Maka tertawalah keempat orang itu ber-gelak2 dengan senangnya.
Sebaliknya Ang Jing-kin malu dan murka, kalau tenaga mengijinkan, segera ia bermaksud menubruk maju buat adu jiwa.
Sementara itu didengarnya sijangkung itu berkata lagi ; Bwe-hoa-siancu, ditempat begini kau masih berlagak, makanan demikian kau tidak doyan, tunggulah nanti pulang kerumah nenekmu minta disusui, hahaha ! Habis tertawa, ia berjongkok, dengan tangannya ia mengeruk air empang yang jernih itu buat minum.
Tiga hari yang lalu Ang Jing-kin telah menyaksikan Kek Pang terbinasa sebab minum air sungai yang beracun itu, kini melihat orang juga minum air sungai, pula ketiga kawannya juga akan menirukan sijangkung, diam-diam hatinya bersyukur musuh2 itu mencari kematian sendiri dan memberi jalan hidup bagi dirinya.
Dalam saat demikian, sinar matanya terus menatap orang berkedok yang berdebat dengan sijangkung tadi.
Ia lihat orang ini tidak gunakan tangannya mengeruk air, tapi berjongkok sambil sedikit menyingkap kain kedoknya, dengan mulutnya akan menghirup air empang itu.
Sekilas Jing-kin mengenali separuh muka orang itu seketika kepalanya se-akan2 pening, serunya tak lampias .
Keparat she Cu, ki..kiranya kau adanya ? Mendadak orang yang dikatakan she Cu itu terkejut, belum sampai air menempel mulut, cepat ia melompat mundur dengan tertegun.
Sedang tangan Ang Jing-kin terus menuding orang dengan gemetar tapi tak sanggup buka suara.
Pada saat itulah, se-konyong2 terdengar suara jeritan berulang2 dari ketiga orang yang lagi minum tadi, lalu bergedebuk roboh ketanah kulit badan mereka seketika berubah biru gosong, lalu tak berkutik pula.
Nyata merekapun binasa oleh racun air sungai seperti halnya Kek Pang.
Diam2 Jing-kin menyesal terburu napsu bersuara, kalau tadi diam2 menanti, bukankah jahanam she Cu itupun tak terluput dari kematian ? Dan kini manusia itu sudah lantas angkat langkah seribu melihat kawan2nya sudah terbinasa.
Hati Ang Jing-kin merasa lega sesudah ketiga musuh sudah mati dan seorang lagi lari terbirit2.
Ia hitung2 masih ada waktu belasan hari dari janjinya dengan sang suami dan dapat membawa kembali empedu Kiu-bwe-coa dan Chit-kim-ko untuk menolong jiwanya, sungguh ia tidak pernah membayangkan akan begini mudah menyelesaikan kepungan musuh tadi.
Saking girangnya, belum lagi ia berbangkit tiba2 matanya serasa gelap, orangnyapun jatuh pingsan di atas batu itu.
Dalam pada itu, mengenai diri si A Siu yang ditinggalkan sendiri dan terlupa itu, dasar kanak-kanak, ketika tiba-tiba dilihatnya ada seekor kelinci putih dengan kedua matanya yang merah bundar didalam semak-semak rumput lagi memandang padanya, ia menjadi sangat tertarik, tanpa bilang-bilang lagi ia terus memburu kearah kelinci itu.
Binatang itu rupanya binal juga, ketika melihat sibocah mendekati, ia tidak lari, sebaliknya mengeluarkan gerak-gerik yang menggoda hingga makin menggembirakan hati A Siu, dengan tertawa-tawa ia berjongkok terus hendak menangkap kelinci itu, tapi sedikit binatang itu melompat, tangan A Siu yang kecil telah menangkap tempat kosong, kelinci itu tidak lari terus, tapi masih menggoda pula dengan berbagai macam mimik, tentu saja A Siu semakin getol, ia memburu dan menangkapnya lagi, namun luput pula, dan begitulah seterusnya hingga makin lama makin jauh.
A Siu bergurau dengan kelinci putih itu, sama sekali tak terpikir olehnya bahwa saat itulah, ayahnya Kek Pang telah menemui ajalnya meminum air beracun.
Maka tanpa merasa A Siu telah mengejar kelinci itu sampai beberapa li dan memasuki sebuah lembah yang dikedua tepi dinding tebing curam, makin jauh jalan makin lika-liku, tapi ia masih terus mengudak.
Maka tanpa merasa haripun mulai gelap, perutnya berasa lapar, barulah sekarang A Siu ingat pada ayah dan bibi Jing-koh, ia mulai bingung dan kuatir, segera ia bermaksud kembali kejalan semula, tapi makin putar makin kesasar, haripun makin gelap hingga berulang kali ia jatuh bangun, saking letihnya ia merebah sekenanya ditanah dan pulas.
Besok paginya, ia ber-lari2 lagi hendak pulang kembali, tapi sudah kian kemari masih belum ketemukan jalan yang betul, sampai kelaparan, lalu ia petik buah-buahan yang diketemukan dan dimakan sekedarnya, keadaan begitu sampai beruntun tiga malam, baiknya dimalam hari, karena dadanya memakai kalung permainan mutiara yang memancarkan cahaya terang, maka ia masih bisa berjalan dengan bebas.
Namun begitu, untuk jarak jauh, juga kegelapan belaka yang tertampak, lama-lama A Siu menjadi ketakutan dan duduk ditanah sambil menangis.
Tidak lama, tiba-tiba didengarnya dari jauh ada suara tindakan orang yang sedang mendatangi, mula-mula A Siu menyangka itulah ayahnya, cepat ia berhenti menangis sambil mendengarkan, dan memang benar suara tindakan orang, saking girangnya ia terus meloncat bangun sambil berseru .
Ayah, Jing-koh, aku berada disini, kemanakah kalian, A Siu sendirian menjadi ketakutan! Selesai ia berkata, orang itupun sudah mendekat, ketika A Siu menengadah, tanpa merasa ia mundur beberapa tindak.
Ternyata yang datang ini bukan ayahnya, bukan lagi Jing-koh tapi seorang lelaki bangsa Han yang berusia 30-an yang tampaknya linglung, ketika tiba-tiba melihat A Siu, orang itu terus menubruk maju dan A Siu dipondongnya tinggi-tinggi sambil menggumam sendiri ; Oh, Jing-kin, Jing-kin, sesungguhnya aku tiada maksud mencelakai kau ! A Siu menjadi bingung mendengar ocehan yang tak karuan junterungannya itu, ia lihat mata orang mengembang air mata, dalam hati kecilnya menjadi heran, apakah orang ini juga kesasar jalan, maka menangis ? Dasar kanak-kanak, segera iapun menanya .
Toacek, kenapakah kau menangis, apakah kau kesasar ? Jangan kuatir, sebentar kalau ayah dan Jing-koh sudah datang, nanti kita bersama-sama pergi pulang .
Mendengar nada suara A Siu ini, seketika orang itu tercengang, dengan teliti ia mengamat-amati A Siu sejenak, mendadak katanya .
Eh, kau bukan Siau Yan ? Anak siapakah kau ? Sebaliknya A Siu bertambah heran, sahutnya .
He, kaupun kenal enci Siau Yan ? Aku adalah kawan baiknya dan kelak akan datang memain kerumahnya, demikian Jing- koh berkata padaku? Siapa namamu ? tanya orang itu dengan wajah berubah.
A Siu, ayahku bernama Kek Pang , sahut sidara cilik.
Hm, kiranya anak Biau, benda didepan dadamu itu darimana kau dapatkan ? jengek orang itu mendadak.
A Siu tidak tahu akan perubahan air muka orang, maka sahutnya wajar saja .
Jing- koh yang memberikan padaku ! Jing-koh siapa ? bentak orang itu.
Berbareng tangannya mengulur terus hendak menarik kalung mutiara yang dipakai A Siu itu.
Jangan kau merebut barangku ! teriak A Siu sambil tangannya yang kecil memegangi kalungnya kencang2.
Tapi sekali tangan orang itu mengipat, kontan A Siu terlempar jatuh, kasihan bocah sekecil itu, tentu saja tidak tahan oleh sengkelitan itu, ia jatuh kesakitan hingga pingsan.
Orang itu tertegun sejenak, tapi segera berjongkok hendak mengambil mutiara dari kalung yang dipakai A Siu itu.
Tak terduga, baru saja tangannya menyentuh mutiara itu, tahu2 pergelangan tangannya se-akan2 terjepit sesuatu, ketika ia menunduk, ia menjadi terkejut sekali.
Ternyata pergelangan tangannya seperti kena dipegang oleh tangan seseorang, cuma tangan itu se-akan2 bersisik yang tumbuh diatas kuku jarinya, tenaga cekalan itu demikian besarnya hingga bagai tanggam, sampai setengah tubuhnya ikut kesemutan kaku.
Orang itu sendiri tidak rendah ilmu silatnya, tentu saja ia terkejut, cepat ia berpaling maka terlihatlah ada seorang tua pendek gemuk merebah telentang ditanah.
Orang ini tubuhnya pendek, wajahnya jelek, malahan mukanya seperti bersisik pula, sebaliknya kedua lengannya panjang luar biasa melebihi badannya, kalau berdiri, boleh jadi kedua tangannya itu akan menyentuh tanah.
Sepasang matanya menyorotkan sinar ber-kelip2, rambutnya serawutan bagai rumput kering, manusia aneh semacam demikian, sungguh jarang terlihat.
Siapa kau ? bentak lelaki pertama tadi.
Dan kau sendiri siapa ? balas orang aneh ini.
Aku she Cu bernama Hong-tin, orang dari Tionggoan , sahut laki2 itu.
Ya, aku sudah menduga kau bukan orang Biau kami, tak nanti mereka berjiwa rendah seperti kau , jengek kakek aneh itu.
Sambil berkata, Cu Hong-tin itu merasa genggaman tangan kakek aneh itu bertambah kencang hingga tulang tangannya kesakitan luar biasa, walaupun orang itu tampak merebah saja, tapi terang memiliki lwekang yang tinggi, dalam gugupnya ia menanya lagi .
Sobat, selamanya kita tiada kenal, kenapa kau mencari setori padaku ? Dan permusuhan apa dara cilik itu dengan kau, kenapa kau hendak mencelakainya ? sahut orang tua itu dengan bengis.
Cu Hong-tin menjadi bungkam, selang agak lama, barulah ia berkata .
Dara cilik ini tiada permusuhan apa2 dengan aku, tapi mutiara yang berkalung dilehernya ini justru adalah milik seorang musuhku yang besar, haraplah kau lepaskan aku, nanti kututurkan yang jelas ! Kiranya Cu Hong-tin yang masih muda ini memang sama orangnya dengan Cu Hong-tin pada permulaan cerita ini.
Tatkala mana ia belum menjadi Tosu, ilmu kebutnya Kek-lok-hut-hoat juga belum terlatih, jadi ilmu silatnya masih belum tergolong tinggi, walaupun begitu, sekali cekal telah dibikin tak berdaya seperti sekarang ia diperlakukan si orang aneh ini, selamanya belum pernah dialaminya.
Sebab itulah, ia ganti siasat memakai permohonan dengan kata2 halus.
Betul juga kakek aneh itu terbujuk, ia kendorkan cekalannya dan berkata .
Baiklah, coba apa yang bisa kau terangkan.
Diluar dugaan, Cu Hong-tin terus melompat mundur jauh2, habis itu tanpa berpaling lagi terus lari dalam kegelapan.
Tentu saja kakek aneh itu sangat gusar, ia mengaum keras hingga menggema jauh dilembah, ia coba berdiri, tapi kakinya terlalu lemas, kembali ia jatuh ditanah, saking gemasnya kedua tangannya yang panjang besar itu memukul tanah ber-ulang2 hingga menerbitkan suara keras.
Tampaknya percuma saja ia memiliki ilmu kepandaian tinggi, karena kedua kakinya lemas bagai tak bertulang, sama sekali tak bisa berjalan.
yoza collection Hong san Koay Khek Halaman yoza collection Hong san Koay Khek Halaman Sesudah ber-teriak2 aneh beberapa kali, lalu ia merangkak kesamping A Siu.
Waktu itu A Siu telah siuman kembali, ia menangis pula sambil merintih kesakitan.
Jangan takut, nak, jahanam itu sudah kuusir , kata kakek itu sembari mengamat- amati A Siu, lalu tanyanya pula .