Lapor Seng-co, demikian Tiat-hoa-popo berkata pula, Sebenarnya Seng-co Baru mendengar sampai disini, se-konyong2 Jun-yan merasa sesosok bayangan berkelebat dari samping, tanpa pikir Jun-yan meraup dengan tangannya serta memandang kearah datangnya bayangan itu.
Tetapi ia menjadi heran ketika tiada seorangpun disitu, hanya tangannya tahu-tahu bertambah satu bungkusan hitam entah apa isinya, cuma bobotnya terasa agak antap, waktu ia buka, ia menjadi tercengang.
Ternyata isi bungkusan itu adalah dua belas buah lencana emas segi tiga, diatas lencana2 itu terukir gambar yang ber-beda2.
Saking herannya Jun-yan membolak-balik lencana-lencana itu untuk dilihat hingga mengeluarkan suara yang gemerincing.
Ia menjadi heran, darimanakah datangnya lencana-lencana emas ini dan apa gunanya ? Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Tiat-hoa popo berhenti menutur, tapi dengan cermat sedang mendengarkan suara gemerincing yang diterbitkan lencana2 emas itu.
Benda apakah yang kau pegang itu, Seng-co? tiba2 ia menanya.
Entahlah, tapi bentuk lencana segitiga dan seluruhnya ada dua belas buah, sahut Jun-yan.
Ha? seru Tiat-hoa-popo kaget, lalu dengan suara terharu pintanya .
Dapatkah aku meraba sebuah diantaranya ? Segera Jun-yan serahkan sebuah lencana emas itu ditangan sinenek.
Ketika nenek itu sudah meraba dan pegang2 lencana itu dengan teliti mendadak wajahnya berobah hebat, lalu dengan suara keras ia berkata dalam bahasa Biau.
Jun-yan bingung oleh kelakuan orang.
Ia lihat orang2 Biau yang tadinya bersorak- sorai tadi, kini mendadak berdiam lagi, lalu Tiat-hoa-popo angkat lencana tadi tinggi2 sembari mengucapkan serentetan kata2 lagi dalam bahasa mereka, maka orang2 Biau itu kembali menjura lagi dengan hikmatnya.
Selagi Jun-yan hendak menanya, tiba2 sinenek berganti dalam bahasa Han dan berkata padanya .
Lencana Seng-co sudah hilang selama tiga puluhan tahun, kini mendadak berada ditangan Seng-co baru, ini suatu tanda rejeki Seng-co baru yang maha besar dan suku Biau menerima rahmatnya.
Jun-yan berseru kaget oleh penjelasan itu, jadi lencana itulah Lengpay yang dianggap benda keramat oleh bangsa Biau.
Lalu siapakah tadi yang menimpukkan kepadanya ? Apakah orang aneh itu ? Padahal orang aneh itu diketemukan Jing-ling- cu dijurang Ciok-yong-hong di-pegunungan Hengsan, dari manakah ia dapat memperoleh Lengpay dari Seng-co gua suku Biau ini ? Dan karena masih tidak mengerti, akhirnya Jun-yan bertanya.
Lalu apakah gunanya Leng pay ini, Popo? Lengpay ini adalah tanda kebesaran Seng-co, tutur Tiat-hoa-popo.
Beratus ribu suku Biau kita akan tunduk pada segala perintah Seng-co asal melihat Lengpay itu.
Diam2 Jun-yan bergirang akan manfaat lencana kebesaran itu.
Maka ia ambil enam buah diantaranya, sisa enam buah lainnya ia serahkan kepada sinenek serta mengumumkan dihadapan kepala gua itu, bahwa untuk sementara berhubung urusan penting yang harus diselesaikannya didaerah lain, maka Tiat-hoa-popo ia angkat sebagai wakil mandaat penuh sesuai dengan enam buah lencana yang diserahkan padanya itu.
Dengan sorak gemuruh para orang Biau itu menyatakan setuju, saking terharunya kembali Tiat-hoa-popo meneteskan air mata.
Pada saat itulah tiba-tiba sesosok bayangan putih berkelebat, tahu seorang telah melompat keatas panggung, kiranya adalah A Siu yang lincah itu.
Walaupun tadinya merasa cemburu oleh karena melihat A Siu kesemsem pada Ti Put-cian namun sesudah tahu perangai jahat pemuda itu Jun-yan merasa gegetun malah bila si gadis cantik ini terpikat oleh pemuda yang tak bermoral itu.
Memangnya iapun suka bersahabat, terutama terhadap seorang gadis jelita yang lincah seperti A Siu ini, maka segera ia menyapanya dengan tertawa .
Eh, adik ini siapakah namanya ? Aku bernama A Siu, sahut si gadis dengan tersenyum.
Kemarin Jun-yan sudah menyaksikan juga betapa A Siu telah robohkan Siau-yau-ih-su Cu Hong-tin hanya dengan sekali-dua gebrakan saja, terang ilmu silatnya sangat tinggi, A Siu, hebat sekali kepandaianmu.
Siapakah suhumu ? segera ia tanya.
Lapor Seng-co, aku tak punya Suhu.'' sahut A Siu terus terang.
Aneh, diam2 Jun-yan membatin.
Segera ia pun membisiki A Siu .
Harap kau jangan sebut aku Seng-co umur kita sepadan, panggillah padaku enci saja.
Mana boleh jadi? sahut A Siu tertawa.
Sebab apa? tanya Jun-yan.
Kau adalah Seng-co, mana boleh terang2an aku panggil kau enci? sahut A Siu.
Tapi lantas ia membisikan pula .
Hanya kalau sudah diluar daerah sini, barulah tidak menjadi soal.
Melihat sifat dan tutur kata A Siu berbeda dengan orang Biau lainnya, Jun-yan bertambah suka padanya.
Tiba2 ia ingat akan diri Ti Put cian lagi, maka tanyanya .
A Siu dimanakah pemuda satu jari itu.
Seketika wajah A Siu bermuram durja sahutnya .
Tidak lama baru saja ia keluar dari gua, lantas buru2 pergi ingin aku menyusulnya tapi dicegah Popo sebab bila kau masih belum keluar gua pada waktunya orang berikutnya adalah giliranku.
A Siu apakah kau suka pada pemuda itu? tanya Jun-yan melihat wajah A Siu tiba- tiba muram demi mendengar Ti Put-cian disebut.
Sebenarnya ia hendak menasehatkannya tentang jiwa kotor pemuda itu, tapi urung.
Sebaliknya A Siu tidak menjawab, ia hanya mengangguk sambil memandang dengan sinar mata yang jernih dan mantap.
A Siu, karena urusan lain aku harus tinggalkan tempat ini dahulu, apakah kau suka ikut bikin perjalanan bersamaku ? kata Jun-yan kemudian.
Tentu saja A Siu bergirang, memangnya ia ingin sekali bisa menyusul buah hatinya.
Asal bisa menyusul buah hatinya.
Asal bisa ikut pergi bersama Jun-yan, harapan bertemu tentu sangat besar.
Maka tanpa ragu2 lagi ia mengia, segera ia bicarakan hal itu dengan Tiat-hoa-popo.
ENGAN enam buah lencana, sudah tentu Tiat-hoa-popo dapat bertindak sesukanya seperti Seng-co.
Maka iapun tidak merintangi akan kepergian A Siu bersama Jun-yan.
Besoknya, kedua gadis itu lantas berangkat dihantar oleh kepala gua Biau hingga jauh.
Sesudah menginjak daerah, dengan tertawa Jun-yan berkata pada A Siu.
Nah, sekarang kau boleh panggil enci, bukan? Betul juga A Siu lantas memanggil enci kembali padanya.
Karenanya Jun-yan kegirangan.
Selama ia berkelana di kangouw, siapa saja kalau tidak menyebutnya anak dara, tentu memakinya budak liar, tetapi belum pernah orang memanggil taci padanya.
A Siu, kata Jun-yan pula.
Walaupun kita bukan saudara kandung, tetapi menurut kebiasaan bangsa Han kami, kita bisa mengangkat saudara.
Ya, ya, aku tahu, bangsa Han suka angkat saudara sehidup semati, ujar A Siu.
Eh, darimana kau tahu, apa pernah kau pergi kenegeri kami ? tanya Jun-yan heran.
Pernah, ketika pergi bersama muridku, kata A Siu.
Muridmu ? Jun-yan menegas dengan heran, ah bagus bakal ada orang memanggil aku Supeh, tentu! Dan siapakah nama muridmu itu? Dimana dia sekarang ? Muridku adalah seorang Hwesio gede, namanya Tiat-pi Hwesio, sebulan yang lalu tinggal disuatu biara, mungkin masih disana, tutur A Siu.
Mendengar nama Tiat-pi Hwesio, Jun-yan bertanya.
itu paderi jahat terkenal disekitar Hunlam ? Benar, walaupun orangnya kelihatannya jahat, sebenarnya tidak demikian, ujar A Siu.
Lalu iapun ceritakan pengalamannya dahulu ketika merantau bersama Tiat-pi Hwesio ke-daerah Hunlam dan Kuiciu.
Melihat A Siu sama sekali tidak menyinggung ilmu silat yang dimilikinya, diam2 Jun-yan sangat ingin mengetahui sampai dimanakah sebenarnya ilmu kepandaian gadis jelita itu, meski sudah terang sangat tinggi seperti waktu menghajar Cu Hong-tin diatas panggung batu, tapi gaya aslinya masih belum jelas kelihatan seluruhnya.
Siapakah gurumu, A Siu ? tanyanya kemudian.
Namun A Siu hanya geleng2 kepala saja dan menjawab .
Aku tak punya guru.
Diam2 Jun-yan tidak percaya, masakan tanpa Suhu dapat mempelajari ilmu silat setinggi itu, bahkan jauh lebih unggul daripada Kang lam-it-ci-seng Ti Put-cian yang sudah ngacir itu.
Ia pikir mungkin peraturan perguruan yang melarang memberitahukan orang luar, maka A Siu tak mau bilang.
Maka iapun tidak menanya lebih jauh.
Petangnya tibalah mereka disuatu kota kecil, setelah mendapatkan hotel, Jun-yan minta pelayan menyediakan alat sembayangan dan sekedar sesajen, karena ia hendak mengangkat saudara dengan A Siu.
Selesai upacara singkat itu, Jun-yan pikir sebagai enci, sepantasnya memberi sesuatu tanda mata padanya.
Tetapi merasa tidak membawa barang2 apa yang berharga, pedang Tun-kau-kiam ia merasa berat, pecut mulut bebek tidak mungkin, sebab itu senjata pemberian sang guru.
Sesudah berpikir lama, ia lihat telinga A Siu tanpa hiasan, tiba2 hatinya tergerak, katanya .
A Siu, biarlah aku memberi sepasang anting2 padamu, dengan itu, tentu kau akan lebih menggiurkan.
Aku sudah punya anting-anting, sahut A Siu dengan tertawa.
Sembari berkata, ia keluarkan sepasang anting2 pualam hijau yang ditemunya waktu mencari jejak ayahnya dan Jin koh tempo dulu.
Coba kulihat, pinta Jun-yang.
Tapi ia menjadi heran dan terperanjat ketika melihat diatas anting2 itu masing2 -king yang kecil-kecil, ia jadi teringat pada peristiwa2 sesudah dirinya tinggalkan Cio-jong hong, waktu malam pertama tahu2 orang meletakkan golok Pek-lin-to disamping bantalnya, kemudian ketika orang aneh itu merampasnya kapal jambrud dari tangannya Siang Lui untuk dirinya, setiap kali selalu disertai secarik kertas dengan tulisan Jing kin .
Melihat huruf itu, tampaknya nama seorang, hal ini selamanya menjadi tanda tanya baginya, dan kini diatas anting2 terdapat lagi nama itu, sungguh aneh! Ada apakah, enci Jun-yan ? Apa anting2 ini tidak bagus ? tanya A Siu ketika melihat Jun-yan ter-menung2 penuh kesangsian.
A Siu, darimanakah kau mendapatkan anting2 ini ? tanya Jun-yan kemudian.
Entahlah, cuma dapat diduga miliknya Jing-koh (bibi Jing), sahut A Siu.
Jing-koh ? Siapakah dia? Entahlah, hanya tahu dia she Ang bernama Jing-kin, iapun memberi sebutir mutiara besar padaku, kata A Siu pula.
Lalu ia unjukkan mutiara mestika yang terkalung di lehernya itu.
Nampak mutiara itu, kembali hati Jun-yan tercekat, diam2 ia heran sekali .
Aneh, mutiara ini aku seperti pernah melihatnya entah dimana ? Makin lihat ia merasa makin kenal akan benda itu, se-akan2 benda itu pernah dimilikinya.
Tapi meski ia meng-ingat2nya lagi, masih tak mengerti apakah itu kebetulan saja atau sesuatu peristiwa yang pernah terjadi.
A Siu, siapakah gerangan Ang Jing-kin itu, dapatkah kau ceritakan padaku sedikit tentang dia ? katanya kemudian.
Akupun tidak begitu paham, hanya masih kuingat ketika aku ikut dia masuk gunung bersama ayah untuk mencari obat untuk suaminya.
sahut A Siu.
Lalu iapun cerita sekenanya tanpa teratur apa yang masih teringat olehnya ketika rumahnya kedatangan suami isteri Ang Jing-kin, kemudian bersama Tiat-pi Hwesio pergi mencari ayahnya dan menemukan kerangka tulang ditepi empang.