penting.
Aihhh, toako sedang bersenang-senang dengan calon isterinya, jangan diganggu,!
kata seorang di antara mereka sambil menunjuk ke arah sebuah pondok tak jauh dari situ
Malam nanti kita pesta untuk pernikahan toako, ha-ha-ha!
kata yang lain
Mendengar ini, tanpa menanti lagi Lie Koan Tek meloncat ke depan pondok dan sekali tendang, daun pintu pondok itu roboh dan diapun menyerbu ke dalam
Apa yang dilihatnya di dalam kamar pondok itu membuat wajah Koan Tek jadi merah saking marahnya
Dia melihat Liu Hwa rebah telentang dalam kedaan te rtotok dan pakaiannya tidak karuan, karena It-gan Tiat-gu sedang te rkekehkekeh sambil mulai membukai pakaian wanita itu
Ehh?
It-gan Tiat-gu terkejut bukan main ketika tiba-tiba pintu pondok jebol
Dia meloncat sambil menyambar senjatanya, sebatang golok yang tadi ditaruh di atas meja
Dia terkejut ketika mengenal pria yang tadi mengamuk dan dikeroyok oleh anak buahnya
Jahanam busuk!
Koan Tek membentak dan biarpun lawan memegang golok dia tidak takut dan bahkan Koan Tek yang menyerang dengan dahsyatnya
Mata Satu menyambutnya dengan bacokan golok ke arah kepalanya
Koan Tek miringkan tubuh menghindar, dan tangannya terus melanjutkan serangannya dengan pukulan tangan te rbuka ke arah dada It-gan Tiat-gu
Kepala perampok itu mengelak dengan loncatan ke samping dan goloknya berkelebat, kini membabat ke arah pinggang tokoh Siauw-lim-pai itu
Koan Tek yang sudah marah bukan main melihat penjahat ini tadi nyaris memperkosa wanita yang selalu berada dalam ingatannya itu, menyambut serangan golok dengan te ndangan kaki dari samping
Trangggg....!
Golok terlepas dan membentur dinding
It-gan Tiat-gu terkejut bukan main dan merasa jerih, hendak melarikan diri
Akan tetapi Koan Tek mendahuluinya dengan tendangan yang mengenai belakang lututnya, kepala perampok itupun terpelanting
Sebelum dia sempat bangun, kaki Koan Tek menyusulkan tendangan yang diarahkan ke te ngkuknya
Krekkkk!
Patahlah tulang leher It-gan Tiat-gu dan diapun te was seketika
Pada saat itu, anak buah perampok sudah menyerbu dari luar pondok
Koan Tek cepat meloncat ke dekat pembaringan dan sekali tangannya bergerak, bebaslah totokan pada diri Liu Hwa
Sebelum wanita ini sempat berkata sesuatu, Koan Tek sudah meloncat keluar lagi dan mengamuklah dia dikeroyok belasan orang anak buah perampok itu
Dia melihat bahwa si codet yang tadi dipaksanya mengantar telah tewas, te ntu dibunuh oleh rekan-rekannya sendiri setelah dia lari menjebol daun pintu tadi
Lie Koan Tek mengamuk dan biarpun ia bertangan kosong, belas an orang anak buah perampok itu bukan tandingannya
Mereka kocarkacir dan le bih-lebih ketika Liu Hwa muncul dari dalam pondok memegang sebatang golok milik Itgan Tiat-gu
Kini pakaian Liu Hwa telah rapi kembali dan dengan golok di tangan, wanita ini mengamuk membantu Koan Tek
Tentu saja para perampok menjadi gentar dan merekapun lari cerai-berai meninggalkan yang terluka
Mereka saling pandang, berhadapan dalam jarak tiga meter
Lalu tiba-tiba Liu Hwa melepaskan goloknya, lari menghampiri Koan Tek dan menjatuhkan diri sambil menangis
Koan Tek cepat menyambutnya, memegang kedua pundaknya dan menariknya berdiri, melarangnya berlutut
Liu Hwa kini menangis di atas dada pendekar Siauw-lim-pai itu
Hampir saja kepala perampok mata satu itu memperkosanya
Ia sudah tidak berdaya sama sekali
Dalam saat te rakhir, muncul pula pendekar Siauw-lim-pai ini menyelamatkannya
Ia begitu bersyukur, te rharu dan juga bersedih karena ia te ringat lagi akan keadaannya yang kehilangan seluruh keluarganya, maka ia lupa diri dan menangis di atas dada yang bidang itu
Koan Tek juga seperti lupa, dengan sendirinya mendekap dan mengelus rambutnya dengan perasaan penuh kasih sayang! Setelah menumpahkan perasaan haru dan dukanya, Liu Hwa sadar akan dirinya dan iapun melepaskan diri, melangkah dua tindak ke belakang dan mukanya berubah merah sekali
Ahhh.......apa yang kulakukan......aih, tai-hiap, maafkan aku........aku te lah membuat bajumu basah.....
katanya memandang kepada baju pendekar itu yang basah di bagian dada oleh air matanya
Koan Tek te rsenyum
Tidak apa, engkau memang perlu dapat menangis sepuas hatimu, nyonya
Nah, marilah kita melanjutkan perjalanan
Kuantar engkau sampai ke dusunmu.
Liu Hwa mengangguk dan merekapun kini meninggalkan bukit itu, menuju dusun Ta-buncung
Malam telah tiba ketika mereka tiba di luar dusun, dan di luar pintu gerbang yang nampak sunyi, Koan Tek berhenti
Nyonya, pergilah engkau ke dalam
Aku le bih baik menanti saja di sini
Mereka tentu mengenaliku sebagai seorang di antara para penyerbu, dan mereka akan menyerangku.
Tidak, tai-hiap
Mari masuk saja, biar aku yang akan memberi penjelasan kepada mereka nanti,
kata Liu Hwa, akan tetapi Koan Tek merasa tidak enak