Manusia Aneh di Alas Pegunungan Chapter 38

NIC

He, kau ...

kau ...

tapi belum sempat ia berkata lebih banyak, tahu2 sinar hijau berkelebat, dengan sorot mata yang bengis, saat itu Ti Put-cian telah tusukan pedang Tun-kau-kiam kedadanya.

Namun pada detik yang menentukan itulah, tiba2 terdengar dibelakang sana ada suara gerengan tertahan, mendengar itu, seketika tangan Ti Put-cian tergetar dan tanpa merasa gemetar.

Sebaliknya semangat Lou Jun-yan menjadi terbangun, ketika ia pandang kedepan, ia lihat si orang aneh yang selama ini selalu mengintil dibelakangnya itu sudah berada lagi disitu tidak jauh dari Ti Put-cian.

Sementara itu terdengar suara mencicit nyaring dua kali, dua butir batu kecil secepat kilat telah menyambar, sebutir kearahnya dan yang lain menuju pergelangan tangan Ti Put-cian.

Segera Jun-yan merasa pinggangnya kesemutan, nyata ia sudah tertutuk oleh sambitan batu kecil itu hingga badannya berdiri kaku disitu.

Berbareng itu mendadak tampak tangan Ti Put-cian sedikit ditarik, namun sudah terdengar suara Ting yang nyaring, batu kecil tadi tepat kena diatas jari tunggalnya yang berselongsong emas itu, tangannya tergetar pegal, cekalannya kendor dan pedang Tun-kau-kiam terjatuh ketanah.

Kejadian2 itu berlangsung dalam sekejap saja, kalau pedang Ti Put-cian tadi sempat diulurkan sedikit lagi, pasti tubuh Jun-yan akan tertembus atau jika melompat mundur tentu akan ditelan lumpur serta sarang labah-labah di gua sebelah bawahnya itu.

Syukurlah saking jeri terhadap orang aneh itu, begitu muncul lantas Ti Put-cian gemetar ketakutan dan sesudah pedangnya jatuh ketanah, orangnya terus melompat kesamping.

Mendadak orang aneh itupun putar tubuh dan melontarkan sekali pukulan dari jauh, begitu keras angin pukulannya hingga debu berhamburan didalam gua itu, lekas2 Ti Put-cian jatuhkan diri kesamping pula dan dengan cepat menggelundung pergi sampai 7-8 kaki jauhnya.

Habis ini cepatan saja ia merangkak bangun terus berlari sipat kupingnya keluar gua sana.

Manusia aneh itupun tidak mengejar, dengan mulutnya ternganga sambil mengeluarkan suara.

Ah ah dia mendekat Jun-yan serta menuding2 kebelakang si gadis.

Untuk sejenak Jun-yan merasa bingung, tapi kemudian iapun paham akan maksud orang sebabnya menyambitkan batu menutuk jalan darahnya ialah kuatir kalau dia melompat kebelakang hingga terjerumus kedalam gua yang lebih besar itu.

Tapi segera ia menjadi heran pula, terang mata orang aneh ini sudah buta mengapa justru tahu ada gua yang menurun dibelakangnya dengan sarang labah2 beracun itu ? Kenapa terhadap keadaan dalam gua ini orang seperti apal betul? Sedang dia memikir, sementara itu orang aneh ini sudah mendekatinya serta menepuk perlahan dipundaknya untuk melancarkan jalan darahnya.

Tatkala mula2 Jun yan melihat manusia aneh ini, ia merasa rupa orang lebih mirip setan daripada manusia.

Tapi kini kalau dibandingkan Ti Put-cian yang berwajah cakap ganteng itu namun berhati palsu dan keji, ia merasa muka si orang aneh ini tiba2 seperti muka yang penuh welas asih.

Banyak terimakasih atas pertolonganmu tadi, kata Jun-yan kemudian sambil menjemput Tun-kau-kiam yang jatuh ditanah ditinggalkan Ti put-cian tadi.

Walaupun tusukan Ti Put-cian tadi gagal mencelakai Jun-yan, namun sejak inilah corak asli pemuda yang berhati palsu dan berjiwa keji itu sudah dapat diketahui si gadis.

Sejak kecil Jun-yan sudah berada dibawahan asuhan gurunya, Thong-thian-sin- mo Jiau Pek-king, maka pengaruh jiwa sang guru itu menjadikannya enteng pikir, mudah menerima dan gampang melepas.

Sungguhpun tadinya hati kecilnya mulai bersemi cinta pada Ti Put- atannya yang rendah' ia malah bersyukur dapat mengetahui kepalsuan orang sebelum terlambat.

Sementara itu si orang aneh masih ah ah uh uh tak jelas apa yang hendak dikatakannya.

Melihat itu, hati Jun-yan menjadi terharu dan merasa kasihan, dengan suara lembut ia menanya .

Paman aneh, aku tidak mengerti apa yang hendak kau katakan.

Akupun tidak kepingin jadi kepala orang-orang Biau segala, marilah kau ikut aku pulang ke Jin-sia-san, nanti kumohon Suhu agar mencarikan tabib terpandai untuk menyembuhkan kau? Tapi orang aneh itu hanya miringkan kepalanya seperti mendengarkan, sesudah Jun yan selesai bicara, kembali dari tenggorokannya keluar pula suara gerengan tertahan yang susah dimengerti apa maunya.

Marilah paman aneh, kita pergi saja, ujar Jun-yan sambil melangkah maju.

Diluar dugaan, baru beberapa langkah, mendadak si orang aneh itu merintangi sembari tarik lengannya dan diseretnya pergi cepat.

Semula Jun-yan terkejut, tapi mengingat ia selalu melindungi dirinya, rasanya tidak nanti bermaksud jahat, maka iapun tidak melawan dan membiarkan dirinya dibawa kembali kedalam kamar batu itu.

Sesudah berada didalam kamar batu itu, segera orang aneh itu lepaskan si gadis terus me-raba2 kedinding kamar itu, Sampai suatu sudut, tiba2 ia berhenti, lalu terdengar pula ia menggereng tertahan, ia mencengkeram dengan jarinya, tahu2 bubuk dinding ditempat itu berhamburan, ternyata sebuah lubang kecil tembus kena terkamannya itu.

Sungguh tidak kepalang terkejutnya Jun-yan melihat betapa lihai tenaga jari orang.

Sedang Jun-yan ternganga kagum, sekonyong-konyong orang aneh masukan tangannya kedalam lubang kecil itu, ketika ia tarik sikutnya, dibarengi suara gemuruh yang keras, tahu-tahu sepotong batu besar dinding itu telah kena disingkirkan hingga berwujut sebuah lorong yang menurun.

Jun-yan bertambah kaget, namun saat itulah si orang aneh itu telah baliki badannya terus pegang pundak si gadis, dan sebelah tangan lain mengangkat pinggangnya hingga tubuhnya terangkat naik.

He, he, apa2an ini ! teriak Jun-yan sambil kedua kakinya meronta2.

Namun orang aneh itu tak memperdulikannya, tubuh Jun-yan tetap diangkat dan dimasukkan kedalam lubang besar itu dan terus didorong sekuatnya, Jun-yan merasa tubuhnya merosot kebawah dengan cepat oleh dorongan suatu tenaga yang besar, ia terus meluncur kebawah hingga berpuluh tombak jauhnya, ketika tiba2 tubuhnya menggelundung diatas semak2 rumput dan matanya terbeliak, ternyata dirinya sekarang sudah berada disuatu goa besar yang tidak jauh dari situ nampak ada cahaya sang surya, ia merangkak bangun dan berjalan keluar, waktu ia menoleh dan coba memanggil paman aneh , namun tiada sesuatu suara sahutan.

Sesudah berada diluar gua itu, ia dapat mengenali tempat itu adalah tempat yang pernah dilaluinya diwaktu datang bersama Ti Put-cian tempo hari.

Cepat Jun-yan masukkan pedang kesarungnya, ia pikir tentu Ti Put-cian masih berada dilembah kurung itu, biarlah mencari padanya untuk bikin perhitungan.

Maka segera ia berlari menuju kepintu besi yang sudah dikenalnya itu, beberapa orang Biau yang tinggi besar penjaga pintu menjadi terkejut demi nampak datangnya Jun-yan, se-konyong2 mereka letakkan tombak mereka serta berjongkok ketanah memberi sembah, lalu bersorak sorai se-keras2nya hingga mengejutkan kawan-kawannya yang berada disebelah dalam.

Ketika pintu dibuka dan Jun-yan masuk kelembah kurung didalamnya, suku Biau yang sedang menyanyi dan menari itu mendadak berhenti, seluruh pandangan diarahkan padanya.

Masih Jun-yan hendak mencari Ti Put-cian yang mungkin campurkan diri diantara orang banyak tapi ternyata tak kelihatan batang hidungnya.

Hanya sebentar saja suasana menjadi sunyi, mungkin saking herannya karena Jun- yan bisa keluar dari gua sarang labah2 berbisa dengan selamat.

Namun sejenak kemudian tiba2 genderang berbunyi lagi, suara sorak sorai gegap gempita memecah bumi.

Terlihatlah tujuh puluh dua orang Biau dibawah pimpinan Tiat-hoa-popo telah berlutut ditanah memberi sembah sambil bersorak .

Tongcu dari tujuh puluh dua gua menyampaikan sembah bakti kepada Seng-co kesembilan! Untuk sesaat Jun-yan tercengang, ia pikir dirinya belum mampu menembus gua sarang labah-labah berbisa itu, kenapa mereka telah menganggapnya sebagai Seng-co ? Tapi segera iapun menjadi jelas, sebab dirinya datang kembali melalui pintu besi diluar sana, sudah tentu orang tak tahu apakah datangnya itu menembus gua labah- labah itu atau tidak.

Dasar sifatnya yang masih kekanak-kanakan, ia menjadi senang ketika melihat semua orang begitu menghormat kepadanya betapa jayanya menjadi kepala suku Biau.

Maka dengan tersenyum ia memberi tanda agar semua orang berdiri.

Dengan ber-bondong2 lalu Jun-yan disongsong ke kepala gua itu keatas panggung batu ketika Tiat-hoa-popo memberi tanda, kemudian suasana menjadi sunyi lagi, lalu dia angkat bicara dengan suaranya yang tajam.

Walaupun Lengpay (lencana tanda perintah, mandaat) Seng co telah dihilangkan sejak lenyapnya Seng-co ke 8 dan hingga kini belum diketemukan, namun sesudah Seng-co baru sekarang kita angkat, kita tetap akan menurut dan tunduk kepada segala perintah Seng-co.

Habis itu Tiat-hoa-popo berpaling minta petunjuk kepada Jun-yan apakah sebagai Seng-co baru ada petua apa2 yang perlu disampaikan.

Sudah tentu si gadis gelagapan entah apa yang harus dikatakan, ia hanya minta Tiat-hoa-popo menyampaikan kepada para kerabat agar tetap hidup damai berdampingan, semoga makmur dan bahagia.

Sembari berkata ia coba men-cari2 lagi Ti Put-cian diantara orang banyak, tapi masih tak diketemukan.

Sementara itu Tiat-hoa-popo menuturkan lagi kepada Jun-yan, tentang adat istiadat serta kewajiban2 seorang Seng-co, bahwa tiap sebulan sekali Seng-co harus bergiliran tinggal bersama disetiap gua dengan suku bangsanya, sesudah itu barulah boleh pilih tempat kediaman sendiri untuk selamanya.

Diam2 Jun-yan mengeluh akan ikatan demikian itu.

Masakan ia harus tinggal untuk selamanya didaerah Biau ini.

Tiat-hoa-popo, jika menurut penuturanmu, jadi Seng-co sama sekali tak boleh tinggalkan tempatnya ini ? Tentu saja boleh, sahut sinenek, asal sebelumnya ia mengangkat seorang wakilnya.

Aha, jika begitu, Tiat-hoa-popo adalah seorang yang paling dihormati diantara sukumu, padahal masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan ditempat lain, maka biarlah sementara ini aku angkat kau sebagai wakilku, mumpung seluruh kepala tujuh puluh dua gua berada disini, sekarang juga aku umumkan maksudku ini.

Betapa girangnya Tiat-hoa-popo, hampir2 ia tidak percaya akan pendengarannya sendiri.

Saking terharu sampai air matanya meleleh, segera ia sampaikan keinginan Jun-yan kepada para kawannya, maka didahului sinenek, kembali para kepala gua itu berjongkok menyembah lagi.

Posting Komentar