Ada urusan apakah kau ? Aku ingin menanya tentang kejadian belasan tahun yang lalu, yaitu pedang dan kain sutera merah yang tercuri oleh Jing-koh...
Sekonyong-konyong Ki Teng-nio bersuit aneh hingga rambutnya yang kusut itu seakan-akan menegak.
Nyata peristiwa itu merupakan kejadian yang tidak pernah dilupakan olehnya sebagai suatu noda besar selama hidupnya, malah ia menjadi korban pula hingga badannya lumpuh, sama sekali tak terduga A Siu berani menyinggung hal itu dihadapannya, tentu saja ia menjadi murka sebelum A Siu selesai berkata.
Mendadak ia membentak pula .
Budak kurang ajar, hehe, hehehe! nyata saking murkanya hingga ia tertawa dingin saja.
Disamping sana, Kim-teng-sam-sat terus saja merubung maju demi nampak kegusaran sang guru yang tak terhingga itu.
Namun A Siu menjadi tercengang, dengan tertawa ia menanya .
He, aneh kau ini, aku hanya menanya, kenapa kau marah2 ? Hemm, budak semacam kau ini, benar2 aku belum pernah melihat, kata Ki Teng- nio kemudian.
Tapi kalau kau sudah berani datang kemari, rasanya kaupun punya andalan apa2, Lalu ia berpaling berteriak sengit kepada ketiga muridnya itu .
Ambilkan senjata ! Cepat juga Kim-teng-sam-sat bergerak begitu mendengar suara teriakan gurunya yang keras melengking, sekali jari mereka menjentik, secepat kilat tiga macam senjata rahasia telah menyambar kemuka Ki Teng-nio.
A Siu semakin heran melihat kelakuan mereka yang aneh itu, senjata rahasia itu tidak diarahkan padanya, sebaliknya menyerang guru mereka sendiri ? Namun lantas terlihat Ki Teng nio sedikit mengap mulutnya, tahu2 ketiga senjata rahasia itu telah masuk kedalam mulutnya menyusul Kim-teng-sam-sat terus melompat mundur.
Sebaliknya A Siu masih ter-heran2, tak paham apa artinya itu ? Sementara itu terdengar Ki Teng-nio sudah bersuara aneh sekali, dan sedikit mulutnya bergerak krok , tahu2 senjata rahasia telah menyembur dari mulutnya.
Anehnya sesudah senjata itu disembur keluar, mula2 seperti ber-putar2 saja didepan Ki Teng-nio, lambat laun sesudah berputar makin cepat, mendadak terus menyambar kearah A Siu.
Sementara itu A Siu sudah melihat jelas senjata rahasia itu adalah sepotong Hui- hong-ciok atau batu belalang terbang.
Karena datangnya batu itu tampaknya lambat2 saja, maka A Siu tidak ambil perhatian.
Siapa duga ketika batu itu menyambar lewat diatas empang, air empang itu tiba2 bergolak seperti ditiup angin kencang.
Barulah sekarang A Siu tahu betapa hebat tenaga dalam yang dilontarkan Ki Teng-nio itu untuk meniup batu belalang itu.
Belum lagi batu itu mendekati, segera dia merasa suatu tenaga maha hebat telah menyerang dulu kedadanya hingga hampir2 dia tidak bisa tegak.
Namun dengan Lwekang yang diperolehnya tanpa sadar dari Siau-yang-chit-kay yang hebat, A Siu tidak mudah dirobohkan, ia justru ingin mencoba betapa lihaynya tenaga dalam orang.
Tidak mundur, ia malah melangkah maju terus meraup batu yang sudah menyambar tiba itu.
Melihat usia A Siu semuda itu tidak tergetar mundur oleh tenaga semburan batu, sebaliknya malah melangkah maju, pula melihat si gadis berani mengulur tangan hendak menangkap batunya, dalam terkejutnya Ki Teng-nio menduga pula pasti tangan A Siu bakal patah kebentur senjata rahasianya itu.
Ketika A Siu rangkap tangannya menyambut batu itu, ia merasa tenaga yang maha besar seakan2 mematahkan tangannya hingga separoh tubuhnya seperti lumpuh.
Lekas2 dia kerahkan tenaga dalamnya buat melancarkan jalan darahnya.
Ia menjadi terkejut, lalu pertama kali inilah A Siu menjumpai tenaga dalam yang luar biasa, maka dengan mata membelalak ia pandang wanita kosen itu.
Sebaliknya bagi Ki Teng-nio dan ketiga muridnya juga terperanjat tidak kepalang.
Menyembur senjata rahasia dengan mulutnya adalah semacam kepandaian tunggal wanita kosen itu sejak badannya lumpuh, maka boleh dikata dilontarkan dengan segenap tenaga dalamnya.
Tapi seorang gadis lemah gemulai seperti A Siu ternyata mampu menangkap batunya, tentu saja ia terkesiap, dengan suara tajam ia menanya.
Budak cilik, siapakah gurumu? semula ia menduga si gadis ini mungkin anak murid kedua Nikoh dari Go-bi-pay atau murid Thong-thian-sin-mo Jiauw Pek-ki tersohor, namun ilmu silat mereka paling banyak juga mampu menangkap senjata rahasianya seperti perbuatan si gadis tadi saja.
Padahal usia gadis ini masih muda belia begini, seumpama melatih diri sejak masih dikandungan sang ibu juga tidak mungkin mencapai tingkatan demikian.
Maka terdengarlah A Siu menjawab .
Suhu? Ah, aku tidak punya suhu, tapi punya Toute, ialah Hweshio gendut ini ! sembari berkata ia-pun menunjuk Tiat-pi Hwesio yang berada di belakangnya.
Mendengar jawaban si gadis yang susah dipercaya itu, Ki Teng-nio bertambah gusar, bentaknya .
Bagus jawabanmu.
Tak punya Suhu katamu? Nih, sambutlah senjata kedua! kembali batu kedua menyembur keluar lagi dari mulutnya secepat kilat.
Kalau batu pertama tadi sangat lambat, adalah batu kedua ini ternyata cepat luar biasa.
A Siu terkejut oleh menyambarnya batu yang cepat itu, lekas2 ia mengegos kesamping sembari kebas lengan bajunya untuk mengebut batu itu seraya mengerahkan tenaga dalamnya membuang batu itu kesamping, tapi tidak urung ia sendiripun ter-huyung2 beberapa tindak ke belakang.
Manusia Aneh Dialas Pegunungan Karya dari Gan K.l Karena itu, tanpa bicara lagi Ki Teng-nio semprotkan batu ketiga terlebih keras lagi.
Namun sekali ini A Siu sudah bersiap sedia, sekali tangannya mengayun, tiba2 batu yang kena ditangkapnya tadi terus ia sambitkan kedepan hingga kedua batu saling bentur hingga hancur remuk ditengah udara.
Tenaga dalam kedua orang sama2 hebatnya, tentu saja kedua batu itu hancur menjadi bubuk.
Kejadian ini membikin Kim-teng-sam-sat semakin terkejut.
Tiba2 Ki Teng-nio tertawa ter-kekeh2 aneh, mendadak ia berseru meraung bagai singa menggerung, suaranya makin lama makin seram, walaupun waktu itu siang hari bolong, tapi suara meraung itu membikin suasana seakan-akan dimalam sunyi yang dingin.
Semula A Siu merasa heran akan suara Ki Teng-nio itu, sejenak kemudian ia merasa pandangannya se-akan2 kabur dan kepalanya pening.
Ia terkejut, cepat ia menjalankan lwekang yang dipelajarinya dari Siau-yang-chiat-kay, ia pusatkan pikiran dan tenangkan batin, dengan sinar matanya yang bening bercahaya itu ia tatap Ki Teng-nio.
Apa yang dilontarkan waktu itu adalah semacam ilmu sakti Ki Teng-nio yang lain, yaitu disebut Ho-im-liap-hun atau meraung mencabut nyawa.
Semacam ilmu kepandaiannya yang memabukkan lawan dengan suara, cuma ciri daripada ilmu ini adalah tiada gunanya ditujukan kepada anak2 kecil yang sama sekali masih belum bisa berpikir.
Walaupun A Siu bukan kanak2 lagi, tapi selama belasan tahun ia tinggal menyepi dipegunungan sunyi, dengan sendirinya hatinya bersih dan pikirannya jernih, ditambah lagi Lwekang yang dilatihnya dari Siau-yang-chit-kay, tentu saja ilmu Ki Teng-nio itu tidak membawa hasil apa2.
Malahan melihat kelakuan wanita tua ini A Siu merasa geli, ia terus menatap diri orang dengan tersenyum.
Tak lama kemudian, ia lihat Ki Teng-nio masih terus meraung-raung, saking bernapsunya, tertampak urat-urat mukanya berkerut-kerut se-akan2 kekejangan.
Eh, eh, Ki Teng-nio kenapakah kau meraung semacam serigala lapar? Ada apa kenapa tak kau bicarakan saja ! demikian kata A Siu dengan tertawa.
Melihat ilmu andalannya Ho-im-liap-hun tidak manjur, sama sekali tak merobohkan A Siu dari terkejut Chit-bok-lo-sat menjadi gusar.
Diakhiri dengan sekali suara aneh mendadak ia berhenti meraung dengan napas memburu.
Kenapa kalian tidak turun tangan ! teriaknya kemudian dengan suara lemah.
Kata2nya itu terang ditujukan kepada ketiga muridnya.
Tapi melihat sang guru saja tak berdaya kalahkan, apa lagi mereka.
Namun terpaksa He-hong-tongcu bertiga melangkah maju dengan ragu-ragu.
Diluar dugaan mendadak A Siu berseru.
Marilah kita pergi, Toute! lalu dia memberi tanda pada Tiat-pi Hwesio sambil memutar tubuh.
Melihat A Siu tahan uji akan kepandaiannya Ki Teng-nio terutama terhadap ilmu raungan pencabut nyawa yang Iihay itu, Tiat-pi Hwesio sudah menjunjung A Siu sebagai malaikat dewata, la menjadi heran tiba-tiba sang guru mengajaknya pergi dengan membelalak ia menanya .
Pergi? Bukanlah Suhu hendak menanya perempuan tua bangka itu.
Sudahlah, kalau dia tidak mau berkata, tak perlu kita paksa dia, sahut A Siu.
Tiat-pi tambah heran oleh jawaban A Siu yang polos ini, betapapun Tiat-pi dogol tolol, tapi dikalangan Kangouw ia sudah bisa melihat pihak menang memaksa pihak yang terdesak.
Maka sesudah tertegun sejenak, katanya kemudian.
Nah, kau saja Hek- hong-tong-tongcu, lekas kau maju kemari biar aku toyor kau tiga kali dahulu kau menjotos aku sekali, kini aku memberi rante dua kali padamu, Gurumu kalah dengan guruku, apa kau berani membangkang ! Nio Kiat sendiri bukanlah jago lemah, walaupun terkesiap melihat Suhunya tak berdaya merobohkan seorang gadis jelita, tapi kalau ia disuruh terima gebuk mentah2, sudah tentu tidak mau menyerah begitu saja.
Maka dengan wajah gusar ia menjadi terpaku ditempatnya.
Pengecut, kau tak berani kemari, biar aku mendekati kau ! teriak Tiat-pi Hwesio semakin dapat angin.
Segera saja ia melangkah maju dengan tindakan lebar.
Ia angkat bogemnya terus menjotos kemuka musuh.
Tentu saja Nio Kiat tidak terima mentah-mentah, sekali tangannya membalik menangkis sembari balas mencengkeram kemuka si hwesio.
Kalau sampai cengkeraman ini kena, pasti biji mata Tiat-pi akan dicolok keluar.
A Siu semula geli melihat kelakuan sang Toute itu tapi ia menjadi terkejut melihat Tiat-pi bakal tertimpah bahaya, cepat dia berseru .
Tarik tangan kesamping hantam punggungnya! Terhadap A Siu sekarang Tiat-pi sudah memujanya bagai dewa sakti, maka ia menurut petunjuk itu, tangan dengan cepat ditarik terus melangkah kesamping berbareng tangan yang lain menggebuk punggung musuh.
Walaupun A Siu memberi petunjuk seada-nya saja, tapi yang diucapkan itu adalah gerak tipu paling hebat dari Siau-yang-chit-kay mana mampu Nio Kiat menghindarinya.
Tanpa ampun lagi punggung nona dihantam dengan keras seketika isi perutnya se- akan2 terjungkir balik dia ter-huyung2 sambil muntahkan darah lalu terkulai ditanah.
Tiat-pi sendiri terkesima ketika sekali hantam telah bikin lawannya roboh tak berdaya.
Tapi segera serunya .
Haha, ternyata kau lebih tak becus dari padaku, sekali gebuk saja tak tahan.
Baiklah masih ada dua kali toyoran.
biar aku titip dulu padamu, kalau kelak bertemu lagi awas kau! Kedua Sutenya Nio Kiat menjadi heran melihat sang Suheng dijatuhkan orang, tapi gurunya tinggal diam saja.