Waktu ia memandang kebawah, orang tadi masih acuh tak acuh membaca bukunya.
Kau dara ini tampaknya lebih mendingan, kata orang itu kemudian kepada A Siu, tadi aku hanya mau hajar dia tiga puluh kali cambukan, tapi ia berani membangkang, kini hukuman harus ditambah sekali lipat menjadi enam puluh cambukan.
Nah lekas kau mulai, sembari berkata, iapun letakan Tun-kau-kiam yang dijepitnya dari Jun-yan itu keatas meja lalu membaca bukunya lagi.
Ketika menyaksikan Jun-yan tahu2 mencelat keatas terus dipantek diatas belandar, untuk sementara itu A Siu heran juga akan kepandaian orang.
Kini mendengar dirinya diharuskan mencabuk enam puluh kali kepada Jun-yan ia menjadi ragu2 katanya cepat .
Toacek apakah hukuman ini tidak terlalu berat? Berat? orang itu menegas.
Malahan menurut aku harus enam puluh kali biar ia kapok.
Biarlah selanjutnya kami takkan merecoki kau, dapatkah kau lepaskan enciku itu? pinta A Siu ramah.
Orang itu bersangsi sejenak, tanyanya kemudian .
Apakah kau muridnya Siau-jian? Bukan aku tak punya Suhu, sahut A Siu.
Orang itu meng-amat2inya sejenak, tapi katanya lagi.
Tidak, dara bandel ini harus kuhajar mewakili siau-jiau.
Kalau kau tak mau lakukan, biar kupanggil Ngo seng yang menghajarnya.
Dalam pada itu, Jun-yan yang tergantung diatas itu lagi me-ronta2 berusaha melepaskan diri, dalam hati ia mendongkol sekali kenapa A Siu tidak lekas turun tangan menolongnya, sebab ia yakin ilmu kepandaian A Siu yang tinggi itu cukup untuk melawan orang, cepat saja ia ber-kaok2 suruh A Siu turun tangan.
Dilain pihak, rupanya percakapan itu telah didengar Ngo-seng, tanpa disuruh lagi ia sudah masuk kedalam dan berseru.
Ki-locianpwe, biar kuhajar adat budak liar ini! Orang itu mengangguk setuju.
Dengan girang segera Ngo-seng hendak menjemput pecut panjang dilantai itu.
Tahan! bentak A Siu mendadak sambil kebas lengan bajunya kedepan, menyusul sebelah tangannya menyodok dada orang.
Lekas-lekas Ngo-seng hendak mundur, namun begitu angin pukulan A Siu sudah membikin tubuhnya ter-huyung2 mundur dan akhirnya jatuh duduk.
Walaupun Jun-yan sendiri ter-katung2 di-udara, tapi melihat A Siu menghajar Ngo- seng, ia tidak lupa bersorak.
Bagus! Tahu rasa kau, Thauto busuk.
Hajar lagi, A Siu! Sebaliknya orang itu rada heran melihat sekali gebrak Ngo-seng kena dirobohkan si gadis, Anak perempuan, boleh juga kepandaianmu.
Kau bernama apa dan siapa gurumu? Namaku A Siu, guru aku tidak punya, sahut A Siu ke-kanak2an, Toacek, silahkan kau turunkan enciku itu.
A Siu hajar saja, kenapa mesti banyak cing cong, teriak Jun-yan tak sabaran.
Sebaiknya orang tadi telah berkata pula.
Jika kau sanggup menerima tiga kali seranganku, segera aku lepaskan dia! A Siu suruh dia yang terima tiga seranganmu, biar dia tahu rasa, kembali Jun-yan ber-kaok2.
Nyata ia anggap ilmu kepandaian A Siu sudah tiada tandingan di jagat, tak tersangka bahwa A Siu cukup insaf akan betapa tinggi ilmu lwekang orang itu, apalagi ia sudah ambil keputusan takkan sembarang bergebrak dengan orang.
Tapi orang hanya minta menangkis tiga kali serangan saja lantas A Siu menerimanya dengan baik.
Jadilah, marilah kita keluar.
Tak perlu! sahut orang itu.
Nah hati2lah.
Habis berkata, sambil tetap berduduk, mendadak lengan bajunya menggontai, seluruh rumah itu seketika penuh terisi angin keras.
Memangnya Jun-yan yang tergantung diatas itu lagi me-ronta2, kini tubuhnya ikut ter-buai2 oleh angin keras itu hingga pergelangan tangannya yang terjepit itu serasa akan patah.
Sedang angin keras itu menyambar kearah A Siu dengan dahsyatnya.
Tapi A Siu sudah siap siaga, cepat sekali ia mengegos, berbareng kedua lengan bajunya juga mengebas hingga kedua tenaga angin saling bentur.
Tapi ia sendiri lantas terasa kalah kuat hingga ter-huyung2 mundur beberapa tindak.
Bagus.
orang itupun berseru, menyusul mana sebelah telapak tangannya menepuk kedepan.
Saat itu baru saja A Siu dapat berdiri tegak, terpaksa ia meloncat minggir sembari sebelah lengan bajunya mengebas pula untuk mematahkan tekanan tenaga pukulan orang.
Dengan demikian barulah ia berhasil lolos dari bahaya.
Diam2 ia terkejut luar biasa, sungguh belum pernah diduganya bahwa lwekang orang bisa sedemikian hebatnya.
Nyata A Siu tidak tahu bahwa orang itu dimasa dahulu mendapat julukan Put-kue- sam atau tidak lewat tiga artinya selamanya tiada ada orang yang sanggup menerima tiga kali serangannya.
Kini A Siu sudah mampu mengelakan dua kali, sebenarnya sudah membuat orang itu bertambah heran.
Awas! kembali orang itu berseru, sekali ini kedua lengan bajunya mengebas kesamping, habis ini mendadak merangkup kedalam hingga tenaga pukulan itu se- akan2 menggulung terus menggunting.
Menghadapi gelombang serangan ini, mula2 A Siu seakan2 tertarik kesamping, tetapi mendadak seperti terjepit oleh dua tenaga dari kanan kiri.
Tidak kepalang terkejutnya, cepat ia hantam kedua tangannya kebawah hingga tubuhnya terangkat keatas.
Inilah satu diantaranya tujuh kunci ilmu Siau-jang-chit-kay yang dipelajarinya itu.
Pada saat itulah Jun-yan telah berhasil melepaskan tangannya dari jepitan gelang besi serta turun kebawah, maka teriaknya.
Bagus, tiga kali serangan sudah selesai.
Nah, lekas kembalikan pedangku biar kami pergi! Sementara itu muka orang tadi jadi berobah hebat demi nampak A Siu mampu mengelakkan tiga serangannya, pelan2 ia berdiri.
Anak perempuan, siapa gurumu? Katakan atau tidak? katanya dengan memandang tajam.
Toacek, bukankah kau sendiri sudah berjanji, setelah aku terima tiga kali seranganmu, lantas kau akan melepaskan enci Jun-yan ? tanya A Siu.
Benar, sahut orang itu dengan tertawa aneh.
Dan aku telah lepaskan dia, namun sekarang kau yang hendak kutahan! He, kenapa ? sahut A Siu heran.
Eh, kau kenal malu tidak, ludah sendiri dijilat kembali? teriak Jun-yan mengejek.
Akan tetapi orang itu tak menggubrisnya, sebaliknya mukanya masam dan berkata pula kepada A Siu .
Kau mampu menerima tiga kali seranganku, itulah suatu dosa besar! Aneh, sebab apa ? tanya A Siu tak mengerti.
Tidak aneh, ujar orang itu, Kini saja kau mampu menahan tiga kali seranganku, lalu kelak, bukankah kau akan mampu menahan berpuluh, mungkin beratus jurus? Dimasa hidupku, mana boleh ada orang berkepandaian yang memadai aku ! Dasar usiamu yang sudah ditakdirkan pendek! Sungguh tidak terduga oleh A Siu bahwa adat orang itu begini aneh.
Dengan mengkerut kening ia menanya .
Toacek, apakah tujuan kata-katamu tadi ? Hahaaha, tiba2 orang itu tertawa, lalu ia menanya pula .
Siapa gurumu ? Jika dia dapat mendidik seorang murid seperti kau, tidak nanti aku dapat hidup bersama dia didunia ini.
Aku benar2 tidak mempunyai Suhu, sahut A Siu.
Orang itu menjengek sekali, tiba2 ia berseru memanggil Ngo-seng.
Dengan muka ber-seri2 kembali Ngo-seng Thauto masuk dengan mem-bungkuk2.
Mendongkol sekali Jun-yan oleh lagak tengik paderi itu, ia pikir bila sebentar ada kesempatan, biar kuhajar pula.
Ngo-seng, tanya orang itu, paling akhir ini, dikalangan Kangouw adakah muncul tokoh-tokoh lihay ? Ada, sahut Ngo-seng tanpa pikir, baru-baru saja ada seorang aneh yang linglung, mahir segala macam ilmu silat, lihaynya luar biasa.
Kabarnya Jing-ling-cu hendak mengundang semua tokoh silat untuk mengenalinya.
Apakah anak dara ini muridnya? tanya orang itu.
Rasanya tidak mungkin, sahut Ngo seng geleng kepala.
Lalu ada lagi siapa ? Banyak! kata Ngo-seng.
Seperti Thong thian-sin-mo Jiau Pek-king, Liok-hap-tongcu Li Pong, kedua paderi dari Go-bi, Tai-liksin Tong Po, Bok Siang Hiong dan........
Stop! bentak orang itu mendadak.
Kenapa manusia2 sebangsa itu kau sebut2 didepanku? Masa mereka sanggup mendidik murid seperti ini? Hm, sekali orang itu masih hidup, tetap aku tidak lega! habis berkata, ia mendadak ia hantam meja disebelahnya hingga ujung meja sempal seketika.
Karuan Ngo-seng mengkeret sampai agak lama barulah ia berani bersuara.
Ki- locianpwe, aku ada satu usul.
Jika kau tahan bocah perempuan ini disini, bukankah gurunya akau mencari kemari? Fui,masakah kau ukur dirimu yang rendah dengan derajatku, semprot orang she Ki itu.
Diam2 Jun-yan dan A Siu memuji orang yang mendamprat jiwa Ngo-seng yang rendah itu.
Tapi mereka lantas dibikin terkejut bentakan orang she Ki itu.
Baiklah, biar bocah ini sekarang juga binasa dibawah Thian-sing-cing-lik-ku.