Maaf ! Bok Siang-hiang coba merendah lalu ada seorang Biau lagi yang melompat keatas, tapi juga bukan tandingannya, ber-turut2 beberapa orang lagi dari berbagai suku bangsa, tapi semuanya kena dikalahkan Bok Siang-hiong.
Sementara itu hari sudah terang, obor sudah dipadamkan, Bok Siang-hiong masih menjagoi di atas panggung, kedua matanya selalu mengincar Siau-yau-ih-su Cu Hong- tin saja.
Karena ditunggu lama masih belum ada yang naik, akhirnya Cu Hong-tin berbangkit, sekali ayun kebutnya, perlahan dan enteng sekali ia melompat keatas panggung batu itu.
Melihat betapa indah loncatan itu, semua hadirin bersorak memuji.
Sebaliknya Bok Siang-hiong sangat mendongkol akan datangnya Cu Hong-tin ini, sedangkan dirinya sudah bertempur setengah malam, tenaganya sudah habis, barulah orang maju menantang padanya, maka tanpa bicara lagi, begitu membuka serangan, segera ia putar sepasang cundriknya itu mengurung rapat lawannya.
Dalam hal keuletan, sebenarnya Cu Hong-tin memang masih lebih unggul dari pada Bok Siang-hiong.
Apa lagi orang telah bertempur selama setengah malam dengan berpuluh orang.
Betapapun lihay serangannya, tidaklah dipandang berat oleh Cu Hong- tin.
Sekali Siau-yau-ih-su ini meloncat, dari atas kebutnya yang berekor benang emas itu terus mengepruk kebawah dengan tipu Thian-hoa-kap-teng atau bunga langit menghambur kepala.
Ketika mendadak Bok Siang-hiong merasa kabur pandangannya, Cu Hong-tin telah menghilang, tahu2 dari atas suatu tenaga maha besar menindih kepalanya, ia menjadi terkejut luar biasa, tanpa pikir lagi ia melompat pergi sejauh mungkin.
Sementara itu Cu Hong-tin sudah tancap kaki kebawah lagi dengan sikapnya yang gagah sebagai jago yang berada diatas angin, katanya .
Jurus Siao-jin ki-loh (sang dewa menunjuk jalan) ini silahkan Bok-heng terima lagi ! tiba2 ujung kebutnya menjadi tegang terus menutuk kedada lawan.
Belum lagi bisa berdiri tegak, terpaksa Bok Siang-hiong menangkis pula serangan ini.
Namun kebut Cu Hong-tin ternyata sangat hebat dan serba guna, dengan tenaga dalam ia patahkan tenaga keras tangkisan orang, lalu ekor kebutnya melibat diatas cundrik orang hingga kencang, habis itu ia tarik sekuatnya.
Keruan Bok Siang-hiong tak sanggup menahan hingga senjatanya terlepas dari cekalannya.
Ketika sedikit Cu Hong- tin menggentak pula, cundrik rampasan itu mencelat terbang keudara, hingga menimbulkan sinar kemilauan diatas.
Insyaf tak ungkulan, diam2 Bok Siang-hiong undurkan diri dengan rasa likat.
Sementara itu dengan tekebur Cu Hong-tin memandangi sekeliling panggung, ia lihat orang Biau disitu tiada satupun yang dapat ditakuti, sedang diantara bangsa Han, kecuali sepasang pemuda pemudi yang dikenalinya sebagai Lou Jun-yan, sedang si pemuda rasanyapun bukan tandingannya.
Ada seorang lagi yang berkedok kepala, ketika datang disitu terus duduk terpaku, agaknya datang untuk melihat keramaian saja.
Maka dapat diduga kedudukan Seng-co dari gua suku Biau sudah yakin akan diperolehnya, bukan saja bangsa Biau akan tunduk pada perintahnya, bahkan juga akan mendapat rahasia pembuatan berbagai macam racun dan obat bius.
Apalagi sudah lama terdengar bahwa banyak orang mendatangi daerah ini untuk mencari harta karun serta kitab rahasia ilmu silat peninggalan tokoh Bu-lim dari jaman dahulu.
Saking senangnya Cu Hong-tin, tiba2 ia unjukan pula ilmu mengentengi tubuhnya yang indah, ia meloncat lurus keatas dan tepat cundrik yang baru jatuh kembali itu dapat ditangkapnya.
Lalu orangnya turun lagi diatas panggung batu dengan enteng.
Dan sekali ia tekuk cundrik baja itu, tahu2 telah melengkung bagai gendewa.
Melihat itu, tidak kepalang orang2 Biau yang hadir disitu, mereka menyangka apa orang bukan jelmaan malaikat ? Lalu Cu Hong-tin buang cundrik itu ketanah katanya dengan angkuh .
Entah masih ada siapa lagi yang berani naik kemari ? Jun-yan , tiba2 Ti Put-cian membisiki si gadis, telah tiba saatnya sekarang.
Permintaanku akan bantuanmu justru inilah urusannya.
Jika aku tak ungkulan melawan Cu Hong-tin, hendaklah kau bisiki orang aneh itu agar suka membantu aku dari bawah.
Apa yang kau katakan selalu diturutnya, tentu dia takkan menolak .
Jun-yan ter-mangu2 sejenak oleh permintaan itu.
Apa ? Kau juga ingin menjadi kepala orang Biau ? tanyanya heran.
Jun-yan, harap kau suka membantu sungguh2 , pinta Ti Put-cian lagi.
Baiklah, akan kukatakan padanya nanti sahut Jun-yan kemudian merasa tak tega untuk menolaknya.
Tapi kalau kau tak ungkulan, ada lebih baik kau lekas kembali saja.
Dan selagi Ti Put-cian hendak berdiri dan melompat keatas panggung, tiba2 terdengar Tiat hoa popo berseru .
A Siu, dimana kau, kenapa belum naik keatas ? Ti Put-cian dan Jun-yan terkejut, sungguh mereka heran, apa benar A Siu yang mereka ketemukan yang tampaknya lemah gemulai tak tahan angin itu berani naik panggung bertanding dengan Siau-yau-ih-su Cu Hong-tin ? Mereka bertambah terkejut bila kemudian melihat gadis yang muncul itu memang benar A Siu yang berbaju putih mulus itu, ditambah lagi kulit dan wajahnya juga putih pucat, perlahan2 A Siu bertindak kedepan dengan gayanya yang menggiurkan bagai dewi kayangan yang baru turun kebumi.
Ketika tiba2 menampak seorang gadis jelita tampil kemuka sebagai penantangnya, sesaat itu Cu Hong-tin pun tertegun.
Ia sangsikan apa benar gadis semuda ini berani coba2 naik panggung ? Sementara itu A Siu sudah sampai didepan panggung batu, tanpa kelihatan ia bergerak, tahu2 sudah meloncat keatas panggung setinggi beberapa kaki itu.
Ia tidak lantas memapaki Cu Hong-tin, melainkan menjemput dulu cundrik, senjata Bok Siang- hiong yang dibengkokkan Cu Hong tin tadi, ketika tangannya yang halus putih itu pegang kedua ujungnya terus ditarik, tahu2 cundrik itu telah lempeng kembali seperti asalnya.
Cu Hong-tin menjadi kaget dan curiga, sungguh susah dimengerti, gadis semuda ini, sekalipun belajar sejak masih dalam kandungan ibu, Iwekangnya juga takkan sehebat ini.
Maka sekarang yakinlah dia si gadis benar2 seorang penantangnya yang tangguh, ia tak berani ayal lagi, segera ia ber-siap2 dengan kebutnya, katanya .
Silahkan nona keluarkan senjata ! Aku tak punya senjata, sahut A Siu.
Diam2 Cu Hong- kebutku sudah malang melintang selama ini, sampai tokoh lihay seperti Thong-thian- sin-mo Jiau Pek king juga mesti bertarung sama kuat dengan aku, masakan aku malah takut ter tangannya menggertak, ekor kebutnya menjengkit, dengan tipu Sian-jin-ki-loh seperti tadi segera ia tutuk kedada A Siu tempat Ki-bun-hiat , cuma serangan tidak penuh dilontarkan, hanya ia tahan ketika hampir mengenai sasarannya, ia ingin melihat jelas gaya silat dari aliran manakah si gadis ini, agar dapat mengatur cara menghadapinya.
Tak terduga, A Siu tetap berdiri dengan kedua tangan lurus kebawah, hanya sepasang matanya menatap tajam keujung kebutnya.
Melihat kesempatan itu, segera Cu Hong-tin dorong kebutnya kedepan.
Tapi baru saja bergerak, tahu2 A Siu telah menggeser pergi hingga ujung kebutnya menyambar lewat disampingnya, ujung baju saja tidak menyentuhnya.
Manusia Aneh Dialas Pegunungan Karya dari Gan K.l Diam2 Cu Hong-tin memuji akan kecepatan orang, sekali kebutnya ditarik, sekali kebas dengan tipu pek-hun-bian-bian atau awan bergumpal me-layang2 segera ia menyabet dari samping.
Tapi kecepatan bergerak A Siu juga cepat dan gesit luar biasa, ditambah bajunya yang berwarna putih dan berkaki telanjang hingga langkahnya tidak bersuara, maka cara bagaimana bergeraknya susah terlihat jelas, hanya tampak bayangan putih berkelebat, tahu2 orangnya melesat minggir kesamping dengan indahnya.
Diam2 Cu Hong-tin menjadi gugup melihat dua kali serangannya mengenai tempat kosong.
Bila ia lihat gerak tubuh orang, nyata semacam ginkang yang maha hebat dengan kecepatan yang susah dibayangkan.
Kalau melihat ujung kakinya sedikit melejit, lalu orangnya sedikit mumbul, lantas mengikuti tenaga kebasan kebutnya melompat kedepan, nyata sekali adalah ilmu leng-kong-poh-hi atau melangkah kosong diatas udara yang biasanya hanya bisa dilatih oleh orang yang berilmu Iwekang tinggi, padahal gadis ini masih sangat muda, darimanakah bisa melatih ilmu entengi tubuh yang sehebat itu? Dalam sengitnya segera Cu Hong-tin menyerang tanpa berhenti dengan ke jurus ilmu kebutnya.
Tapi meski sekejap serangan berantai itu selesai dilontarkan, ujung baju gadis itu masih belum dapat disentuhnya.
Malahan orang hanya berkelit kian-kemari tanpa membalas.
Sungguh tidak kepalang terkejutnya Cu Hong-tin, sama sekali tak bisa dipahaminya, mengapa seorang gadis jelita suku Biau dapat memiliki kepandaian setinggi ini.
la benar2 penasaran, sekali kebutnya diayun, kembali ia mengebas, sekali ini dengan jurus siau yau-bu-kek atau gembira ria tak terbatas, ia salurkan seluruh tenaga dalamnya kesenjatanya hingga membawa samberan angin keras.
Tapi masih A Siu tidak balas menyerang, malahan dengan baik2 ia mengatakan .
Aku telah mengalah tiga puluh enam jurus seranganmu, dengan ilmuku ham-hong-gi- heng (bergerak terbawa angin), masakan kau mampu apakan aku ? Jika kau masih tidak kenal gelagat, rasanya kau sendirilah yang mencari susah! Lekas turun panggung sajalah! Mendengar ilmu kepandaian orang, terkejut Cu Hong-tin ber-tambah2, pantas ujung baju orang saja ia tak mampu menyentuhnya.
Ia menaksir dirinya tak akan sanggup melawan ilmu ginkang yang hebat itu, cuma tujuannya kemari telah banyak mengalami aral lintang dan berhasil merebut bunga seruni besi, sangkanya daerah Biau tak terdapat orang pandai, bila dirinya dapat memperoleh kedudukan Sengco dan memerintah tujuh puluh dua gua rakyat Biau, pula bila bisa mendapatkan harta pusaka serta kitab silat rahasia yang tersiar dlkalangan Bulim itu, kelak ia bisa mendirikan cabang aliran tersendiri dan akan berdiri sama derajat dengan Jing-sia pay, Khong- tong-pay, Bu-tong-pay dan Go-bi-pay yang besar2 itu.
Siapa duga, baru saja mengalahkan Bok Siang-hiong, tahu2 datang seorang gadis jelita yang membuatnya tak berdaya.
Sudah tentu ia tak rela menyerah begitu saja.
Tanpa bicara lagi, ia himpun tenaga, dengan tipu Thian-hoa-kap-teng atau bunga langit menghambur kepala, secepat kilat ia sabet kepala A Siu.