Manusia Aneh di Alas Pegunungan Chapter 42

NIC

Melihat itu dari jauh, Jun-yan menjadi ragu2, teringat olehnya waktu Ngo-seng Thauto keluar dari gubuk itu telah mem-bungkuk2 badan sambil mengia dengan merendah sekali, terang didalam rumah itu terdapat seorang kosen, yang sangat disegani paderi itu.

Melihat Jun-yan berhenti dengan sangsi, sudah tentu Ngo-seng tidak tinggal diam, segera ia memaki2 lagi dengan kata2 kotor dan rendah untuk bikin hati si gadis menjadi panas.

Betul juga Jun-yan menjadi murka, dampratnya.

keparat, jika aku tidak potong lehermu, jangan kau panggil nona Lou kepadaku! Dan segera ia mengejar pula.

Karena kuatirkan keselamatan Jun-yan, cepat A Siu menyusul dibelakangnya.

Sebaliknya ketika sampai didepan pintu gubuk tadi, mendadak Ngo-seng berhenti dengan celingukan.

Lalu ia berpaling kearah Jun-yan dan memaki pula, tapi tidak keras, hanya dengan suara tertahan.

Karuan Jun-yan berjingkrak saking murka, la lihat gubuk itu ada suara lentera dari dalam tetapi keadaan sunyi saja, ia menjadi berani, ia mendamprat pula terus menubruk maju, sekali pedangnya mengayun, terus ia tusukkan.

Rupanya serangan inilah yang sedang ditunggu2 Ngo-seng, sebab begitu Jun-yan menubruk maju, tiba2 dengan bahunya ia dorong pintu gubuk dan orangnya menerobos masuk.

Tanpa pikir terus saja Jun-yan ikut menguber kedalam.

Diluar dugaan, suatu tenaga maha besar lantas menerjang dari depan, baiknya Jun- yan cukup cekatan, begitu merasa gelagat jelek, segera ia melompat mundur terdorong oleh damparan tenaga itu, menyusul mana suatu bayangan ikut melayang tiba hendak menubruk tubuhnya, dalam gugupnya cepat Jun-yan berjumpalitan ke samping, maka terdengarlah suara buk yang keras, sesosok tubuh telah terbanting ditanah.

Dan sejenak kemudian barulah A Siu dan Jun-yan dapat melihat itu adalah Ngo-seng Thauto yang gede.

Rupanya jatuhnya itu sangat keras hingga Ngo-seng berjongkok meringis hingga lama baru bisa bangun.

A Siu dan Jun-yan telah merasakan betapa lihaynya Ngo-seng, kalau satu lawan satu mereka belum pasti menang, tapi kini begitu mudah Ngo-seng terlempar keluar, maka betapa hebat tenaga pukulan orang yang berdiam didalam rumah itu dapat dibayangkan.

Dalam pada itu dengan ter-sipu2 Ngo-seng telah merangkak bangun walaupun dengan meringis kesakitan, sesudah berdiri, dengan sangat hormat ia masih berkata kearah rumah itu.

Ki-lociappwe, memang aku terlalu sembrono masuk tanpa permisi, tetapi kedua budak ini sesungguhnya keterlaluan...

Ngo-seng, tiba-tiba suara ke-malas2an menyela dari dalam rumah, kenapa kau berani main gila didepan rumahku dengan kata2mu yang kotor tadi? Apakah memangnya kau sudah bosan hidup? Dengan membungkuk2 Ngo-seng mengia belaka.

Melihat macam orang yang lucu karena masih meringis kesakitan itu, Jun-yan tertawa geli.

Karena Ngo-seng gemas dan mendongkol, ia pelototi dara nakal itu dengan sengit.

Ngo-seng, terdengar orang didalam gubuk berkata pula, Mengingat hormatmu kepadaku, kesalahanmu itu biarlah kuampuni.

Tapi budak yang membawa Tun-kau-kiam tadi, mana dia, suruh masuk minta ampun padaku ! Jun-yan melangkah, tadi ia hanya melangkah masuk terus terdesak mundur keluar hanya sekejap itu, siapa orangnya didalam saja ia tak jelas melihatnya.

Tapi orang itu sekilas saja sudah dapat mengetahui dia membawa pedang yang dihunusnya adalah Tun-kau-kiam, sungguh tajam amat matanya ? Sementara itu Ngo-seng tampak berseri-seri, ia melirik ngejek Jun-yan sekejap, lalu katanya pula.

Ya, Ki-locianpwe.

Malahan dia masih punya seorang kawan budak lainnya.

Keduanya suruh masuk semua, kata orang didalam itu tanpa pikir.

Lagu suaranya angkuh seakan-akan dunia ini dia kuasa.

Ngo-seng menjadi senang, dengan mengejek ia berkata pada Jun-yan berdua.

Nah, kalian dengar tidak? Ki-locianpwe suruh kalian masuk minta ampun padanya.

A Siu menjadi sangsi, Enci Jun-yan, siapakah Ki-locianpwe itu kenapa kita disalahkan? Cis, buat apa kita peduli, sahut Jun-yan penasaran.

Siapa kenal orang she Ki ini manusia macam apa ? Peduli ! Kata2 Jun-yan itu diucapkan dengan keras, maka Ngo-seng juga mendengar dengan jelas, wajahnya berubah hebat dan bingung, tapi segera ia bergirang pula.

Sebaliknya Jun-yan telah menuding sambil membentak lagi.

Thauto keparat, kau mau maju kemari atau tunggu aku iris lidahmu yang kotor itu dan...

Sampai disitu, suara yang ke-malas2an didalam gubuk tadi menyela lagi .

Bocah dara, kau murid siapakah, ha ? Besar amat nyalimu ? Walaupun nakal, tapi Jun-yan juga mengerti bahwa orang didalam gubuk itu pasti bukan orang sembarangan.

Tiba2 hatinya tergerak, ia pikir gunakan nama gurunya untuk menggertak maka dengan tegak leher sahutnya .

Kau tanya nama guruku ? Hm, mungkin kau akan mati kaget bila kukatakan ! Dia orang tua she Jiau, namanya Pek- king, orang menjulukinya Thong-thian-sin-mo ! Nah, apa abamu sekarang ? sembari berkata ia bertolak pinggang dengan lagak nyonya besar.

Mendadak orang didalam gubuk itu tertawa tawar.

Aha, kukira siapa, tahunya murid ajaran siauw-Jiauw ! Pantas licin dan belut seperti sang guru.

Nah, tidak lekas masuk terima hukuman, apa kau minta aku keluar malah ? Jun-yan terkejut, tapi orang ini berani menyebutnya siau-Jiau atau Jiau sikecil, suatu tanda derajat angkatannya masih diatas gurunya.

Untuk sesaat, ia terpengaruh oleh perbawa orang.

Dasar gadis lincah yang tak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi, segera ia berpendapat jangan2 orang menggertak saja, persetan orang macam apa? Kontan saja dia menjawab.

Eh, kau she Ki bukan? Ya tahulah aku, bukankah kau adalah siau-Ki yang tercantum didalam kamus Kang-ouw itu? Melihat kau suka kasak-kusuk dengan Thauto keparat itu, tentu kau pun bukan manusia baik2.

Hayo, lekus kau menggelinding keluar.

Tapi baru saja ucapannya habis, se-konyong2 suara gelak tawa bergema dari dalam gubuk, suara ini keras tajam menggetar sukma, jauh berbeda dengan suara ke- malas2an tadi.

Terkejut sekali Jun-yan begitu pula A Siu terkesiap oleh tenaga lwekang itu.

Pada saat itulah tiba2 dua suara keras krak-krak berjangkit disamping mereka, dua pohon bambu besar telah patah tertimpuk dua batu kecil yang menyambar keluar dari gubuk itu.

Menyusul suara orang didalam itu berkata.

Budak bernyali besar nah sekarang sudah kenal lihayku belum? Apa tidak lekas masuk kemari? A Siu lebih baik kita angkat kaki saja, bisik Jun-yan kepada kawannya demi nampak gelagat tidak menguntungkan.

Sudah tentu A Siu hanya menurut saja, maka cepat mereka terus melompat kerimba bambu sana, diluar dugaan, baru mereka tiba didepan rimba bambu itu, tahu2 beberapa bintik sinar berkelebat mendahului mereka disusul dengan suara gemuruh robohnya beberapa pohon bambu merintang didepan, malahan suara orang didalam gubuk itu berkata lagi.

Jangan coba lari, dara bandel, tidak lekas kembali ? Melihat betapa hebat tenaga jari orang itu hanya beberapa batu kerikil sudah mematahkan pohon bambu, bila dia mau mencelakai mereka sesungguhnya seperti membaliki tangannya sendiri.

Maka sesudah ragu2 sejenak, segera Jun-yan mendengus dengan dada membusung ia mendahului kembali kearah gubuk tadi sambil berkata.

Mari A Siu, masakan kita takut kepada segala manusia? Hayo, dia minta masuk kegubuknya, marilah kita masuk saja, masakan dia sanggup telan kita ? Habis itu, dengan langkah lebar ia menuju kegubuk itu dan tanpa permisi terus menerobos kedalam.

Maka terlihatlah ruangan gubuk itu terawat rapih bersih, disebuah kursi malas buatan bambu berduduk seorang berbaju hitam lagi asyik membaca dibawah sinar pelita.

Mengetahui masuknya Jun-yan, tanpa menoleh, dengan nada kemalas2an tadi ia berkata .

Sekarang kau baru mau kemari bukan ? Hendaklah kau ketahui peraturanku, siapa yang berani membangkang perintahku, maka hukumannya akan ditambah sekali lipat.

Waktu Jun-yan menoleh ia lihat A Siu sudah ikut masuk, hatinya menjadi besar.

Ketika ia mengamat2i orang itu, walaupun sedang menunduk membaca, hingga wajahnya tidak jelas kelihatan, tetapi usianya ditaksir takkan lebih setengah abad, terutama mengingat rambutnya yang masih hitam mengkilap.

Dengan lagak angkuh orang itu masih duduk ditempatnya tanpa sesuatu yang aneh, kembali timbul pandang rendah pada hatinya Jun yan, ia menyesal tadi kenapa mesti lari kena digertak orang, jika orang ini ada hubungannya dengan Ngo-seng Thauto tentunya juga bukan manusia baik? Karena itu sesudah memberi isyarat kepada A Siu, sahutnya .

lantas cara bagaimana kau akan menjatuhkan hukuman? Diatas saka situ ada gelang rantai, masukkanlah tanganmu sendiri dan suruh kawanmu ambil cambuk dilantai itu dan pecutkan tiga puluh kali, tidak boleh kasih ampun ! kata orang itu tetap menunduk.

Waktu Jun-yan mendongak, benar juga diatas saka sana ada gelang besi dan dilantai terdapat seutas pecut panjang hitam.

Baiklah, sahutnya tanpa pikir.

Mendadak ia terus meloncat keatas.

Tapi bukannya masukan tangannya kedalam gelang besi itu seperti yang diminta, tapi terus lolos pedangnya Tun-kau-kiam dan mengayun dua kali, terdengarlah suara creng-creng kedua gelang besi Itu sudah terpapas putus semua.

Bahkan ketika tubuhnya menurun, tiba2 pedangnya membalik, dengan gerak tipu hoat-hun-ji-goat atau menyingkap awan mengarah rembulan, ujung senjatanya itu terus menikam keatas buku yang dipegangi orang itu dengan maksud membikin kaget padanya.

Rupanya orang itu masih tidak berasa akan serangan itu, maka bles , buku yang dipegang itu tahu2 tertembus tusukan pedang, sungguh diluar dugaan Jun-yan bahwa serangannya bisa berhasil begitu mudah, dan lagi ia hendak congkel pedangnya agar buku orang terpental, se-konyong2 terasa pedangnya se-akan2 melengket pada sesuatu tenaga dan susah ditarik kembali.

Waktu ia dorong sekalian kedepan, ternyata pedangnya seperti menancap dibatu saja susah digoyah.

Dan selagi Jun-yan kaget dan bingung itulah orang itu telah geser bukunya sambil berpaling, kiranya sebabnya senjata Jun-yan itu tak bisa bergerak adalah disebabkan batang pedangnya kena dijepit oleh dua jari tangan orang itu.

Kini wajah orangpun dapat dilihat Jun-yan dengan jelas, benar umurnya antara lima puluhan saja wajahnya cakap gagah, matanya bersinar, alisnya tebal, sambil memandang Jun-yan, mulutnya mengulum senyum, nyata ia tidak bergusar pada si gadis yang sembrono.

Mendadak orang itu bergelak ketawa, tangannya yang menjepit pedang itu sedikit diangkat keatas, terasalah oleh Jun-yan suatu tenaga maha besar menumbuk ketubuhnya, tanpa kuasa pedangnya dilepaskannya, sedang tubuhnya terus mencelat menyundul atap rumah, kuatir kalau turun kembali akan dipermainkan orang lagi, tanpa pikir Jun-yan rangkul belandar diatas itu.

Diluar dugaan, tak-tak dua suara berjangkit dan pergelangan tangannya yang merangkul belandar itu terasa kencang seperti dijepit sesuatu.

Apabila ia menegasi, ia menjadi kaget, kiranya yang menjepit tangannya itu adalah kedua belahan gelang besi yang dipapas olehnya tadi, kini setengah gelang besi itu ambles kedalam belandar hingga kedua tangannya seperti terpaku dan badannya ter-katung2.

Posting Komentar