Manusia Aneh di Alas Pegunungan Chapter 30

NIC

Karena kena diolok2, tentu saja menjadi murka.

Lihatlah ketiga saudara she Tio, keledai gundul ini yang mencari gebuk, bukan aku lm-su Siucay Swe Hiang-ang yang tidak kenal sobat, seru lelaki kurus itu kepada tiga kawannya yang berewok itu.

Lalu ia berpaling kepada Tiat-pi Siansu dan mendamprat .

Baiklah, hari ini biar aku memberi hajaran kepada keledai gundul, supaya kau kenal lihaynya orang she Swe! Bagus, biar aku pereteli juga tulang2mu yang terbungkus kulit melulu itu ! teriak Tiat pi Siansu murka.

Ketiga lelaki berewok itu tidak melerai, sebaliknya mereka mundur semakin jauh supaya mereka berkelahi lebih bebas.

Namun begitu, entah sengaja atau tidak, mereka seakan-akan mengurung A Siu ditengah-tengah.

A Siu sendiri ter-longo2 melihat kelima orang itu saling bertengkar sendiri.

Ia lihat Tiat pi Siansu tinggi besar bagai raksasa, sebaliknya si Im-su Siucay itu kurus kecil, keduanya terang tak setanding.

Namun dasar masih kanak kanak, ia menjadi ketarik akan perkelahian yang bakal terjadi itu.

Kiranya datangnya kelima orang itu memang bukan tiada maksud tujuan, mereka sama-sama hendak mencari jejaknya seseorang.

Cuma satu sama lain hanya lahirnya saja akur, dalam batin setiap waktu bila perlu tidak segan2 menjegal pihak lain.

Ketiga lelaki berewok itu terkenal didaerah Hun-lam dengan julukan Thian-lam-sam-say atau tiga singa dari Hun lam selatan, yang tertua bernama Tok-jiau-say Thio Jiang, singa bercakar tunggal, kakak kedua bernama Kiu-thau-say Thio Seng, singa berkepala sembilan, dan yang terakhir ialah Cui-say-cu Thio Sia, singa mabuk.

Kini melihat Swe Hiang-ang akan saling gebrak dengan Tiat-pi Siansu, kebetulan malah bagi mereka, maka sengaja menonton akan menarik keuntungan dari pertengkaran kedua orang itu.

Sementara itu Tiat-pi Siansu sudah membentak .

Nah, Siucay setan madat, lekas keluarkan senjatamu, supaya orang tidak mengatakan aku menghina seorang setan kurus macammu ini! Melayani keledai gundul seperti kau, kenapa perlu pakai senjata? sahut Im-su Siucay Swe Hiang-ang dengan tertawa dingin.

Berbareng itu, pukulan pertama terus dilontarkannya mengarah dada lawan.

Bagus, biar aku mengalah tiga serangan padamu ! sambut Tiat-pi Siansu dengan lincahnya, tubuhnya yang gede gemuk itu telah memutar kesamping dengan cepat sambil tongkatnya diangkat tinggi2, betul juga ia tidak balas menyerang.

A Siu menjadi senang melihat pertandingan telah dimulai.

Ia lihat cara menghindar si hwesio gendut itu tidak terlalu pintar, kalau saja Im-su-siucay itu terus menubruk maju dan menyusuli hantaman, pasti ia takkan dapat menghindarkan diri.

Apa yang dipikirkan oleh A Siu ini adalah ilmu silat tertinggi dalam Siau-yang-chit-kay yang lihay, tentu saja hal mana tak mungkin diketahui Im-su-siucay.

Dan karena serangan pertama tak kena, segera Im-su-siucay melontarkan serangan kedua.

Ketika melihat tenaga serangan sekali ini tidak terlalu keras, Tiat-pi Siansu bermaksud membiarkan dirinya dihantam dengan menggunakan ilmu Ngekang, tapi sekilas dapat dilihatnya pada telapak tangan lawan penuh berduri kecil2 dan tajam dengan warna merah tua, ia menjadi terkejut dan lekas mundur kebelakang.

Tapi dengan tertawa aneh sekali, lagi2 Im-su-siucay merangsang maju dan sebelah tangannya menggaplok lagi keatas kepala hwesio yang gundul.

Belum lagi Tiat- pi Siansu berdiri tegak, tiba2 melihat serangan orang yang sayup-sayup membawa angin yang berbau busuk, maka insyaflah dia kalau telapak lawan tentu berbisa.

Kalau sampai kena berkenalan dengan tangan orang, pasti kepalanya akan berlubang seperti sarang tawon oleh duri2 ditangan orang.

Maka tak terpikir lagi olehnya apakah kata-katanya akan mengalah tiga kali serangan itu sudah habis belum, sekali tongkatnya mengetok ketanah, mendadak senjata itu terus membal keatas, secepat kilat ujungnya menyodok ketelapak tangan lawan sambil berteriak .

Cara turun tanganmu terlalu keji, jangan kau salahkan aku tak pegang janji, Siucay kecut! Walaupun Hwesio gendut ini tampaknya urip, tapi lucu-lucu ngong-tit , atau geblek- geblek jujur.

Dengan serangannya yang lihay yang disebut ting-thian-lip-te atau berdiri di bumi menyundul langit, kalau sampai Im-su-siucay Swe Hiang-ang kesodok, pasti dadanya akan amblek berlubang.

Tapi disaat berbahaya itu, sempat Swe Hiang-ang merosot kesamping hingga sodokan tongkat Tiat-pi Siansu mengenai tempat kosong.

Sebaliknya begitu turun ketanah, mendadak Im-su-siucay berjongkok, kedua kakinya terus menyepak.

Karena serangannya tadi luput, Tiat-pi Siansu lagi melengak, maka depakan musuh tak sempat dihindarinya, pahanya telah kena hingga tubuhnya ter-huyung2 mundur, dan akhirnya jatuh terlentang dengan muka pucat sambil ber-kaok2 kesakitan.

Ketika ia meraba pahanya, ternyata tangannya berlumuran darah.

Hm, keledai gundul, sekarang sudah kenal kelihayan tuanmu belum? jengek Im-su- siucay menyindir.

Tiat-pi Siansu sesungguhnya tidak mengerti cara bagaimana pahanya bisa terluka, hanya kena didepak saja.

Begitu pula A Siu yang menyaksikan itupun merasa bingung, hanya Thian-lam-sam-say saja yang tahu bahwa diujung sepatu Im-su-siucay itu dipasang pelat baja yang sangat tajam, tentu saja daging paha musuh yang tertendang takkan tahan.

Tapi Tiat-pi Siansu masih merasa penasaran, cepat ia merangkak bangun, ia angkat tongkatnya lagi, tanpa bicara terus mengemplang dengan tipu Thay-san-ap-teng atau gunung raksasa menindih kepala.

Manusia Aneh Dialas Pegunungan Karya dari Gan K.l Betapapun lihaynya Im-su-siucay, tak nanti ia berani menangkis serangan hebat ini, apalagi ia bertangan kosong, terpaksa cepat berkelit kesamping.

Dan saking bernafsunya kemplangan Tiat-pi Siansu itu hingga sebuah batu kena dihantam remuk, tangan sendiri yang berasa kesemutan, malah luka pahanya tadi ikut2 kesakitan lagi.

Karuan kesempatan bagus ini digunakan Im-su-siucay dengan baik untuk menubruk maju dari samping terus menggablok kepundak lawan.

Maka terdengarlah teriakan Tiat-pi Siansu terus terguling ketanah.

Waktu Im-su- siucay periksa tangannya, ternyata telapak tangannya sudah berlepotan darah.

Kiranya tangan Im-su-siucay itu terkenal sebagai Sian-jing-ciang atau tangan dewa alias tangan kaktus, yaitu memakai kaos tangan dari kulit landak yang berduri.

Tentu saja pundak Tiat-pi Siansu yang kena dihantam itu seketika bertambah berpuluh lubang2 kecil dan jatuh knock-out , ia menggereng kesakitan, tapi tak berani merangsang maju lagi, melainkan dengan mata mendelik memandangi lawan yang licik itu.

Melihat Tiat-pi Siansu telah kalah kena hantamannya, Swe Hiang-ang menjadi jumawa seperti ayam jago yang habis mendapat kemenangan, dengan sinar mata sombong yang tiada takeran ia mengerling pada Thian-lam-sam-say hingga yang tersebut belakangan ini merasa kebat kebit.

Ha, ilmu kepandaian Swe-toako memang benar hebat! kata Thian-lam-sam-say setengah mengejek.

Hm, bila kalian ingin coba2, boleh tunggu nanti! sahut Swe Hiang-ang dengan angkuhnya.

Habis ini ia berpaling kepada A Siu dan membentak .

Bocah, hayo katakanlah, dari manakah kau peroleh mutiara yang kau pakai itu? A Siu melengak oleh teguran itu, ia lihat wajah Im-su-siucay yang kurus bengis itu lagi memandang padanya dengan sinar mata jahat, ia menjadi muak rasanya.

Mutiara ini pemberian Jing-koh , sahutnya kemudian sambil melengos.

Sudah tentu Im-su siucay tidak pandang sebelah mata pada seorang gadis desa seperti A Siu, dengan suara keras ia membentak pula.

Siapa Jing-koh ? Dia berada dimana ? Lekas katakan! A Siu mengkerutkan keningnya, lalu katanya .

Kenapa kau begitu galak, aku justeru tak mau katakan, sahutnya kemudian.

Im-su-siucay menjadi murka.

Budak kurang ajar! bentaknya, terus melesat maju.

Tangannya diangkat terus hendak mencengkeram kemuka si gadis.

Hai, Im-su.......

bentak Thiam-lam-sam-say hendak mencegah.

Tapi belum sampai ucapannya habis, tahu2 bukannya A Siu yang kena dicengkeram, tapi Im-su-siucay sendiri yang terpental pergi bagai layangan yang putus benangnya, hingga tepat terbanting disampingnya Tiat-pi Siansu.

Kalau tadi Im-su-siucay masih mentah2 bersitegang, siapa tahu sekarang ia sendiri menggeletak juga ditanah sambil meng-gereng2.

Thian-lam-say-say dan Tiat-pi Siansu menjadi bingung menyaksikan itu.

Tapi segera Tiat pi Siansu ter-bahak2 juga, Bagus, sekarang kaupun tahu rasa ! serunya sembari merangkak bangun terus balas menyepak ketubuh Im-su-siucay hingga sasaran ini terpental pergi setombak lebih.

Dalam keadaan terluka kena Lwekang yang dilontarkan A Siu tadi, dengan sendirinya Im-su-siucay tak dapat menghindari depakan si hwesio itu, malahan Tiat-pi Siansu merangkak bangun hendak menambahi sekali tendang lagi untuk melampiaskan rasa dongkolnya tadi, namun keburu diteriaki A Siu.

Tiat-pi Siansu menjadi gusar mendengar ada orang berani merintangi perbuatannya, segera ia hendak memaki, tapi mendadak teringat olehnya bahwa robohnya Im-su-siucay itu justeru disebabkan anak dara itu, jika dirinya berani-berani memakinya, mungkin akan celaka juga.

Karena itu ia menjadi terheran-heran.

Melihat Hwesio yang tolol2 lucu ini, A Siu menduga orang tentu tidak berjiwa jahat, segera ia hendak maju mengajak bicara pula.

Jangan lari ! bentak Thio Seng mendadak.

Habis itu bertiga saudara mereka lantas merubung kedepannya A Siu.

A Siu menjadi dongkol kebebasannnya dirintangi.

Kalian mau apa? bentaknya kemudian.

Apakah nona anak muridnya Bwe-hoa-siancu Ang Jin-kin ? tanya Thiam lam-sam- say itu.

Entahlah, aku tidak kenal Bwe-hoa atau Thoa-hoa, sahut A Siu.

Lekas minggir ! Akan tetapi Thian-lam-sam-say itu malah mendesak lebih dekat.

Sesudah saling memberi tanda, mendadak Tok-jiau-say Thio Jiang, singa bercakar tunggal, mendadak ulur tangan terus mencakar ke lehernya A Siu hendak menarik kalung mutiara yang dipakainya itu.

Melihat kekurang ajaran orang, A Siu sangat mendongkol, sekenanya ia tangkis serangan orang.

Posting Komentar