Manusia Aneh di Alas Pegunungan Chapter 23

Karena sudah kepepet, sekenanya Jun-yan merampas sebatang tombak dari tangan seorang Biau didekatnya terus ditusukan kearah ular yang sementara itu telah menubruknya lagi.

Anehnya, sudah jelas terdengar suara crat-crat beberapa kali, terang tombaknya mengenai sasarannya, tapi sedikitpun ternyata ular itu tak terluka, malahan ketika cakarnya mencengkram, tahu2 terdengar krak sekali, tombaknya itu malah sudah patah.

Dalam keadaan terdesak, terpaksa setindak Jun-yan mundur mendekati tempat orang aneh itu.

Ditelinganya terdengar suara ejekan Ti Put-cian yang rupanya merasa bersukur akan keadaan Jun-yan itu.

Gemas dan gusar hati si gadis, tapi memang ia lagi kewalahan, keringatnya ber-butir2 menetes dari jidatnya, sedikit lengah, beberapa kali hampir tercakar oleh ular2 itu.

Sukurlah akhirnya dapatlah ia mendekati tempat duduk si orang aneh.

Lekas turun tangan, bila lambat, aku bakal tercakar mati olehnya! serunya gugup pada orang aneh itu.

Baru saja selesai ucapannya, terlihat tangan orang aneh itu sedikit bergerak, sebutir batu mendadak menyambar kepada ular.

Warna ular itu seluruhnya hitam ber-bintik2 kuning, hanya sedikit dibawah lahernya ada satu lingkaran kecil berwarna putih.

Ketika batu sambitan itu dilontarkan, tepat sekali mengenai lingkaran putih itu.

Waktu itu ular lagi menubruk pula dengan cepat kearah Jun-yan, tetapi ketika kena sambitan batu, kontan terjungkel dari atas udara dan menggeletak diatas tanah tanpa berkutik lagi.

Maka tahulah sekarang Jun-yan, sebab orang aneh itu tidak lantas menolongnya tadi, oleh karena seluruh tubuh ular itu keras bagai baja, hanya lingkaran putih kecil dibawah leher itulah yang merupakan titik kelemahannya.

Segera ia melangkah maju, badan ular itu ia injak kuat2, ia angkat tombaknya dan mengincer tepat titik putih binatang itu dan terus menusuk, benar juga, sekali tusuk lantas masuk, maka melayanglah jiwa ular itu.

Kalau sehabis membunuh ular, Jun-yan senang sekali, adalah dipihak lain Ti Put- cian yang mendongkol tidak kepalang.

Sudah dua kali ia berharap gadis itu mampus dibawah binatang2 berbisa itu, siapa tahu si orang aneh itu selalu menolongnya dari samping.

Orang ini begitu hebat ilmu silatnya, meski kedua matanya katanya buta, tetapi sekali timpuk tepat kelemahan ular yang diarah, se-akan2 terhadap seluk-beluk ular berbisa ini sudah jelas diketahuinya.

Melihat Jun-yan sudah lulus ujian kedua, tiba2 Tiat-hoa-popo menuding kedinding tebing didepan sana.

Ketika Jun-yan memandang kearah yang ditunjuk, ia lihat di bawah tebing yang curam itu dikelilingi dengan sebaris orang Biau yang tegap kekar, hanya tempat yang ditunjuk Tiat-hoa-popo itu sekira dua tombak luasnya tiada di-aling2i orang, kalau dinding disitu licin gelap tanpa tetumbuhan, sebaliknya di tempat itu ternyata tumbuh semacam akar rotan yang hitam halus, malahan berbunga kecil berwarna ungu.

Apakah itu maksudmu ? tanya Jun-yan heran.

Singkirkan akar rotan hitam itu, lantas tertampak sebuah gua , kata Tiat-hoa-popo dengan wajah keren.

Gua itu menembus keluar gunung.

Apabila nona dapat melalui jalan situ, lalu masuk lagi dari pintu2 besi dilembah sana, lantas kau akan disembah sebagai Seng-co dari pada gua suku kami ! Diam2 Jun-yan terkejut, pikirnya, gua sekecil ini, andaikan si orang aneh itu selalu ingin menolong aku, masakan sekarang juga bisa ikut masuk kesitu ? Maka tanyanya pula .

Mahluk apa lagi yang terdapat didalam gua itu ? .

Tiada lain, kecuali semacam Kim-ci-cu (laba-laba mata uang emas) , sahut si nenek.

Hati Jun-yan menjadi lega.

O, kiranya hanya laba-laba berbisa! ujarnya.

Nyata ia tidak tahu bahwa racun laba-laba itu jahat luar biasa, jangankan bisa yang disemburkan labah-labah itu, sekalipun menyentuh jaringnya yang halus saja, orang seketika bisa pingsan, dan kalau tidak dapat pertolongan obat mujarab yang jitu, dalam waktu singkat saja jiwa bisa melayang.

Lebih dari itu, malahan orang yang mati terkena racun labah-labah itu, akan hancur menjadi darah dan darahnya berubah menjadi gas racun, jahatnya racun serupa lihaynya.

Tempat labah-labah itu sembunyi adalah di atas selapis saput berbisa yang kempel dari gas racun.

Saput berbisa ini sama jahatnya dengan labah-labah tersebut.

Hal ini sama sekali tidak diketahui Jun-yan yang hidup di Jing-sia-san yang indah permai pemandangannya, la sangka kalau melulu labah-labah seperti itu saja dengan membawa obor tentu akan dapat membakarnya habis.

Tentang adanya saput berbisa didalam gua itu, ternyata tidak dijelaskan oleh Tiat- hoa-po po.

Kiranya nenek ini sesalkan A Siu telah mengalah pada Ti Put-cian, padahal gadis itu adalah calon satu2nya yang dia ajukan.

Ia sendiri adalah tong-cu atau kepala gua pertama daripada tujuh puluh dua gua suku Biau.

Sejak Seng-co kedelapan menghilang, tujuh puluh dua suku Biau itu lantas dibawah pimpinannya.

Ia tidak menjelaskan tentang berbahayanya di dalam gua labah2 itu, karena ia masih punya harapan Jun-yan akan mati terkena racun, dengan begitu, menurut aturan bisa diulangi pemilihan Seng-co lagi, dan A Siu boleh jadi masih bisa terpilih.

Begitulah, tanpa pikir, Jun-yan terus minta empat obor, dua dibuat cadangan dan dikempitnya, sedang dua lainnya ia sulut untuk penerangan terus menuju kemulut gua yang ditunjuk itu.

Ketika akan melangkah masuk, tiba-tiba ia ingat akan diri si orang aneh itu, entah ikut dibelakangnya tidak.

Cepat ia menoleh, dan sesaat itu, ternyata orang aneh itu sudah tidak ada di tempatnya tadi.

Jun-yan melengak, ia pikir mungkin orang aneh itu tahu kalau gua itu mudah dilalui, maka sudah tinggalkan pergi dahulu.

Tiba2 ia lihat Ti Put-cian melambai-lambaikan tangan kepadanya, ia tercengang tapi segera merasa girang dan membalas melambai tangan, lalu melangkah masuk kedalam gua.

Gua itu ternyata sempit lagi pendek, kadang-kadang harus sedikit mendak untuk tidak menyundul atap gua.

Dibawah penuh lumut yang licin, suasana dalam gua dingin seram.

Sesudah duapuluh tombak jauhnya, gua itu mulai melebar, tapi sudah lama masih belum sampai keujung gua, malahan makin dalam makin gelap dan makin seram.

Dengan tabahkan diri, Jun-yan angkat obornya tinggi2 dan terus maju kedepan, makin jauh gua itu makin luas, Se-konyong2 terasa olehnya dari belakang angin berkesiur, satu bayangan orang melesat lewat disampingnya, siapa lagi kalau bukan simanusia aneh itu? He, kau ikut kemari? tegur Jun-yan bergirang.

Tapi tenggorokan orang aneh itu berkeruyukan seperti suara ayam jago yang belum dikoroki, tak bisa bicara.

Sudah banyak Jun-yan mendapat kebaikan darinya, ia lihat wajah orang itu penuh bekas luka yang benjal benjol, ditambah lagi buta dan bisu, entah betapa menderitanya dimasa dahulunya, maka hati Jun-yan sungguh sangat kasihan dan simpati padanya, tegurnya kemudian .

Apakah yang hendak kau katakan? Tidakkah kau dapat menulis untukku ? Orang itu ter-mangu2 sejenak, mendadak ia pentang kedua tangannya ketika melihat Jun-yan hendak maju kedepan.

Kemana Jun-yan hendak maju, selalu ia merintangi.

Jun-yan menjadi heran.

Sudah banyak kau membantuku, kenapa sekarang kau malah merintangi? tanyanya.

Sudah tentu orang itu tak bisa menjawab, hanya tenggorokannya tetap bersuara krok-krok , tiba2 nadanya berubah sangat memilukan.

Jun-yan mendongkol, katanya .

Asal aku bisa menembus gua ini, segera aku akan diangkat menjadi kepala suku Biau, kedudukan ini dapat kuberikan kepada It-ci Toako yang sangat menginginkannya, kau tidak mau membantu, kenapa malah merintangi ? Lekas minggir ! Dan sekali melesat, segera ia menerjang ke depan.

Tapi kontan orang aneh itu memapak dengan sekali pukulan, dimana angin pukulannya menyambar, tahu2 sumbu api obor menjadi padam.

Seketika keadaan menjadi gelap gulita, Jun-yan terkejut, ia menjadi curiga akan kelakuan si orang aneh ini, jangan2 hendak mencelakainya ? Cepat ia berkelit kesamping.

Dan selagi hendak menyulut obor cadangannya yang dibawanya tadi, mendadak terasa bahunya kesemutan, tempat thian-coan-hiat telah ditutuk orang hingga tubuhnya lumpuh, obornya juga jatuh.

Lantas terasa tubuhnya kena dikempit orang serta menuju jalan masuk kegua tadi, tapi tidak jauh lantas membiluk beberapa kali, karena keadaan gelap gulita, ia tidak tahu orang membawanya kemana.

Cuma tidak lama kemudian ia merasa tubuhnya diletakkan ditempat yang empuk bagai kasur.

Ingin sekali Jun-yan mengetahui dirinya berada dimana, sekuatnya ia kerahkan tenaga dalam untuk melancarkan jalan darahnya yang tertutuk, tapi sayang, tetap tak berhasil, ia menjadi gugup, kenapa orang aneh itu tidak membuka jalan darahnya atau mungkin sudah meninggalkannya.

Dengan tak sadar, entah lewat beberapa lama, jalan darahnya baru lancar kembali.

Cepat Jun-yan melompat bangun, baiknya obor masih ada satu, segera ia nyalakan, tapi ia menjadi terkejut, kiranya dirinya berada didalam satu kamar batu, tempat dimana ia rebah tadi adalah sebuah balai2 batu dengan bantal kasur lengkap.

Kecuali ada meja kursi dari batu, ada pula rak buku penuh kitab2, sebaliknya orang aneh itu telah menghilang entah kemana.

Sungguh Jun-yan merasa heran kenapa di tempat demikian terdapat gua batu seindah ini.

Ia merasa dirinya belum dibawa keluar gua oleh orang aneh itu, maka dapat diduga dirinya masih berada dalam perut gunung.

Ia coba memeriksa kamar itu, ia lihat tempat dimana dirinya merebah tadi mendekuk kedalam, waktu ia merabanya, ternyata kasur itu sudah lapuk, mungkin saking tuanya.

Begitu pula kitab2 di rak buku itu, sekali pegang lantas hancur.

Tambah heran Jun-yan, diam2 ia memikirkan asal-usul orang aneh itu.

Apakah mungkin tempat ini adalah tempat kediamannya dahulu? Sementara ini Jing-ling-cu dan para tokoh2 terkemuka lainnya sedang mempersiapkan pertemuan para jago silat seluruh jagat untuk mengusut asal-usul diri si orang aneh ini, kalau sekarang juga aku dapat menyelidikinya, kelak tentu akan bikin geger pertemuan besar itu.

Tiba2 ia melihat dipojok kamar itu ada sebuah peti besi, ia mendekati dan memeriksanya, ia lihat peti itu digembok dan sudah berkarat.

Posting Komentar