Setelah beberapa li jauhnya, barulah mereka berani kendorkan langkah, namun suara bergelak Ki Go-thian masih terdengar berkumandang keras bagai guntur.
Cepat mereka berlari pula meninggalkan tempat berbahaya itu.
Wah, bila orang she Ki itu tak mau masuk perangkap, boleh jadi jiwa kita sudah melayang, ujar Jun-yan sesudah jauh.
Enci Jun-yan, kenapa kau suruh dia bertanding dengan guruku, darimana aku mempunyai guru? tanya A Siu tertawa.
Jangan kuatir A Siu, kalau sudah tiba harinya pertemuan di Ciok-yong-hong nanti, biarlah kita juga kesana, tentu disana akan terkumpul banyak jago2 terkemuka, masakan benar2 semuanya akan dikalahkan orang she Ki itu ? ujar Jun-yan, Dan bila benar2 dia memang lihay, kita punya kaki, masakan kita tak bisa angkat langkah seribu ? Kita juga hadir kesana, tapi kalau kepergok, bagaimana ? tanya A Siu lagi ragu2.
Kau jangan kuatir, guruku mahir menyamar, maka akupun sudah mempelajari kepandaian itu, sahut Jun-yan, nanti kalau kita sudah menyamar, tanggung kau takkan kenali dirinya sendiri lagi.
Sekarang paling perlu kita mencari tahu dulu kapan pertemuan para jago Bu-lim itu akan diadakan Jing-ling-cu.
sampai disini, ia merandek, lalu katanya pula.
A Siu kita sudah seperti saudara sekandung saja, dapatkah kau ceritakan padaku, kau bilang tiada punya guru, lantas dari mana kau belajar kepandaian? A Siu menjadi ragu2, tapi bila mengingat hubungan mereka memang melebihi saudara sekandung, tanpa sangsi lagi lalu diceritakannya tentang Siau-jang-cit kay yang diperolehnya dari Lo-liong-thau digua itu.
Heran sekali Jun-yan oleh penemuan aneh itu, sungguh tidak nyana seorang tua cacat Suku Biau yang sepele itu juga mahir ilmu silat setinggi itu.
Sembari bicara mereka sambil berjalan, kata Jun-yan pula.
A Siu, kata orang diatas ada sorga, dibawah ada Soh Hong (Sociau dan Hangciu), perjalanan kita toh mesti lewat wilayah Ciatkang, biarlah kita pesiar sekalian ke Hangciu.
Bagus, seru A Siu girang.
Tempat seindah itu, boleh jadi disana kita akan bertemu dengan Ti-koko.
Diam2 Jun yan gegetun akan hati A Siu yang telah begitu kesemsem atas diri Ti- put-cian.
Tidak seberapa hari, tibalah mereka dikota Hangciu dan mereka pesiar beberapa hari menikmati keindahan kota sorga itu.
Dan karena selama itu tidak melihat bayangannya Ti-put-cian hati A Siu menjadi murung.
Suatu hari mereka lagi pesiar mendayung perahu ditelaga So-oh yang indah permai itu.
Sedang mereka asyik tamasya, se-konyong2 suara air telaga gedebyuran, tahu2 sebuah kapal pesiar yang besar menerjang dari samping dengan kerasnya, diatas Kapal belasan lelaki sedang makan-minum sambil terbahak2 hingga suasana yang tadinya aman tentram itu jadi gaduh.
A Siu mengkerut kening, sebaliknya Jun-yan menjadi gusar.
Tanpa pikir lagi, cepat ia berdiri, ia tunggu kapal itu sudah hampir mendekat, ia samber sebuah ember disampingnya terus menciduk seember air penuh dan digebyurkan sekuatnya kearah kapal itu.
Betapa hebat tenaga yang digunakan Jun-yan, byur , itu tepat masuk kedalam ruangan kapal itu melalui jendela dan belasan lelaki di-dalamnya menjadi gelagapan dan jatuh pontang-panting, kemudian kapal itu sedikit miring hingga hampir2 terbalik.
Jun-yan ter-bahak2, dan sekali dayungnya bekerja, cepat perahunya sudah meluncur pergi jauh, tiba2 dari dalam kapal itu melompat keluar seorang terus terjun ketengah telaga, hebatnya meski didalam air, orang itu tidak tenggelam, tapi air hanya sebatas lututnya, dengan cara inilah orang itu mengejar perahunya Jun-yan dengan berjalan diatas air, dan cepatnya sungguh luar biasa.
Hayo, berhenti, siapa berani tepuk lalat diatas kepala harimau, main gila di telaga ini ? Suara itu Jun-yan merasa sudah pernah kenal, tapi karena perahunya meluncur sangat cepat, pula deburan air yang tinggi, lantaran diseberangi orang itu, maka mukanya tidak nampak jelas.
Manusia Aneh Dialas Pegunungan Karya dari Gan K.l Dalam pada itu, A Siu sudah samber dayung satunya lagi membantu percepat lajunya perahu.
Rupanya melihat tak sanggup mengejar lagi, mendadak tubuh orang itu tenggelam kedalam telaga, hingga lama belum kelihatan muncul.
Jun-yan menyangka orang itu mungkin sudah kelelap ditelan ikan, maka ia berhenti mendayung untuk bergurau dengan A Siu.
Diluar dugaan, tiba2 terdengar suara pluk-pluk beberapa kali dibawah perahu, tahu2 air telaga merembas masuk dari bawah, ternyata dasar perahu itu tahu2 bertambah beberapa Iobang kecil, menyusul mana suara pluk2 terdengar pula dihaluan dan buritan perahu berlubang lagi beberapa buah hingga cepat sekali separuh dari perahu itu sudah terendam air.
Baru sekarang Jun-yan insaf orang tadilah yang telah menyabot perahunya itu, cepat ia sumpal sebilah papan perahunya terus dilemparkan ke-permukaan telaga sambil peringatkan A Siu agar berlaku cara yang sama.
Menyusul mana, ia genjot tubuhnya melompat keatas papan yang terapung ditelaga itu.
Melihat perahunya sudah hampir tenggelam cepat A Siu berbuat seperti caranya Jun-yan hingga mereka menumpangi dua papan sejajar seperti orang main ski.
Dan baru saja mereka selamatkan diri, terdengarlah suara air gedeburan, seorang telah muncul dari dasar telaga dengan tangan memegang senjata Hun-cui-go-bi ji semacam cundrik kaum nelayan, sekali tusuk perahu itu telah ditenggelamkannya, tapi ketika melihat kedua gadis itu sudah berpisah keatas dua papan ia alihkan senjatanya sambil membentak.
Berani kau ...
Hanya sekian saja ucapan orang itu karena orangnya lantas saja terkesiap.
Berbareng itu Jun yan pun sudah melihat jelas bahwa orang itu adalah Tong-ting-hui- hi Bok Siang-hiong.
Haha kiranya kau! seru Jun-yan tertawa.
Melihat Jun-yan untuk sesaat Bok Siang-hiong juga tertegun, karena jeri terhadap gurunya thian-sin-mo Jiau Pek-king, pula kepandaian si gadis sendiri juga tidak rendah, sebagaimana dahulu Siau-yau-ih su Cu Hong-tin pernah dipermainkan, maka Bok Siang- hiong menjadi serba salah terpaksa iapun menyapa dengan tertawa.
O kiranya nona Lou juga pesiar kesini apakah kau datang bersama gurumu dan hendak menghadiri undangannya Jing liang Totiang? Maafkan Bok-bengcu kami telah mengganggu kesenanganmu dikapal tadi, sahut Jun-yan terpaksa merendah melihat kesungkanan orang.
Tentang undangan Jingling Totiang, entahlah aku sendiri tidak tahu kapan harinya? Terus terang saja sejak tempo hari sampai sekarang aku masih belum pulang maka kalau ketemu Suhu, tolonglah kau banyak memberi alasan.
Sebenarnya Bok Siang hiong rada heran oleh munculnya Jun yan disitu, tapi demi mendengar penuturan itu segera sahutnya dengan tertawa.
Ah jamak juga orang muda suka pesiar, kalau sudah keluar segan kembali, tentunya gurumu takkan mengenali kau.
Tentang hari undangannya Jing ling cu telah ditetapkan tanggal satu bulan dua belas, tinggal setengah bulan saja sudah tiba.
Diatas kapal kami sana masih ada Tai lik-sin Tong-Po dan beberapa kawan Bu-lim lain bila nona Lou tidak mencela, maukah kita bikin perjalanan bersama ! Mendengar itu Jun-yan menaksir kalau terus langsung menuju ke Hing-san menghadiri pertemuan yang diadakan Jing-ling-cu, waktunya masih cukup, maka jawabnya .
Terima kasih atas kebaikanmu, masih ada sedikit urusanku yang lain, tolonglah kau sampaikan guruku, dan aku tidak sekapal dengan kau, nyata diam2 dalam hati Jun-yan sudah mempunyai rencana sendiri, bukan saja hendak mengingusi Tok- poh-kian-gun Ki Go-thian yang disegani semua jago silat, bahkan gurunya sendiri juga akan diselomotinya.
Bok Siang-hiong pun tidak memaksa, ia melihat tidak jauh dari situ sebuah perahu kecil lagi meluncur tiba, anehnya diatasnya tiada pengemudinya, melainkan satu orang sedang ngantuk mendekam diatas meja.
Kebetulan disitu ada sebuah perahu, silahkan nona menumpang kesana, dihadapan gurumu kelak aku akan memberi penjelasan bagimu, katanya kepada Jun-yan, lalu ia selulup lagi kedalam air terus menghilang.
A Siu, kepandaian berenang orang ini rasanya tiada seorangpun dijagat ini yang menandinginya, kata Jun-yan.
Marilah kita naik keperahu itu ! Sebenarnya A Siu ragu2 melihat perahu orang itu.
Tetapi Jun-yan sudah mendahului luncurkan papan yang diinjaknya kesana, terpaksa ia menyusul.
Hai, Toako diatas perahu, kami minta numpang perahumu ! seru Jun-yan ketika sudah dekat.
Namun orang itu masih menggeros dengan pulasnya.
Tanpa pikir lagi Jun- yan melompat keatas perahu dengan enteng sekali dan disusul oleh A Siu.
Waktu Jun-yan meng-amat2i orang yang masih mendengkur itu, ia lihat perawakan orang rada tegap, berbaju hitam singsat, warnanya sudah luntur, malahan disana sini banyak tambalan.
Karena mukanya terbenam disekap kedua lengannya diatas meja, maka tidak kelihatan.
Yang terang, tidurnya ternyata nyenyak sekali.
Orang ini pulas seperti babi mati, mungkin perahu ini sudah kita dayung ketepi, ia sendiri masih belum tahu, ujar Jun-yan geli.
Perlahan-lahan mereka angkat penggayuh dan mendayung perahu itu ketepi sana.
Sembari mendayung Jun-yan berkata perlahan kepada A Siu.
Hari pertemuan jago Bu- lim yang diadakan Jing-ling-cu katanya tgl.
1 bulan 12.
Jika begitu, sesudah mendarat, kita harus terus berangkat.
Untuk tidak diketahui Suhu, biarlah aku menyamar seorang seperti Thio Hui (tokoh dalam cerita Sam Kok yang berwajah hitam bengis) dan kau, menurut pendapatku menyamar seorang pemuda ganteng, boleh jadi sepanjang jalan kau akan digilai oleh kaum gadis ! Wajah A Siu menjadi merah oleh olok-olok itu, sahutnya.
Apakah aku dapat lebih gagah daripada Ti-koko ? Terang lebih bagus dari dia, ujar Jun-yan.
Maka untuk selanjutnya aku disebut Say Thio-hui dan kau bernama....
bernama Giok bin-long-kun (sijejaka bermuka bagus), kita mengaku bersaudara, aku Toako dan kau adik.
Aku sebenarnya ingin mencari Ti koko dulu, ujar A Siu.
Eh, kembali kau rindu lagi, siapa tahu, kalau di Ciok-yong hong nanti justru dapat kau jumpai dia? bujuk Jun yan.
Tidak lama, perahu mereka sudah dekat tepi telaga, tiba2 mereka mendengar suara orang menguap, waktu mereka menoleh, kiranya lelaki yang tidur tadi sedang mengulet sambil julurkan kedua tangannya kelantai, sehabis mengulet, sambil mulutnya berkemak-kemik bagai orang ngelindur, mendekam diatas meja tertidur pula.
Melihat tangan orang itu ketika dijulurkan keatas, panjangnya luar biasa, alisnya juga tebal sekali, cuma tadi orang lagi menguap, maka wajahnya macam apa, belum tampak jelas Jun-yan menjadi geli melihat kelakuan orang, katanya.
A Siu...
tidak, Giok- bin-long-kun, tampaknya orang ini kerjanya hanya gegares dan tidur melulu, tidur dirumah kuatir diganggu, maka pindah tidur diatas perahu.
Marilah kita tinggal pergi, peduli amat dia mau tidur sampai tahun depan ! Diwaktu bicara, karena anggap dirinya sekarang sudah Say Thio-hui atau si Thio Hui kedua, sengaja Jun-yan bikin kasar suaranya, karena A Siu tertawa geli, katanya.
Enci Jun-yan...
Stop, sela Jun-yan mendadak, bukan enci lagi, tapi ingat, selanjutnya harus panggil Toako ! Ah, nanti saja kalau sudah sampai di Ciok-yong hong, tawar A Siu geli.
Sementara itu perahu sudah menepi, mereka meletakan dayung dan melompat kedaratan dalam pada itu lelaki tadi kedengaran lagi menguap dan kemak kemik mengigau pula.
Tanpa ambil pusing lagi, mereka tinggal menuju kekota.
Disebuah toko, Jun-yan membeli pupur minyak, jenggot palsu dan sebagainya lalu membeli pula bahan obat2an disebuah apotik.
Dengan semua itu mereka pulang kehotel.
Hai dimanakah pedangmu, kenapa tinggal sarungnya melulu ! seru A Siu kaget ketika melihat senjata yang terselip dipinggang Jun-yan sudah tak kelihatan.
Jun-yan terkejut ketika diperiksanya benar saja sarung pedang masih, senjatanya sudah hilang.