Kiranya ilmu pukulannya yang dasyat tadi disebut Thian-sing-cing-lik atau tenaga murni taburan bintang maka terlihat Tun-kau-kiam yang terletak dimeja itu mendadak diambilnya terus disentilnya hingga senjata itu menyambar kearah Jun-yan.
Terimalah bocah, bolehlah kalian berdua maju berbareng dan melawan sekuatnya supaya matipun tidak penasaran ! seru orang itu pula.
Jun-yan bergirang melihat senjatanya pulang kandang, cepat ia ulur tangan menyambutnya.
Diluar dugaan, mukanya menjadi merah dan badannya hampir2 terjengkang, ternyata tenaga jentikan orang itu kuat luar biasa, sampai2 ia tidak sanggup menahannya.
Tapi nyali Jun-yan menjadi besar pula sesudah memegang senjatanya, ia pikir dengan kepandaian dua orang masakan akan kalah? Maka bisiknya lantas kepada A Siu.
Lihatlah betapa liciknya manusia, maka jangan kau sungkan2 lagi, marilah kita hajar manusia busuk ini! Diam-diam A Siu membenarkan ujar Jun-yan itu, tapi bila ia pikir pula, apa yang terjadi itu toh gara-gara Jun-yan yang telah mencuri kelinci panggang orang, bukankah ini pun keterlaluan.
Cuma pikiran demikian tak enak dikatakannya.
Sementara itu orang she Ki itu masih menunggu walaupun melihat kedua gadis itu main bisik2.
Malahan kemudian Jun-yan memulai bersuara garang lagi.
Supaya tidak menyesal, hai, siapa namamu, kenapa tak kau beritahukan lebih dulu ! Tapi belum lagi orang itu bersuara, tiba2 Ngo-seng telah menyeletuk dengan mengejek.
Hm, budak picak, masakan Ki-go-thian, Ki-lo cianpwe yang berjuluk Tok-poh- kian-kun yang namanya termashur dikalangan Bu-lim berpuluh tahun yang lalu, tidak kau kenal? Sebenarnya Jun-yan lantas hendak memaki Ngo-seng yang berani menimbrung itu, tapi mendengar siapa adanya orang she Ki itu, seketika ia terperanjat sampai mundur beberapa langkah tanpa merasa.
Kiranya pernah didengarnya dari sang suhu bahwa jago silat terkemuka pada jaman itu dan dari lapisan apa saja, tiada yang bisa menandingi Tok-poh-kian-kun Ki Go-thian.
Ilmu silat Ki Go-thian ini sukar diukur tingginya, anehnya iapun tidak suka ada orang yang berkepandaian lebih tinggi darinya, maka tindakannya sewenang-wenang, beberapa kali tokoh Bu-lim hendak membasminya, tapi lima kali berkumpul; setiap kali kena dikalahkannya.
Paling akhir tokoh2 Bulim itu berkumpul ditepi tembok besar, tapi begitu Ki Go-thian tiba, sekali ia bergelak ketawa berpuluh tokoh silat itu menjadi keder semua akan Lwekangnya yang hebat, malahan yang ilmu silatnya sedikit rendah sudah lantas ter-kencing2 sampai senjata terjatuh tak disadarinya.
Tatkala itu usia Jiau Pek- king masih muda, adatnya juga sombong, namun nyalinya cukup besar, ialah yang tampil kemuka sebagai juru bicara Ki Go-thian, katanya.
Kami mengakui ilmu silatmu memang susah dilawan, tapi berkepandaian sungguh hebat tanpa tandingan, apanya yang menarik? Apabila kau dapat memberi kesempatan kepada kaum muda untuk melatih diri dalam jangka waktu tertentu, aku yakin bukan mustahil akan muncul jago baru yang sanggup merobohkan kau, tatkala mana bila kau masih mampu menjagoi barulah kami benar2 takluk.
Dasar adat Ki Go-thian sangat tinggi, tanpa pikir terus saja menjawab.
Haha, jago muda? Baik usiaku sekarang tiga puluh delapan tahun biarlah aku tunggu sampai berumur tujuh puluh tahun, aku akan muncul pula mencari kalian, tatkala mana bila kalian toh masih begini tak becus, haha, jangan salahkan aku yang tak kenal ampun.
Habis berkata, iapun tinggal pergi dan betul saja sejak itu Ki Go-thian menghilang dari dunia Kangouw dan lama2 orangpun se-akan2 lupa padanya.
Sebenarnya Jun-yan sudah ragu-ragu sejak mula ketika mendengar Ngo seng Thauto yang bukan orang sembarangan itu menyebut Ki-locianpwe pada orang tua itu, sungguh tidak terduga olehnya bahwa tokoh tertinggi berpuluh tahun yang lalu itulah yang kini dijumpai, padahal usianya kalau dihitung sudah 70an namun tampaknya belasan tahun lebih muda.
Maka untuk sejenak ia rada tercengang, tapi segera ia tenangkan diri dan berkata .
Oho kiranya adalah Tok-poh-kian-gun Ki-locianpwe, sungguh tidak nyana dapat berjumpa disini, kalau tidak salah, menurut ceritera, katanya kau berjanji takkan menjelajah Kangouw dalam waktu tertentu ? Karena teguran ini, tiba2 Ki Go-thian mengerling sekejap kepadanya, tapi lantas berpaling pula menatap A Siu dan katanya dengan dingin .
Ya, tiga hari yang lalu, persis genap waktu yang kujanjikan itu ! Jun-yan menjadi putus asa, maksudnya memancing menjadi gagal.
Ia pandang A Siu sekejap, sebaliknya A Siu yang polos merasa tenang saja walaupun dalam tiga gebrak tadi sudah merasakan betapa lihaynya orang itu.
Maka kata A Siu dengan sewajarnya .
Mungkin dia hanya bergurau saja dengan kita, marilah kita pergi saja, enci Jun-yan.
Melihat A Siu pandang suasana berbahaya itu seakan tak terjadi apa2, diam2 Jun- yan gegetun akan kepolosan sang kawan.
Tapi segera terpikir pula olehnya, kenapa tidak tiru caranya Suhu mengumpak musuh, lalu tinggal ngeloyor pergi ? Maka segera sahutnya dengan tertawa .
Ya, ya, kau benar A Siu, Locianpwe ini hanya bergurau saja dengan kita, masakan seorang Bu-lim-cianpwe benar2 sudi main2 dengan si anak kecil, kalau tersiar keluar, bukankah akan dibuat tertawaan? sembari berkata, ia coba melirik sikap Ki Go-thian, ternyata tokoh itu bermuka masam saja tanpa mengunjuk apa2, maka katanya pula.
Ki-locianpwe, sering guruku berkata bahwa tokoh Bu lim seluruh jagat tiada satupun yang ia kagumi, kecuali kau seorang! Tiba-tiba Ki Go-thian mengejek, sahutnya.
Ya, dan diseluruh jagat ini, dalam hal keberanian juga melulu siau-jiau saja seorang! Jangan kau senang dulu, kata guruku lagi bahwa disaat genting, kelakuanmu juga rada-rada rendah,maka dapat dipastikan kaupun bukan seorang kesatria sejati! kata Jun-yan pula.
Ngaco belo! mendadak Ki Go-thian menggerung keras.
Begitu hebat suara gerungan itu hingga muka Jun-yan pucat, telinga pekak.
Nyata suara gerungan itu apa yang disebut Say-cu-bo atau raungan singa, semacam lwekang yang hebat.
Diantara mereka bertiga hanya A Siu yang masih sanggup bertahan; walaupun jantungnya memukul keras juga.
Yang paling celaka adalah Ngo-seng Thauto, hampir-hampir ia jatuh tergetar oleh suara raungan itu, baiknya cepat ia menutupi telinganya, namun begitu kepalanya sudah pening dan mata ber-kunang2.
Kini barulah Jun-yan mau percaya sebabnya sang guru kagum terhadap Ki Go-thian yang memang bukan omong kosong ini padahal biasanya Jiau Pek-king tidak memandang sebelah mata kepada siapapun.
Segera iapun mengerti umpannya telah termakan Ki Go thian sekali tokoh itu sudah gusar pasti sudah akan masuk perangkapnya, ia tunggu sesudah suara raungan orang sudah reda; segera ia tambahi minyak lagi .
Tak perlu kau gusar tanpa alasan masakan guruku berani omong begitu tentang dirimu? Buktinya seperti sekarang ini, kau melihat ilmu silat A Siu sangat tinggi lantas ketakutan pada gurunya seketika minta bergebrak padanya disini.
A Siu coba kau mengaku terus terang apakah kau sanggup melawannya? Sudah tentu dengan jujur tanpa aling2 A Siu menjawab.
Mungkin aku hanya sanggup menandinginya paling banyak dalam sepuluh jurus.
Bagus, seru Jun-yan tertawa.
Nah Ki-lo-cianpwe kau sendiri sudah dengar, jika kau hanya pintar mencari lawan yang selalu menandingi kau sebanyak 10 jurus saja lalu macam jagoan apa kau ini? Kenapa kau tidak mencari gurunya saja buat bertanding ? Tapi terang kau tak berani kepada gurunya, paling2 kami berdua boleh kau binasakan saja.
Haha ! Enci Jun-yan, aku toh tidak mempu.....
Ya, sudah tentu kau tak mempunyai pendirian apa2, sela Jun-yan cepat sebelum A Siu selesai berkata, nyata ia tahu gadis itu hendak bilang tak mempunyai guru , hal mana berarti usahanya mengumpak Ki Go-thian akan gagal maka sembari berkata, terus iapun mengedipi A Siu hingga gadis itu menjadi bingung dan urung bicara lagi.
Mm, lantas siapa gurunya ? tanya Go-thian menjengek.
Muridnya saja begini lihay, apalagi sang guru,'' ujar Jun-yan.
Apalagi dia orang tua melarang kami menyebut namanya diluaran, seumpama diperbolehkan, juga aku takkan terangkan, supaya kau tidak bakal kebat kebit merasa tidak tenteram.
Melihat tutur-kata Jun-yan itu tanpa merasa jeri sedikit juga, benar saja Ki Go-thian menjadi ragu2, ia coba meng-ingat2 tokoh persilatan terkemuka dimasa lalu, tapi ia merasa tiada seorangpun diantaranya yang dapat mengungkuli dirinya.
Kalau bilang selama ini muncul lagi jago baru, masakan Ngo-seng tidak tahu ? Setelah di-ingat2 pula, mendadak hatinya tergerak, teringat olehnya pada waktu dirinya malang melintang tanpa tandingan dahulu, pernah mendengar ceritera orang katanya di puncak tertinggi Khong-tong-san yang terdiri dari puncak timur dan barat itu, masing2 berdiam seorang paderi.
Kedua paderi sakti itu, bagi orang Khong-tong-san-pay sendiri belum pernah melihatnya.
Tapi kalau ada kabar demikian tentunya bukan tiada alasan.
Konon kedua paderi itu sangat tinggi ilmu lwekangnya, walaupun puncak timur dan barat itu berjarak beberapa li jauhnya tapi bila perlu mereka menyiarkan suara mereka dengan Iwekang yang tinggi itu untuk saling bicara.
Berpikir begitu, bukannya Ki Go-thian menjadi jeri, tapi dia merasa senang malah, sebab bakal mendapatkan tandingan yang selama ini dirasakannya hampa, maka dengan tertawa dingin katanya.
Hm budak setan, kenapa mesti pura-pura, apa kau sangka aku tak tahu gurunya kalau bukan kedua keledai gundul di Khong tong-san itu siapa lagi? Sebenarnya selama hidupnya belum pernah Jun-yan mendengar tentang paderi sakti dipuncak Khong-tong-san itu sebab usianya masih terlalu muda bagi kejadian dahulu.
Tapi gadis cerdik begitu mendengar kata2 Ki Go-thian itu ia merasa paderi2 yang dimaksud itu pasti bukan sembarangan orang, maka sengaja ia mengunjuk rasa heran dan berkata kepada A Siu .
Eh, dari mana dia dapat tahu ? Jika benar, bocah ini tetap harus kutahan disini! kata Ki Go-thian lagi, nyata seorang tokoh terkemuka dan pintar seperti dia ini juga kena diselomoti Jun-yan.
Melihat akalnya berhasil, dengan cepat kata Jun-yan lagi .
He, bukankah kau tadi sedang berunding dengan Ngo seng katanya hendak hajar adat kepada Jing-ling Totiang, hendak kemanakah kalian itu ?'' Menghadiri pertemuan para jago Bu-lim yang diadakan Jing-ling-cu di kuilnya Lo-kun-tian dipuncak Ciok-yong-hong, sahui Ki Go-thian.
Wah, sangat kebetulan sekali, jika begitu pasti kau akan bertemu dengan kedua Locianpwe dari Khong-tong-san itu, ujar Jun-yan.
Tapi segera ia pura2 ketelanjur omong .
Eh, jangan2 kau tidak jadi pergi kesana mendengar kabarku ini! Amarah Ki Go-thian memuncak dikatai jeri pada orang lain.
Kau boleh saksikan kedatanganku disana nanti ! Sekarang lekas enyah ! bentaknya sembari kebaskan lengan bajunya hingga Jun-yan merasa se-akan2 ditiup angin badai terus mencelat keluar sejauh beberapa tombak.
Cepat, A Siu ! seru Jun-yan sembari lari ketika dilihatnya A Siu juga sudah memutar tubuh.