Sekarang orang inipun thauto jangan-jangan dia inilah Thi-tha-to yang tersohor itu ? Tapi pernah dia mendengar tentang sipat Thi-thau-to yang berjiwa besar, apalagi sebagai seorang ketua cabang persilatan, tak nanti mau merendah dan menjilat seperti kelakuan Thauto ini tadi.
Sementara itu si Thauto melihat kelinci panggangnya sudah berwarna hitam, ia sangka telah hangus, maka cepat2 ia angkat kayu sunduk-nya, tapi sebelum kelinci pangggang itu dihantar kemulutnya, mendadak ia membentak, sambil menoleh.
Nyata karena digoda A Siu tadi, ia menjadi senewen, padahal dibelakangnya tiada seorangpun, tapi untuk ber-jaga2, ia sengaja menghardik kebelakang.
Melihat kelakuan orang yang menggelikan, hampir2 Jun-yan terbahak-bahak, tapi sedapat mungkin ia bertahan.
Pada saat lain, terlihatlah Thauto itu terus menggerogoti kelinci panggang.
Apa celaka, masih untung juga baginya, baru sekali-dua ia cokot kelinci itu dan baru mulai dikunyah, segera ia merasa rasanya kelinci panggang itu rada-rada luar biasa, ia menjadi kelabakan, frr....frr...
berulang-ulang ia semburkan lempung dari mulutnya disertai dengan suara gerengan yang murka.
Melihat macam orang yang lucu.
semula Jun-yan masih menahan rasa gelinya sedapat mungkin, sampai akhirnya ia benar-benar tak tahan lagi, dengan ter-bahak2 iapun berdiri dari tempat sembunyinya sambil menggoda .
Haha, Thauto busuk, kelinci panggangmu ini kurang pandai kau membakarnya, bukankah kelinci panggang yang kubikin untukmu itu jauh lebih lezat ? Thauto itu terkejut karena tiba-tiba melihat dari semak-semak sana muncul dua gadis dengan ter-tawa2 sambil tangan masing2 memegangi seekor kelinci panggang dan sedang dimakan dengan nikmatnya.
Maka tahulah dia duduknya perkara sebenarnya, karuan alangkah gusarnya tanpa pikir lagi ia kerahkan seluruh tenaga di sebelah tangannya terus dihantamkan kedepan.
Saat itu Jun-yan masih ter-pingkal2 dengan mulutnya penuh daging kelinci panggang, ketika mendadak Thauto itu melontarkan serangan, sama sekali ia tidak ber- jaga2.
Baiknya A Siu selalu waspada, melihat bahaya, cepat ia berseru sambil tumbuk badan Jun-yan dengan pundaknya sambil meloncat kepinggir.
Karena tumbukan A Siu itu, Jun yan ter-huyung2 kesamping hingga jauh, dalam kagetnya segera ia hendak mengomeli A Siu yang sembrono, namun bila ia pandang lagi, ia terkejut sendiri.
Ternyata dimana pukulan Thauto tadi sampai, seketika batu kerikil berhamburan.
Betapa hebat tenaga pukulan itu, sungguh sangat mengejutkan.
Namun Jun-yan bukan Jun-yan kalau dia menjadi takut, dengan gusar ia malah balas mendamperat .
Thauto keparat, hanya tiga ekor kelinci panggang, kenapa kau mesti turun tangan sekeji itu ? Siapakah ? Saking murkanya Thauto itu tidak menjawab lagi, ia hanya memaki .
Setan alas! habis ini, sekali lompat, kembali ia melontarkan serangan pula, sebelah tangannya dengan kelima jarinya yang dipentang lebar terus mencengkeram keatas kepalanya Jun-yan, sedang telapak tangan lain dari samping bergaya merangkul ke tengah.
Tiba2 Jun-yan merasa suatu tenaga maha besar seakan-akan mencakup kepalanya, segera ia hendak melompat menghindari, tapi tahu-tahu sesuatu tenaga lain dari samping seakan-akan menggondeli tubuhnya hingga dirinya seperti sudah dikurung ditengah, sementara itu terdengar pula suara tertawa sinis si Thauto.
Dalam gugupnya Jun-yan terpaksa pukulkan juga kedua tangannya coba bertahan, pada saat itu pula iapun ingat siapa akan diri si Thauto itu, teriaknya .
He, kau Tai-lik- eng-jiau Ngo-seng Thauto! Kiranya Ngo-seng Thauto yang berjuluk Tai-lik-eng-jiau atau cakar elang bertenaga raksasa, adalah sutenya Thi-thau-to, ini ketua Ngo-tai-san yang tersohor.
Tapi karena jiwanya yang kotor dan kemurtadannya, maka ia telah mendurhakai perguruan dan memusuhi sang Suheng, malahan secara rendah berani menggondol lari kitab pelajaran Tai-lik-jiau-hoat dan kabur jauh ketempat lain, akhirnya berhasil juga melatih ilmu cakar elang itu, maka seperti harimau tumbuh sayap saja, kelakuannya semakin se- wenang2.
Begitulah, maka Jun-yan benar2 payah merasakan kurungan tenaga pukulan orang, sedapat mungkin ia coba bertahan, tetapi dadanya serasa sesak, mata ber-kunang2 diam2 ia mengeluh mengapa A Siu tidak lekas turun tangan membantu.
Namun A Siu sudah dapat juga melihat keadaan Jun-yan yang payah, serunya segera .
Thauto, jangan kau sesalkan aku bila kau tak mau lepaskan enciku ! Sudah tentu Ngo-seng tidak pandang sebelah mata pada seorang gadis jelita yang lemah itu segera iapun dapat mengenali orang yang menggoda dan diudak olehnya itu adalah gadis ini, tiba2 ia tertawa aneh, berbareng tangan kiri memutar, mendadak mencengkeram juga keatas kepalanya A Siu.
Nyata dengan demikian ia telah salah perhitungan.
Jika seorang diri Jun-yan yang diserangnya terang tenaganya masih jauh berlebihan tapi terhadap A Siu satu melawan satu saja belum tentu Ngo-seng sanggup menang, sudah tentu ia tidak tahu akan betapa tinggi ilmu lwekangnya A Siu hanya disangkanya seperti Jun-yan yang mudah dilayani, maka sekaligus ia pikir hendak robohkan kedua gadis itu untuk kemudian akan disiksa.
Maka sekali A Siu kebas lengan bajunya menangkis mendadak Ngo-seng merasakan suatu tenaga yang maha besar membentur kemukanya begitu hebat hingga napasnya se-akan2 sesak matanya ber-kunang2.
Barulah sekarang ia terkejut tidak kepalang.
Terpaksa ia mesti tarik kembali sebelah tangan yang melayani Jun-yan tadi untuk membela diri.
Dan karena mendadak tangannya ditarik, Jun-yan menjadi kehilangan imbangan badannya karena dia juga lagi kerahkan sepenuh tenaga untuk melawan, gadis ini terhuyung-huyung kedepan hingga mendekati Ngo seng namun Jun- yan bukan anak murid Thong thian-sin-mo kalau dia lantas jatuh begitu saja.
Dalam keadaan sempoyongan ia masih sempat ayun tangannya menampar hingga plok dengan keras Ngo-seng telah kena ditempilingnya sekali sampai beberapa giginya rompal dan darah mengucur dari mulut.
Dan pada saat lain karena melihat Jun-yan sudah terbebas dari bahaya, cepat A Siu tarik kembali tenaga serangannya tadi.
Sungguh tidak kepalang murkanya Ngo-seng, belum pernah ia kecundang seperti sekarang ini sejak ia malang melintang didunia Kangouw, apalagi kecundang dibawah tangan si gadis cilik yang dianggap masih ingusan.
Saking gusarnya hingga untuk sesaat tampak ia berdiri menjublek dengan sinar mata bengis.
Sudahlah, enci Jun-yan, marilah kita pergi, ajak A Siu kemudian.
Nanti dulu, sahut Jun-yan sambil melolos pedang.
Habis siapa suruh paderi busuk itu berlaku begitu garang, kalau tak diberi sedikit hajaran, boleh jadi ia akan lebih me- mentang2 lagi.
Habis ini, tiba2 ia membentak Ngo-seng ; Nah, kau sudah dengar tidak, paderi busuk, jika kau ingin hidup, biarlah aku mengiris dulu kedua kupingmu, dan kau boleh pergi lantas.
Terdengar Ngo-seng mendengus tertahan, tetapi tidak buka suara, masih terus melotot, malahan dari ubun2nya se-akan2 mengepulkan hawa.
Nampak itu, segera Jun-yan hendak membentaknya pula, tak terduga, mendadak Ngo-seng telah mendahului menggertak sekali sekeras guntur, berbareng kedua tangannya diangkat, seperti cakar elang saja, dengan tipu Siang-jiau-bok tho atau dua cakar mencengkeram kelinci, segera mengarah kemukanya Jun-yan.
Kiranya berdiamnya Ngo-seng tadi ialah sedang mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya untuk melontarkan serangan yang mematikan kepada Jun-yan yang sudah dibencinya tujuh turunan.
Maka sekali serang, ia yakin akan matikan lawannya itu.
Alangkah terkejutnya Jun-yan oleh serangan maha lihay itu.
cepat ia putar pedangnya keatas dengan gerak tipu heng-hun-liu-sui atau awan meluncur air mengalir, secepat kilat ia sambut cakaran orang.
Untuk kesebatan si gadis itu, mau tak mau Ngo-seng terkejut juga, mendadak ia putar telapak tangannya kesamping, namun begitu, lengan bajunya sudah terpapas sobek, cuma serangannya masih terus mencengkeram kedepan.
Dalam keadaan begitu, walaupun Jun-yan berhasil memapas baju orang, tapi ia sendiri masih tetap terancam bahaya.
Maka A Siu tak bisa tinggal diam lagi, terpaksa ia turun tangan menolong.
Saat itu Ngo-seng lagi kerahkan seluruh tenaganya untuk mematikan Jun-yan, ketika tiba2 merasa angin pukulan menyambar lagi dari samping, ia menjadi kaget dan sadar akan kepandaian A Siu yang tak boleh dipandang enteng itu, maksud hatinya akan mengegos kesamping sambil membaliki sebelah tangannya menangkis.
Tapi lagi2 ia mesti telan pil pahit, sedikit kelonggaran telah dipergunakan oleh Jun-yan dengan baik, plok-plok dua kali ia hantam pundak orang, berbareng pedang diputar dengan tipu hun-kay-goat-hian atau awan menyingkap, bulan kelihatan, tiba2 Ngo-seng merasa pipinya nyes dingin tahu2 sebelah kupingnya sudah berpisah dengan tuannya.
Sungguh apes bagi Ngo-seng akan kejadian hari ini, berulang kali ia kena dihajar, sebelah kupingnya kena diiris lagi.
Karuan bukan main murkanya, tapi apa daya? Menghadapi dua gadis lincah itu, ia benar-benar mati kutu, hanya sesudah melompat pergi ia memutar tubuh dan melotot dengan mata berapi.
Paderi busuk, tiba-tiba Jun-yan memaki pula, rupanya ia masih belum puas mempermainkan Thauto itu, kau masih punya sehelai daun kuping, supaya tidak ganjil, ada lebih baik biar kupotong sekalian! habis berkata, benar saja ia melompat maju dengan pedang terhunus.
Gemas luar biasa sebenarnya Ngo-seng kepada Jun-yan, kalau bisa gadis ini hendak ditelannya bulat2, tapi ia kuatir kalau2 A Siu nanti mengerubut maju lagi dan jangan2 kuping yang tinggal satu itu benar2 akan berkorban lagi, bagaimana macam kepalanya tanpa daun kuping itu ? Karena itu, dengan gusar2 takut itu, mendadak ia hantamkan kedepan sekali sebelum Jun yan mendekat, angin pukulan yang keras itu menyambar kemuka si gadis, terpaksa Jun-yan sedikit merandek, maka Ngo-seng sempat putar tubuh angkat langkah seribu.
Namun begitu, berulang2 ia menoleh kuatir diudak.
Jun-yan ter-bahak2 geli, dampratnya dengan tertawa, Hahaha, paderi keparat, apa mungkin kau ajak berlomba lari ? lalu ia berpaling kepada A Siu dan berseru.
Marilah A Siu, paderi busuk itu sudah ketakutan, cepat kita kejar dia ! Sebenarnya A Siu yang lebih halus perangainya itu enggan ikut mengudak, tapi karena Jun yan sudah mendahului lari, terpaksa ia menyusul dari belakang.
Sebaliknya ketika mula2 Ngo-seng melihat Jun-yan sendiri yang mengejarnya, ia telah berhenti sejenak, tapi demi nampak A Siu sudah menyusul, ia menjadi jeri dan cepat berlari.
Uber punya uber, akhirnya mereka sampai didekat kompleks rumah2 gubuk tadi.