Manusia Aneh di Alas Pegunungan Chapter 25

NIC

Tanpa terasa siang telah berganti malam lagi, tapi orang2 Biau itu terus menari dan menyanyi.

Ia coba mencari A Siu, tapi tiada tampak bayangan si gadis, ia menjadi gugup.

Sementara itu hari telah pagi lagi, dan Jun-yan masih belum kelihatan datang kembali.

Dalam pikiran Ti Put-cian, ia harap hendaklah Jun-yan mati dalam gua oleh racun labah2 itu, dengan demikian barulah ia ada harapan lagi untuk merebut kedudukan Seng-co Biau itu.

Kiranya Ti Put-cian mempunyai ambisi yang sangat besar, kecuali orangnya memang pintar cerdik dan serba pandai, yang dipikir olehnya selalu ialah ingin bisa mengepalai Bulim.

Dibawah pengaruh jiwanya yang kemaruk kekuasaan dan gila hormat itu, kecerdasan itu menjadi disalahgunakan dan sesat jalan.

Sebab itulah, sejak bertemu dengan Jun-yan serta si orang aneh itu, setiap saat iapun selalu peras otak cara bagaimana bisa memperalat mereka untuk merebut kedudukan Seng-co, sebab itulah ia membujuk Jun-yan mengikutinya keadaan Biau ini.

Begitulah ia menjadi iseng menunggu kembalinya Jun-yan dari gua itu, tapi karena batas waktunya belum habis, yaitu meski tunggu sampai malamnya lagi baru bisa diputuskan, saking kesal iapun berjalan-jalan seenaknya kaki itu melangkah dan tanpa terasa telah keluar kesuatu pegunungan itu, makin jauh makin sepi, akhirnya ia sampai ditepi suatu kolam lumpur yang besar dan lebat oleh macam tetumbuhan.

Karena kuatir kesasar jalan, segera Ti Put-cian berniat kembali, tiba2 didengarnya di tempat dekat sana ada suara bentakan orang yang gusar, suara itu sudah dikenalnya sebagai suara sinenek, yaitu Tiat-hoa-popo.

Padahal sekeliling tempat tampaknya kolam lumpur belaka, di-samping2 lain tebing gunung yang curam, hakekatnya tiada tempat yang bisa dibuat sembunyi orang, lalu darimanakah datangnya suara orang itu? Tetapi ketika ia menegasi, ia menjadi terkejut, kiranya di-tengah2 kolam lumpur sana terdapat segundukan tetumbuhan yang lebat, disitulah ternyata merupakan sebuah pulau kecil tidak menarik perhatian orang, kalau tidak diperhatikan, orang akan menyangkanya sebagai sebuah batu besar saja dengan dikelilingi pepohonan.

Tapi suara bentakan Tiat-hoa-popo tadi justru telah keluar dari situ.

Betapa cerdiknya Ti Put- cian, segera ia tahu gundukan tanah yang tidak menarik itu sesungguhnya adalah sebuah tempat tinggal yang dibuat secara spesial.

Sejak Ti Put-cian menjatuhkan A Siu di panggung pertandingan, ia lantas mengetahui banyak diantara orang Biau yang tidak puas terhadap dirinya, terutama sinenek bunga besi itu.

Apalagi Tiat-hoa-popo ini tampaknya begitu disegani orang2 Biau itu, melihat gelagatnya, orang tua itupun sangat tidak puas terhadap dirinya, dan kalau dirinya dapat menduduki Seng-co, mungkin nenek itulah yang akan merupakan oposisi yang paling kuat, rasanya harus mencari akal buat melenyapkannya, sebab itulah, gerak-gerik sinenek sekarangpun sangat menarik perhatian.

Ia ter-mangu2 sejenak ditepi kolam lumpur itu, ia mendengar Tiat-hoa-popo makin lama makin sengit, cuma kata2nya diucapkan dalam bahasa Biau, yang ia paham, namun dapat diduga sedang marah terhadap seseorang.

Lalu siapakah gerangan orang yang dimarahi itu ? Ia lihat kolam lumpur itu basah2 lihat, lumpur begitu baik manusia maupun hewan, se-injak pasti kejeblos kedalam.

Tapi cara bagaimanakah Tiat-hoa-popo itu mendatangi tempat tinggal di tengah-tengah kolam itu ? Ia menjadi heran, ia coba mengitari kolam itu, tiba diatas sebuah daun kapu-kapu yang lebar dapat dilihatnya ada bekas dua tapak kaki, satu sangat besar dan yang lain agak kecil.

Maka tahulah Ti Put-cian, didalam rumah itu sedikitnya ada dua orang, masuknya mereka ke sana ialah menggunakan ilmu mengentengi tubuh Teng-peng-toh cui atau menarik kapu2 menyeberangi sungai.

Ilmu kepandaian Kanglam-it-ci-seng Ti Put cian dengan sendirinya juga tidak lemah, kalau ilmu entengi tubuh seperti Teng-peng-toh-cui itupun sudah dapat dipastikannya.

Maka tanpa pikir lagi iapun melompat ketengah kolam sambil mengincar baik2 sebuah daun kapu2, sekali kakinya menutul enteng, cepat ia melompat ke depan lagi beberapa tombak, sebelum sampai ditempat itu, ia lihat disitu ternyata ada sebuah rumah yang bentuknya bundar pendek tanpa pintu maupun jendela, hanya didekat atapnya ada sebuah lubang kecil yang bundar, mungkin dari lubang inilah keluar masuknya kerumah bundar itu.

Dengan hati2 dan perlahan sekali Ti Put-cian melompat lagi kedepan dan sampai dipinggir rumah bundar itu, kuatir diketahui sinenek, sampai ia menahan napas, dengan ber-endap2 ia meraba dinding rumah, lalu menengok kedalamnya melalui lubang bundar dekat atap tadi.

Ia lihat didalam situ sangat gelap.

Samar2 ia lihat Tiat-hoa-popo duduk mungkur dari lubang itu, tidak jauh dari nenek tua ini duduk seorang lagi yang berbaju putih mulus dengan perawakannya yang menggiurkan, siapa lagi dia kalau bukan si A Siu ! Sungguh heran Ti Put-cian melihat A Siu berada disitu.

Kalau melihat ilmu silat A Siu terang diatasnya Tiat-hoa-popo, dengan usianya yang begitu muda sudah berhasil melatih ilmu sedemikian tingginya, sekalipun didaerah Tionggoan yang banyak tokoh2 silat terkenal juga jarang ada seorang liehay semacam dia.

Apalagi daerah Biau ada seperti A Siu, sungguh hal ini susah dipahami orang.

Entah darimanakah ia memperoleh kepandaian hebat itu.

Pula berdiam saja meski didamprat dan dimarahi Tiat hoa-popo.

Ia menjadi lebih terkejut ketika sekilas kerlingan mata A Siu, entah sengaja entah tidak, telah memandang kearahnya.

Ia menjadi ragu2 apakah mungkin jejaknya telah diketahui si gadis itu ? Namun A Siu kelihatan sudah melengos ke sana lagi, lalu didengarnya ia berkata dalam bahasa Han dengan suara perlahan .

Tiat-hoa-popo, haraplah jangan kau marahlah, aku sudah pasti tidak hendak merebut kedudukan Seng-co pula, sebab......sebab.....

tiba2 ia merandek sambil menghela napas perlahan dan berpaling kearah Ti Put-cian, lalu sambungnya sambil menunduk .

.......sebab aku mencintainya.

Seketika Tiat-hoa-popo berbangkit dengan tubuh gemetar, rupanya saking gusar, ia tuding A Siu dan mendampratnya .

A Siu, kau mencintainya tidak menjadi soal, tapi kau melepaskan kedudukan Seng-co, cara bagaimana kau akan bertanggung jawab kepada Lo-liong-thau ? Ti Put-cian menjadi heran, siapakah gerangan Lo-liong-thau itu ? Dalam pada itu dilihatnya wajah A Siu rada berubah, sinar matanya menjadi guram, kulit badannya memang putih salju, mukanya menjadi lebih pucat, agaknya sangat ketakutan pada seseorang yang teringat olehnya, bibirnya tampak ber-gerak2, kemudian baru berkata dengan tak lancar .

Te.....tetapi aku cinta padanya, ak.....aku bersedia berkorban segalanya! Cara berkatanya ada begitu wajar dan spontan suatu tanda cintanya pada Ti Put- cian sesungguhnya suci bersih dan sungguh2 timbul dari lubuk hatinya.

Mengetahui isi hati si gadis itu, ia bukan bergirang A Siu cinta padanya, tapi dasar jahanam ia justru bergirang bakal bisa mempengaruhi A Siu untuk kemudian memperalatnya.

Manusia Aneh Dialas Pegunungan Karya dari Gan K.l Hm, A Siu,'' terdengar Tiat-hoa-popo buka suara lagi, apapun juga, benarkah kau tak hiraukan lagi apa yang pernah dipesan Lo Liong thau ? Siapakah gerangan Lo Liong-thau yang disebut-sebut itu? Apakah dia seorang pemimpin suku Biau, atau seorang tokoh persilatan? Kiranya A Siu berusia tiga tahun, ia tampak jauh lebih pintar dan lincah daripada anak kecil umumnya.

Wajahnya yang manis, kedua matanya yang besar, menambah kesukaan orang bagi siapa yang melihatnya.

Sudah tentu yang paling sayang adalah kedua orang tuanya.

Setiap hari ayahnya berburu kegunung mencari bahan obat2an, selalu A Siu diajak serta.

Kehidupan suku Biau umumnya kecuali berburu binatang-binatang dan bercocok tanam sedikit, biasanya juga masuk kerimba raya untuk mencari bahan obat2an untuk dijual atau dibarter dengan orang Han yang datang berdagang kedaerah Biau ini.

Oleh karena tidak sedikit dari bahan obat2an itu bisa mendapatkan pasaran bagus, maka sering orang Biau berombongan jauh masuk ke hutan belantara untuk mencari obat2 tersebut.

Dan ayahnya A Siu yang bernama Kek Pang ada satu diantara ahli2 pencari bahan obat itu.

Suatu hari, ketika Kek Pang pulang dari berburu sambil memanggul A Siu dipunggungnya, sebelah tangan lain menyeret dua rusa hasil buruannya, sebelum sampai didepan rumahnya, ia dengar ada seruan orang.

Segala macam obat mudah didapatkan disini, cuma inilah sesungguhnya sangat susah.

Barang ini susah dicari, kecuali kalau ketemukan secara kebetulan.

Karena banyaknya orang Han yang mendatangi daerah Biau ini, maka percampuran kedua bahasa Han itu, ia dengar lagi suara seorang wanita lagi menyahut.

Loyacu, mohon dengan sangat atas pertolongan kalian asal ada barangnya, kalian ingin menukar dengan apa, segera kami adakan.

dari lagu suaranya, nyata wanita itu gugup dan kuatir sekali.

Ketika sudah dekat, Kek Pang melihat ada satu wanita Han dan di tanah merebah seorang laki2 yang kepalanya dikerudung rapat dengan kain sambil meng-erang2, melihat gelagatnya, wanita Han ini terang datang kesini untuk meminta obat2an.

Jing-kin, tiba2 lelaki berkerudung itu berkata .

Jika susah mendapatkan, sudahlah.

Ta.,.

tapi bagaimana dengan keadaanmu itu ! seru wanita itu se-akan2 orang kalap.

Dasar hati Kek Pang memang baik, segera ia mendekati orang dan menanya ada urusan apa.

Ketika wanita itu melihat Kek Pang adalah seorang laki-laki gagah, tampaknya jujur, pundaknya berduduk satu anak perempuan yang sangat menyenangkan, tiba-tiba hatinya timbul selarik sinar harapan, katanya segera .

Suamiku terkena racun jahat yang aneh, dari petunjuk orang kosen, katanya ada dua macam bahan obat yang dapat menolongnya, pertama adalah empedu ular Kiu-bwe-coat, kedua adalah buah Cit-kim- ko.

Kek Pang terkejut demi mendengar obat apa yang dicari itu.

Ia pikir, sekian tuanya ia hidup mencari obat-obatan, tapi terhadap kedua jenis barang yang disebut melulu mendengar saja belum pernah melihat, memang sesungguhnya susah dicari.

Sebab itu, iapun terpaku tak bisa menjawab.

Tahu bahwa usahanya tiada harapan lagi, wanita itu menghela napas panjang, pintanya kemudian.

Jika begitu, dapatkah aku mohon menumpang didalam rumah sini, biarlah suamiku sementara tinggal disini dan aku pergi kegunung untuk mencoba peruntungan ! Tidak, tidak, Jin-kin, betapapun kau jangan mengambil resiko ini, kau harus selalu di sampingku, seru lelaki itu sembari pegang kencang2 tangan sang isteri.

Hati wanita itu risau benar, air matanya bercucuran, Lantas bagaimana baiknya ? serunya bingung.

Mendengar suara ratapan siwanita yang memilukan itu, semua orang ikut terharu.

Tapi apa daya, barang yang hendak dicari itu seratus tahun belum tentu dapat dijumpai sekali, kemana harus diperoleh ? Ayah, begini sedih bibi ini menangis, kenapa kau tak menolongnya ? seru A Siu mendadak.

Suaranya kecil nyaring memecah kesunyian.

Hati Kek Pang tergoncang, ia pikir masakan aku orang tua kalah dengan seorang anak kecil, seumpama barang yang hendak dicari susah diperoleh, kenapa aku tidak menghantar wanita itu kesana ? Ya, A Siu, kau benar! sahutnya.

Aku ikut kalian, ayah, kata A Siu lagi dengan tertawa.

Kek Pang tak menjawab, katanya pada wanita tadi.

Toasuko tak perlu berduka, seorang diri kau masuk gunung kurang baik, biarlah besok pagi2 aku mengiringi kau kesana tempat dimana mungkin hidup Kiu-bwe-coa (ular sembilan buntut), tentu tak pernah dijajaki manusia, maka kita mesti banyak siapkan perbekalan, malam ini tak bisa lagi kita berangkat.

Posting Komentar