Manusia Aneh di Alas Pegunungan Chapter 26

NIC

Sungguh bukan buatan rasa girang dan terimakasih wanita itu, saking terharu sampai ia tak sanggup ber-kata2.

Ia lihat A Siu sangat menyenangkan, kemudian ia tanya.

Nona cilik ini adakah putrimu.

Siapakah namamu ? Meniru seperti bangsa Han kalian, namanya A Siu, sahut Kek Pang.

Nama bagus , kata wanita itu.

Biarlah aku memberi sedikit hadiah.

Sembari berkata, dari bajunya ia keluarkan suatu kotak kecil.

Tadinya semua orang menyangka oleh2 yang diberikan ini tentu mainan kanak2 yang tak berarti, tak terduga, ketika tutup kotak itu menjeblak, barulah semua orang terkejut.

Waktu itu hari sudah gelap, dan begitu kotak itu terbuka, segera memancarkan sinar yang menyilaukan, ternyata isi kotak itu adalah sebutir mutiara sebesar biji buah kelengkeng yang dibikin sebagai mainan kalung dengan rantai emas yang kecil.

Wanita itu ambil kalung emasnya lalu pasang dilehernya A Siu.

Keruan A Siu kegirangan, serunya berulang ulang .

Banyak terima kasih, toakoh, banyak terima kasih! Nyata, karena ayahnya sering bergaul dengan saudagar Han, maka iapun bisa mengucapkan beberapa patah kata bahasa Han.

Dengan penuh kasih sayang wanita itu mengempoh A Siu serta menciumnya sekali.

Suamimu boleh beristirahat dirumahku selama kita masuk gunung, tentu ada orang yang akan merawatnya, kata Kek Pang kemudian.

Ya, cuma aku harap supaya dipesan agar kain kerudung kepala suamiku itu jangan sekali-kali dilepaskan, sahut siwanita.

Lalu mereka memondong orang laki-laki itu kedalam rumah, kata laki-laki ini .

Jing- kin, sungguh aku merasa kuatir sekali bila kau pergi mencari Kiu-bwe-coa dan Cit-kim- ko itu.

Sudahlah, jangan pikir yang tidak2, mengasolah yang tenang, dalam sebulan, aku yakin akan bisa kembali dengan membawa barang yang kita cari itu, sahut sang istri.

Sesudah merebahkan lelaki itu didipan, kemudian Kek Pang berkata.

Toaso, dengan cahaya mutiara bersinar ini, malam ini juga kita bisa berangkat.

Itulah lebih baik, sahut siwanita dengan girang.

Segera Kek Pang siapkan sekantong ransum dan membawa sebilah golok melengkung bergegas2 segera mereka hendak berangkat.

Tiba2 A Siu merecoki sang ayah untuk ikut serta, meski Kek Pang telah membujuk dan me-nakut2i tapi A Siu tetap ingin turut, terpaksa sang ayah mengajaknya, ia panggul putri kecil itu di atas pundaknya lagi dan katanya.

Marilah Toaso, kita berangkat.

Diwaktu hendak melangkah pergi, wanita itu masih menoleh beberapa kali pada sang suami, terdengar lelaki itu berseru.

Jing-kin, jika tidak bisa dapatkan barang yang dicari, lekaslah kau pulang saja! Ya, dalam sebulan pasti aku akan pulang kembali, harap kau bersabarlah, sahut wanita itu dengan suara berat.

Nyata sekali, mereka adalah sepasang suami istri yang sangat sayang menyayangi.

Begitulah, dengan bantuan cahaya mutiara, dengan cepat Kek Pang telah membawa wanita itu menempuh perjalanan sejauh dua puluh li.

A Siu sama sekali tidak merasa ngantuk atau letih, malahan ia terus menerus mengajak ngobrol dengan wanita itu.

A Siu, aku she Ang, bernama Jing-kin, selanjutnya kau panggil aku Jing-koh (bibi Jing) sajalah, ujar wanita itu.

Aku juga punya satu anak perempuan, umurnya lebih tua tiga tahun darimu.

kelak kalau kalian bisa bertemu, tentu kalian akan cocok seperti saudara sekandung.

Enci itu siapa namanya, Jing-koh ? tanya A Siu.

Nama kecilnya dipanggil Siau Yan, kata Jing-kin.

Tiba-tiba A Siu angkat mutiara bersinar yang tergantung didepan dadanya itu dan menanya.

Jing-koh, kenapa mutiara sebagus ini tak kau berikan pada suci Siau Yan ? A Siu , sahut Jing-kin, Kau masih terlalu kecil, kau belum paham.

Ditempat kami sana ada banyak orang jahat, kalau melihat barang bagus, lantas ingin merampasnya.

Ai, urusan ini kelak kau sudah besar, tentu akan mengerti.

Begitulah, sesudah terlalu letih, akhirnya bocah itu terpulas digendongan sang ayah.

Sesudah semalam suntuk menempuh perjalanan, ketika fajar hampir mendatang, mereka sudah melintasi sebuah gunung, seluas pandangan kedepan, kabut tebal menyelimuti rimba raya.

Kek Pang menuding kemuka, katanya, Toaso, tempat dimana kami sering berburu dan mencari nafkah adalah disekitar gunung yang kita lintasi semalam, kedepan lagi selamanya tiada orang yang berani kesana, kalau ingin mencari sebangsa Kiu-bwe-coa dan Cit kim ko yang jarang terlihat itu, rasanya harus ke- pegunungan sunyi didepan sana.

Kau tidak membawa senjata, biarlah golokku ini kau pakai.

Terharu sekali Ang Jing-kin oleh rasa simpati si orang Biau ini, dan kalau mengingat nasib malang suami istri mereka, ia menghela napas panjang.

Lalu sahutnya, Tak perlulah, aku sendiri punya senjata penjaga diri.

Segera ia merogoh saku bajunya dan tahu2 tangannya sudah bertambah segulung benda hijau gelap, ketika sedikit tangannya mengepal dan dilepas lagi, benda gulungan itu mendadak berbunyi creng terus mulur sepanjang satu meter, nyata itulah sebatang pedang yang bersinar menyilaukan, pedang itu tipisnya luar biasa, dan ternyata bisa mulur dan mengkeret menggulung sendiri.

Hebat sekali, mengapa pedang ini begini lemas, apa gunanya? tanya Kek Pang rada tercengang.

NG JING-KIN menyentil beberapa kali dibatang pedang itu hingga mengeluarkan suara nyaring, sahutnya .

Pedang ini memotong besi bagai rajang sayur, boleh lihat ini! Habis berkata, sekenanya ia tabas kebatang pohon di tepi jalan, pohon itu lebih besar dari paha orang, tapi pedang itu dapat menabas lewat, kemudian pohon itu baru ambruk kesamping.

Tempat dimana pohon itu patah tampak halus bagai digergaji saja.

Betapa terkejut dan kagumnya Kek Pang hingga mulutnya ternganga.

Sementara itu A Siu sudah mendusin, mereka makan sedikit rangsum, lalu melanjutkan perjalanan lagi.

Begitulah mereka terus mencari dipegunungan itu hingga tujuh hari lamanya, dalam pada itu banyak bahan obat-obatan berharga telah dapat dikumpulkan Kek Pang.

Tapi ular dan buah yang mereka cari itu tetap belum diketemukan.

Melihat waktu makin lama makin mendesak, Jing-kin menjadi gopoh.

Sampai hari kedelapan, mereka telah memasuki sebuah lembah sempit, didepan sana terdengar ada gemerciknya air, ketika maju lagi, ternyata ada sebuah tanah luas lapang, sebuah sungai kecil mengalir dengan airnya yang jernih.

Melihat air, saking hausnya Kek Pang terus letakan A Siu ketanah, ia sendiri berjongkok ke tepi sungai buat minum.

Tapi baru beberapa hirupan air masuk perutnya, sekonyong-konyong ia berdiri dengan badan gemetar.

Karuan Jing-kin terkejut, ia lihat sekejap saja wajah Kek Pang sudah biru gelap, tangannya menuding ke sungai dan mulutnya ternganga tak sanggup bersuara lagi.

Ap...apakah air sungai berbisa ? tanya Jing-kin cepat.

Tapi tubuh Kek Pang sudah menggelongsor jatuh ditepi sungai, ketika Jing-kin membaliki tubuh orang dan memeriksa urat nadinya, ternyata napasnya sudah putus.

Sungguh susah dipercaya bahwa air sungai sejernih itu ternyata berbisa jahat luar biasa, saking terkejutnya sampai Jing-kin melupakan A Siu yang ditaruh ayahnya ketanah tadi sudah berlari-lari pergi memain sendiri dan ternyata tidak kembali lagi.

Jing-kin sendiri termangu-mangu memandangi sungai itu.

Ia pikir dengan terbinasanya Kek Pang, kesukaran yang akan dihadapinya dalam usaha mencari Kiu-bwe-coa ini tentu akan bertambah-tambah.

Sedang Jing-kin berduka, tiba-tiba dilihatnya didasar sungai itu ada segundukan batu berwarna yang tiba-tiba bisa bergerak2.

Malahan lantas ada lagi dua gundukan batu kecil lainnya ikut-ikut bergoyang, gundukan yang tadinya bundar lambat laun memanjang.

Ketika ia tegasi, gundukan batu apa, hakekatnya adalah tiga utas ular yang tadinya meringkuk disitu, sebab itulah tampaknya seperti gundukan.

Melihat ada ular, cepat Jing-kin siapkan tiga buah Bwe-hoa-piau, dan selagi hendak disambitkan kepada ular-ular itu, tiba-tiba dilihatnya ketiga ular itu dimana ekornya mengesot seakan-akan mempunyai sembilan ranting cabang, nyata itulah yang disebut Kiu-bwe-coa atau ular sembilan buntut yang sedang dicarinya setengah mati, malahan sekali bertemu ada tiga jumlahnya.

Karuan terkejut dan girang Ang Jing-kin, senjata rahasia yang sudah hampir disambitkan itu ia tarik kembali mentah-mentah, ia pikir orang kosen yang memberi petunjuk itu pernah bilang bahwa Kiu-bwe-coa ini hidupnya selalu berdampingan dengan Chit-kim-ko, dan untuk menyembuhkan luka sang suami, kedua macam barang itu harus lengkap tak boleh kurang salah satu diantaranya.

Jika sekarang juga ia timpuk mati ular-ular itu, lantas kemana akan mencari buah Chit-kim- ko itu ? Karena itu ia coba menanti dan curahkan perhatian atas gerak-gerik ular-ular itu, ia lihat Kiu-bwe-coa itu kemudian berenang kehulu sungai, celakanya tiga membagi tiga jurusan.

Posting Komentar