Mutiara Hitam Chapter 84

NIC

Suling Emas tersenyum geli, kemudian perlahan ia merenggut saputangan yang menutupi bagian bawah mukanya.

"Bukankah kau pernah melihat wajahku di Kang-hu?"

"Benar, akan tetapi hanya sebentar saja."

Jawab Kwi Lan sambil menatap wajah yang tampan dan penuh garis-garis pengalaman pahit itu.

"Hemmm, aku tidak suka mempunyai Twa-supek yang kurang ajar"

Kata-kata terakhir ini keluar dari mulutnya seperti makian, penuh kemarahan dan penyesalan. Pada saat itu, Kwi Lan tidak hanya mendongkol teringat akan sikap Suling Emas yang dianggapnya kurang ajar ketika menyuruh ia membuka baju, juga bahkan terutama sekali karena ia mendengar bahwa tokoh ini adalah kekasih ibu kandungnya. Kalau memang kekasihnya, mengapa Suling Emas meninggalkan Ratu Khitan? Suling Emas terkejut, akan tetapi segera tersenyum,

"Hemmm, kau masih salah sangka agaknya. Engkau menganggap, aku kurang ajar karena di Kang-hu tempo hari aku menyuruh engkau membuka bajumu? Ah, anak nakal jangankan kini mengetahui bahwa engkau murid Sian Eng dan masih murid keponakanku sendiri. Andaikata tidak tahu sekalipun, aku bukanlah seorang laki-laki tua yang suka berlaku kurang ajar kepada seorang gadis remaja. Memang kusuruh engkau membuka baju, akan tetapi kata-kataku belum selesai engkau sudah terburu-buru lari dan marah. Tentu saja maksudku agar engkau membuka baju memeriksa dadamu sendiri apakah tidak mengalami luka seperti yang diderita Yu Siang Ki sebagai akibat pukulan lihai dari Pak-kek Sian-ong."

Merah wajah Mutiara Hitam. Memang setelah ia lari dengan marah-marah, di tengah jalan ia mengenang kembali peristiwa itu dan ia pun mengerti apa yang dimaksudkan oleh pendekar ini. Akan tetapi dasar wataknya yang keras, ia tidak mau mengakui begitu saja tentang kekeliruan dugaannya.

"Huh, kakek gila tua bangka itu mana mampu begitu mudah melukai aku? Yu Siang Ki bodoh dan kurang waspada maka dapat terluka. Aku tidak luka apa-apa"

Suling Emas mula-mula heran dan kagum mendengar ini, kemudian ia mengangguk-angguk.

"Agaknya engkau telah mewarisi ilmu kepandaian Sian Eng yang amat aneh maka engkau dapat terhindar dari pukulan jarak jauh Pak-kek Sian-ong. Gurumu telah mewariskan ilmu kepandaian yang hebat, akan tetapi sayang kurang memperhatikan pelajaran sopan santun sehingga terhadap uwa guru sendiri engkau berlaku kurang hormat."

Biarpun mulut Suling Emas masih tersenyum namun sepasang matanya memandang penuh teguran. Sepasang mata yang bening tajam tiba-tiba memandangnya dengan penuh selidik, kemudian terdengar gadis itu bertanya, suaranya lantang dan agak menggetar perasaan.

"Suling Emas.. ada hubungan apakah antara engkau dan.. Ratu Khitan..?"

Seketika wajah yang tenang dan sudah agak pucat itu menjadi makin pucat, sepasang mata pendekar itu menyipit dan keningnya berkerut, kening tebal yang hampir bersambung setelah dikerutkan seperti itu. Pertanyaan yang tak disangka-sangkanya sama sekali ini datangnya terlalu tiba-tiba, lebih mengagetkan daripada tusukan sebuah pedang yang tajam.

"Apa..? Apa.. maksudmu..?"

Ia tergagap sambil menatap wajah gadis itu yang kini membayangkan kekerasan dan kesungguhan.

"Adakah Ratu Khitan itu dahulu pernah menjadi kekasihmu?"

Kwi Lan menyerangnya dengan langsung dan tajam. Kalamenjing di leher Suling Emas bergerak-gerak naik turun ketika ia menelan ludah seperti menelan kembali jantungnya yang meloncat naik ke tenggorokannya. Tak kuasa ia menjawab dan tanpa ia sadari, ia mengangguk sungguhpun hatinya mulai dikuasai kemarahan mendengar akan pertanyaan-pertanyaan yang lancang kurang ajar ini. Alangkah kaget dan herannya ketika ia melihat gadis ini membanting-banting kaki seperti orang marah sekali dan suara gadis itu bercampur isak.

"Kalau kau sudah merayunya sehingga dia menjadi kekasihmu, kenapa sekarang kau berada di sini dan meninggalkan dia?"

Ucapan ini disertai pandang mata yang tajam menusuk melebihi sepasang pedang pusaka sehingga Suling Emas melangkah mundur setindak. Akan tetapi pendekar besar ini sudah dapat menguasai kekagetan hatinya dan kini kemarahan membuat wajahnya yang pucat menjadi agak merah kembali, sepasang matanya memancarkan sinar berpengaruh, kedua tangannya dikepalkan. Gadis ini terlalu lancang, terlalu kurang ajar. Biarpun gadis ini murid Sian Eng, atau anak Sian Eng sekalipun, terutama sekali kalau anak Sian Eng, bocah ini tidak berhak bersikap seperti itu dan mengorek-ngorek urusan pribadinya secara demikian kurang ajar.

"Bocah kurang ajar tak tahu kesopanan"

Bentaknya marah, melangkah maju setindak, telunjuknya ditudingkan ke arah muka Kwi Lan yang memandang dengan tajam penuh tantangan.

"Lancang benar mulutmu. Apa pedulimu dengan semua urusanku dan urusan Ratu Khitan? Ada sangkut-paut apakah dengan dirimu?"

Suling Emas yakin akan kewibawaan suara dan pandang matanya, apalagi pada saat itu setelah kemarahannya bangkit dan semua tenaga sin-kang terkumpul di dadanya. Lawan yang tangguh sekalipun akan tergetar. Gadis ini sama sekali tidak keder atau takut, malah kalau tadi ia melangkah maju setindak, gadis itu kini melangkah maju dua tindak dan kalau ia menudingkan telunjuk ke arah muka gadis itu, kini gadis itu menudingkan telunjuknya ke hidung sendiri sambll menjawab ketus.

"Huh, mau tahu? Dia adalah Ibu kandungku"

Setelah berkata demikian, sambil mendengus seperti sapi betina marah, Kwi Lan membalikkan tubuhnya dan meloncat pergi dari tempat itu. Jawaban ini seperti halilintar menyambar di atas kepala. Begitu hebat keheranan dan kekagetan hati Suling Emas sehingga ia berdiri terlongong dengan muka pucat, memandang ke arah lenyapnya bayangan gadis itu. Setelah bayangan Kwi Lan lenyap, barulah Suling Emas dapat menguasai hatinya dan ia berseru.

"Heii, tunggu jangan lari.."

Akan tetapi baru saja ia menggerakkan kaki hendak lari mengejar, ia mendengar suara dua orang Panglima Khitan yang tadi pingsan oleh pukulan Thai-lek Kauw-ong dan yang kini sudah siuman kembali,

"Tai-hiap.."

Suling Emas menahan kakinya dan menengok. Benar juga, pikirnya. Mereka ini adalah Panglima-panglima Khitan, utusan Lin Lin, dari mereka ini pun aku akan dapat mendengar keterangan tentang Lin Lin dan.. gadis yang mengaku anaknya itu. Maka ia urungkan niatnya mengejar Kwi Lan karena dari sikap gadis itu ia pun merasa sangsi apakah jika dapat menyusulnya ia akan dapat memaksa gadis itu memberi penjelasan. Hatinya tenang kembali dan karena kini tidak ingin menyembunyikan diri lagi terhadap mereka, ia membuka saputangan yang menutupi mukanya dan menghadapi mereka. Begitu melihat wajah di balik saputangan, dua orang Panglima Khitan itu menjadi girang. Dahulu pernah mereka melihat Suling Emas menjadi tamu ratu mereka di Khitan dan kini mereka mengenal muka ini. Serta-merta mereka menjatuhkan diri berlutut.

"Terima kasih kami haturkan atas pertolongan Taihiap, terutama sekali karena hal ini membuktikan bahwa Taihiap masih belum melupakan sahabat-sahabat dari Khitan."

Kata Hoan Ti-ciangkun yang berjenggot panjang. Suling Emas cepat-cepat mengangkat bangun kedua panglima tua itu.

"Ji-wi Ciangkun harap bangun, aku ingin membicarakan hal penting."

Setelah mereka bangkit kemudian bersama mencari tempat duduk di tempat yang teduh, mulailah Suling Emas menceritakan maksud hatinya.

"Pertama-tama kuharap Ji-wi berjanji bahwa Ji-wi tidak akan membuka rahasiaku kepada siapapun juga. Hanya kepada Ji-wi saja aku suka memperlihatkan muka karena aku ingin minta pertolongan Ji-wi. Maukah Ji-wi berjanji takkan membuka rahasiaku sebagai Suling Emas?"

Dua orang panglima itu saling pandang, kemudian mengangguk.

"Kami berjanji."

Kata mereka berbareng.

Posting Komentar