Manusia Aneh di Alas Pegunungan Chapter 34

NIC

Ha, menanya pemilik asalnya ? Itulah aku tak berani pergi! Eh, bukankah kau bilang apa yang Suhu perintahkan, akan menurut? omel A Siu.

Ya...

ta....

tapi pemilik asalnya itu, Cit-bok-lo-sat Ki Teng-nio meski lumpuh, tapi ia masih punya tiga murid yang terkenal dengan sebutan Kim-teng-sam-sat (Tiga Iblis Dari Puncak Emas) yang kepandaiannya sudah hampir menurunkan seluruh kemahiran sang guru, pu...

pula meski Ki Teng-nio sudah lumpuh, tapi mahir ilmu 'bersuara mencabut nyawa', menyembur senjata rahasia dengan mulut, lihaynya tiada kepalang...

Sudahlah, sudahlah, betapapun lihaynya, toh kita tidak mencari berkelahi padanya ? Apakah kau benar2 tidak turut pada kata2ku ? potong A Siu tidak sabar.

Nyata dasar masih hijau, pula jiwanya terlalu polos, maka sama sekali tak terpikir olehnya tentang baik jahatnya orang Kangouw.

Terpaksa Tiat-pi Hwesio mengaku terus terang bahwa ia dahulu sudah pernah merasakan bogem mentah dari Hek-hong-tongcu Nio Kiat, satu diantara tiga murid Ki Teng-nio itu.

Sebab itulah, ia minta agar A Siu suka berlaku hati2.

A Siu ganda tertawa saja, segera mereka menuju ke gunung Kim-teng-san diwilayah Kuiciu.

Sepanjang jalan semua orang menjadi ter-heran2 melihat seorang gadis jelita bikin perjalanan bersama satu hwesio gendut yang berwajah bengis.

Sementara itu A Siu sudah berganti pakaian putih sebagaimana gadis umumnya.

Sesudah beberapa hari, tibalah mereka dikaki gunung Kim-teng-san itu.

Sepanjang jalan A Siu merasa segalanya serba baru baginya hingga sering menanya ini itu kepada Tiat-pi Hwesio.

Kim-teng-san itu tidak terlalu tinggi, tapi terjal sekali.

Setiba dikaki gunung itu, A Siu menjadi bingung karena dimana-mana tebing curam belaka, kemana harus mencari tempat tinggal orang, maka ia menanya Tiat-pi .

Toute, gunung sebesar ini, dimana tempat tinggalnya Ki Teng-nio ? Menurut cerita orang Kangouw, dikaki gunung ia pasang sebuah genta raksasa, siapa yang membunyikan genta itu, lantas ada orang datang menyambut, tutur Tiat-pi Hwesio.

Mereka coba mengitari lereng gunung itu, betul juga, disuatu tanjakan terdapat suatu genta raksasa yang digantung diantara dua pohon besar sebagai kerangka.

Tinggi genta itu sedikitnya dua-tiga tombak, entah tadinya cara bagaimana menggantungnya keatas.

Ketika A Siu mendongak, ia lihat diatas kerangka pohon itu terletak pula sebuah palu pemukul genta.

Tiat-pi angkat pundak nampak betapa tingginya genta itu.

Sebaliknya A Siu tersenyum saja.

Tiba-tiba ia enjot tubuhnya setinggi lebih setombak, selagi tubuhnya masih terapung di udara kedua kakinya mengenjot lagi dan kembali tubuhnya membubung keatas pula.

Segera palu diatas kerangka tadi sudah dapat dipegangnya terus dipukulkan tiga kali keatas genta itu.

Lalu palu itu ia letakkan kembali ketempatnya dan orangnya menurun kebawah dengan enteng.

Suara genta itu nyaring sekali berkumandang menggema angkasa pegunungan itu hingga lama sekali.

Ketika suara genta sudah hampir reda tiba-tiba terdengar suara genta juga diatas gunung sana dipukul tiga kali.

Menyusul diatas suatu tebing yang curam dan tinggi sekali muncul satu orang, saking jauhnya hingga orang itu hanya sebesar jari saja.

Mendadak orang itu menerjun kebawah dengan cepatnya.

Karena tak tahu seluk-beluknya sampai A Siu bersuara kaget.

Tapi hanya sekejap saja tahu-tahu orang tadi sudah turun sampai dibawah melalui seutas rotan pegunungan yang sangat kuat, orang itu membuai gesitnya bagai kera saja dan sekejap pula orangnya sudah berhadapan dengan mereka.

Kenal siapa orang yang datang ini, wajah tiat-pi Hwesio terus berubah.

Kiranya orang ini sudah bukan kanak2 lagi, tapi justru berdandan seperti anak kecil, malahan rambut di atas kepalanya diikat menjadi dua gelungan hingga tampaknya sangat lucu.

Dengan sinar mata yang bengis ia mengawasi kedua tamunya ini lalu menegur kearah Tiat-pi.

Keledai gundul rupanya kepandaianmu sudah maju banyak hingga mampu menabuh genta pencabut nyawa digunung kami ini ! Tiat-pi tidak menjawab sebaliknya ia membisiki A Siu .

Suhu, inilah murid pertamanya Ki Teng-nio yang bernama Hek-hong-tongcu Nio Kiat.

Maka dengan tersenyum A Siu melangkah maju dan menyapa .

Karena ada sesuatu urusan perlu aku menanya pada Chit-bok-lo-sat Ki Teng-nio, maka sukalah Toako membawa kami kepadanya? Budak kurangajar, bentak Nio Kiat mendadak.

Nama guruku masakan dapat kau sebut sesukanya ? Mengingat usiamu masih terlalu muda, biarlah aku tidak persoalkan lebih panjang.

Nah, lekas enyah saja dari sini! Habis ini ia berpaling kepada Tiat-pi .

Tapi kau keledai gundul ini tidak boleh pergi dari sini! Eh, aneh, sahut A Siu dengan heran, nama orang perlunya dipanggiI, kenapa kau melarang aku menyebut nama gurumu ? Kedatanganku ini ada yang perlu menanya gurumu, kenapa kau mengusir aku ? Mendadak Nio Kiat bergelak ketawa, Ha haha, rupanya kau kena dibohongi keledai gundul itu, hingga berani-berani datang bergurau ke sini.

Hahaha, hendaklah kau ketahui bahwa keledai gundul itu sudah kenyang merasakan pukulanku ! Keledai gundul ini tidak membohongi aku tapi akulah yang mengajaknya kemari! sahut A Siu terus terang.

Nyata ia tidak tahu bahwa kata2 keledai gundul itu adalah makian kepada kepala Hwesio yang pelontos, tapi ia menirukan apa yang diucapkan Nio Kiat saja.

Tentu saja bagi Tiat pi Hwesio yang mendengarkan menjadi mendongkol dan geli.

Akan tetapi Nio Kiat belum mau percaya, tanyanya pula dengan bengis .

Budak kecil berani membual! Siapa namamu ? Aku bernama A Siu dan keledai gundul ini adalah muridku, sahut A Siu.

Suhu, aku bukan gundul, tapi keparat itu sengaja memaki aku ! teriak Tiat-pi tak tahan.

A Siu menjadi melengak, tapi lantas katanya .

Oh, jadi aku salah omong.

Melihat kedua orang itu benar2 saling sebut guru dan murid, Hek-hong-tongcu Nio Kiat menjadi heran tak terhingga.

Ia lihat A Siu cantik molek ke-kanak2an, sebaliknya Tiat-pi Hwesio itu walaupun dogol, tapi juga bukan kaum lemah dikalangan Kangouw, mengapa bisa mengangkat guru pada seorang gadis jelita demikian ? Dalam pada itu A Siu telah mendesak lagi agar menunjukkan jalan untuk menemui gurunya.

Ia pikir orang mohon bertemu dengan menurut aturan, yaitu dengan menabuh genta, kalau tak dibawanya keatas gunung, mungkin gurunya juga akan menyalahkannya.

Baiklah mari kalian ikut padaku, katanya kemudian.

Kiranya ilmu kepandaian Chit- bok-lo-sat Ki Teng-nio itu sudah mencapai puncaknya pada dua puluh tahun yang lalu.

Semula ia adalah anak murid seorang paderi suci kenamaan, tapi karena tidak taat pada ajaran suci, ia telah diusir dari perguruan lalu dia menyingkir jauh kedaerah terpencil diperbatasan ini dan tanpa sengaja dapat memperoleh semacam kitab ilmu silat dari aliran sesat, keruan seperti harimau tumbuh sayap, kepandaiannya semakin tinggi dan kelakuannya bertambah menyendiri.

Ia pikir kalau ilmu silat dalam kitab baru itu sudah sempurna dilatihnya, tatkala mana pasti akan menjagoi dunia silat.

Tapi celaka baginya ketika sampai detik terakhir peyakinannya tahu tahu datang Ang Jing-kin bersama suaminya dan berhasil mencuri dua macam pusakanya.

Saking gusarnya hingga darah meluap dan tenaga dalam nyasar menyebabkan badannya menjadi lumpuh.

Sehabis itu wataknya makin hari makin aneh, tapi hatinya semakin merasa sunyi juga.

Maka setiap kali ada orang luar datang minta berjumpa, ia memberi pesan murid2nya agar menyambut dengan beraturan.

Sebab itulah maka Hek-hong-tongcu Nio Kiat mau bawa A Siu dan Tiat-pi Hwesio keatas gunung.

Setelah lama mereka menanjak keatas gunung mengikuti jalan yang ber-liku2, akhirnya tiba juga dipuncak tertinggi gunung itu.

Karena diatas gunung tandus tak tumbuh rumput dan pohon, maka batu cadas disitu licin mengkilap, bisa tersorot cahaya sang surya, maka sinar membalik ke-emas2an membikin puncak gunung itu seluruhnya se-akan2 berlapiskan emas, sebab itulah maka disebut Kim-teng-san , atau gunung puncak emas.

Di-tengah2 puncak gunung itu terdapat sebuah empang yang luasnya lebih dua tombak, ditengah empang yang membelakangi tebing terdapat sebuah batu cadas menonjol keluar, diatasnya persis tumbuh satu pohon Siong yang tua dan rindang hingga mirip sebuah payung, dan diatas batu itulah duduk bersila seorang wanita berbaju hitam.

Disamping wanita tua ini berdiri dua orang lelaki yang berdandan seperti Nio Kiat, yang satu bertubuh jangkung dan yang lain berwajah pucat lesi.

Suhu, tetamu sudah datang ! lapor Nio Kiat segera kehadapan wanita berbaju hitam itu.

Mendengar itu, barulah per-lahan2 wanita itu membuka matanya, dan seketika sinar matanya bagai kilat memancar keatas tubuh A Siu berdua.

Diam2 A Siu terkejut, tak terduga olehnya Lwekang orang itu ternyata begitu hebat.

Kalian berdua datang kemari, ada urusan apa ? segera wanita itu membuka suara.

Melihat ditepi kedua mata orang ada lima bekas luka kecil2 sebesar kuku hingga dipandang dari jauh mirip tujuh mata dimukanya, A Siu menduga tentu inilah orang disebut Chit bok-lo-sat atau siwanita bermata tujuh itu, Memangnya ia tidak kenal sungkan2 apa segala, terus saja ia menanya.

Apakah kau inikah Chit-bok-lo-sat Ki Teng- nio ? Seketika Tiat-pi Hweshio dan Kim-teng-sam-sat berubah hebat wajahnya mendengar si gadis terang2an menyebut nama orang.

Begitu pula Kim Teng-nio telah pentang matanya melototi si gadis.

Tapi A Siu merasa tidak berbuat sesuatu kesalahan, sama sekali ia tak gentar.

Melihat sikap si gadis yang luar biasa ini, Ki Teng-nio coba menahan rasa gusarnya, ia tersenyum dingin, lalu sahutnya .

Ya, benar.

Posting Komentar